I LOVE YOU, ENCUS

I LOVE YOU, ENCUS
Bye!



" Mas, ibu gak kasih ijin."


Malam itu Mira mengatakan pada Rayyan bahwa dia sudah meminta ijin pada ibunya, dan hasilnya ternyata membuat Rayyan kecewa.


" Tapi ini untuk kebaikan ibumu juga kan?"


" Apa enggak berlebihan mas, curiga sama calon suami ibu? Belum tentukan dia begitu?" Mira mencoba meminta Rayyan berpikir positif, tapi bukan Rayyan jika mengalah begitu saja.


" Tapi aku tidak bisa tenang Mira, cobalah mengerti. Bagaimana kalau bapak tirimu itu ternyata malah tertarik melihatmu yang sedang masak, mandi, nyapu, nyetrika, apalagi sampai masuk kamarmu malam-malam...." Rayyan melebih-lebihkan ucapannya, membuat Mira bergidik ngeri membayangkan jika itu terjadi.


" Mas, jangan nakut-nakuti begitulah. Pak Subagio itu baik kok, dia guru Mira waktu SMP. Masa iya guru bisa punya pikiran seperti itu?" Mira mencoba membuat Rayyan tidak berpikir negatif tentang pak Subagio, nyatanya itu tetap tidak berhasil.


" Pokoknya kamu harus keluar dari rumahmu setelah ibumu menikah!"


" Mas, itu akan melukai perasaan ibuku. Dia mengira aku tidak suka dengan suaminya nanti."


" Tadi aja waktu Mira minta ijin mau kerja lagi, reaksi ibu sudah berlebihan. Menuduhku tidak setuju dengan pernikahan dan akan membatalkan pernikahannya kalau sampai aku tetap pergi." Mira menopang wajahnya dengan kedua tangannya. Terlihat tak bersemangat.


" Lalu apalagi yang dikatakan ibumu?"


" Dia minta bicara sama mas. Tapi inikan sudah malam. Ibu pasti sudah tidur."


" Bangunkan ibumu. Biar aku yang bicara."


" Mas Rayyan mau bicara apa sama ibu?"


" Ya tergantung apa yang ibumu tanyakan. Katanya ibumu mau bicara sama aku." Rayyan seolah tidak mengerti apa yang dipikirkan oleh Mira. Dia selalu menanggapi dengan ringan setiap ucapan Mira.


" Ibuku bukan oma."


" Oma juga seorang ibu, sama ajakan!"


" Isq! Mas ini, pusing aku."


" Hidup ini jangan terlalu dibuat pusing Mira. Ibumu ingin bicara denganku, apa masalahnya? Berikan saja hpmu sama ibu, bereskan!"


" Mas, bukan begitu. Kenapa sih susah sekali ngomong sama kamu!" Mira kesal jadinya.


" Sebenarnya mudah Mira, kamu saja yang membuat semuanya jadi sulit. Katakan kenapa aku tidak boleh bicara sama ibumu? Apa karena ini sudah malam? Ok, besok pagi sebelum jam 8 aku masih ada waktu. Berikan hpmu pada ibumu, biar aku yang bicara."


" Mas mau ngomong apa sama ibu? Mau bilang kalau aku takut tinggal serumah sama bapak tiri aku gitu!" Mira tersulut emosi, membuat Rayyan geleng-geleng kepala.


" Ternyata keras sekali isi kepalamu itu... cek!" Rayuan berdecak kesal.


" Ya! Aku memang keras kepala, terus kenapa? Mas jadi tidak suka padaku setelah ini? Silahkan! Pergi saja kalau mau pergi sekalian! Semua laki-laki memang sama aja!" Dengus Mira.


Rayyan memejamkan mata, menahan agar emosinya tak keluar. Mencoba untuk bersabar.


" Maaf, bukan begitu." Rayyan menurunkan nada bicaranya agar Mira juga mereda.


" Maksud aku, mungkin ibumu akan mengijinkanmu bekerja lagi kalau aku yang meminta ijin langsung pada ibumu."


Mira masih kesal, membuang pandangan ke arah lain. Tak ingin melihat wajah Rayyan.


" Sudah ya, jangan marah. Maaf." Ucap Rayyan dengan lembut.


Mira tetap diam saja, hanya mengalihkan wajahnya yang tadi berpaling menjadi menunduk. Terdengar isakan yang mana itu membuat Rayyan merasa bersalah.


" Maaf." lirihnya.


" Aku hanya bingung mas, jangan minta maaf." Mira menyeka air matanya dengan telapak tangannya.


" Aku paham, dan aku yang membuatmu bingung. Sekali lagi maaf ya."


" Aku harus bagaimana sekarang?" Tanya Mira.


" Biar aku yang bicara pada ibumu besok. Malam ini tidurlah, sudah malam." Ucap Rayyan.


" Apa besok mas akan mengatakan pada ibu kalau aku takut tinggal serumah dengan calon suaminya?"


Rayyan tersenyum, sambil menggeleng " Tidak, hanya ingin meminta ijin ibumu saja, agar kamu bisa bekerja. Hanya itukan yang ibumu katakan. Akan mengijinkanmu pergi setelah berbicara padaku?"


Mira mengangguk.


" Tidurlah. Kamu terlalu lelah hari ini."


" Tidak, aku hanya membantu ibu hari ini, jadi tidak lelah sama sekali." Ucap Mira.


" Bukan tubuhmu yang lelah Mira, tetapi pikiranmu." ucap Rayyan.


" Ya, lelah berpikir karena semua yang aku hadapi selalu menjadi masalah. Bahkan sesuatu yang mudah terasa sulit untukku."


" Maaf mas, seharusnya aku tidak terbawa emosi tadi. Aku hanya bingung."


" Aku tahu. Setidaknya sekarang ada aku disini. Kau bisa membagi masalahmu padaku." Ucap Rayyan. Mira mengangguk.


" Entahlah..." Ucap Mira kemudian.


" Pelan-pelan aja Mira, jangan terlalu dipaksa. Semua pasti baik-baik saja."


" Mas, kalau menurut mas. Menilai sikap ibuku, apakah mas percaya kalau aku bukan anaknya?"


" Apa ada ibu tiri sebaik itu? Bahkan aku tak bisa membedakan sekarang."


" Apa yang harus dibedakan Mira? Jika ibumu yang mengasuhmu dengan kasih sayang melebih ibu yang melahirkanmu saja tidak membedakanmu bahwa kamu bukan anaknya."


" Jadi apa bedanya dengan pak Subagio nanti mas, dia bukan bapak kandungku. Jika dia saja bisa seperti seorang bapak untuk kami. Jadi sama saja kan!"


Skak! Rayyan bingung sekarang. Tetapi buatnya itu jelas berbeda. Dan ia tak ingin lagi bertengkar dengan Mira jika dia mengatakannya.


" Sudah ya. Istirahatlah. Kita bicara lagi besok." Rayyan mengalihkan topik pembicaraan agar Mira tak selalu membahas tentang calon mertua tirinya.


" Bilang aja malas berantem." Celetuk Mira.


Rayyan tersenyum mendengar ucapan Mira. Bagaimana tidak, niatnya ingin melepas rindu malah diajak bertengkar.


" Besok lagi berantemnya. Sekarang tidur dulu. Masih banyak bahan yang bisa jadi dijadikan pertengkaran mengingat sifatmu yang mudah marah." Rayyan terkekeh geli melihat Mira yang memelototinya.


" Ngledek terus!" Sungut Mira.


" Lucu sih." Rayyan tersenyum lagi melihat Mira mencembik.


" Tuh kan."


" Apa!" Mira kembali melotot.


" Makin cantik aja kalau lagi melotot gitu."


" Gombalanmu gak laku mas." Mira menyembunyikan senyumnya samar disela-sela ucapannya. Rayyan tahu itu, malah berniat terus menggoda Mira.


" Aku gak jual gombalan sayang."


" Isqh! Apaan sih!"


Nada ucapannya Rayyan yang mendayu membuat Mira merasa geli, apalagi sebutan sayang di akhir kalimat, membuat Mira membuang muka, tak ingin terlihat bahwa ia sedang menyembunyikan wajahnya yang bersemu.


" Yank...."


Mira tambah tak ingin melihat wajah Rayyan, bahkan sekarang ia menutup begitu saja layar hpnya tanpa memutus sambungan telpon bervideo itu.


Rayyan tersenyum penuh arti membayangkan wajah Mira yang merona mendengar panggilan baru darinya.


" Tidur ya yank, selamat malam. Selamat bobok, mimpi yang indah. Jangan lupa berdoa, doakan aku agar besok menang lagi."


Mendengar ucapan Rayyan yang terakhir membuat Mira membenarkan lagi hpnya agar bisa melihat wajah Rayyan yang masih setia tersenyum.


" Mas besok mau balapan lagi?"


Rayyan mengangguk, masih tersenyum walaupun raut wajah Mira sudah berubah, menjadi lebih ceria.


" Kasih dukungannya dong, biar semangat."


" Pastilah aku dukung mas.... semangat ya, moga menang. Aku pasti nonton kok." Ucap Mira penuh semangat.


" Trima kasih. Tapi bukan itu dukungannya."


" Terus apa?"


Rayyan tersenyum lagi, membuat Mira curiga dengan senyum Rayyan yang terlihat berbeda.


" Apa sih mas."


" Tapi kasih ya."


" Apaan?!" Mira bingung.


" Masa gak ngerti sih!"


Mira menggeleng.


" Beneran gak ngerti?"


" Suer, enggak." Ucap Mira dengan wajah polosnya.


Rayyan mengetukkan jarinya ke pipi, memberi kode dengan senyuman. Mira langsung paham apa maksud Rayyan.


" Mas benar, sudah malam. Istirahat!. Selamat malam bye."


Mira buru-buru mematikan hpnya, meninggalkan Rayyan yang tertawa terbahak-bahak di dalam kamar hotelnya yang sunyi karena ditinggal oleh Mathew yang sedang berburu kupu-kupu.


🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹


Ayo yang ikut senyum-senyum jangan lupa dukungannya. Karya ini ikut kontes... Doakan semoga babang Rayyan sama otornya menang Ok!.... 😉😉😉😉


Jempolmu semangatku


Salam Fillia