
" Sini..."
Oma menepuk tempat di ranjang dimana dia duduk. Mengajak Mira duduk juga disana. Namun Mira hanya berdiri agak jauh dari oma. Merasa dirinya tak pantas untuk duduk berdampingan dengan majikannya, apalagi di ranjang mewah milik oma.
" Saya disini saja oma." Tolak Mira. Menautkan kedua tangan di depan, menunduk seolah siap untuk mendapatkan putusan dari oma. Mengingat ucapan bu Hardi yang tanpa saringan mangatakan semua keburukan yang tidak ia lakukan.
Oma tersenyum melihat bagaimana Mira begitu
siap menghadapi kemungkinan terburuk. Padahal dia hanya ingin mendengar awal kisah Mira hingga begitu dibenci olah bu Hardi.
" Duduklah, kakimu bisa patah kelamaan berdiri." Ucap oma.
Mira hanya menatap oma, masih tetap dengan posisinya yang berdiri.
" Sini." Oma akhirnya menjangkau tangan Mira, mengajaknya duduk di sofa.
Setelah mereka duduk, oma ingin melihat bagaimana wajah Mira.
Dia begitu polos, apa mungkin yang dikatakan oleh Siti itu benar. Tapi aku merasa itu tidak mungkin.
" Kamu kenal sama bu Hardi?" Oma mulai memancing sesi pengorekan masa lalu tentang Mira.
" Dia tetangga tak jauh dari rumah saya oma."
" Jadi kalian satu desa."
" Iya oma."
" Terus kenapa dia begitu membencimu?"
Mira diam. Apakah dia harus mengatakan bahwa ia ditinggal menikah oleh kekasihnya yang adalah anak bu Hardi. Memalukan sekali.
" Ayo Mira ceritakan."
Mira bingung, apakah harus dia ungkap masalah antara dirinya dan bu Hardi.
" Setidaknya jika kamu cerita oma bisa tahu, siapa tahu oma bisa bantu."
" Bantu apa oma?"
" Bantu laporin bu Hardi kepolisi, atas pencemaran nama baik."
" Haahh! Oma, jangan. Ini bukan ssesuatu yang serius yang harus sampai ke kantor polisi."
" Tapi tadi dia mengancam keluargamu Mira, itu berbahaya lho."
" Itu hanya gertakan oma, agar aku menjauh dari anaknya."
" Memang ada apa kamu sama anaknya?"
Nah lho, kena!
Oma tersenyum samar, merasa umpanya mulai mendapat mangsanya.
" Anaknya adalah mantan pacar saya oma, tapi itu sebelum dia menikah dengan gadis pilihan orang tuanya."
" Lalu apa masalahnya kok bu Hardi sampai harus bersikap buruk begitu sama kamu?"
" Dia kira saya mau merusak pernikahan anaknya."
" Tapi kamu tidak begitu kan?"
" Saya lebih memilih jadi baby sitter Geby seumur hidup oma, ketimbang jadi pelakor."
" Good girl." Oma mengacungkan kedua jempolnya untuk Mira " Tapi tidak harus begitu juga Mira. Kamu harus move on. Jangan mau cuma ngasuh anak orang lain. Kamu cari lagi dong laki-laki lain, dan asuh anak kamu sendiri."
" Berpikirnya begini, mati satu tumbuh satu lagi. Jangan seribu, kebayakan."
Mira tertawa mendengar oma menasehati namun juga mengajaknya bercanda.
" Apa alasanmu bekerja jadi pengasuh juga karena itu?"
" Bukan oma, tapi saya butuh uang, makanya saya bekerja."
" Kamu itu! Ya jelas kamu butuh uang, makanya bekerja. Alasan lainnya." Oma merasa jawaban Mira bukan jawaban yang ia inginkan.
" Buat biaya sekolah adik saya." Jawab Mira.
" Lainnya?"
" Sudah oma, itu aja."
" Tadi bu Hardi bilang dia bayar kamu berapa dan untuk apa?"
Mira tak langsung menjawab.
Apa iya, seperti itu juga oma harus tau.
Mira bingung sendiri jadinya.
" Em... I-tu... Oma." Ragu-ragu Mira mencoba menjawab.
" Apa?" Desak oma.
Mira sekali lagi diam. Dia merasa hal itu tidak harus dibeberkan pada orang lain. Cukup dirinya saja yang tahu, Dan cukup dijadikan pengalaman saja.
" Mira. Kamu bekerja pada kami, jadi apapun masalahmu, kami juga ingin tahu, siapa tahu kami bisa bantu."
" Dimana kita berada, kita itu satu keluarga. Jadi jangan sungkan jika punya masalah, cerita saja." Bujuk oma dengan begitu lembutnya.
" Iya oma." Mira mengangguk.
" Nah sekarang cerita sama oma. Kenapa bu Hardi memberimu uang?"
" I-tu... Untuk meninggalkan anaknya oma." Dengan keberanian akhirnya Mira mulai bercerita.
" Beliau memberi saya sejumlah uang untuk pergi meninggalkan rumah saya. Agar saya tidak bertemu lagi dengan anaknya."
" Memang kamu memang masih menemui anaknya?" Tanya oma.
" Tidak oma. Beberapa kali anaknya memang datang ke rumah, tapi saya selalu menghindar agar tidak bertemu dengannya."
Oma mengerti sekarang kenapa Mira memilih pergi dari rumah dan hubungannya dengan ucapan bu Hardi.
" Dia itu bukan takut kamu bersama anaknya Mira. Tapi takut anaknya tidak punya masa depan. Makanya dia menjodohkan dengan anak orang kaya yang katanya dokter."
" Kok oma tahu?" Mira kini malah gantian heran dengan pengetahuan oma tentang anak bu Hardi.
" Tadi dia cerita kalau dia menjodohkan anaknya sama anak dokter, biar masa depannya cerah. Dengan begitu anaknya tak harus susah-susah cari kerja, karena sekarang anaknya itu bekerja di rumah sakit milik besannya disini."
" Jadi mas Bobby sekarang di Bogor juga oma?" Mira sekali lagi terkejut mendengar bahwa Bobby juga ada di Bogor. Padahal dia sengaja pergi jauh agar tak lagi bertemu Bobby.
Dunia memang sempit. Batin Mira.
" Kamu harus lupakan laki-laki seperti itu Mira. Yang model begituan itu bukan laki-laki yang bertanggung jawab. Masa iya numpang hidup sama perempuan." Oma kini kesal sendiri.
" Laki-laki itu harus punya prinsip. Jangan mau sukses tapi pakai cara instant."
" Anak saya itu dua-duanya semua berdiri di atas kaki sendiri. Kalau Nathan itu dulu karena pintar dia dapat tawaran kerja di perusaahaan besar di Batam. Tapi papanya tidak setuju dan memintanya membantu mengelola perusahaan kami. Terus kalau Rayyan itu agak bandel, dia tidak suka dengan pekerjaan yang hanya duduk di ruangan. Jadi dia memilih sendiri menjadikan hobbinya menjadi pekerjaan, ya kamu tahu sendiri dia sekarang ke Portugal untuk balapan tapi juga bekerja. Hasilnya ternyata waow juga lho Mira, bisa untuk beli rumah mewah sekali menang."
Rayyan, trima kasih sama mama. Mama promosiin kamu nih... 😂😂😂
" Kamu itu bersyukur Mira bisa melihat keburukan anaknya bu Hardi dari sekarang. Itu jalan untukmu menemukan yang paling baik."
" Iya oma."
" Kamu gak mau nangis?" tanya oma.
" Tidak oma."
" Kenapa? Biasanya perempuan itu kalau disakiti pasti andalanya air mata. Menangis aja Mira, hanya ada oma disini, jangan malu."
Mira malah ingin tertawa, terlihat dari harus bibirnya yang ia tarik.
" Malah senyum, apa ada yang lucu?"
" Oma yang lucu. Masa menyuruh kok nangis."
" Memang kamu tidak mau nangis kerena sudah dicaci maki sama bu Hardi?"
" Tidak oma."
" Yah.... Gak asyik kamu tuh." Oma merasa tak berhasil ingin mencari simpati Mira dengan menjadi pendengar dan pelindung. Latihan jadi mertua yang baik hati, alias mertua idaman.
" Kalau oma yang jadi kamu oma pasti sudah nangis sambil gulung-gulung."
" Masa sih oma?"
" Iya, oma kalau sakit hati sama opanya Gea pasti nangis sambil gulung-gulung rambut.
" Haah!"
" Apa?"
" Mira kira oma gulung-gulung di lantai."
" Emang oma anak kecil, nangis sambil gulung-gulung di lantai. Enakan gulung-gulung rambut, habis itu dapat tatapan gemes dari opanya Gea, terus jadilah adegan so suit... Besok kalau kamu punya suami nangisnya yang imut, biar suamimu makin gemes sama kamu."
" Nangis imut oma? Kayak mana?"
Mira bingung dengan nangis imut yang dimaksud oma.
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
Kalau kalian, ada yang pernah nangis imut gak?
Kasih tau otor ya, lewat komen. Soalnya otor jadi blank soal nangis imut kayak yang dibilang oma...😂😂😂