I LOVE YOU, ENCUS

I LOVE YOU, ENCUS
Precious to ME



Mira terlelap bersama dua buah hatinya saat Rayyan belum kembali hingga malam larut. Bekerja di luar kota sudah menjadi rutinitas seorang Rayyan yang kini sibuk menjadi coach bagi para rider's kelas pemula. Kadang dia menerima undangan saat diadakan kompetisi balap di daerah-daerah. Membantu menemukan bakat-bakat baru agar tidak berhenti hanya sampai di tahap daerah bagi kemampuan anak pedalaman. Dengan menghadirkan seorang yang dianggap profesional, bakat terpendam yang dimiliki anak-anak bisa terdeteksi sedini mungkin, sehingga kemungkinan untuk sukses akan mendapat jalannya, tidak berhenti karena kurangnya akses dan keterbatasan jalur.


Rayyan memberi apresiasi, ternyata peminat terhadap olahraga balap motor di daerah sangat diminati oleh para masyarakat. Terbukti dari antusias para masyarakat yang berjubel, bahkan rela memanjat pohon untuk menyaksikan balapan berjudul grasstrack itu.


Dulu awal dia tertarik menjadi seorang pembalap saat dia ikut teman-temannya menyaksikan acara seperti ini. Adrenalinnya terpacu untuk ikut menjajal menaiki motor dalam kecepatan tanpa batas, melalui liku-liku medan sirkuit yang berbentuk dari tanah merah. Tak rata seperti di sirkuit international, tapi baginya itu lebih menantang.


Tak jarang dia harus mengalami cedera saat latihan, tetapi dia akan merasa puas dan bangga saat menang di acara balapan. Walaupun dia melakukan itu secara sembunyi karena ditentang oleh orang tuanya, dia tetap nekad, bahkan tak peduli lagi dengan pendidikannya, sehingga membuat orangnya tuanya harus mengasingkannya di sebuah sekolah khusus di Jogja.


" Met, videoin ya. Di live, kasih liat bini gue." Rayyan menyerahkan hpnya pada Mathew, kemudian dia masuk arena sirkuit saat diminta membuka acara tersebut. Sebagai bintang tamu, kehadirannya tentu sangat dinantikan. Dengan memberi sedikit atraksi, penonton akan lebih bersemangat lagi.


Rayyan mulai menaiki motor trail dan segera mempertunjukkan keahliannya berkolaborasi dengan kuda besi di atas sirkuit.


Beberapa teknik cara menaklukan tikungan di medan dengan debu yang bertebaran, tetapi tak membuatnya menyerah. Bahkan banyak tanjakan yang extrim dan beberapa race yang sulit, sehingga jika tidak jeli bisa mengakibatkan motor terlalu melambung atau bisa jadi tidak kuat menanjak. Tapi bagi Rayyan itu merupakan tantangan, dan dengan lihainya dia beratraksi berdiri di atas motor, ketika pertunjukan berakhir yang disambut dengan tepuk tangan meriah dari mereka yang menyaksikan disana.


" Pantes selalu jadi juara, wong emang jago banget dia, padahal disana itu susah banget lho, pas latihan beberapa kali gue jatuh." Seorang peserta berkomentar.


" Pangkatnya aja rider papan atas, mainnya aja di sirkuit international, pastinya untuk bisa disana dia udah lebih dulu bisa menaklukan yang kayak gini. Makanya kelihatan sepele buat dia."


" Kapan kita bisa seperti dia ya?"


" Berusahalah, jangan pantang menyerah. Karena ketika kita menyerah, di jalan yang luruspun kita pasti terjatuh. Tetapi ketika kita yakin, jalan yang sulit bisa menjadi lebih mudah. Selalu semangat, semangat dan tetap semangat!" Rayyan memberikan motivasinya untuk para rider diakhir kata sambutan.


Dia kembali di tempat duduk.


" Nyonya bilang apa?" Tanya Rayyan pada Mathew sambil meminta hpnya.


" Bukan nyonya yang lihat, tapi duo bayimu."


" Masa?!" Rayyan tak percaya, dia kemudian mengamati dua anaknya yang terlihat di layar hpnya, sedang tengkurap di atas tempat tidur, menghadap dirinya.


" Hai... Anak papa." Rayyan menatap lucu pada dua makhlum bermata bulat bening yang terdiam mengamatinya.


" Mereka habis nangis. Giliran tak kasih hp langsung diam." Suara Mira terdengar mendekat, dan wajahnya ikut muncul diantara wajah anak-anak.


" Kenapa nangis cayang, hem." Rayyan seolah bertanya pada dua anaknya, tetapi keduanya kini asyik berceloteh sendiri.


" Rebutan mainan." Jawab Mira.


" Mas, udah ya suaranya berisik banget."


Rayyan menoleh ke sirkuit dimana disana sudah berjejer rider dan sudah mulai memainkan gas motor, sehingga suara pekak terdengar.


" Ya udah. Nanti mas telpon lagi kalau udah selesai."


" Eh.. Tapi kalau enggak telpon lagi berarti mas udah terbang pulang. Tunggu di rumah siapin makan malam spesial." Ucap Rayyan tiba-tiba.


" Iya. Kasih tau kalau udah mau terbang."


" Mas matiin ya."


" Iya, dah papa." Mira melambai dan gerakan tangannya membuat si kembar menatapnya.


" Dadah sama papa.... Dah papa." Mira mengajari si kembar, yang malah melengos merangkak pergi.


" Udah ya mas, mereka mulai kliaran ini."


" Cium dulu." Bisik Rayyan pelan.


" Mas dulu kalau gak malu, baru nanti aku kasih cium yang banyak." Tantang Mira yang tahu posisi Rayyan sekarang sedang berada di tampat yang banyak orangnya. Bahkan tak sedikit mata yang selalu menatapnya, secara dia bintang tamu jadi sudah pasti menjadi sorotan mata dan media. Mana mungkin dia akan melakukan hal aneh seperti itu.


" Gak bisakan? Jangan minta aneh-aneh makanya. Udah ya, brisik banget suaranya."


" Hemmm." Dengan berat hati Rayyan mengangguk.


" Miss you." Hanya gerakan bibir Rayyan yang dapat Mira baca. Tetapi matanya kini beralih kepintu keluar dimana si kembar sedang berlomba mencapai pintu itu dengan kaki empatnya.


" Mbakkk... Tolongin." Mira malah berteriak sambil meletakkan hp begitu saja kemudian berlari mengejar si kembar yang kini tengah berada di bawah meja makan. Untung dua suster sudah berjaga disana.


Rayyan tersenyum. Dirasakannya menghangat mengingat keluarga kecilnya.


" Tak sia-sia aku melepas kesenangan demi kebahagiaan." Rayyan menggeleng sendiri sembari tersenyum.


Mathew menyenggol lengannya " Sudah gila lu!"


" Lu gak kangen sama anak bini lu?" Tanya Rayyan berbisik kepada Mathew.


" Mereka sedang berlatih menjadi hati yang kuat. Jika hanya jarak memisahkan tak akan membuat kami merasa kehilangan." Mathew menatap lurus pada motor yang sedang melaju diurutan pertama yang malah salto karena tak bisa mengontrol saat menanjak.


" Sudah siap- siap ternyata." Rayyan ikut menyaksikan pemandangan di tengah arena.


" Cepat atau lambat semua akan datang dan harus dihadapi Ray." Mathew menunduk, menggilas tanah merah yang mengganjal di bawah sepatunya.


" Akan tiba saatnya kami tidak bisa lagi bergantung pada kalian, dan untuk itu kami harus punya pondasi yang kuat." Mathew kembali menatap ke depan.


" Saling percaya walaupun tak bertemu, tetapi tetap yakin hanya rumah kami tempat kami pulang walaupun sejauh apapun jarak memisahkan."


Rayyan mengangguk.


" Kamu lebih tahu jalan hidupmu Met, tidak Ada yang bisa kami lakukan selain mendukungmu."


" Hemm."


" Trima kasih."


" Lihat mereka. Medan sulit tak menghentikan mereka untuk mencapai akhir."


" Aku berharap kami nanti akan seperti mereka walaupun tak tahu pasti akan berakhir seperti apa." Tunjuk Mathew pada para rider's yang sedang berlomba di arena.


" Kalian sama-sama memiliki latar belakang masalah yang sama, akan lebih mudah untuk menemukan solusi."


" Aku harap begitu."


" Yang penting hanya satu."


" Apa?"


" Never give up."


" Tidak akan ada kata itu dalam kamus hidupku Ray, apalagi dengan adanya mereka disisiku."


" Yahhh, akhirnya kau menemukan juga sesuatu yang berharga."


" Apa?"


" Keluarga kecilmu."


" You're right! Only they are precious to me."