I LOVE YOU, ENCUS

I LOVE YOU, ENCUS
The Aquinos Family



Mira membantu dokter Tomy yang datang pagi itu untuk memeriksa keadaan Rayyan dan mengganti perban serta mengecek jahitan.


" Gak pengen sakit terus kamu Ray?"


" Biar pendapatan kamu nambah terus kan, doain aku sakit terus. Jahat banget kamu Tom!" Dengus Rayyan.


" Bukan itu. Kalau sakit kan bisa deketan terus sama susternya, dirawat langsung lagi." Tomy mengejek bukan hanya lewat ucapan, tetapi juga lewat matanya yang menatap jenaka pada Rayyan.


" Enakkan sehatlah, bisa ngapa-ngapain."


" Udah pengen ngapa-ngapain ini, udah kebelet kayaknya. Sus, tolong pasangin pispot."


Rayyan mendelik, seketika menarik selimut untuk menutupi bagian terlarangnya.


" Hahaha. Gitu aja takut, kok ngebet." Ejek dokter Tomy.


" Ada kamu entar pengen, kalau sama dia aja mah bebas, ya kan yank." Lirik Rayyan pada Mira yang sedang membersihkan lukanya. Yang diajak ngomong diam tak menggubris.


" Emang enak dicuekin." Ledek dokter Tomy.


" Bebas, emang semalam gol berapa ronde?" Dokter Tomy berlanjut membahas sesuatu yang membuat pendengaran Mira ingin menjadi orang tuli.


" Dari jam sembilan sampai lewat subuh." Jawab Rayyan ngasal.


" Pake posisi apa? Paling cuma bisa misionaris."


" Gak juga, kadang miring ke kanan kadang ke kiri, ya walaupun belum bisa tengkurep." Seolah Rayyan mengatakan penuh penyesalan.


" Miring emang bisa?"


" Ya bisalah, kalau udah pegel dan takut nindih ya telentang lagi." Jawab Rayyan dengan santainya, sedangkan Mira memilih pergi mengembalikan kotak obat.


" Ditinggal pergi kan lu, ngomong tuh disaring, di depan cewek ngomongin posisi begituan, risih dia dengernya."


" Ya kan kamu yang mulai! Tapi emang bener, kalau buat miring kadang pegel, kalau gak sengaja nindih ya reflek langsung telentang, nyeri-nyeri gimana gitu rasanya." Curhat Rayyan.


" Apalagi kalau nyenggol jahitannya, rasanya sampai ke ubun-ubun."


" Hah!"


Rayyan memandang tak mengerti pada dokter Tomy yang terkejut.


" Apa?" Tanyanya.


" Maksud kamu apa?"


" Ya bener, kalau tidur posisi miring kadang nyeri, apalagi kalau gak sengaja nyenggol jahitan rasanya pengen nangis." Jelas Rayyan dengan lancarnya.


" Jadi salah paham aku." Dengus dokter Tomy.


" Emang kamu mikir posisi apa?" Sekarang Rayyan yang bingung.


" Aku pikir kalian gitu-gitu pake posisi telentang, miring kiri, miring kanan.


" Njirr! Ngeres bener pikiranmu, kayak otak udang!" Rayyan melempar bantal ke muka dokter Tomy.


" Pantas dia pergi gak balik-balik." Dengus Rayyan kesal.


" Ya kan kalian udah lama gak ketemu, pastinya kangen kan? Melepas rindu pake lepas baju."


" Belum halal."


" Nunggu halal kelamaan, keburu berubah jadi jelly."


" Itu kalau kamu, ditinggal istri pergi seminggu udah jadi agar-agar, keluar udah bisa dicetak." Ejek Rayyan.


" Mudeng juga yang begituan?" Ucap dokter Tomy.


" Laki-laki kalau ngumpul apa yang diomongin kalau bukan begituan."


" Kamu enggak pengen? Kan gak punya?"


" Masih normal aku tu Tom, ngomongin yang laen kenapa? Gak ada Mathew kok gantian kamu. Serasa dunia isinya begituan semua." Sungut Rayyan, mengingat Mathew Rayyan jadi kepikiran kabar manager itu.


" Mathew gimana kondisinya Tom?"


" Ada jahitan yang lepas beberapa dan harus ditangani ulang. Kemarin udah ada dokter Rachel yang turun tangan langsung."


" Mending jangan ketemu sama perempuan dulu tuh manusia, takutnya gak bisa ngontrol."


" Emang dokter Jay kemana?" Tanya Rayyan.


" Lagi lanjut ambil gelar doktor di Singapore."


" Umur udah lanjut, masih belajar terus tuh orang. Udah botak tambah habis nanti."


" Kan jadi gundul, jaman sekarang perempuan pada seneng ma yang gundul." Celetuk dokter Tomy.


" Apalagi yang mengkilap." Tambah Rayyan.


" Hahaha... Nyambung juga lu Ray!"


" Hahaha.... Iyalah."


" Udah belom? Dari tadi utak-utek disitu terus, yang lain kenapa?"


" Ini nih ada luka yang bernanah, kayaknya infeksi deh."


" Bahaya enggak?" Tanya Rayyan.


" Bahayalah, namanya juga infeksi, kalau gak segera ditangani bisa menyebabkan amputasi."


" Apa yang diamputasi?"


" Kirain 'adek' kecilmu yang diamputasi."


" Terus istri kebagian apa kalau diamputasi?"


" Cari lagilah."


Mira masuk membawa nampan berisi sarapan untuk Rayyan. Dokter Tomy menengok pada sosok yang menjadi objek penglihatan Rayyan.


" Sus, kata Rayyan 'adek'nya mau diamputasi, suster suruh cari yang lain lagi."


" Tommyyyyyyy!" teriak Rayyan.


" Diem! Bisa salah nih kalau kamu gak diem."


" Kamu juga diem!" Sungut Rayyan. Mira melangkah keluar, Rayyan buru-buru mencegah.


" Sini aja yank." Pinta Rayyan.


" Minta perlindungan sama perempuan." Ledek dokter Tomy.


" Kan enggak ada komnas perlindungan laki-laki, adanya perempuan sama anak-anak. Takut lama-lama berdua sama kamu."


" Gak nafsu gue ma tongkat." cibir dokter Tomy.


Mira memutar bola mata, merasa jengah dengan obrolan dua laki-laki berstatus sepupu ini, obrolannya gak mutu.


" Nah.... Udah selesai." Dokter Tomy menegakkan tubuhnya.


" Ceritanya kok bisa kecelakaan gimana Ray?"


" Gak ngerti, gak ada rencana juga, tahu-tahu kejadian." Dengan cueknya Rayyan menjawab.


" Om Jo bilang mobil disabotase ya?"


" Urusan polisi tuh."


" Minum yank." Pinta Rayyan pada Mira yang duduk di pinggir ranjang.


" Kalau udah selesai buruan balik ke rumah sakit! Aku mau duaan ma dia. Ganggu aja." Usir Rayyan, Mira hanya menggeleng, jengah dengan kedua orang yang seperti Tom and Jerry.


" Tau gitu ogah kesini, busuk busuklah tuh kaki."


" Suapin yank." Pinta Rayyan sambil memberikan gelas minumnya.


Dokter Tomy mencibir, jengah dengan tingkah manja Rayyan.


" Ngapa Tom?"


Oma Sarah masuk kamar Rayyan bersama opa yang menyusul kemudian.


" Buruan dikawinin aja mereka tan." Sungut dokter Tomy.


" Ngiri dia ma." Ejek Tomy.


" Papa aja ngiri liat kamu disuapin gitu. Udah hampir setahun mamamu gak nyuapin papa." Papa mengambil kursi untuk duduk.


" Ma kasih pah." Oma langsung duduk dengan santainya, membuat opa sebal.


" Kenapa nyebelin sih ma?"


" Nyebelin gimana? Papa gak ikhlas ambilin kursi buat mama?"


Mode on pada perselisihan, Mira menatap bergantian pada pasangan manusia paruh baya yang sedang bersitegang gara-gara kursi.


" Sajennya kurang ya om, kok sensi." Dokter Tomy menengahi.


" 8 hari Tom." Opa memberi kode. Dokter Tomy ngakak mendengar jawaban opa.


" Keluar udah bentuk jelly tinggal masakin kulkas itu om." timpal dokter Tomy semakin gencar.


" Dasar laki-laki, ngomong cuma seputar bundaran." sungut oma.


" Cuma bundaran yang bisa buat laki jadi laki-laki sejati tante. Yang belum pernah lewat bunderan sampai hampir kepala 4 tuh yang gak normal." dokter Tomy melirik pada pasangan yang sedang asyik suap menyuapi.


" Iri bilang bos! Cari istri, ambil sarapan duduk bareng. Minta suapin. Jangan sibuk kerja mulu, romantis sekali-kali itu perlu, ya kan yank." Rayyan minta dukungan pada Mira, tapi opa yang menjawab.


" Setuju! Mentang-mentang sibuk terus lupa." Sindir opa.


" Merajuk tahu kondisi, jangan egois." Sahut oma.


" Panas membara, kayaknya jellynya minta dikeluarin tuh. Kalau gitu Tomy permisi ya. Assalamualaikum."


Tomy buru-buru keluar, tapi berhenti diambang pintu. Mengingat tidak ada yang menyahut salamnya.


" Asasalamualaikum." Dengan nada alim Tomy mengulang salamnya.


" Waalaikum salam." Sahut Mira, berbeda dengan opa dan oma yang masih sedingin es, dan Rayyan yang membatu melihat orang tuanya.


" Katanya bulan puasa pa, gak dikasih jatah kok marah?" Tegur Rayyan pada papanya.


" Emang iya? Kok kamu makan?" Kata opa.


" Kan lagi berdarah, jadi gak puasa." Tunjuk Rayyan pada kasa penutup lukanya yang bernoda merah.


" Hah! Bisa gitu ya?!?!!!!" 🤔🤔🤔🤔


🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹


Daripada bungannya layu, kasih ke otor aja ya, terus yang masih punya vote ketimbang mubajir sumbangin buat karya ini ya.... Trima kasih, dukungan kalian adalah semangat otor untuk terus berkarya... 🤗🤗


Otor kasih tahu kalian readers ku sayang, membaca komen kalian berasa dapat hujan diwaktu kemarau, ditunggu datang karena selalu dirindu... hemmm 😍😍