
Mira membantu dokter Tomy yang datang pagi itu untuk memeriksa keadaan Rayyan dan mengganti perban serta mengecek jahitan.
" Gak pengen sakit terus kamu Ray?"
" Biar pendapatan kamu nambah terus kan, doain aku sakit terus. Jahat banget kamu Tom!" Dengus Rayyan.
" Bukan itu. Kalau sakit kan bisa deketan terus sama susternya, dirawat langsung lagi." Tomy mengejek bukan hanya lewat ucapan, tetapi juga lewat matanya yang menatap jenaka pada Rayyan.
" Enakkan sehatlah, bisa ngapa-ngapain."
" Udah pengen ngapa-ngapain ini, udah kebelet kayaknya. Sus, tolong pasangin pispot."
Rayyan mendelik, seketika menarik selimut untuk menutupi bagian terlarangnya.
" Hahaha. Gitu aja takut, kok ngebet." Ejek dokter Tomy.
" Ada kamu entar pengen, kalau sama dia aja mah bebas, ya kan yank." Lirik Rayyan pada Mira yang sedang membersihkan lukanya. Yang diajak ngomong diam tak menggubris.
" Emang enak dicuekin." Ledek dokter Tomy.
" Bebas, emang semalam gol berapa ronde?" Dokter Tomy berlanjut membahas sesuatu yang membuat pendengaran Mira ingin menjadi orang tuli.
" Dari jam sembilan sampai lewat subuh." Jawab Rayyan ngasal.
" Pake posisi apa? Paling cuma bisa misionaris."
" Gak juga, kadang miring ke kanan kadang ke kiri, ya walaupun belum bisa tengkurep." Seolah Rayyan mengatakan penuh penyesalan.
" Miring emang bisa?"
" Ya bisalah, kalau udah pegel dan takut nindih ya telentang lagi." Jawab Rayyan dengan santainya, sedangkan Mira memilih pergi mengembalikan kotak obat.
" Ditinggal pergi kan lu, ngomong tuh disaring, di depan cewek ngomongin posisi begituan, risih dia dengernya."
" Ya kan kamu yang mulai! Tapi emang bener, kalau buat miring kadang pegel, kalau gak sengaja nindih ya reflek langsung telentang, nyeri-nyeri gimana gitu rasanya." Curhat Rayyan.
" Apalagi kalau nyenggol jahitannya, rasanya sampai ke ubun-ubun."
" Hah!"
Rayyan memandang tak mengerti pada dokter Tomy yang terkejut.
" Apa?" Tanyanya.
" Maksud kamu apa?"
" Ya bener, kalau tidur posisi miring kadang nyeri, apalagi kalau gak sengaja nyenggol jahitan rasanya pengen nangis." Jelas Rayyan dengan lancarnya.
" Jadi salah paham aku." Dengus dokter Tomy.
" Emang kamu mikir posisi apa?" Sekarang Rayyan yang bingung.
" Aku pikir kalian gitu-gitu pake posisi telentang, miring kiri, miring kanan.
" Njirr! Ngeres bener pikiranmu, kayak otak udang!" Rayyan melempar bantal ke muka dokter Tomy.
" Pantas dia pergi gak balik-balik." Dengus Rayyan kesal.
" Ya kan kalian udah lama gak ketemu, pastinya kangen kan? Melepas rindu pake lepas baju."
" Belum halal."
" Nunggu halal kelamaan, keburu berubah jadi jelly."
" Itu kalau kamu, ditinggal istri pergi seminggu udah jadi agar-agar, keluar udah bisa dicetak." Ejek Rayyan.
" Mudeng juga yang begituan?" Ucap dokter Tomy.
" Laki-laki kalau ngumpul apa yang diomongin kalau bukan begituan."
" Kamu enggak pengen? Kan gak punya?"
" Masih normal aku tu Tom, ngomongin yang laen kenapa? Gak ada Mathew kok gantian kamu. Serasa dunia isinya begituan semua." Sungut Rayyan, mengingat Mathew Rayyan jadi kepikiran kabar manager itu.
" Mathew gimana kondisinya Tom?"
" Ada jahitan yang lepas beberapa dan harus ditangani ulang. Kemarin udah ada dokter Rachel yang turun tangan langsung."
" Mending jangan ketemu sama perempuan dulu tuh manusia, takutnya gak bisa ngontrol."
" Emang dokter Jay kemana?" Tanya Rayyan.
" Lagi lanjut ambil gelar doktor di Singapore."
" Umur udah lanjut, masih belajar terus tuh orang. Udah botak tambah habis nanti."
" Kan jadi gundul, jaman sekarang perempuan pada seneng ma yang gundul." Celetuk dokter Tomy.
" Apalagi yang mengkilap." Tambah Rayyan.
" Hahaha... Nyambung juga lu Ray!"
" Hahaha.... Iyalah."
" Udah belom? Dari tadi utak-utek disitu terus, yang lain kenapa?"
" Ini nih ada luka yang bernanah, kayaknya infeksi deh."
" Bahaya enggak?" Tanya Rayyan.
" Bahayalah, namanya juga infeksi, kalau gak segera ditangani bisa menyebabkan amputasi."
" Apa yang diamputasi?"
" Kirain 'adek' kecilmu yang diamputasi."
" Terus istri kebagian apa kalau diamputasi?"
" Cari lagilah."
Mira masuk membawa nampan berisi sarapan untuk Rayyan. Dokter Tomy menengok pada sosok yang menjadi objek penglihatan Rayyan.
" Sus, kata Rayyan 'adek'nya mau diamputasi, suster suruh cari yang lain lagi."
" Tommyyyyyyy!" teriak Rayyan.
" Diem! Bisa salah nih kalau kamu gak diem."
" Kamu juga diem!" Sungut Rayyan. Mira melangkah keluar, Rayyan buru-buru mencegah.
" Sini aja yank." Pinta Rayyan.
" Minta perlindungan sama perempuan." Ledek dokter Tomy.
" Kan enggak ada komnas perlindungan laki-laki, adanya perempuan sama anak-anak. Takut lama-lama berdua sama kamu."
" Gak nafsu gue ma tongkat." cibir dokter Tomy.
Mira memutar bola mata, merasa jengah dengan obrolan dua laki-laki berstatus sepupu ini, obrolannya gak mutu.
" Nah.... Udah selesai." Dokter Tomy menegakkan tubuhnya.
" Ceritanya kok bisa kecelakaan gimana Ray?"
" Gak ngerti, gak ada rencana juga, tahu-tahu kejadian." Dengan cueknya Rayyan menjawab.
" Om Jo bilang mobil disabotase ya?"
" Urusan polisi tuh."
" Minum yank." Pinta Rayyan pada Mira yang duduk di pinggir ranjang.
" Kalau udah selesai buruan balik ke rumah sakit! Aku mau duaan ma dia. Ganggu aja." Usir Rayyan, Mira hanya menggeleng, jengah dengan kedua orang yang seperti Tom and Jerry.
" Tau gitu ogah kesini, busuk busuklah tuh kaki."
" Suapin yank." Pinta Rayyan sambil memberikan gelas minumnya.
Dokter Tomy mencibir, jengah dengan tingkah manja Rayyan.
" Ngapa Tom?"
Oma Sarah masuk kamar Rayyan bersama opa yang menyusul kemudian.
" Buruan dikawinin aja mereka tan." Sungut dokter Tomy.
" Ngiri dia ma." Ejek Tomy.
" Papa aja ngiri liat kamu disuapin gitu. Udah hampir setahun mamamu gak nyuapin papa." Papa mengambil kursi untuk duduk.
" Ma kasih pah." Oma langsung duduk dengan santainya, membuat opa sebal.
" Kenapa nyebelin sih ma?"
" Nyebelin gimana? Papa gak ikhlas ambilin kursi buat mama?"
Mode on pada perselisihan, Mira menatap bergantian pada pasangan manusia paruh baya yang sedang bersitegang gara-gara kursi.
" Sajennya kurang ya om, kok sensi." Dokter Tomy menengahi.
" 8 hari Tom." Opa memberi kode. Dokter Tomy ngakak mendengar jawaban opa.
" Keluar udah bentuk jelly tinggal masakin kulkas itu om." timpal dokter Tomy semakin gencar.
" Dasar laki-laki, ngomong cuma seputar bundaran." sungut oma.
" Cuma bundaran yang bisa buat laki jadi laki-laki sejati tante. Yang belum pernah lewat bunderan sampai hampir kepala 4 tuh yang gak normal." dokter Tomy melirik pada pasangan yang sedang asyik suap menyuapi.
" Iri bilang bos! Cari istri, ambil sarapan duduk bareng. Minta suapin. Jangan sibuk kerja mulu, romantis sekali-kali itu perlu, ya kan yank." Rayyan minta dukungan pada Mira, tapi opa yang menjawab.
" Setuju! Mentang-mentang sibuk terus lupa." Sindir opa.
" Merajuk tahu kondisi, jangan egois." Sahut oma.
" Panas membara, kayaknya jellynya minta dikeluarin tuh. Kalau gitu Tomy permisi ya. Assalamualaikum."
Tomy buru-buru keluar, tapi berhenti diambang pintu. Mengingat tidak ada yang menyahut salamnya.
" Asasalamualaikum." Dengan nada alim Tomy mengulang salamnya.
" Waalaikum salam." Sahut Mira, berbeda dengan opa dan oma yang masih sedingin es, dan Rayyan yang membatu melihat orang tuanya.
" Katanya bulan puasa pa, gak dikasih jatah kok marah?" Tegur Rayyan pada papanya.
" Emang iya? Kok kamu makan?" Kata opa.
" Kan lagi berdarah, jadi gak puasa." Tunjuk Rayyan pada kasa penutup lukanya yang bernoda merah.
" Hah! Bisa gitu ya?!?!!!!" 🤔🤔🤔🤔
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
Daripada bungannya layu, kasih ke otor aja ya, terus yang masih punya vote ketimbang mubajir sumbangin buat karya ini ya.... Trima kasih, dukungan kalian adalah semangat otor untuk terus berkarya... 🤗🤗
Otor kasih tahu kalian readers ku sayang, membaca komen kalian berasa dapat hujan diwaktu kemarau, ditunggu datang karena selalu dirindu... hemmm 😍😍