I LOVE YOU, ENCUS

I LOVE YOU, ENCUS
Ajeng Dan Mathew part 3



Mathew akhirnya datang ke rumah orang tua Ajeng di Lampung, dengan membawa Yusril dan papa Jo. Yusril adalah adik kandung Mathew. Hanya dialah keluarga satu-satunya yang mendukung Mathew sampai saat ini.


Seorang adik yang selalu menjadi tameng bagi kakaknya, hingga membantu menutup akses sang ayah yang selalu memburu keberadaan sang kakak. Mengambil alih menjadi korban ketamakan keluarganya dengan menikahi anak dari rekan bisnis.


Itulah kenapa sampai saat ini Mathew selalu lolos dari kejaran ayah mereka yang bukan orang sembarangan. Dan Yusril dengan alasan pekerjaan selalu diam-diam menemui Mathew di Jakarta.


" Dengan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahan anak kami, kami ingin bertanggung jawab atas anak bapak dan ibu dengan meminta anak bapak dan ibu menjadi pendamping anak kami." Papa Jo dengan sopan melamar dokter Ajeng pada kedua orang tua dokter Ajeng.


" Kami selaku orang tua sangat kecewa pak dengan apa yang sudah terjadi, apalagi sampai menghasilkan anak di luar pernikahan, jelas itu sangat membuat kami, nama baik keluarga kami dipandang buruk. Lebih parahnya lagi, upaya kami untuk mengembalikan nama baik harus kembali tercoreng dengan perceraian, itu jelas membuat kami sulit untuk menerima keadaan." Ujar pak Slamet.


" Maka dari itu pak, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya dan sedalam-dalamnya. Sekarang kami datang untuk bertanggung jawab, mohon diperkenankan."


" Kalau sekarang kami sudah memberi kebebasan pada anak kami pak, jika dia mau menerima silahkan, kita laksanakn pernikahan, tetapi jika tidak saya sudah menyerah dengan dia, karena dia sulit diatur."


Seluruh mata memandang pada Ajeng yang menunduk sambil memangku baby Khansa.


" Jika kamu mau menerima, bapak sudah tidak masalah kamu mau menikah dengan siapa, itu sekarang hak kamu." Nada tegas terdengar menyakitkan ditelinga Ajeng, itu sudah biasa baginya, karena semenjak dia ketahuan hamil, keluarga besarnya sudah mengucilkannya, apalagi ditambah dengan perceraiannya dengan Bobby.


" Bagaimana nak Ajeng?" Papa Jo yang bertanya, sedangkan Mathew menunggu sambil berdoa, semoga Ajeng mau menerima dirinya.


" Kalau bukan menikah dengan dia, kamu memang mau menikah dengan siapa lagi?! Jangan lagi menyusahkan orang tua Ajeng!" Pak Slamet naik darah.


" Sudah pak! Beri dia waktu." Ibunya Ajeng mencoba menenangkan suaminya.


Mathew, dia tak menyangka karena dirinya, ternyata Ajeng harus diperlakukan seperti ini oleh keluarganya.


Rasa bersalah dan iba kini tersorot jelas lewat matanya, apalagi saat melihat baby Khansa yang berada dalam pangkuan Ajeng, buah hati yang tak bersalah, tetapi menjadi penyebab ibunya dipersalahkan, Mathew makin yakin untuk tidak melepas mereka berdua, seandainya nanti Ajeng mau menerima dirinya.


" Jika aku tidak mau, maka aku tidak membawa mereka kesini pak."


" Ajeng..." Suara Mathew tercekat ketika pak Slamet mengayunkan tangan akan menampar Ajeng, beruntung tangan Mathew sigap menahan agar tangan itu tak mendarat di wajah Ajeng, bisa jadi mengenai baby Khansa karena baby Khansa berdiri dalam pangkuan Ajeng.


" Maaf pak, saya yang bersalah. Tolong jangan sakiti dia." Mathew memohon.


" Jika dia tidak keluyuran di tempat hiburan malam, pasti dia tidak akan seperti itu! Kecewa saya, menyekolahkan dia agar jadi orang berguna, tetapi kelakuannya liar! Seperti orang kurang didikan! Sudah tenang bapak waktu kamu pergi kemarin, kenapa kamu pulang lagi! Sekarang tidak ada pilihan lain, kamu harus menikah dengan dia." Pak Slamet menunjuk Mathew setelah tanganya terlepas dari tangan Mathew.


" Dan kamu..." Pak Slamet kini berbicara dengan Mathew " Bawa dia setelah kalian menikah, jangan bawa kembali lagi kesini."


" Baik pak." Tegas Mathew mengangguk. Dia lega , tanpa harus susah payah membujuk keluarga Ajeng, tetapi bapaknya sendiri memberikan Ajeng untuknya.


" Bu, hubungi ustadz Japri sekarang." Pak Slamet menyuruh istrinya.


" Mohon maaf pak, tunggu!" Mathew menahan agar ibunya Ajeng yang akan beranjak untuk berhenti.


" Kenapa? Kamu berubah pikiran? Tak jadi menikahi anak saya?" Pak Slamet menyelidik pada Mathew.


" Bukan itu pak. Saya sangat mau dan ingin menikah dengan anak bapak, tetapi bukan dengan pak ustadz..."


" Maksud kamu?" Pak Slamet menunggu Mathew menyelesaikan ucapannya.


" Kami akan menikah, tetapi di gereja."


Semua tertegun dengan permintaan Mathew, tapi tidak dengan papa Jo dan Yusril, karena mereka sebagai orang terdekat sudah mengetahui keyakinan yang dianut oleh Mathew.


" Baik! Saya tidak peduli dengan cara apa kalian akan menikah. Yang penting segera bawa dia untuk pergi dari sini."


" Pak!" Ibunya Ajeng mencoba berbicara tentang keberatannya. Biar bagaimanapun Ajeng juga anaknya.


" Kamu mau membela anakmu?! Silahkan, ikut sekalian dengan dia. Hasil didikanmu kan? Pantas saja tidak bisa diatur."


Ajeng menggeleng, meminta ibunya menurut pada bapaknya.


" Ibu... Beri saja aku restu. Apapun dan bagaimanapun nanti aku, aku tetap menjadi anak ibu. Mas Mathew adalah laki-laki baik, ibu jangan kawatir, aku pasti baik-baik saja. Maafkan aku yang tidak bisa menjadi anak yang kalian inginkan." Ajeng berusaha untuk tidak melawan bapaknya, apalagi sampai memisahkan kedua orang tuanya.


" Ya! Kami merestuimu, tetapi jangan lagi datang ke sini. Bapak tak sudi melihat anak yang kurang ajar sepertimu. Kamu lihat abangmu, contohlah dia, anak yang bisa menjaga nama baik keluarga, bisa diandalkan bahkan sekarang bisa memajukan rumah sakit kita, membangun rumah sakit besar di Bogor, lalu kamu apa?! Bisanya bikin malu keluarga!"


" Ajeng, pergilah... Pergi dari sini, ibu merestui kalian. Jangan dengarkan ocehan bapakmu." Ibunya Ajeng memohon pada Ajeng untuk segera pergi, kejadian yang sama saat Ajeng baru saja bercerai dengan Bobby dan itu saat beberapa hari setelah melahirkan Khansa, kini terulang kembali.


" Nak, titip Ajeng, buat dia bahagia, berjanjilah pada ibu. Bawa dia pergi, sekarang! Pergilah." Ibu memohon pada Mathew, membuat Mathew hanya bisa mengangguk.


" Opa, dek, kita pergi dari sini." Ajaknya pada papa Jo dan adiknya.


" Ajeng, ayo... Kita pergi." Mathew merengkuh Ajeng dan membawanya keluar dari rumah keluarga Ajeng, meninggal pak Slamet yang terlihat masa bodo, sedangkan istrinya menangis bersimpuh di lantai.


Ajeng, berkali-kali menengok ke belakang. Berat rasa hatinya untuk ibunya, tetapi ayahnya menginginkan dia pergi.


" Kita berjuang bersama untuk mereka, tetapi sekarang kita pergi dulu dari sini." Bisik Mathew pada Ajeng.


" Maafkan aku, karena aku kamu harus menanggung semua ini." Mathew kembali merengkuh Ajeng yang mendekap erat baby Khansa, seolah ingin mencari kekuatan dari sana.


Papa Jo dan Yusril hanya bisa memandang penuh haru dan berdoa, semoga kebaikan dan keberuntungan selalu berpihak pada mereka.


" Bang, aku pergi. Aku harus kembali." Yusril mendekat, menepuk pundak sang kakak, membuat Mathew dan Ajeng saling menjauh.


" Maaf mengganggu." Yusril memandang dengan tatapan tak enak hati telah merusak suasana.


" Tidak apa. Trima kasih dek, maaf tak bisa mengantarmu." Mathew memeluk Yusril.


" Aku biasa sendiri." Yusril balas memeluk Mathew.


" Hubungi aku, jika kalian akan menikah, aku pasti akan datang."


Yusril menyalami Ajeng, kemudian menepuk pipi gembul baby Khansa.


" Aku pamit ya."


" Om, titip abang." Yusril menyalami papa Jo.


" Pasti, dia sudah seperti keluarga bagi kami."


Papa Jo memeluk Yusril.


" Jika butuh sesuatu bilang sama om, jangan sungkan." Pesan papa Jo.


" Pasti om."


" Saya pamit, dah semuanya"


Yusril menjauh. Mathew, Ajeng, papa Jo dan baby Khansa hanya bisa menghantar dengan pandangan mata sampai mobil yang ditumpanginya tak terlihat.


" Perjuangan kalian dimulai dari sekarang Met, Ajeng. Selamat berjuang! Kami hanya bisa mendukung, keberhasilannya tergantung bagaimana kalian berusaha."


" Trima kasih om."


" Terima kasih Opa."


" Sama-sama Khansa."


" Yah... Sekarang saatnya kita pulang. Kita urus segera pernikahan kalian. Ayo masuk." Papa Jo mengajak mereka ke mobil yang terparkir di halaman rumah orang tua Ajeng.


" Mampir ke rumah besan om?" Tanya Ajeng.


" Besan ada di Bogor. Sigit wisuda hari ini. Tadi sempat bertemu pak Subagio di dermaga, sedangkan yang lain sudah di rumah Rayyan dari kemarin." Jawab papa Jo yang hanya diangguki oleh Ajeng dan Mathew.


" Kita berangkat pulang sekarang."


Mobil mulai melaju membelah jalanan, membawa mereka kembali ke Bogor untuk mempersiapkan pernikahan.