I LOVE YOU, ENCUS

I LOVE YOU, ENCUS
Telepati



Memang benar, manusia hanya berencana dan Tuhanlah yang menentukan.


🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹


Pukul 06:00 wib, Mira yang habis beres-beres baru mandi. Karena tidak melakukan kewajiban sholat jadi dia memilih mandi terakhir sebelum berangkat bekerja.


Ia meletakkan sisir di sebelah kiri meja, tapi anehnya foto Rayyan yang berada di sisi kanan yang jatuh dan bingkainya retak.


Mira terpaku melihat benda persegi itu berada di bawah kakinya.


Deg


Perasaannya jadi tak karuan. Ia memungut bingkai foto yang retak, menatap sebentar lalu berlari ke bawah mencari mas Dony. Tak menghiraukan tangga panjang yang ia lintasi dengan langkah ganda, hingga sekali langkah dua anak tangga terlewati.


Dony yang masih memegang hp seketika menoleh ke arah ribut suara sandal yang dipakai Mira.


Terkejut, tapi dia berusaha untuk tidak memperlihatkan saat Mira menghampirinya. Segera menyimpan hp yang masih dalam genggamannya ke saku celananya.


" Mbak Mira, ada apa?"


Mira jadi bingung, seharusnya dia menghubungi Rayyan bukan malah berlari ke bawah mencari Dony.


" Bisa minta tolong hubungi mas Rayyan, hp ku paketnya habis." Dengan malu Mira mengatakan kebohongannya.


Dony mengernyit sebentar, berpikir apakah paket data senilai 1 Juta tidak sampai 1 tahun.


Tapi dia mengangguk juga dan berpura-pura menghubungi Rayyan, dia tidak mungkin mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, karena dia baru saja diberi tahu tentang kejadian yang menimpa bosnya itu.


" Mas Rayyan sedang sibuk mbak, ada pembekalan dengan team." dusta Dony, padahal dia tidak menghubungi Rayyan, tetapi Mathew.


" Oh, ok. Trima kasih mas, saya ke atas lagi." Mira akan berbalik menaiki tangga, tapi Dony menghentikannya.


" Oma bilang, hari ini mbak Mira gak perlu ke toko, tapi ke rumah pak Nathan aja mbak."


Mira ragu dan ingin bertanya tapi dia akhirnya hanya menggangguk.


" Beberapa hari, toko tutup karena oma ada keperluan katanya."


" Keperluan? Apa lama?"


" Belum pasti, tapi oma bilang nanti dikabari kalau sudah kembali."


" Apa oma pergi jauh? Kenapa mendadak? Tapi kenapa harus tutup toko? Bukannya Ada mbak Tari?"


Dony hanya mengedikkan bahu " Oma hanya perpesan begitu tadi mbak."


" Iya, saya bersiap-siap dulu. Apakah saya harus menginap di rumah bu Rita?" Tanya Mira.


" Iya, selama oma belum kembali."


Mira jadi curiga, kenapa seperti ada sesuatu yang terjadi, namun dia juga tak bisa mengorek apa masalahnya. Walaupun dia berhubungan dengan Rayyan, tapi dia tak harus ikut campur dengan masalah keluarga itu.


" Saya antar setelah saya apel ya mbak."


" Iya mas, saya ke atas dulu."


Dony mengangguk dan Mira melangkah ke atas menuju kamar. Seketika melihat foto yang kacanya retak itu, dia jadi merasa tak tenang. Ia mengambil hp yang masih ia isi daya, kemudian menggulir mencari nama RA. Tanpa ragu, dia langsung mengusap nama itu.


Tersambung, namun tak diangkat. Hingga 2 panggilan, namun tak ada jawaban.


" Mungkin memang benar dia sedang sibuk." Gumam Mira mencoba untuk berpikir positif.


Ya Allah, lindungilah dia dimana pun dia saat ini.


Mira memasukkan beberapa baju ke dalam tasnya.


Hp berdering


Andre


" Iya Ndre."


" Kak Mira sehat?" Tanya Andre.


" Kakak baik-baik saja, ada apa?"


" Ya sudah kalau kakak sehat, pengen tau aja kabarnya. Semenjak berangkat kakak lupa kasih kabar."


" Iya ya, maaf kakak lupa." Ucap Mira.


" Gitu aja kak, aku mau berangkat sekolah dulu." Pamit Andre.


" Ok, salam buat ibu sama bapak."


" Iya, sudah ya aku berangkat."


" Hati-hati."


Sambungan terputus, 1 pesan masuk dari Rayyan.


" Maaf yank, aku baik-baik saja."


Siapa yang tanya kabarnya?


Mira membaca, dan meletakkan hp ke dalam tas. Lega membaca pesan Rayyan, pikiran juga sedikit tenang.


Ia turun ke bawah menunggu Dony.


🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹


" Encussss." Suara Geby yang menyambutnya begitu ia turun dari motor Dony.


Mira menggandeng Geby masuk dan membiarkan Dony pulang. Suasana rumah biasa sepi, hanya ada mbak Sri.


" Mbak Sri." Panggilnya pada ibunya Gadis.


" Ehh.. Mbak Mira, apa kabar?"


Mereka bersalaman, saling berjabat tangan.


" Kok sepi mbak, pada kemana?"


" Apa bu Rita gak susah bawa Gea kerja?" Tanya Mira.


" Ibu bukan pergi kerja mbak Mira, tapi sama oma juga. Buru-buru tadi pagi langsung terbang."


" Saya aja kesini jam setengah enam, diminta jaga Geby."


Mira heran, oma pergi sama bu Rita bawa Gea. Mendadak.


" Mbak Sri tahu kemana mereka pergi, soalnya oma sampai tutup toko." Mira mencoba mencari info dari mbak Sri, siapa tahu mbak Sri tahu ada masalah apa.


" Om Ayan." Geby yang menyahut, Mira menunduk mendengar Geby menyebut nama Rayyan.


" Om Rayyan?" Tanya Mira memandang pada mata bulat Geby, anak itu hanya mengangguk.


" Kamu kangen sama om Rayyan?"


Geby diam, kemudian hampir menggeleng juga mengangguk. Mana yang benar Mira dan mbak Sri juga tidak tahu.


" Mereka perginya buru-buru mbak, pesawatnya aja pakai jet pribadi, kayaknya ada yang mendesak." jelas mbak Sri.


Mira diam, seolah sedang menghubungkan sesuatu dengan jatuhnya foto Rayyan tadi pagi.


Apa terjadi sesuatu dengan mas Rayyan, kenapa perasaanku jadi enggak enak begini?


" Mbak, Geby belum sarapan dari tadi. Katanya nunggu mbak Mira."


" Ya ampun, kok nggak bilang mbak, ini sudah hampir siang. Yuk Geby maem dulu sama Encus ya."


Mira mengajak Geby duduk di kursi meja makan, mengambilkan makanan kemudian menyuapinya.


" Mbak Sri nanti pulang?" Tanya Mira.


" Nanti Gadis mbak yang nginap disini." kata mbak Sri.


" Iya mbak Sri."


Mira berlanjut menyuapi si Geby yang sudah seperti orang kelaparan, karena dari pagi belum ke urus, bahkan mandi saja belum.


" Kita mandi habis ini ya." Ajak Mira.


" He'em."


" Mbak Sri gak usah masak ya."


" Mbak Mira puasa?"


Mira menggeleng " lagi M" Jawabnya. Mbak Sri tersenyum paham.


" Nanti aja kalau lapar, saya buat sendiri."


" Iya mbak Mira, habis ini ajak adek aja ke atas, biasanya dia suka main di kamar mbak Mira selama mbak Mira gak ada."


" Begitukah?"


" Iya mbak, suka sama bau kamar mbak Mira, katanya."


Si Geby tersenyum saat Mira melihatnya, menatap tak percaya pada si gembul yang sedang mengunyah makanan itu.


" Dia kangen." Lanjut mbak Sri.


Mira jadi merasa bersalah jadinya, tak menyangka anak sekecil itu akan merasa kehilangan saat ditinggal dirinya.


* * * * *


Waktu sudah melewati 30 menit dari waktu biasa Rayyan menghubunginya, tapi sampai saat ini tidak ada pesan ataupun panggilan dari Rayyan untuk Mira.


Mira jadi gelisah karena merasakan perasaan tak biasa yang mengganggu hati dan pikirannya sejak pagi.


Ia menyelinap keluar kamar Geby saat melihat Geby tertidur pulas di antara dia dan Gadis sedangkan Gadis juga sudah terlelap.


Ia menggeser layar mencari nama Rayyan. Memilih opsi pesan dan mulai mengetik sesuatu di hpnya.


Mas....


Terlihat dua centang dan langsung berubah warna menjadi biru, itu artinya pesannya langsung terbaca.


Dia sedang online kenapa tak menghubungiku?


Hati Mira kecewa. Tak lama Rayyan membalas pesannya.


Mas sekamar sama kru, jadi mas mungkin tidak telpon malam ini, maaf sayang ya...😑


Mira langsung membalas setelah membaca pesan Rayyan


Kenapa gak kirim pesan? Hari ini perasaan Mira gak enak, apa mas benar baik-baik saja?


Trima kasih sudah kawatir sama mas, tapi mas baik-baik saja. Tidurlah sudah malam, besok kalau ada kesempatan mas telpon ya...


Syukurlah mas baik-baik saja. Ya sudah, Mira tidur ya. Jaga diri, jaga kesehatan... Luv you 😚


Pasti mas jaga buat kamu... Luv you too 😚😚😚


Mira meletakkan hp di atas meja. Dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Rayyan . Karena hatinya benar-benar tidak tenang sekarang.


🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹


Sedangkan itu di dalam salah satu ruangan di rumah sakit, Rayyan sedang menatap kamar baru dengan nuansa putih yang baru di tempatinya siang tadi setelah menjalani operasi pemasangan pen di kaki kirinya yang patah akibat kecelakaan di perjalanan menuju lokasi perusahaan yang akan mengontraknya sebagai bintang iklan produk pelumas, sayangnya mobil yang membawanya mengalami kecelakaan yang membuat kakinya terjepit pintu mobil dan akhirnya patah, beruntung dia selamat, sedangkan Mathew sendiri juga mengalami cedera di tangan dan kepalanya harus mendapat beberapa jahitan. Yang tidak selamat adalah supir yang membawa mereka, harus meregang nyawa karena terhimpit kepala truck.


Rayyan sebenarnya juga tidak tenang harus berbohong pada Mira, tapi setidaknya itu lebih baik ketimbang membuat Mira kawatir jika mendengar keadaannya.


Besok saja setelah pulang, baru diberi tahu, pikirnya.


Dan kepergian oma serta bu Rita adalah untuk menjemputnya pulang. Dia akan melanjutkan perawatan di Indonesia.


Sedang opa sendiri saat ini sedang bergerak bersama orang-orangnya untuk menyelidiki kasus kecelakaan Rayyan, apakah murni kecelakaan atau memang ada pihak yang memang menginginkan kecelakaan itu, mengingat Rayyan adalah rider yang tak bisa dianggap remeh di sirkuit serta persaingan yang begitu berat, bisa saja ada pihak tertentu yang sengaja melakukan cara kotor untuk menyingkirkan sang rider agar tidak bisa berlaga lagi.


Bang, ternyata kamu harus pensiun dini, maafkan otornya ya.... 😣😣