I LOVE YOU, ENCUS

I LOVE YOU, ENCUS
Boncabe 3 : Gara-gara Mantan



Kembali sibuk dengan persiapan pulang kampung.


Semenjak menikah, Mira belum pernah pulang ke rumah ibu. Ada kerinduan terdalam dengan kampung halaman yang menjadi saksi


sejarah pertumbuhannya. Bahkan rasanya Mira sudah tidak sabar menunggu besok pagi, saat dia dan keluarga kecilnya berangkat pulang kampung.


" Mas, aku sebulan ya disana."


" Iya sayang. Kan udah pernah bilang." Rayyan masih sibuk dengan laptopnya.


" Mas ikut disana apa pulang setelah nikahan mas Sigit?" Tanya Mira.


" Lihat entar ya."


Mira mengangguk, melanjutkan memasukkan barang-barang yang akan dibawa.


Sementara itu di Lampung


" Mira anaknya mbak Santi yang katanya dapet orang kaya itu to?"


" Iya, mau pulang kampung. Kan si Sania dapet kembarannya."


" Kaya bener paling ya buk, soalnya bu Santi sekarang laundrynya itu makin besar, terus usaha cetringnya juga maju."


" Dananya darimana kalau bukan dari menantunya. Kalau ngandelin pak Subagio paling cuma cukup untuk biaya Andre yang masuk angkatan."


" Enak ya yang dapet orang kaya, hidupnya bisa berubah sekaligus."


" Lha terus nasibnya bobby anaknya bu Siti gimana ya? Ajeng kan sekarang udah nikah lagi, sama orang kaya juga katanya."


" Kalau bobby masih anteng aja, belum kelihatan punya gandengan lagi. Mungkin kena karma gara-gara dulu ninggalin Mira sama nyeraiin si Ajeng."


" Dasarnya aja emaknya yang gila harta, coba kalau dulu direstuin sama Mira, sekarang udah nikah itu si Bobby."


" Belum jodohnya bu."


" Padahal ganteng lho si Bobby, kok susah dapet jodoh yang pas."


" Mau jadi pacarnya takut bu, kalau gak kaya, nanti bisa-bisa kayak Mira dulu, jadi bahan hinaan sama bu Siti."


" Ho'o ya, Mira dulu kasihan banget. Sama bu Siti dihina terus. Eh... sekarang hidupnya Malah lebih enak daripada si Ajeng yang dibangga-banggain sama bu Siti. Malah denger-denger nih bu, suaminya Ajeng itu anak buahnya suaminya Mira. Berarti kaya bener to suaminya Mira."


" Bule." celetuk ibu yang lain.


" Masa... Wah... Ganteng banget pasti, bule biasanya ganteng. Tinggi, besar, terus hidungnya mancung, apalagi ditambah kaya, paket lengkap."


" Lha Mira nya juga cantik. Bodo aja si Bobby nglepasin Mira."


" Berarti nasibnya Mira aja yang bagus, dapet bule kaya."


" Coba kalau tetep sama Bobby, malah cuma jadi keset sama bu Siti."


" Ho'o. Untung mereka gak jadi nikah ya."


" Kapan to dia dateng?"


" Katanya besok."


" Sama suaminya juga."


" Katanya sih iya, sama anaknya yang kembar."


" Baik bener nasibnya Mira ya."


" Kok malah aku yang gak sabar ya pengen lihat Mira, kayak apa dia sekarang."


" Juga ngilangin penasaran lihat bule secara langsung, apa bener gantengnya kayak yang di tipi-tipi itu."


" Ho'o, saya juga lho, pengen lihat langsung bule itu kayak apa."


" Kita lihat aja besok, kayaknya bakal jadi viral ada bule masuk kampung."


" Iya, aku mau nyuruh anakku buat videoin, buat kenang-kenangan."


" Awas nanti pak Prapto ngamuk." Jawab ibu lainnya.


" Refreshing aja lho buk, liat yang di rumah gak berubah bentuk, kayak itu-itu aja."


" Yang mana yang berubah bentuk, coba dipegang, pasti langsung berubah."


" Kayak mana mau pegang, sama dia gak boleh." Kata ibu yang suaminya namanya pak Prapto.


" Lah emang yang dipegang apa tho, kok gak boleh?"


" Gagang gayung!"


" Pantes gak berubah bentuk, dipegang ya tetep jadi gagang gayung, coba kalau yang dipegang gagang kon...."


Bukkk


" Ehhhh... Konci... Konci.... konci." Si ibu tadi latah gara-gara punggungnya di pukul sama suaminya.


" Buk, belum masak, jangan ngrumpi teroooossss." Si bapak berkacak pinggang, si ibu nyengir kuda.


" Ehhh bapak."


" Pulang!" Si bapak melotot.


" Iya... ya pak, pulang ya bu... ibu..." dengan takut-takut ibu tadi pulang digiring suaminya, meninggalkan ibu-ibu yang lain yang sedang menarik nafas lega.


" Untung suamiku sudah berangkat kerja." si ibu yang lain bernafas lega, namun sebuah suara membuatnya gelagapan detik itu juga.


" Buk.... Sayurnya gosong!"


" Ya ampun lupa!" si ibu langsung lari ngibrit.


Begitulah kalau suka bergosip, sering lupa bahwa ternyata ada yang lebih penting yang harus diurus, tetapi terbengkalai gara-gara ngurusin urusan orang lain. Sibuk banget ya buk.. 🤗


🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹


Mira melangkah turun dari taksi. Ya, mereka naik pesawat selanjutnya naik taksi menuju rumah Mira yang hanya berjarak 5 kilo meter dari bandara.


" Kita sampai." Mira berucap dengan riang gembira pada kedua anaknya dan suaminya.


Rumah yang ditinggalkan satu setengah tahun yang lalu, kini berubah drastis. Dari warna cat dan profil yang juga berubah. Ibu dan pak Subagio ternyata merehab rumah selama Mira pergi.


Dan tempat laundry juga semakin besar, nampak beberapa karyawan yang disewa ibu Santi sedang bekerja.


" Assalamualaikum."


" Wah... Mbak Mira, panggil ibu cepat." seru seorang karyawan yang masih tetangga Mira.


" Ayo masuk mas..." Mira mengajak Rayyan yang masih berada di halaman depan sambil menggendong Azzura, sedang dirinya menggendong Azzam. Tak membawa suster, mereka meliburkan para karyawan, karena rencana mereka akan tinggal lama di rumah ibu Santi.


" Ya ampun.... Cucuku sudah besar." Suara bu Santi terdengar dari arah dalam, lalu tergesa berlari keluar langsung mengajak Azzam, tanpa menghiraukan tangan Mira yang terulur ingin menyalami.


" Buk... Tanganku dianggurin." suara Mira memelas, dan Rayyan tergelak.


" Sini kalau minta dipeluk." Rayyan melebarkan satu tangannya yang bebas.


" Malu dilihat orang mas." Bisik Mira, matanya melirik beberapa tetangga yang menyaksikan kedatangan Mira dari teras rumah masing-masing.


" Malu lagi kalau bertengkar dilihat orang yank." Rayyan menyenggol Mira dengan lengannya sambil mengu lum senyum, dan itu membuat Mira melengos, karena malu para karyawan dan tetangga memperhatikan mereka.


" Mau masuk apa mau ngobrol disini, anakmu kasihan capek." Bu Santi kembali lagi ke depan saat sadar Mira dan Rayyan tak juga masuk.


" Azzura mah ngikut papanya, dia gak bakal capek selama sama papanya." jawab Mira seraya masuk ke dalam sambil membawa koper yang lebih kecil, karena yang besar ditenteng oleh Rayyan sambil menggendong Azzura.


" Kok kamarku jadi lebar bu?" Mira tertegun dengan ukuran kamarnya yang berubah dua kali lipat.


" Biar pas ditempati sekeluarga."


" Dulu kamu sendiri, sekarang nambah tiga."


" Nak Rayyan, bawa sini Azzura. Kalau mau istirahat dulu." ternyata Azzam sudah digendong oleh pak Subagio yang nongol dari belakang.


" Pak." Rayyan dan Mira memyambut pak Subagio dan menyalaminya.


" Disini aja pak, rame-rame." Jawab Rayyan.


" Besok biar Sigit sama ibunya yang tidur disana mas." bu Santi menyela.


" Kalian sarapan dulu, sini biar sama ibu." bu Santi meminta Azzura dari Rayyan. Seolah tahu kalau itu adalah neneknya, Azzura langsung menyabut tangan bu Santi yang terulur.


" Ibu ajak keluar ya." Mira mengangguk.


Setelah bu Santi keluar membawa Azzura menyusul pak Subagio yang membawa Azzam, Mira beberes. Mengeluarkan barang-barang dari dalam koper.


" Mas udah laper belum?"


Rayyan menggeleng, dia duduk di ranjang yang memiliki ukuran sama dengan di rumahnya. Walaupun dia baru pertama datang ke rumah Mira, tetapi dia mengingat bentuk kamar Mira yang dulu, saat mereka masih pacaran dengan cara daring alias online.


" Ranjangnya berubah ya yank." ucapan Rayyan membuat Mira menengok.


" Apa?" Mira tak paham.


" Bukan ranjangmu yang dulu, kayaknya dulu gak segini gedenya."


Mira menjawab sambil melanjutkan beberes " Ibu merehap semuanya mas, kamar di lebarin. Dulu gak segini. Di samping situ dulu tamannya lebar, tapi sekarang tinggal jalan setapak. Bapak yang punya ide buat rombak kamar, katanya kalau kita pulang biar muat."


" Ilang dong memorinya."


" Memory apa?"


" Memory saat kita biasa kencan daring disini, ranjang kecil saksi kita juga gak ada, terus bantal sama guling yang dulu suka kamu peluk juga gak ada." Rayyan berkeliling mencari barang-barang yang pernah dia lihat saat vcall dengan Mira dulu, tetapi tidak menemukan satupun disana, kecuali dua foto berbingkai yang terpanjang berdampingan di dinding kamar.


" Kamu punya foto aku yank? Ini sebelum kita ketemu apa sesudah?" Rayyan mengamati foto dirinya yang berpose di atas motor balapnya, lengkap dengan atribut dan piala besar yang pernah dia raih.


" Sebelum."


Rayyan tersenyum " Sampai kamu bingkai begini?" ada rasa bangga di dalam hati Rayyan saat Mira mengatakan sebelum.


" Itu ada sejarahnya mas." Rayyan beralih menatap Mira yang tetap membereskan barang-barangnya, hingga hanya terlihat bagian belakangnya.


" Itu pas mas balapan di Italy."


" Aku sama temen-temen taruhan, siapa yang jagoannya menang dapet hadiah bingkai plus foto ekslusif."


" Walaupun saat itu aku gak mungkin bisa dapetin foto ekslusif si baby alien, tapi aku tetep ikut taruhan. Karena aku yakin mas pasti menang." ucap Mira dengan penuh semangat.


" Seyakin itu?" Rayyan tak percaya.


" He'em." Mira mengangguk.


" Emang siapa yang jagoin baby alien?"


Ada diam sebelum Mira menjawab " Jangan marah tapi ya..." Mira ragu.


" Kenapa mesti marah." Rayyan tak tahu nama siapa yang akan disebut oleh Mira, dia pikir sesama perempuan, seperti Ajeng, mungkin. Tetapi jawaban Mira membuat senyumnya luntur seketika.


" Mas Bobby."


" OH!"


Rayyan langsung terdiam. Mira sudah bisa menebak reaksi suaminya itu. Dia menghentikan kegiatannya, memilih menghampiri Rayyan.


" Itu masa lalu mas, sekarang masa depanku kan kamu sama anak-anak." Walaupun kata-kata Mira terdengar manis, tapi membayangkan kedekatan Mira dan Bobby waktu dulu membuat hati Rayyan mencelos, ada hawa berat ditarikan nafasnya.


" Hmmm."


" Kok cuma hem?"


Dengan berat hati, Rayyan mengatakan iya tanpa ikhlas.


" Mas cemburu?"


" Besok kita ke rumahnya lho."


Rayyan mendongak, melihat wajah Mira yang berdiri di hadapannya.


" Rumah Sania seberangan sama rumah mas Bobby." ucap Mira, dia peka dengan perubahan wajah Rayyan.


" Jadi pasti kita bakal ketemu waktu nganterin mas Sigit kesana."


Rayyan masih diam.


" Mas percaya sama aku kan?" pertanyaan Mira membuat Rayyan terkesiap. Menyadarkan dirinya bahwa dia memang harus percaya pada istrinya, walaupun tak dipungkiri hatinya cemburu dengan masa lalu istrinya yang akan dia lihat di depan mata, bahkan bingkai dan foto dirinya yang ada di kamar Mira ternyata hadiah dari mantan, rivalnya.


" Kamu pemenangnya mas." lagi Rayyan merasa bersalah, hingga dia berdiri membawa Mira dalam rengkuhannya.


" Maaf." Rayyan mengeratkan pelukan.


" Ada banyak jalan kalau aku mau kembali bersama dia, bahkan dia sendiri sempat datang setelah bercerai dengan Ajeng."


" Ya, aku tahu." ucap Rayyan dengan lirih.


" Tapi nyatanya bukan dia yang bersamaku, tapi kamu."


" Dia hanya batu loncatan."


" Kok?" Rayyan mengurai pelukannya, demi melihat wajah Mira.


" Ya... Mantan itu hanya batu loncatan untuk bahagia."


" Dan nyatanya sekarang aku bahagia bersamamu." Ada desiran yang menghempaskan rasa berat dalam hati Rayyan saat Mira mengatakan itu.


" Harusnya mas terima kasih sama dia." Mira memukul pelan dada Rayyan.


" Untuk apa?"


" Udah nganterin aku ke kamu."


" Apa hubungannya?"


" Intinya, karena ulah dia, aku sampai ke kamu."


" Ck! Bukan dia yang bawa kamu ke aku yank." Rayyan berdecak.


" Takdirnya emang kamu itu buat mas, bukan buat dia, jadi trima kasihnya salah alamat kalau sama mantan...mu." Rayyan melirih saat mengucap kalimat terakhir, agar Mira tidak tersinggung.


" Iyain ajalah biar cepet." Mira kembali beberes, malas berdebat dengan Rayyan.


" Kok marah?" Rayyan menatap kepergian Mira dari hadapannya, ternyata selirih apapun ucapannya, itu tetap membuat Mira kesal.


" Gak usah dibahas lagi!" Mira mengeluarkan barang-barang dengan menghentak tangannya, kelihatan sekali kalau dia sedang kesal. Rayyan serba salah sekarang.


" Maaf yank, iya mas salah." Rayyan mendekat.


Mira tetap diam. Dan itu membuat Rayyan semakin bingung. Dia sudah hafal bagaimana perangai Mira saat marah.


" Kamu lagi PMS ya?"


Mira masih diam, dan Rayyan mengingat-ingat tanggal jadwal bulanan Mira.


" Pantes sensi, wong lagi bocor." Rayyan menatap kalender dalam hpnya yang dilingkari, tanda merah menandakan Mira sedang dalam masa sensi, dan itu artinya Rayyan harus berhati-hati mengajak Mira berbicara. Tapi masalahnya topiknya ini yang sensi, terus gimana dong?!🤔🤔


🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹


Nulis satu bab sampai 4 hari baru kelar.


Maaf ya, baru nongol sekarang, otor lagi sibuk ngurusin keluarga yang sedang sakit. Ibu mertua, bapak mertua dan sepupu terpapar virus. Anak juga beberapa hari demam. Mau nulis gak dapet fillnya, udah mulai nulis tapi pikiran gak tau entah kemana, jadinya ya gini gak bisa up. Bersyukurnya otor tetap diberi kesehatan, dan tetep bisa lanjut berkarya.


Buat kalian, tetap jaga kesehatan.


Kita berdoa bersama, semoga pendemi segera berlalu.


Kita juga berdoa buat mereka yang berpulang, semoga husnul khotimah.


Pokoknya buat kalian semua tetap jaga kesehatan, makan teratur, dan tetap semangat. Patuhi protokol kesehatan, lindungi diri dan orang-orang yang kita cintai. Kita pasti bisa!


Luv you all


Fillia.