I LOVE YOU, ENCUS

I LOVE YOU, ENCUS
Gila



" Kok lesu?"


Mama memghampiri Rayyan yang langsung ambruk di sofa ketika kembali ke rumah takala langit sudah gelap. Hanya lampu-lampu jalanan yang menggantikan hilangnya sinar matahari.


" Si Gea bikin kesal. Jadi kasihan sama Mira ma." Curhatnya.


" Kamu kasihan sama dia karena kamu ada rasa sama dia, coba kalau suster-suster yang sebelum Mira, bodo teuing ..." Mama menyodorkan jus yang ia bawa untuk Rayyan " Nih minum."


" Ma kasih ma."


Rayyan langsung meneguk habis jus itu, membuat suhu tubuhnya menjadi terasa segar.


" Heran sama orang tua yang betah ngurusin anak kayak Gea. kalau boleh milih, besok kalau punya anak kayak Geby aja, imut, nurut, gampang ngurusinya."


" Tau begitu kamu dulu mama tukerin sama anak yang alim, imut, nurut dan pendiam." Mama duduk di seberang Rayyan, hingga Rayyan dengan mudah melihat raut wajah sang mama.


" Kok gitu?" Rayyan tak terima.


" Kamu dulu lebih parah dari Gea, semua yang Nathan punya, kamu minta, dan kalau gak di kasih kamu nangis gulung-gulung. Yang bikin mama malu, kamu nangis dan gulung-gulung di dalam mall, gara-gara minta dibeliin pakaian renang perempuan yang sama Nathan salah kira kaos dalam. Mama pingin banget tukerin kamu sama empek-empek."


" Pengen ketawa, tapi gak lucu tau ma."


" Yang lucu itu kamu, masa iya punya anak milih sifat dari sekarang. Kalau mama bisa milih, mama pilih anak perempuan waktu hamil kamu."


" Nanti juga dapat anak perempuan ma, kalau aku nikah. Tuh cucu juga perempuan semua."


" Terserah kamulah." Mama beranjak dan masuk ke kamar.


" Ma..."


" Apa..." Mama Sarah berteriak dari kamar, Rayyan menyusul.


" Kasih saran ma." pinta Rayyan saat mengetahui mama sedang di kamar mandi, dia menunggu sambil rebahan di kasur king size milik orang tuanya.


" Saran apa?" Suara papanya yang baru masuk yang menyahut.


" Eh... Papa baru pulang?" Rayyan melihat sang papa yang meletakkan tas kerja di meja dan melepas dasi yang melilit di kerah bajunya.


" Ya kamu tahu sendiri, kerja di kantor gak kayak di bengkel."


" Makanya Rayyan pilih bengkel ketimbang ngurus kantor. Malas pusing."


" Terserah kamu aja, sudah ada Nathan yang bantu."


Papa ikut rebahan di atas kasur, sambil menunggu sang mama keluar dari kamar mandi.


" Pa, waktu papa mau dapetin mama gimana caranya?"


" Ya datengin aja, duduk atau berdiri yang dekat, kan jadi dekat." Jawab papa santai.


" Bukan gitu pa."


"Hahahaha...." Papa malah tertawa, mendengar nada kesal Rayyan karena jawabannya.


" Kamu emang lagi suka sama siapa?" Papa mengubah posisinya jadi miring, memperhatikan anak laki-laki yang besarnya sama dengannya.


" Encusnya Geby, tapi orangnya cuek bener."


Papa sedikit terkejut, mendengar ucapan Rayyan, namun sekali lagi prinsipnya sama dengan sang istri, kalau anak sudah suka, orang tua hanya bisa memberi dukungan. Tak masalah dari kalangan mana wanita yang dipilih anaknya kelak. Seperti Nathan dulu juga memilih Rita yang hanya anak seorang penjahit, nyatanya sekarang jadi desainer, tinggal kasih fasilitas aja sesuai kemampuan agar dia tidak minder karena jadi menantu orang kaya.


" Susahkan cari perhatian orang cuek, kayak kamu yang cuek kalau papa sama mama ingetin suruh cari pasangan."


" Lha kok malah balik lagi ke aku sih papa... Papa gak asyik!" Rayyan bangun dan meninggalkan papanya. Keluar dari kamar, menuju kamarnya sendiri.


* * * * *


Mira memijit-mijit lengannya yang berasa pegal akibat menggendong si Geby. Badannya pegal semua. Beruntungnya kalau malam dia tak harus tidur menemani anak-anak, jadi masih bisa tidur nyenyak.


Hpnya menyala, sengaja tak diberi nada dering, karena Mira tak suka.


" Asalamualaikum ibu."


" Waalaikum salam. Sudah tidur?"


" Belum bu."


" Gimana kerjaanmu?"


" Alhamdulilah, baik-baik disana. Jaga kesehatan, jaga diri, jangan lupa sholat."


" Jangan kawatir ibu. Selama doa ibu masih untuk Mira, Mira pasti baik-baik saja."


" Ya sudah, istrirahat. Sudah malam."


" Ibu juga, salam untuk Andre. Asalamualaikum."


" Waalaikum salam."


Mira meletakkan hp di samping bantal, kemudian merebahkan tubuhnya yang terasa pegal seperti tangannya.


" Rasanya sakit semua, apa karena aku tidak pernah menggendong? Jadi begini rasanya."


Mira membalik tubuhnya, mencari posisi nyaman agar badannya bisa beristirahat.


Ingin memejamkan mata, namun rasa badannya tak bisa diajak kompromi.


" Ini baru permulaan Mira, ayo semangat." Mira bermonolog dengan dirinya sendiri. Sebagai manusia biasa, menghadapi suasana kerja baru dengan anak-anak yang baginya agak susah, apalagi seperti Gea, ada keinginan untuknya menyerah. Tapi mengingat kebutuhan biaya Andre, setidaknya membuat Mira harus berjuang lebih keras. Semoga saja, besok akan menjadi lebih baik dan Gea tak seperti tadi.


Mira turun dari tempat tidur, menuju kamar mandi, mengambil air wudhu, ingin menunaikan sholat, agar dirinya menjadi lebih tenang. Begitulah caranya saat ia merasa ingin menyerah, hanya pada Allah ia datang. Setidaknya sehabis sholat hatinya akan menjadi tenang.


Mira bersujud dalam doanya, mencurahkan segala isi hatinya dan kesulitanya pada Allah.


" Ya Allah, ya Tuhanku... Hanya ridho dariMu yang hamba harapkan, agar hamba menjadi manusia yang ikhlas dalam menghadapi apapun yang terjadi pada hamba. Dan hamba hanya ingin menyerahkan segala sesuatunya hanya pada kehendakMu saja, karena hamba tahu bahwa kehendakMu adalah yang terbaik bagi hamba. Hamba hanya ingin kau beri kesabaran, dan lapangkanlah hati hamba, agar hamba tak mudah menyerah menghadapi dan menjalani jalan hidup yang Kau tadirkan pada hamba. Ya Allah, ya Tuhanku, semua hamba pasrahkan seluruhnya hanya padaMu, karena hamba percaya bahwa pengharapan yang terbaik adalah dengan berharap kepadaMu saja. Amin."


Menangkupkan kedua tangan pada wajah, setelah berdoa, membuat suasana hati Mira menjadi lebih tenang.


Kembali berbaring, tak lama matanya terpejam. Sayangnya, getar hpnya kembali membuat tidurnya kembali terganggu.


Ia melihat nomor tanpa nama di layar hp miliknya.


" Siapa?"


Mira mengingat-ingat nomor siapa yang menghubunginya, namun karena merasa tak kenal, dia membiarkan tanpa bermaksud mengangkat. Menunggu sampai getar berhenti kemudian menonaktifkannya, tak ingin istirahatnya terganggu.


Menyimpan agak jauh dari posisi kepalanya, Mira kembali memejamkan mata, masuk lebih dalam ke alam mimpi.


" Kok gak aktif?"


Rayyan mencoba sekali lagi menghubungi nomor Mira.


NOMOR YANG ANDA TUJU SEDANG TIDAK AKTIF


Rayyan mendengus kesal sendiri di dalam kamarnya. Bermaksud ingin mendengar suara Mira, karena dirinya tak bisa tidur malam ini.


" Susah sekali. Apa yang harus aku lakukan?"


Rayyan mencari foto Mira di pesan yang dikirim oleh mbak Rita, memandang wajah manis yang seolah tersenyum itu.


" Kenapa aku bisa seperti orang gila karenamu, padahal aku baru saja tahu dirimu." Rayyan menggeleng sendiri, mengingat bahwa sulit untuknya menghilangkan bayangan wajah Mira.


" Ma.... Tolonglah anakmu ini!"


Rayyan menelungkup di atas kasur, meletakkan hp yang ia pegang di atas kepala di bagian belakang, entah apa maksudnya.


" Gimana ya caranya biar bisa deket sama dia?" Rayyan mengangkat kepalanya, otomatis hpnya turun melewati kepalanya.


Mengambil kembali hp miliknya ingin mengirim pesan pada Mira. Bersiap mengetik tapi tak jadi...


" Apa yang akan ia pikirkan, kalau aku kirim pesan padanya, apalagi bertanya sudah tidur belum, atau mengucap selamat malam.... Aduh..... Begini rasanya jatuh cinta sendiri.... hampir gila rasanya....!"


Rayyan memukul-mukul kasurnya dan menggerakkan kakinya tak beraturan. Seperti orang aneh.


" Mama.....!" Teriaknya.


Namun lupa jika kamarnya kedap suara, jadi berteriakpun tak akan ada yang mendengar.


" Seperti suara hatiku, jika tak kuungkapan mata tak terdengar, tapi kalau aku bilang tiba-tiba... Mira, aku suka kamu.... Apa yang akan ia pikirkan?!"


Rayyan memandang langit-langit kamarnya sebentar, namun kembali ia berteriak tak jelas.


" Mira... I love you..... Uuuuu." Berbicara dengan nada seolah menangis.


"Gila gua....!" Gumamnya... 😩😩😩