I LOVE YOU, ENCUS

I LOVE YOU, ENCUS
Body sexy



Malamnya mereka baru kembali ke rumah masing-masing, setelah melakukan kunjungan ke rumah sanak saudara, karena menunggunakan mobil sendiri-sendiri, mereka berpisah di jalan.


Mira menunggu Rayyan yang masih mengambil beberapa barang di kamarnya Dony, baru setelah itu mereka naik bersama.


" Mas Dony gimana mas keadaannya?" Mereka ngobrol sambil menaiki tangga bersama.


" Di bilang baik ya belum, tapi sudah mendingan." Jawab Rayyan.


" Ada yang nungguin enggak mas di rumah sakit?"


" Waktu mas pulang, keluarganya baru dateng. Mandi gih, udah gelap ini." Ucap Rayyan saat mereka sudah sampai lantai atas.


" Iya, Mira ke kamar dulu ya." Pamit Mira berbelok langsung ke kamar, sedangkan Rayyan duduk di sofa sambil melepas jaketnya, sambil menunggu Mira selesai mandi, dia ke dapur, memeriksa isi kulkas. Banyak bahan, tetapi dia tidak tahu akan mengolah apa, secara masak bukan keahliannya.


Hanya mengambil buah apel dari sana, Rayyan kembali ke ruang tv.


Setelah beberapa saat baru Mira keluar kamar. Penampilannya yang segar, rambut basah panjang terurai, dan wangi yang semerbak menusuk hidung, membuat Rayyan menelan gigitan apel yang belum dikunyahnya, hingga membuatnya hampir sesak nafas.


" Ya ampun mas, pelan-pelan." Mira menepuk keras bagian punggung Rayyan membantu mengeluarkan apel yang menyangkut di tenggorkkan Rayyan, hingga akhirnya benda sialan itu keluar juga.


" Minum." Mira buru-buru memberikan Rayyan air putih untuk melegakan tenggorokannya.


" Sudah?" Tanya Mira saat Rayyan mengulurkan gelas kosong, dan hanya mengangguk sebagai jawabannya.


" Mas ih aneh-aneh aja, dikunyah dulu baru di telen, emang gitu ya cara mas makan apel?"


" Biasanya juga enggak yank." Rayyan bisa bersuara sekarang.


" Berarti yang tadi itu luar biasa? Wow.... Amazing! Aku terpesona." Mira menatap jengah dengan Rayyan yang malah tersenyum.


" Mas mandi sana, aku mau ke dapur. Mau makan apa?"


" Makan kamu!" Spontan jawaban Rayyan membuat Mira jadi kesal.


" Ya sudah sini." Mira menarik Rayyan masuk ke dapur, membuat Rayyan mesem-mesem, senang, tetapi senyum itu luntur tak kala sebuah pisau dan beberapa bumbu tersaji di atas meja.


" Biar tambah enak kasih kecap." Mira meletakkan botol berisi cairan hitam itu di hadapan Rayyan.


" Maksudnya apa ini yank?"


" Katanya pengen makan aku, sok atuh mas, mulai dari ini terus kalau sudah dipotong-potong dimasak, bumbunya ini." Mira menunjuk satu-satu bahan yang sudah dia persiapkan, membuat Rayyan bergidik ngeri.


" Kok gak nyambung sih yank! Udah ah, mas mandi dulu. Masak yang enak ya, laper ini."


" Gak jadi makan aku?" Ejek Mira, membuat Rayyan menatap mata yang seolah menejeknya itu.


" Cup...." Satu kecupan mendarat di bibir pink alami Mira, membuat sang empunya terasa tersengat arus listrik.


" Entar aja, habis makan, belum ada energi." Rayyan keluar begitu saja dari dapur meninggalkan Mira yang gemetar.


" Haruskah malam ini? Ya ampun!" Mira menutup wajahnya yang terasa panas, jantungnya terasa makin cepat berdebar, sedangkan pikirannya jadi kalut membayangkan dia harus melakukan kewajibannya sebagai seorang istri.


" Tenang Mira, jangan gugup!" Mira mengambil nafas, menghembuskan, kemudian mengulangnya berkali-kali, tetapi bukannya tenang, perasaannya makin tak karuan.


" Sudahlah Mira, jangan gugup, toh dia suamimu, sudah wajib kamu kasih haknya, kalau tidak nanti malah dosa!" Sebuah pemikiran lain, membuat Mira merasa sedikit tenang, kini dia mulai mengambil bahan-bahan masakan dan mulai memasak.


Lengan kokoh yang melingkari pinggangnya, membuat pergerakannya terhenti, tak berani bergerak, karena saat ini bibir sang pemilik lengan tengah beraksi di perpotongan lehernya, meninggalkan sensansi aneh, yang membuat sekujur tubuhnya merinding.


" Mass."


" Heem."


" Aku lagi masak ini." Tubuh Mira menggeliat ingin lepas, tetapi lengan itu seolah tak terpengaruh.


" Ya masak aja."


" Lepasin dulu." Mira kembali menggeliat, mencoba melepas, tetapi tetap saja tak berhasil. Dan saat dia mendongak, matanya malah tak kuat bertemu dengan mata Rayyan yang menatapnya sendu, jantung oh jantung kenapa mau copot!


Seperti mendapat angin, Rayyan langsung menunduk, tak ingin menyia-yiakan kesempatan, ia langsung mel*mat bibir Mira yang sedari tadi ingin disapanya, tanganya menggapai tombol untuk mematikan kompor, agar tidak mengganggu aktivitasnya. Kepala Mira bergerak ingin protes, tetapi di tahannya dengan tangan satunya, agar tetap berada diposisinya.


Berusaha meronta dengan meletakkan telapak tangan ke dada Rayyan, Mira malah merasakan langsung kulit dada Rayyan yang tak berpakaian, membuatnya tersentak. Karena baru kali ini ia menyentuh bagian tubuh laki-laki tanpa penghalang. Begitu ia tersentak, membuat Rayyan berhenti dengan kegiatannya, menunduk memperhatikan Mira yang langsung menutup wajahnya yang malu karena melihat Rayyan telanjang dada dan hanya mengenakan boxer. Walaupun selama ini sering bersama, tetapi ada batasan dari keduanya untuk saling menjaga, jadi Rayyan selalu menutupi bagian tubuhnya disaat mereka bersama, tetapi tidak saat ini, dengan santai Rayyan malah tersenyum melihat Mira yang menutup wajahnya.


" Hei.... Buka, kenapa malu."


" Mas kok enggak pakai baju?!" Protes Mira.


" Mau ambil shampoo, habis kan di kamar mandi?"


Mendengar pintu lemari di buka, Mira baru berani membuka matanya, kemudian memilih melanjutkan memasak, tanpa memperdulikan Rayyan yang malah terkekeh melihat kelakuannya.


" Masak yang enak ya, mas laper." Rayyan kembali menghampiri Mira yang tak menoleh padanya.


" Buruan mandi, ganggu aja!" Mira mengomel, Rayyan malah mulai melingkarkan lengan ke pinggang Mira, namun spatula yang Mira pegang siap untuk memukul lengannya "Lepas enggak? Kalau enggak aku pukul nih."


" Huuuu.... takut." Rayyan menarik lengannya, berlagak seolah ketakutan, membuat Mira makin kesal.


" Mandi enggak!" Mira mengacungkan spatula, membuat Rayyan mundur.


" Iya yank, iya..... Mas mandi ini."


" Buruan mandi sekarang apa aku pukul beneran pakai ini."


" Mandi, tapi sun dulu....!" Tawar Rayyan.


" Gak ada cium-cium." Mata Mira melotot apalagi melihat bagian tubuh telanjang Rayyan, ya ampun sexy beut..... Bagian perutnya... Hem ya ampun..... Gila!



Mira berusaha untuk tidak mengamati bentuk tubuh sempurna milik Rayyan, tetap melanjutkan memasak, mendengar langkah kaki Rayyan menjauh, baru dia berani memperhatikan lekukan tubuh sexy yang berlenggok masuk ke kamar.


" Pentesan kalau dipeluk rasanya keras bener, orang bentuknya kayak gitu!"


" Ngomong apa yank?" Rayyan muncul di pintu hanya bagian kepalanya, membuat Mira terkejut karena dia pikir Rayyan sudah ada di kamar mandi.


" Siapa yang ngomong? Gak ada." Elak Mira, takut ketahuan ngomong sendiri.


" Oh, kirain ngajak ngomong mamas, soalnya kayak denger orang ngomong, gak tahunnya cuma perasaan aja."


" Makanya cepetan mandi! Jadi halu kan."


" Halu denger orang cantik ngomong gak papa donk yank.... Syuff." Rayyan mengendap-endap, masuk dan meniup bagian tengkuk Mira membuat Mira refleks menganyunkan spatula yang tepat mengenai kening Rayyan.


" Aduh.... duh... duh, mataku!" Rayyan menutupi matanya, padahal yang kena pukul keningnya.


" Kelihatan banget bohongnya mas, orang yang kena keningnya masa yang dipegangin matanya."


Rayyan jadi melemas sambil menurunkan tangannya " Emang gak asyik kamu tuh, dibohongi kok enggak bisa."


" Makanya jangan coba-coba bohong, berani ku pukul lagi mau." Mira mengacungkan lagi spatula yang masih ada di tanganya.


" Enggaklah, ampun yank!"


" Cepetan mandi enggak!" Mira mengancam Rayyan dengan mengayun-ayunkan spatula, membuat Rayyan mundur dan langsung ke kamar, tapi Mira ikut masuk memastikan Rayyan benar-benar masuk kamar mandi, lalu dia keluar sambil menutup pintu kamar dan menguncinya dari luar.


" Rasain lu! Hehehe." Mira tertawa jahat, belum tahu kalau setelah ini ada bahaya yang mengintainya....


Kira-kira bahaya apa ya.... 🤔