
Mira menguap beberapa kali saat perjalanan mereka pulang ke rumah ibunya. Rayyan menengok setiap kali Mira menguap.
" Ngantuk yank? Tidur aja, nanti kalau sampai rumah mas bangunin." Pinta Rayyan.
" Nanti mas gak ada temennya."
" Ya ditemenin sambil tidur juga enggak papa, paling enggak sampai 2 jam kan?" Mira hanya mengangguk, tak bisa menahan rasa ngantuk lagi, kemudian dia bersandar mencari posisi nyaman untuk tidur. Kebiasaan buruknya kambuh, ketika naik kendaraan pasti dia langsung merasa ngantuk, kalau enggak ngantuk ya mabuk.
Rayyan menepikan mobil dipinggir jalan.
" Kenapa berhenti mas?" Tanya Mira heran. Ia kemudian duduk.
Rayyan mendekat, mengatur tempat duduk Mira agar nyaman untuk tidur.
" Udah, gini kan enak buat tidur."
Mira jadi tak enak, tapi mau bagaimana lagi, dia memang ngantuk, dan sudah tidak bisa menahan lagi.
" Tidur aja."
Rayyan kembali melaju, menyusuri jalanan. Sedangkan Mira melanjutkan tidur dengan posisi setengah rebahan, sesuai kursi yang sudah di set oleh Rayyan.
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
Sigit yang pulang lebih dulu, sudah sampai rumah, karena dia membawa motor. Sedangkan Rayyan harus melakukan klarifikasi berita tentang kecelakaan kemarin. Gitu-gitu Rayyan itu termasuk artis lho ya, so emang sudah seharusnya dia melakukan itu, demi perkembangan karir dan juga usahanya.
Sigit heran, begitu masuk ke rumah, ternyata sudah ada pak Subagio dan Andre di ruang tamu.
" Asalamualaikum." Sapanya saat masuk ke rumah.
" Waalaikum salam." Pak Subagio dan Andre yang menyahut, karena dua ibu sedang ada di dapur.
" Mana kak Mira bang? Kok sendiri?" Tanya Andre.
" Dia sama mas Rayyan, naik mobil. Tadi dia ada keperluan sama media gitu katanya." Jawab Sigit.
" Ibu di dapur?" Tanya Sigit, sambil menyalami pak Subagio.
" Lagi masak tuh, katanya mau ada tamu."
Andre mengangguk, kemudian berjalan ke dapur, menemui ibunya. Menyalami satu-satu, dua wanita yang sedang memasak.
" Banyak amat masakannya bu?" Sigit memperhatikan meja yang di dapur, dimana disana ada jenis masakan yang sudah matang beberapa.
" Iya, kan keluarganya nak Rayyan mau datang."
" Apa mau lamaran bu?"
Kedua ibu hanya tersenyum.
" Adikmu sudah waktunya, terus tinggal kamu." Jawab bu Reni.
" Kuliah aja belum selesai bu, belum ada kerjaan yang mapan juga."
" Ya kan bisa sambil nyari-nyari."
" Hemm... Ntar ajalah yang itu bu." Sigit meninggalkan dapur menuju kamar. Tidur dulu untuk menghilangkan penat, pikirnya.
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
Semua sudah berkumpul di rumah almarhum pak Purwadi.
Keluarga besar Rayyan termasuk Gea dan Geby juga ikut. Dua anak yang malah bergelendot manja pada Andre, entah apa maksudnya. Semenjak bertemu hingga acara dimulai, kedua anak itu selalu mengikuti Andre kemanapun pergi, membuat semua orang menjadi heran.
Bagaimana bisa Gea dan Geby langsung akrab dengan Andre?! Biarkan kedua anak itu yang tahu alasannya ya...
Bukan sebuah hotel mewah, atau restoran eksklusif yang menjadi pilihan keluarga Rayyan untuk mengadakan acara ini. Demi kenyaman dua keluarga yang tahu sendiri berbeda latar belakang kehidupan, jadi mama Sarah memilih untuk menyesuaikan dengan keadaan dan kondisi keluarga Mira.
Bukan ide yang buruk, nyatanya sekarang mereka larut dalam suasana penuh kekeluargaan tanpa rasa canggung, dengan hidangan khas kampung yang disediakan oleh kedua ibu Mira.
" Kok rasa opornya enak ma, beda sama bikinan mbak Sri." Gea meminta nambah saat acara makan yang bertajuk berbuka puasa bersama itu.
" He'em, enak lho mbakyu opornya." Puji mama Sarah.
" Kira-kira Encus bisa gak ya ma masak kayak gini." Celetuk Gea.
Yang jadi tersangka diam saja, pasalnya selama ini dia emang gak pernah masak semenjak bekerja di keluarga Aquino. Masak pernah sih, hanya buat sayur dan lauk untuk 2G, itupun sudah disiapin sama mbak Sri. Tinggal masuk-masukin doang.
" Udah lupa caranya, soalnya dilarang juga masuk dapur, makan aja diatur mulu, bahkan selera lidah ini udah terkontaminasi sama makanan ala-ala chef, jadi koki kampung udah bergeser." Sindir Mira.
Semua tertawa mendengar ucapan Mira yang memang benar. Rayyan jadi garuk-garuk kepala.
" Makanan kampung itu rata-rata sehat Ray, karena cara masaknya bersih, apalagi kalau yang masak emak-emak cantik begitu, dilihat aja bisa bikin ngiler. Kalau lama-lama mama disini bisa gemuk ini." Ucap mama Sarah, sambil menyomot tempe bacem.
" Ini namanya tempe bacem, cara buatnya juga tanpa pakai minyak, jadi aman, cobain nih!" Mama Sarah meletakkan satu untuk Rayyan dan satu untuknya.
Mumpung duduk jauh dari Rayyan, Mira mengambil sambal agak banyak, apalagi dia makan barengan sama bu Santi, jadi misalpun ketahuan Rayyan, gak akan berani marahin dia.
Bukan tidak tahu apa yang dilakukan Mira, hanya saja Rayyan memberi kesempatan pada Mira untuk menikmati kebersamaan dengan keluarganya, untuk urusan larang-melarang, bisa dilanjutin nanti.
Sedikit pemberitahuan, seorang rider itu rata-rata orangnya sabar, gak gampang emosi. Itu terlihat saat mereka ada dilintasan. Dengan kondisi medan yang berkelok-kelok2, kadang naik turun, kadang juga suhu panas, dingin yang ekstrim yang dilalui demi mencapai garis finish, dan membuktikan bahwa mereka memang layak menjadi pemenang sejati, itu semua sudah dibuktikan sendiri oleh Rayyan Aquino.
Terbukti bagaimana juga sabarnya seorang Rayyan Aquino menghadapi sifat pemarahnya Mira dan jahilnya mama dan papa serta managernya. Kadang dia hanya cukup menarik nafas beratnya ketika dia sudah terpancing untuk emosi. Dan saat inilah dia dihadapan pada ujian ketika emosinya dipermainkan. Sebuah pertanyaan yang memantang jiwanya untuk tegas dalam mengambil sebuah keputusan.
" Apa kamu benar-benar serius ingin hidup berumah tangga dengan Mira?" Tanya papa Jo disaat semua orang sudah berkumpul kembali malam itu. Bukan orang lain yang menguji kesungguhan Rayyan, melainkan papanya sendiri, karena hanya seorang ayah yang tahu bagaimana sifat seorang anak.
" Ya." Jawabnya mantap tanpa keraguan.
" Serius untuk meninggalkan dunia balap yang sudah membuatmu sukses, demi dia."
" Ya." Jawaban itu seolah tak menyiratkan keberatan dihatinya, karena itu memang niatnya.
" Tidak akan menyesal suatu saat nanti ketika kamu mengalami kejenuhan dalam rumah tangga, karena menikah itu bukan hanya mengucap janji suci, tetapi menyerahkan dirimu dan hidupmu selama kamu hidup hanya untuk keluargamu Rayyan."
" Tidak! Karena ini memang sudah menjadi niatku. Jika jenuh, tinggal diajak jalan-jalan, refreshing aja apa susahnya."
" Astaga Ray, ini serius." Mama mengeluh, kesal dengan jawaban Rayyan yang dianggapnya main-main. Padahal disana mereka berbicara disaksikan oleh kedua keluarga besar.
" Rumah tangga itu tak bisa dirancang dari sekarang mama, jalani aja dulu. Akan ada masanya saat dimana keadaan membuat keluarga itu bahagia, ada kalanya juga merasa jenuh. Tapi kembali lagi, yang namanya keluarga adalah keluarga, tempat dimana semua rasa ada disana, kadang tertawa senang, bahagia dan bangga, juga tak bisa dihindari ketika harus kecewa, sedih, duka juga tangis. Jadi apa yang harus disesalkan?" Jelas Rayyan.
" Ya, kamu benar! Jadi sekarang kami semua disini sebagai saksi bagaimana kamu bersungguh-sungguh menginginkan Mira Adinda sebagai calon pendamping hidupmu."
" Jadi acaranya lamaran ini?" Celetuk Rayyan, dimana semua orang langsung menepuk jidat masing-masing.
" Bukan! Main dakon!" Celetuk Mathew yang tiba-tiba muncul di pintu.
Mereka tertawa sejenak, sebelum kemudian menjadi hening. Menunggu saat-saat dimana tanda pengingkat dua hati antara Rayyan dan Mira tersemat di jari masing-masing.
" Ini digeser ya yank, diganti yang ini." Rayyan memindahkan cincin yang dulu pernah dia kasih ke jari tengah, dan mengisi jari manis Mira dengan cincin yang disiapkan oleh mama Sarah.
" Ini cincin yang kasih orang tua aku, sebagai tanda mereka meminta kamu dari orang tua dan keluargamu. Besok kalau nikah baru mas yang kasih, tandanya mas yang minta kamu langsung bukan sebagai seorang calon, tapi istri."
Semua menggeleng tak mengerti dengan ucapan Rayyan, bukan kata romantis tapi malah membuat perut kram. Hadew, emang sableng!
Sedangkan tiba giliran Mira, semua kembali hening.
Mira memegang tangan Rayyan yang terulur, sedangkan tangan satunya memegang cincin yang menjadi pasangannya.
Hati Rayyan berdebar, menanti saat-saat cincin itu melingkar dijarinya. Apalagi saat Mira menatapnya.
Hadew, kenapa jadi grogi gini sih...!
" Sudah." Ucap Mira, saat cincin itu sudah melingkar di jari manis Rayyan.
" Cuma gitu doank? Ucapannya mana?" Tanya Rayyan, berharap Mira akan mengucapkan kata-kata seperti dirinya.
Mira hanya mengulum senyum " Kadang ucapan tak terlalu penting mas, yang penting tindakannya. Dengan memasang ini, itu berarti aku menerima pertunangan ini."
Ouwwwww.... So sweet 😍😍😍😍
Semua yang hadir disana diliputi rasa bahagia, atas langkah awal dari hubungan Mira dan Rayyan. Hanya doa dan ucapan syukur, serta dukungan, agar mereka diberi kelancaran sampai nanti tiba waktunya.
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
Masih mau lanjut, atau ingin cerita ini cepet selesai?
Vote yuk, di kolom komentar ya....
Yang mau lanjut, tulis komen kalian, yang diem berarti udahan.....
Otornya pergi dulu ya, takut ada hp melayang..... Bye... Bye... 😆