I LOVE YOU, ENCUS

I LOVE YOU, ENCUS
Suara Hati Anak



" Mbak Sri." Mira melihat mbak Sri yang sedang ada di dapur.


" Adek sakit mbak?"


" Iya...."


Mira mengambil minum meneguk hampir satu gelas besar.


" Haus banget?" mbak Sri melihat Mira yang langsung mencuci gelas kosong dan meletakkan di rak dekat wastafel.


" Nahan dari tadi mbak, adek rewel, gak mau ditinggal. Untung setelah minum obat langsung tidur."


" Emang gitu mbak Mira, kalau anak sakit. Gak bisa ngapa-ngapain. Untung cuma ngurus anak mbak, kalau jadi ibu lain lagi. Kadang mau sekedar pipis aja susah." Curhat mbak Sri.


" Gitu ya mbak." Mira duduk, sambil menyantap sarapan yang sudah dingin, karena mas Sigit beli dari tadi pagi, dan sekarang sudah jam 10 lewat, hampir jam setengah 11.


" Sayurnya sudah matang lho mbak Mira."


" Ini aja mbak, sayang udah dibeli."


Mira menyantap lontong sayur berlauk kerupuk.


" Itung-itung belajar jadi ibu mbak. Besok kalau sudah rumah tangga gak kaget lagi." Ucap mbak Sri.


" Sudah berpengalaman ya." tambah Mira.


" Betul itu. Apalagi kalau nanti hidup bareng mertua. Tambah ribet lagi. Sudah anak sakit, rewel, belum ini, belum itu, mertua bawel, aduh pusing mbak."


Ocehan mbak Sri ada benarnya, membuat Mira jadi berpikir tentang keluarga mbak Sri.


" Emang mbak Sri masih tinggal sama mertua?"


" Masih, makanya sekarang merantau pengen punya rumah sendiri mbak." jelas mbak Sri.


" Oh gitu. Enak mana mbak?"


" Ya enak tinggal sendiri mbak Mira, mau apapun bebas. Urus anak, suami, rumah gak ada yang komentar."


" Mbak Mira udah punya pacar?" tanya mbak Sri, namun Mira hanya tersenyum.


" Kok malah senyum?"


" Masih mau kerja dulu mbak Sri, banyak tanggungan." Ucap Mira.


" Gadis tanggung dong."


" He'em."


Mereka tertawa bersama. Tanpa ada yang sadar bahwa seseorang sedang menguping obrolan antara pembantu dan baby sitter itu.


" Umur berapa mbak Mira?"


" Hampir 24 mbak." jawab Mira.


" Seumuran mbak, Gadis udah umur 4 tahun waktu itu."


" Nikah muda?" Tanya Mira.


" Di kampung mah, segitu udah ketuaan mbak. Tapi maaf, itu di kampung saya, bukan di tempat mbak Mira." Mbak Sri tahu bahwa ucapanya akan menyinggung Mira, tapi untungnya tidak. Bukan Mira jika mudah tersinggung.


" Itu pilihan mbak Sri."


" Iya."


" Saya ke adek ya, kayaknya Gea sudah mau pulang, ini kan jumat." Pamit Mira dan meninggalkan dapur.


* * * * *


Mira melihat Geby yang tertidur pulas. Memeriksa keningnya dan merasakan bahwa suhu tubuhnya sudah turun.


" Alhamdulilah." Mira lega. Ia menunggu di kamar sambil menyusun baju milik Gea dan Geby, memisahkannya dan meletakkan di lemari masing-masing.


Hp di kantongnya bergetar. Melihat layar tertera nama bu Rita.


Mira melangkah keluar menjauh agar tak mengganggu tidur Geby, menuju ruang tamu.


" Iya bu."


"........"


" Sudah."


" ...."


" Iya bu."


Mira mengantongi lagi hpnya dan berbalik, namun gerakannya yang tiba-tiba membuatnya menabrak mas Sigit yang akan menjemput Gea. Tabrakan tak dapat dihindari, namun beruntungnya lengan Sigit dengan cekatan menangkap tubuh Mira, sehingga tubuh Mira tak terkena pojok meja, hanya pergelangan tangannya yang tersentak.


Saling pandang hingga beberapa detik, dan kejadian itu juga sempat tertangkap mata Rayyan yang berada di tangga akan turun setelah mengambil beberapa barang miliknya yang sengaja ditinggal di rumah kakaknya di kamar khusus miliknya.


Ada perasaan berat di dalam hatinya, ketika melihat dua manusia di ruangan lain yang sedang berdekatan, walaupun itu karena kecelakaan.


Apakah aku cemburu? Apakah benar perasaan ini adalah cinta? Apa cinta bisa secepat itu datangnya? Padahal selama ini, aku tak pernah merasa bahwa wanita itu menarik, tapi melihatnya adalah sesuatu yang berbeda.


" He'em." Rayyan melanjutkan turun, dan berdehem ketika melihat Mira dan Sigit masih berada di posisi yang sama.


Ia memindai wajah Sigit, yang baginya bukan kaleng-kaleng. Tampan, bahkan saat ini sedang melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi, itu berarti tak lama lagi dia bukan supir namun seorang sarjana.


Rayyan menepis pikiran dan menghampiri Mira dan Sigit.


" Gea sudah waktunya pulang ya Git?" Tanyanya, berusaha biasa nada bicaranya.


" Iya mas, ini saya mau jemput."


" Ya sudah, hati-hati." Maksud ucapan Rayyan adalah, agar Sigit segera pergi dan tak dekat dengan Mira. Beruntungnya Sigit langsung berangkat sesudah mengucapkan maaf pada Mira.


" Tidak. Hanya sedikit linu aja."


Mira langsung bergegas, karena mendengar tangisan Geby. Melewati Rayyan yang mengikuti Mira melalui pandangan mata, namun tetap di tempat.


" Apa aku harus mengatakan sekarang? Kenapa aku takut keduluan Sigit ya?" Rayyan bergumam sambil menggelengkan kepala, seolah menyadarkan bahwa realitanya sangat sulit.


" Tapi bagaimana?"


Mira keluar dari kamar Geby, sambil menggendong. Membawa ke dapur untuk mengambil makanan.


" Maem ya... Aaa...." Mira ikut membuka mulut, agar Geby mau menerima suapan. Namun sepertinya rasa sakit di tenggorokannya membuatnya takut untuk menerima suapan dari tangan Mira.


" Punya bubur gak mbak Sri?"


Mbak Sri membuka lemari penyimpan makanan


mencari bubur instant disana.


" Ini mbak."


" Trima kasih mbak."


Rayyan memandang dari jauh bagaimana Mira harus menggendong Geby dan membuat bubur dengan satu tangan. Karena Geby tak ingin turun.


" Sama om ya." Rayyan menghampiri dan mengulurkan tangan.


Geby memandang Rayyan yang mengenakan pakaian seolah akan pergi. Membuatnya kemudian mengeluarkan tangannya dari dekapan Mira dan berpindah ke tubuh Rayyan.


" Om au egi (om mau pergi )?"


" He'em." Rayyan membawa Geby berjalan ke teras belakang, sambil menunggu Mira yang menyelesaikan membuat bubur.


" Auh....(jauh)?" Mata bening Geby memandang mata Rayyan.


" He'em."


" Engkuuuuttt...( Ikuuut)!" Mata bening itu kini berair. Siap menurunkan dua anak sungai.


" Mbot kan lagi sakit, belum sembuh. Nanti kalau om pulang, kan Mbot udah sembuh." Rayu Rayyan. Namun Geby malah memeluknya dan mulai terisak. Tak ingin ditinggal lagi.


Rayyan menepuk-nepuk punggung Geby, kadang mengelusnya agar balita itu tenang.


" Om Ray mau pergi lagi?" Gea muncul masih dengan seragam sekolahnya. Kebiasaan saat pulang sekolah hal pertama yang ia cari adalah adiknya. Tak menemukan di kamar, jadi dia keliling mencari keberadaan sang adik.


" Ya..." Jawab Rayyan, sambil berbalik melihat Gea yang mematung di tengah pintu.


" Jangan pergilah om. Mama udah pergi, papa sibuk kerja, terus kami sama siapa?"


Gea mendekat, ikut memeluk sang om kesayangan. Kerena selama ini Rayyan yang sering menggantikan orang tua mereka yang sibuk dengan pekerjaan. Dan aksi yang dilakukan Gea saat kedatangan Mira kemaren adalah bentuk protes.


" Ini yang terakhir om pergi, setelah ini om paling cuma di bengkel. Gak kemana-mana."


Rayyan mengusap rambut Gea yang bebas dari Geby. Dua keponakannya itu sama-sama terisak.


" Lama gak om?"


Rayyan tak menjawab, karena sudah pasti itu lama.


" Tapi ini yang terakhir. Nanti kalau om pulang, om bawain oleh-oleh mau."


Gea mengendurkan pelukannya, menengadah ke atas, memandang wajah Rayyan yang menunduk.


" Om pulang aja, aku udah seneng. Hadiahnya nanti menyusul." Ucapnya.


" Ok."


Gea tersenyum, namun Geby malah menangis.


" Diem dek, ini kakak." Gea mengusap-usap kaki adiknya.


" Tuh encus... Bawa maem, kita maem yuk."


Benar saja, Mira datang membawa bubur dan minum di kedua tangannya, sudah berdiri di dekat mereka.


Geby tetap memeluk Rayyan, tak tertarik dengan suara Mira.


" Maem sama om ya."


Rayyan merasakan gerakan kepala Geby, kemudian mengganti posisi Geby dipangkuannya. Duduk di kursi, sedang Mira juga ikut duduk, membantu menyuapi Geby.


Dengan begitu akhirnya Geby mau makan. Sedang Gea menggelendot, memeluk tubuh Mira dari belakang.


" Coba mama sama papa punya waktu, pasti asyik ya bisa kumpul kayak gini." Celetuknya.


Mira dan Rayyan saling pandang mendengar ucapan penuh kesedihan dari mulut Gea.


" Mbak, jangan pergi ya, urus kami." Pintanya kemudian.


Mira meletakkan mangkuk yang dipegangnya, mengambil tubuh Gea, lalu memeluknya.


" Yang penting kamu nurut, jangan nakal." Mira mengusap-usap punggung Gea, dan tersenyum dibalik hatinya yang tersayat mendengar suara hati seorang anak yang butuh kasih sayang.


" Mama sering pergi, papa juga. Kami ditinggal, kadang oma juga gak punya banyak waktu, opa sama kayak papa, dan om Rayyan bentar lagi pergi. Terus kami cuma sama encus."


Rentetan suara hati dari Gea, cukup membuat Mira paham sekarang. Bahwa mereka kurang kasih sayang dan perhatian.


Dan mirisnya lagi, Mira sekarang menawarkan kasih sayang dan perhatian namun mengharapkan imbalan.


Tapi dia butuh.


Ya Allah... Adilkah ini?