
Mira sangat sibuk membantu ibu menyiapkan acara pernikahan yang tinggal 4 hari lagi.
Walaupun dibantu tetangga, tetapi keperluan belanja, memesan kue dan tenda harus mereka sendiri yang melakukan.
" Bu, kenapa harus masak kan bisa katring?" Mira kesusahan dengan keranjang belanjaan yang ia jinjing menggunakan tangannya yang tidak sakit.
" Umumnya hidup di desa yang begini to Mir, ini juga bukan pesta besar, hanya syukuran aja setelah ijab."
" Itu karena di tempat kita belum ada yang menyediakan jasa katring untuk hajatan kan bu, nanti kalau sudah ada paling orang-orang lebih memilih pakai katring karena lebih praktis."
" Nah, ibu aja ya buka katring? Kan masakan ibu enak."
" Seenak apa, masih kalah sama masakan bu Retno." Jawab ibu.
" Bu Retno yang buka warteg di pojok pasar itu bu?" Mira menunjuk warung makan yang banyak pembelinya.
" Iya. Apa kamu mau coba masakan bu Retno? Katanya enak."
" Bolehlah bu, siapa tahu besok kalau Mira punya keinginan buka usaha katring, bisa ngajak bu Retno join an."
" Amin. Yuk kesana. Ibu pengen cobain gulenya, katanya jadi menu andalan."
" Awas ibu, kebaya ibu nanti gak muat."
" Sedikit aja, gak bikin gemukan."
" Ya udah yuk."
Ibu dan Mira mampir ke warteg yang berjubel pembeli.
" Dibungkus aja ya bu, makan di rumah. Disini ramai banget."
Mira melihat setiap meja yang penuh, hanya meja di pojok yang belum ada orangnya. Namun sesaat kemudian, ia melihat seorang ibu bersama dengan anak laki-laki menghampiri meja itu. Dan alangkah kagetnya dia, karena ternyata mereka adalah bu Hardi dan Bobby.
Ya Tuhan, kenapa harus ada mereka disini? Bukannya mas Bobby di Bogor? Mengapa sekarang pulang kesini? Dan Ajeng mengapa tidak bersamanya?
Mira menggunakan tubuh pelanggan yang terlihat besar untuk menutupi tubuhnya agar tidak terlihat dari pandangan bu Hardi yang mengarah padanya.
" Mbak, geseran ini sempit!" Seseorang mengeluh karena terhimpit tubuh Mira.
Mira segera menggeser tubuhnya, namun dia tidak melihat kalau disampingnya bukan lagi ibunya, tetapi Hardi.
Menyadari itu, Mira lamgsung mundur teratur, beruntung bu Hardi tak menyadari bahwa itu dirinya. Langsung saja Mira mengambil langkah untuk keluar dari warteg. Sampai di luar, dia mencari-cari ibunya lewat kaca transparan dan melihat ternyata ibunya masih membayar pesanan.
Mira duduk di samping keranjang, karena pegal setelah berbelanja keliling pasar. Namun sepasang sepatu di sampingnya membuatnya menengadah untuk melihat siapa pemiliknya.
" Mas Bobby!"
Mira buru-buru meraih keranjangnya dan mengambil langkah cepat untuk menjauh dari Bobby, namun ternyata Bobby sudah memperhitungkan kemungkinan Mira akan kabur begitu melihatnya, langsung mencekal lengan Mira dan membawa Mira berjalan menjauh dari warteg.
" Ibu, aku pergi. Ada pasien yang butuh bantuanku." Bobby menghubungi ibunya agar ibunya tidak curiga dia pergi membawa kabur Mira.
" Mas, lepasin.... Auw!" Mira merasa kesakitan, karena tangan yang ditarik Bobby adalah tangan yang cedera.
Bobby berhenti, melihat pergelangan tangan Mira, namun dia merasa tidak ada waktu sebelum ibunya menyadari bahwa ia pergi membawa Mira.
Bobby mengambil alih keranjang belanjaan dari tangan Mira dan menggandeng tangan Mira lagi, menyeretnya masuk ke dalam mobilnya.
" Mas, lepasin."
" Masuk." Bobby memaksa Mira masuk ke mobilnya dan menutup begitu saja. Dengan cepat dia memutar untuk masuk dan mengemudi mobilnya menjauh dari pasar.
" Mas, apa yang kamu lakukan!" Berhenti atau aku melompat dari sini!" Mira bersiap untuk membuka pintu mobil, namun Bobby menarik tangannya membuatnya menjauh dari pintu yang hampir dijangkaunya.
Bobby menghentikan mobilnya.
" Mas, sakit!" Mira meringis, karena tangannya benar-benar sakit sekarang.
" Menurutlah, aku hanya butuh bicara tentang kejelasan hubungan kita!" Ucap Bobby.
" Hubungan apa? Kita sudah selesai!" Ucap Mira dengan suara tegasnya.
" Selesai menurutmu, tapi tidak denganku. Apa kamu kira ini adil?"
" Apa kamu juga berpikir kamu adil dengan memberikan luka untukku dengan menikahi Ajeng!" bentak Mira.
" Sudah jelaskan kalau pernikahan kami hanya kesepakatan. Dan sekarang kesepakatan itu sudah selesai Mira, Ajeng sudah melahirkan, dan kami sudah berpisah. Ajeng pergi, dan aku kembali padamu."
" Apa katamu? Ajeng pergi!" Mira terkejut mendengar ucapan Bobby.
" Memang begitu kesepakatannya, dan sekarang aku sudah lepas dari keluarganya." Ucap Bobby.
" Setelah mas mendapatkan pekerjaan yang mapan dan menjanjikan dari keluarganya Ajeng!"
" Kamu pikir aku mau dengan semua itu! Perginya Ajeng, membuatku melepas apapun yang bersangkutan dengan keluarganya. Aku sekarang tidak bekerja di rumah sakit milik mereka, aku bekerja di rumah sakit umum disini."
" Jadi aku hanya berharap kamu mau kembali bersamaku!"
" Aku tidak bisa mas!" Tolak Mira.
" Kenapa? Kamu ragu denganku? Ya, aku memang pernah menikah Mira, tetapi aku tidak pernah menyentuh dia, kami memang tinggal satu atap, tapi tidak satu kamar. Aku menjaga diriku hanya untuk dirimu."
" Tidak mas, nyatanya kamu menghilangkan kepercayaanku, dan aku tidak bisa untuk kembali padamu, kita sudah selesai."
" Mira, please!" Bobby memohon pada Mira.
" Mas, mengertilah. Kita sudah selesai, dan tidak mungkin bersama lagi. Jangan membuka lembaran yang sudah habis, karena hanya akan sia-sia."
" Apa tidak ada kesempatan untukku? Apa aku begitu melukaimu?"
" Sudah jelas mas, aku terluka karena dirimu, tetapi juga dengan perlakuan ibumu."
" Ibuku? Kenapa dengan ibuku?" Bobby menjadi bingung dengan ucapan Mira yang menyangkut ibunya.
" Tanyankan pada ibumu, apa yang sudah dia lakukan padaku dan keluargaku!"
" Maaf mas, sekali lagi aku minta maaf. Tolong jangan mengusik lagi kehidupanku, aku sudah merasa nyaman sekarang tanpa dirimu."
" Apa sudah ada orang lain?"
" Bukan hanya orang, tapi juga cinta lain yang menggantikan posisimu mas!"
" Apakah kamu mencintainya?" tanya Bobby, sorot matanya menelisik pada manik mata Mira mencari kebohongan disana.
" Sangat."
" Apa dia lebih kaya dariku?"
Mira tersenyum, walaupun hatinya menahan rasa tersinggung dari pertanyaan Bobby.
" Jika dia lebih kaya darimu, itu juga bukan keinginanku untuk mencari, tetapi dia sendiri yang datang padaku menawarkan segalanya."
" Shit!" Bobby memukul kemudi mobilnya, terlihat jelas kemarahan dan kekecewaan dari bahasa tubuh Bobby.
Mira memejamkan mata karena merasa kaget dengan reaksi Bobby.
Bahkan sekarang Bobby menatapnya dengan tajam, seolah siap menerkam Mira, namun Mira tak gentar dengan apa yang sedang dilakukan Bobby padanya.
" Tapi apa yang kamu punya tak cukup." Tantang Mira, dia juga membalas pandangan Bobby tak kalah tajam.
" Kamu mau berapa? Seratus juta, 1 milyar?"
" Dia tidak hanya memberiku seratus ataupun 1 M, tetapi lebih dari itu!"
" Jadi sekarang kamu berubah menjadi metrealistis setelah berpisah denganku! Menjijikkan!" Bobby memandang dengan pandangan tak percaya melihat Mira mengatakan itu.
" TURUN!" Bobby membuka pintu mobil tempat Mira duduk.
" Ya, aku akan turun!"Jawab mira dengan santainya. Mira menurunkan kakinya mengambil keranjang belanjaannya.
Bobby menutup dengan keras pintu mobil dan melajukan dengan kencang, tanpa melihat posisinya menurunkan Mira dimana, karena sekarang Mira berada di jembatan yang jauh dari desa.
Mira mengambil ponselnya menghubungi Andre untuk menjemputnya. Namun, baru mencari nama Andre dari daftar kontak, panggilan VC dari Rayyan lebih dulu muncul di layar hp miliknya.
" Asalamualaikum mas." sapa Mira.
Rayyan ingin membalas salam dari Mira, tetapi matanya melihat jembatan yang terlihat memanjang di belakang Mira, membuatnya terkejut.
" Apa yang kamu lakukan di jembatan itu? Apa ibu tetap memintamu meninggalkan aku? Jangan Mira, jangan melakukan hal bodoh itu! Jangan meninggal terlebih dahulu, jangan bunuh diri karena hubungan ini dilarang oleh ibumu!" Rayyan sangat kawatir melihat Mira menyender di pembatas jembatan.
Mira sebenarnya geli melihat espresi wajah Rayyan yang sangat kawatir, apalagi suaranya yang terdengar begitu emosi.
" Mira, menjauh dari sana. Jangan tinggalkan aku, please. Kalau kamu pergi, bagaimana denganku? Kamu tega mengubah nama panggilanku menjadi 'Jodi'?" Ucapnya dengan nada lesu.
" Jodi? Apaan tuh?" Mira malah tak mengerti maksud ucapan Rayyan.
" Jomblo ditinggal mati." Celetuk Rayyan. Membuat Mira tak bisa menahan tawanya.
" Siapa juga yang mau mati mas? Rugilah!"
" Aku tahu!" Ucap Rayyan.
" Kok?" Mira malah tak mengerti dengan Rayyan, yang tadi terlihat kawatir tetapi sekarang malah terlihat begitu santai dengan senyum sumringahnya.
" Ya, kamu rugi kalau sampai mati meninggalkan aku yang tampan menawan, genteng habis, mapan tanpa pengalaman dan kaya tapi jadi jomblo." Celetuk Rayyan.
" Garing!" ucap Mira.
" Kurang kena ya gombalnya?"
" Mas..." Panggil Mira.
" Apa?"
" Kalau aku matre apa mas akan meninggalkan aku?" Tanya Mira.
" Apa aku terlihat miskin?" jawab Rayyan.
" Jika aku meminta seluruh harta milikmu apa mas akan kasih?"
" Ambil aja." Jawab Rayyan dengan entengnya.
" Serius mas, mas gak akan men- judge Mira matre?"
" Enggak. Mintalah yang mau kamu minta!Uang banyak, toko perhiasan mama sebentar lagi jadi milikku, motor mau yang merek apa tinggal bilang Dony, atau pilih sendiri di dealer. Mobil tinggal minta sama papa, papa punya pabrik perakitan mobil. Semua boleh kamu minta, yang penting jangan yang satu ini..."
" Apa?"
" Jangan minta hatimu yang sudah kamu kasih dan kamu berikan pada orang lain. Mau tahu kenapa?"
" Kenapa memang?"
" Karena hatimu adalah harta berharga yang sangat berarti dalam hidupku. Jika sampai itu kau lakukan, maka balapan seri selanjutnya adalah balapan terakhir untukku."
" Mas! Jangan bilang begitu!" sergah Mira.
" Lebih baik aku mengatakannya, daripada aku harus menahan perasaan sakit ini."
Mira tak mengerti dengan maksud ucapan Rayyan padanya, bahkan raut wajah Rayyan terlihat begitu sendu.
" Mas, kenapa sih?!"
" Lihat di belakangmu!"
Mira membalikan tubuhnya mengikuti instruksi Rayyan.
" Aku kira kamu akan menangis kebingungan karena aku meninggalkanmu disini. Ternyata aku salah, kamu malah asyik menerima telpon dari pacar kayamu itu!"
" Dia memang kaya." jawab Mira dengan santainya, seolah menantang Bobby yang sedang memandang rendah padanya.
" Berarti aku tidak harus berat meninggalkan perempuan murahan sepertimu. Dan aku yakin, sebentar lagi pacarmu itu akan datang menjemputmu disini. Selamat tinggal." Bobby kembali masuk ke mobilnya, dan meninggalkan Mira disana.
" Dia siapa?" Tanya Rayyan.
" Dia mas Bobby, mantan Mira." jawab Mira terus terang.
" Apa karena dia kamu menayakan pertanyaan aneh tadi?" Tanya Rayyan.
" Pertanyaan yang mana?"
" Kalau kamu matre, apa aku akan meninggalkanmu."
Mira terdiam.
" Mira dengar! Perempuan itu memang harus matrealistis, kanapa? Karena matrenya istri itu semangat untuk suami agar giat bekerja. Justru kalau istri itu 'nrimo' kadang itu yang membuat suami malas. Suami mengira istrinya sudah cukup dengan diberi nafkah yang ternyata kurang untuk kebutuhan, padahal di belakang suaminya dia bingung mencari uang tambahan, hanya karena tak ingin menuntut suaminya."
" Nanti dikira cerewat mas kalau banyak nuntut."
" Emang perempuan itu harus cerewat. Kalau laki-laki tidak suka dengan istrinya yang cerewat, berarti dia salah pilih. Harusnya dia menikah sama perempuan bisu."
" Ish! Mas kok ngomong gitu."
" Ya iya, suara istri itu bagaikan nyanyian merdu untuk suami."
" Siapa bilang?"
" Papa yang bilang. Papa selalu tersenyum diam-diam setelah mendengar ocehan mama setiap hari."
" Begitukah?"
" Hu'um. Pulang sana, Andre sudah jemput itu. Jangan tunggu mas jemput, kelamaan."
" Tapi Mira akan tetap menunggu mas."
" Jangan, pulang sama Andre."
" Ya, aku memang pulang sama Andre tapi Mira akan tetap menunggu mas untuk menjemput kebahagiaan kita suatu hari nanti."
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
HAHAY..... Otornya jadi merinding disco ini... Mau tahu bagaimana dengan kalian? Tulis komen kalian di bawah sini.. 👇