I LOVE YOU, ENCUS

I LOVE YOU, ENCUS
Belum Pasti



Mobil berhenti di rumah mewah berhalaman luas, dan itu adalah rumah papa Jo.


Banyak orang yang berlalu lalang di halaman sedang menyiapkan acara untuk malam nanti. Tentu Rayyan dan Mira tidak tahu jika acara yang dinaksud mama adalah resepsi yang bertema garden party.


" Katanya cuma pesta kecil ma, kok dekorasinya begini?" Tanya Rayyan saat sudah turun dari mobil sambil dan mama Sarah langsung keluar rumah begitu mendengar suara mobil masuk. Mira keluar dari pintu yang dibuka oleh Rayyan di bagian belakang. Rayyan duduk di depan dengan Mathew, sedangkan Mira tiduran di kursi belakang atas permintaan Mira sendiri, itulah alasan kenapa Mira duduk sendirian di belakang, sedangkan Rayyan di depan bersama Mathew yang mengemudi.


" Kok lemes? Kamu sakit" Mama memperhatikan Mira yang lesu dan terlihat sedikit acak-acakan, dengan rambut yang diikat asal.


" Enggak ma, cuma ngantuk aja." Mira membalas ciuman mama di kedua pipinya.


" Langsung makan aja kalian, ini udah lewat makan siang. Oh ya, mama udah buat bubur juga, katanya semalam ada yang kepengen makan bubur sum-sum."


" Ma kasih ma." Mira merasa dia yang dimaksud oleh mama Sarah langsung tersenyum malu, mengingat memang dia yang ingin makan bubur, tetapi buatan ibu Santi, tak apalah buatan mama Sarah, sebagai ganti rasa rindunya dengan sang ibu.


" Ayo masuk."


Mereka masuk ke dalam rumah. Rayyan membawa Mira ke kamar yang biasa dia gunakan jika datang kesini.


" Ini kamar punya mas?" Mira memperhatikan foto sang suami yang terpajang di dinding kamar.


" Iya." Rayyan meletakkan barang-barang di dekat tempat tidur.


" Kamar mandi dimana?"


" Disini." Rayyan membuka pintu di belakang pintu kamar.


" Pantas gak kelihatan, ketutup pintu." Mira masuk ke kamar mandi, sementara Rayyan melepas blazer dan berganti kaos santai.


Mira keluar kamar mandi, tapi malah langsung rebahan di kasur.


" Makan dulu yank, nanti lagi tidurnya." Rayyan yang masih memeriksa hp, langsung menegur sang istri yang sepertinya tidak bosan tidur dari tadi, bahkan selama perjalanan Mira hanya tidur.


" Ngantuk." Jawab Mira malas.


" Kamu sakit? Aku panggil Ajeng ya? Apa mau ke rumah sakit?" Tanya Rayyan, tapi Mira hanya menggeleng.


" Terus maunya gimana?"


" Mas sini." Mira menepuk tempat di sampingnya.


" Belum makan siang lho. Ini udah lewat, mama udah buatin bubur juga."


" Bentar aja, sini." Mata Mira yang memohon, membuat Rayyan mengalah lagi, mendekat dan duduk di samping Mira. Mira langsung memeluk perutnya dan menindih kakinya dengan kaki Mira.


" Kok gini, makan dulu yuk."


" Bentar aja, aku capek." Rayyan hanya diam, tangannya menepuk-nepuk kepala Mira, membuat Mira malah semakin nyaman, hingga terlelap.


" Malah tidur." Rayyan jadi tak tega harus membangunkan Mira yang terlelap.


Akhirnya Rayyan meletakkan tangan Mira perlahan, menurunkan kaki yang menindih kakinya dengan pelan pula. Mengatur suhu kamar agar sejuk, kemudian perlahan dia bangkit lalu keluar bergabung dengan keluarga yang lain.


" Mana Mira?" Papa Jo yang melihat Rayyan lebih dulu bertanya.


" Tidur."


" Lah dia kan belum makan, ini bubur udah mama campur sama air gula, kalau enggak langsung dimakan nanti enggak enak lho." Ucap mama Sarah.


" Apa dibangunin aja ya." Rayyan bingung sekarang.


" Mungkin dia masih kenyang ma." ucap Rayyan kemudian, mengambil tempat duduk di ruang makan.


" Dia udah makan?" Tanya mama, sambil menatap Rayyan yang mengisi piringnya dengan makanan yang sudah tersedia.


" Makan jeruk tadi." Rayyan mulai menyuap makanan ke mulutnya, Mathew ikut bergabung setelah tahu Rayyan sudah ada di ruang makan.


" Makan jeruk kok kenyang."


" Mama tahu berapa jeruk yang dia makan?"


Mama kini berhenti berjalan, dia akan ke dapur saat itu.


" Emang berapa?"


" Jeruk yang kemarin mama bawa itu berapa?" Rayyan malah balik bertanya.


" 1,5 kg kalau enggak salah, soalnya mama beli 2 kg, tapi diambil sama Ajeng berapa biji gitu katanya mau dibuat jus."


" Nah, sisanya dia habisin semua tadi sebelum berangkat kesini."


" Hah!" Mama sekarang terkejut dengan ucapan Rayyan, menatap tak percaya dengan apa yang didengarnya.


" Ya kan Met?" Rayyan meminta dukungan dari Mathew, yang diangguki oleh Mathew.


" Astaga, bisa sakit perut tuh anak. Mana jeruknya asem lagi, Ajeng aja harus nambah gula kemarin." Mama mulai kawatir.


" Dia bilang seger, dan dia baik-baik aja. Anehnya dia minta lagi, tapi enggak aku kasih ma."


Mama jadi berpikir sesuatu sekarang, begitu pula dengan papa Jo, mereka saling menatap.


" Kamu ada puasa enggak bulan ini?" Sekarang papa Jo ganti yang interogasi.


" Bulan puasa aja aku enggak puasa, masa bulan ini suruh puasa, ya enggaklah pa." Rayyan tak mengerti apa maksud papa Jo.


" Bo dohmu itu! Bukan puasa itu maksud papa. Kamu ada libur enggak olah raga sama Mira?" Papa pakai kata lain sekarang.


" Dia enggak suka olah raga."


Mama, papa dan Mathew hanya menepuk jidat secara bersamaan.


" Dia halangan enggak bulan ini?" Mama bertanya to the point.


" Halangan apa? Semua lancar." Jawab Rayyan santai, sambil menikmati udang goreng crispy.


" Dia menstruasi enggak bulan ini?" Mama Makin gedeg dengan Rayyan yang tiba-tiba jadi telmi.


Baru gerakan tangan Rayyan yang akan menyuap makanan terhenti di udara. Ingat setiap malam dia enggak pernah absen jadi tamu, bahkan kalau dihitung dari tanggal jadwal bulan kemarin, ini sudah lebih dari satu minggu Mira tidak haid.


" Apa mungkin?"


Dia langsung meletakkan sendok dan udang secara bersamaan, meminum air di gelas sambil tergesa-gesa, lalu berlari masuk ke kamar, dimana istrinya masih terlelap dengan posisi yang sama.


Perlahan dia mendekat, mengambil posisi duduk seperti tadi, sambil menikmati wajah damai Mira. Tangannya tak tahan untuk tidak menyetuh pipi mulus tanpa noda yang tak pernah bosan dia kecup setiap saat jika mereka sedang bersama. Merasa terganggu, Mira akhirnya membuka matanya.


Senyum Rayyan langsung mengembang.


" Dicari mama." Ucapnya.


Mira menggeliat, meregangkan otot tubuhnya yang terasa kaku.


" Capek mas." Mira dengan malas mulai bangun, jika tak ingat mama Sarah yang sudah repot membuatkannya bubur, dia lebih memilih tidur lagi.


" Makan dulu yuk. Apa mau mas gendong?"


" Enggaklah, jalan sendiri aja." Mira duduk sebentar di pinggir ranjang, membetulkan rambutnya yang semrawut.


" Nih." Rayyan memberikan sisir.


" Ma kasih."


Rayyan tersenyum, memperhatikan Mira yang sedang menyisir rambut panjangnya. Dia menatap perut datar di balik kemeja yang dipakai istrinya. Membayangkan jika perut itu berisi anaknya.


" Mas, kenapa kok senyum-senyum gitu?" Mira menatap aneh pada Rayyan yang masih saja tersenyum.


" Seneng aja lihat kamu."


" Lihat aku kok kesini, wajah aku disini mas." Mira protes sambil menunjuk wajahnya.


" Ya ini juga kan perut kamu." Rayyan menarik tubuh Mira, melingkarkan lengan dan meletakan telapak tangannya tepat di perut Mira.


" Katanya suruh makan, aku tidur lagi lho kalau kayak gini."


" Ya udah, yuk makan." Rayyan melepas tangannya, kemudian menggandeng tangan Mira.


" Bisa jalan sendiri mas, malu kalau mereka lihat mas gandeng-gandeng kayak gini." Rayyan langsung melepas tangannya, membiarkan Mira jalan sendiri keluar dari kamar mereka.


" Ayok makan dulu, ini buburnya." Mama memberikan mangkuk isi bubur sum-sum untuk Mira.


" Ma kasih ma, ngrepotin kan jadinya."


Mira jadi merasa tidak enak.


" Yang dekat sekarang kan mama, kalau nunggu pulang kelamaan, keburu ngences nanti."


" He'em." Rayyan berdehem, memberikan lirikan pada mama untuk diam.


" Makan yang banyak, masih ada di dapur kalau mau nambah."


" Iya ma."


" Mama tinggal dulu ya, mau lihat di luar." Pamit mama.


" Iya ma." Mira mulai menyuap setelah mama pergi.


" Pada kemana mas? Kok sepi?" Tanya Mira sambil menikamati bubur buatan mama Sarah yang ternyata hampir sama dengan buatan ibu Santi.


" Di luar." Jawab Rayyan, matanya tak lepas dari wajah Mira. Tangannya dia gunakan untuk menopang dagunya agar betah berlama-lama memandangi wajah cantik sang istri.


" Mas mau?"


" Enggak." Rayyan menggeleng.


" Kok ngliatinnya kayak gitu?"


" Pengen aja."


" Ya udah liat aja." Mira tetap cuek sambil menghabiskan bubur.


" Yank."


" Hem."


" Kamu udah telat kan bulan ini?"


" Iya, kenapa?"


" Periksa ya."


" Biasanya juga mundur mas, kadang maju. Gak tentu jadwalnya." Mira paham maksud Rayyan, dia hanya tidak ingin memberi harapan palsu.


" Tapikan enak diperiksa yank, biar jelas."


Mira meletakkan sendok, berganti menatap mata Rayyan.


" Mas pengen punya anak ya?"


Sekarang Rayyan bingung menjawab pertanyaan Mira, takut kalau Mira menyangka dirinya terlalu terburu-buru untuk memiliki keturunan, padahal dia hanya ingin memastikan apakah keanehan Mira itu karena sedang mengandung.


" Maaf ya mas. Aku memang biasa telat, dan aku enggak mau kalau karena ini mas malah kecewa nantinya. Tunggu setelah bulan ini lewat ya, kalau enggak dateng baru periksa."


" Mas bukan kecewa, cuma kawatir aja kamu aneh akhir-akhir ini. Kalau masalah anak, kita masih punya banyak waktu, toh kita nikah juga belum ada 2 bulan kan? Masih ada bulan depan, tahun depan, depannya lagi sampai habis sisa umu....."


" Jangan bilang gitu! Mama punya jeruk enggak ya." Mira mengalihkan pembicaraan.


" Tadikan udah banyak yank makan jeruknya." Rayyan mencegah Mira beranjak ke kulkas.


" Kan aku bilang masih pengen. Apa tanya mama aja beli jeruknya dimana ya." Mira berjalan keluar menyusul mama Sarah yang sedang berbicara dengan pihak WO.


" Apa?" Mama bertanya saat Mira berjalan ke arahnya.


" Mama beli jeruk kemarin dimana?" Pertanyaan yang membuat mama Sarah yakin kalau manantunya ini sedang ngidam, soalnya dia dulu juga begitu saat hamil Rayyan, harus makan jeruk setiap hari.


" Mama masih suruh Mathew sama Ajeng beli. Kamu mau berapa kilo lagi emang?" Pertanyaan yang membuat Mira malu.


" Jangan malu begitu, kamu akan selalu bertanya buah satu itu mulai hari ini. Jadi mama mau stok banyak selama kamu ada disini."


" Ih... Mama, Mira jadi enggak enak ngrepotin mama terus ini."


" Enggak ngrepotin sama sekali, mama malah seneng kok... Mau yang asem kan jeruknya?"


" Kok mama tahu? Bukan asem ma, tapi seger gitu rasanya makan jeruk."


" Mama tahu, dulu waktu mama hamil Rayyan juga gitu, maunya makan jeruk tiap hari, tapi yang asem, kalau manis mama malah marah-marah, sampai papa pusing sendiri."


" Mama hamil mas Rayyan makanannya jeruk?"


" Iya, hobby banget mama waktu itu sama jeruk."


" Kok...."


Mira diam, apa mungkin yang dia rasakan saat ini adalah........ Karena apa yang dia rasakan sama seperti apa yang dikatakan mama Sarah.


" Periksa yuk." Rayyan memeluknya dari belakang entah sejak kapan Rayyan ada disana, membuat Mira tercengang sambil menatap wajah tampan yang berada di samping Lehernya, sedang sang mama hanya tersenyum.