I LOVE YOU, ENCUS

I LOVE YOU, ENCUS
Di Kira Gila



Mira kesal dengan Andre yang memandikannya dengan kulit bawang. Tapi dia tak langsung beranjak dari depan televisi, karena masih menunggu sang pujaan hati melakukan ritual di atas podium.


" Cuci rambutmu Mira."


" Sebentar ibu." Mira tetap berdiri, sedangkan Andre mendapat hukuman membereskan kulit bawang yang menjadi berserakan dimana-mana.


" Kayaknya dapet paketan ini. Yang kalah taruhan, buruan beliin ya, jangan banyak-banyak yang 50 ribuan aja." Ledek Mira saat melihat wajah muram Andre.


" Jangan ganggu adikmu Mira, atau kamu selesaikan kupas bawang!"


" Ya ibu, maaf." Mira berlalu dan menuju kamarnya untuk mandi lagi. Padahal ini sudah pukul 19:30 wib.


" Bagaimana jika aku nanti masuk angin, ibu?" Mira keluar lagi dari kamar sambil menenteng handuk.


" Manja banget sih! Rebus air sendiri!" Ucap Andre dengan nada penuh kekesalan terhadap kakaknya itu.


Mira tertawa mengejek melihat Andre harus menyapu lantai seluruh ruangan, karena kulit bawang yang ringan bertebaran terkena kipas angin saat mengguyur Mira dengan kulit bawang tadi.


" Ibu....." Rengek Mira dengan nada manjanya.


" Semenjak sakit, kenapa kamu jadi manja begini!" Ibunya bangkit dari duduknya menuju dapur untuk merebus air.


Mira mengikuti ibunya membawa hp yang ia sumputkan di dalam handuk.


" Bu, ada yang ingin bicara sama ibu." Mira mendekat, memberikan hp pada ibunya.


Ibunya menerima hp tanpa melihat kondisi hp itu, langsung menempelkan benda itu ke telinganya.


" Bukan begitu ibu. Ini panggilan video."


Ibu lantas melihat layar hp Mira. Matanya menatap sosok yang baru saja ia saksikan bersama anak-anak di layar tv.


Hanya diam. Ibu mengira Mira memutar video lewat YouTube.


" Ibu, katanya mau bicara sama teman Mira."


Ibu masih belum percaya dengan apa yang ia lihat dan Mira katakan.


" Kamu ingin mengerjai ibu lagi? Dasar anak nakal!" Ibu malah menjewer Mira.


" Ampun ibu!" Mira mengusap-usap telinganya yang terasa panas.


Rayyan tertawa disana, dan ibu mendengar orang dalam hp itu menyuruhnya terus menjewer Mira.


" Kenapa dia bicara sama ibu?"


Mira melongo, tak percaya dengan reaksi ibunya.


" Ibu, ini telpon. Panggilan video, bukan YouTube. Kemarin ibu bilang ingin bicara sama teman Mira, ingin tahu pekerja teman Mira. Ya dia teman yang Mira bicarakan sama ibu." Jelas Mira.


" Dia temanmu?"


Ibu menatap Rayyan yang tersenyum melambai, masih mengenakan seragam lengkap, hanya mengganti helmnya dengan topi. Penampilan yang sama saat ia diwawancara dan berada di atas podium.


Ibu jelas tidak percaya, bagaimana bisa orang yang ia saksikan di layar televisi, kini sedang berbicara dengannya.


" Assalamualaikum ibu." Rayyan menyapanya.


" Wa...wa...wal...laikum.. Sa...sa...aalam." Ibu terbata membalas salam dari Rayyan.


Mira keluar dari dapur membawa teko berisi air panas yang sudah mendidih untuk mandi.


Ibu bingung sekarang. Harus menggunakan bahasa apa berbicara dengan Rayyan, mengingat saat wawancara, ibu mendengar bahasa yang digunakan Rayyan adalah bahasa Portugal. Dan dilihat dari wajah dan rambutnya juga dia bukan seperti dari Indonesia.


Darimana Mira dapat orang seperti ini.


Ibu malah bengong.


" Selamat malam bu."


Dia menyapa dengan bahasa indonesia?


" Selamat malam." Ibu berusaha untuk menguasai keadaan di tengah kebingungannya.


" Saya Rayyan....."


" Siapa bu?" Andre masuk, memutus dialog Rayyan yang belum selasai.


Ibu menoleh pada Andre yang meletakkan sapu dan keranjang sampah di dekat meja kompor.


" Teman kakakmu." Ibu memperlihatkan hp Mira pada Andre.


" Calon kakak ipar dong." Andre melihat wajah di layar hp milik Mira.


" Mas, kok mirip sama pembalap motor? Pakai seragam juga, ngefans ya sama Rayyan Aquino? Emang jodoh kalian, idolanya aja sama." Cerosos Andre, tanpa memberi jeda untuk ibunya berbicara.


Rayyan hanya terus tersenyum sambil mendengarkan celotehan Andre.


" Hati-hati mas, takutnya kalau nanti mbak Mira minta mahar ketemu sama RA, bisa ikutan gila masnya."


Mira yang sudah selesai mandi dengan rambut terbungkus handuk, masuk ke dapur mengembalikan tempat untuk merebus air.


" Sudah bu ngobrolnya?"


Andre memandang sinis ke arahnya.


" Kamu kenapa Ndre? Kesurupan?" Mira mendekati ibunya, ikut nimbrung berbicara dengan Rayyan.


" Selamat ya mas, tadi keren banget loh."


" Selamat ya mas, tadi keren banget loh." Andre mengikuti ucapan Mira dengan nada yang dibuat sejelek mungkin. Membuat Mira, ibu, dan Rayyan bingung dengan tingkah manusia satu itu.


" Dia kenapa sih bu?"


Ibu menggeleng tak mengerti.


" Mas, hati-hati ketularan gila kayak kak Mira."


" Andre! Diam." Hardik ibunya.


Ganti Rayyan yang bingung sekarang, waktunya habis. Dia harus kembali bersama team untuk perayaan dan evaluasi.


"Maaf nanti lagi ya, waktunya habis."


Mira membiarkan sambungan hp terputus. Dia maklum Rayyan masih sibuk sekarang. Tapi dia senang di tengah kesibukannya, Rayyan masih mengingatnya.


" Dia benar-benar teman yang kamu ceritakan Mira?" Tanya ibunya.


Mira mengangguk " Ibu bicara apa tadi?" Tanya Mira kemudian.


" Belum sempat bicara, Andre malah ngomong yang aneh."


Mira melihat Andre yang sedang menyeduh kopi.


" Dasar pengacau. Kalau kalah taruhan itu jangan marah-marah Ndre." Sungut Mira.


" Kakak itu, kecentilan! Pakai teriak-teriak, lompat-lompat. Lebay tahu nggak!"


" Kamu enggak seneng lihat aku seneng? Gak mampu ya!"


" Mira sudah!" Lerai ibu yang pusing mendengar kedua anaknya saling ejek.


" Lebay aja bu, biasanya juga biasa aja nontonnya. Ini pakai bilang love you mas Rayyan. Geli tau dengarnya.... Iiiiiiih!" Andre bergidik ngeri.


" Kamu gak lihat yang barusan telpon tadi siapa?"


" Temen sealiran kakak kan? Yang sama narsisnya! Nonton aja pakai baju yang sama kayak yang dipakai sama RA. Kalian cocok, tinggal tunggu tanggal disahkan aja."


" Andre! Sudah. Lama-lama ibu pusing dengar suara kalian." Ibu keluar dari dapur meninggalkan Andre dan Mira.


" Dia memang RA Andre." Jelas Mira.


" Noh kan, mulai halu!"


Andre mendekat, meletakkan telapak tangannya ke kening Mira.


" Hampir panas."


" Apaan sih!" Mira menepis tangan Andre.


" Kak, apa kecelakaan kemaren segitu parahnya? Sampai halu di telpon sama RA?" Celetuk Andre.


" Tapi dia emang RA Andre, kakak gak lagi halu."


Andre berdecak kesal, ia jadi kawatir dengan keadaan kakaknya sekarang.


" Besok pagi kita ke dokter Melian Sp. Kj." Ucap Andre.


" Kamu kira kakakmu ini gila?!" Mira tersulut emosi.


" Sepertinya begitu. Sabar kak, tunggu semalam ini, besok Andre ijin dari sekolah. Antar kakak periksa ke ahli kejiwaan."


Andre menepuk bahu Mira, sebelum berlalu meninggalkannya Mira untuk menikmati segelas kopi buatannya.


🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹


New dari Fillia " Who's your DADDY, my SON?


Yuk, di komenin ya..... 🤗🤗🤗