
" Jangan pake dagingnya, sayur aja." Mira menolak saat Rayyan mencampur sayuran dengan daging di piringnya.
" Nanti enggak kenyang lho." Ucap Rayyan, tetapi tatapan Mira seolah memang sedang tidak ingin makan daging.
" Pakai ini?" Mira menyentuh kentang dengan ujung sendoknya, Rayyan mengalah lagi sekarang.
" Pulangnya lusa ya, pilotnya belum bisa sekarang." Kata Rayyan sambil menyuapi Mira, Mira berhenti mengunyah saat merasakan ada daging di dalam mulutnya. Segera mengeluarkan seluruh makanan dari dalam mulut, meletakkan di dalam tempat kosong.
" Mas kasih daging ya." Sorot mata menuduh, membuat Rayyan mengangguk.
" Cuma dikit."
" Aku makan sendiri ajalah." Mira mengambil alih piring, kemudian menyendok seluruh daging, meletakkan di piring lain. Rayyan hanya diam, tak mau mengomentari keanehan sang istri.
" Mas kok enggak makan?" Mira baru sadar bahwa Rayyan hanya diam, tak mengambil lagi makanan untuknya, malah sibuk mengamati Mira makan sayur rebus tanpa bumbu.
" Mau aku suapin?" Mira menunggunakan sendok lain mengambil daging, mencampur dengan beberapa sayuran, menyiram dengan kuah pasta dan memberikan pada Rayyan.
Rayyan patuh, membuka mulutnya ketika Mira terus menyuapinya, hingga dia merasa kekenyangan, lupa kalau ternyata semua yang ada di meja masuk ke perutnya semua, termasuk punya Mira.
" Terus kamu makan apa?"
" Aku udah kenyang." Jawab Mira sambil membereskan piring, menumpuk menjadi satu.
" Cuma dikit banget makannya, apa pengen makan nasi?" Mira menggeleng.
" Lha terus?!"
" Pengen tidur lagi." Mira beranjak ke ranjang, merebahkan tubuhnya tanpa peduli Rayyan yang menatap aneh pada dirinya.
" Mas bilang tadi kita pulang lusa, seminggu lagi juga enggak papa. Tapi aku enggak ikut mas kemana-mana ya, hari ini aku mau tidur." Mira berbicara sambil mengendus-endus bantal.
" Kalau ke rumah papa gimana? Disana banyak temennya?"
" Enggak, disini aja. Aku mau tidur."
" Ajeng suruh kesini ya, biar kamu bisa main sama baby Khansa?"
" Enggak, sendiri aja. Aku mau tidur."
Rayyan terdiam, sebelum ahkirnya mendekat, ikut naik di ranjang, tetapi duduk di dekat Mira.
" Kamu kenapa? Sakit?" Rayyan meletakkan telapak tangannya di dahi Mira, tetapi suhu normal langsung terasa ketika kulitnya bersentuhan dengan kulit Mira.
" Aku enggak sakit mas, cuma malas gerak aja. Pengen tiduran."
" Tapi ini masih pagi sayang, tidurannya nanti agak siangan dikit ya. Enggak baik tidur pagi-pagi, apalagi habis sarapan. Jalan-jalan dulu ya, mas temenin di bawah, di taman. Apa mau berenang?" Bujuk Rayyan, tetapi Mira hanya menggeleng.
" Apa kamu marah gak bisa pulang hari ini?" Mira menggeleng lagi.
" Enggak, cuma malas aja gerak mas." Jawab Mira.
" Apa masih pengen makan bubur buatan ibu? Mama Sarah bisa lho bikin, kita kesana gimana?"
" Udah enggak pengen."
" Terus sekarang yang dipengenin apa?"
" Tidur!"
" Puft!" Rayyan sudah menyerah membujuk Mira, sepertinya hanya membiarkan Mira tidur adalah pilihan terakhir.
" Met, bisa hubungi Mr. Jay untuk meeting di hotel aja?"
" ........"
" Ok, aku tunggu di restoran hotel ya."
" Mira aneh lagi?" Mathew tahu alasan Rayyan mengubah tempat bertemu dengan kliennya.
" Dia bilang pengen tidur, gak mau kemana-mana. Ya udah gitu aja. Thanks ya."
Rayyan meletakkan hp ke saku blazernya, kemudian menatap wajah Mira yang sudah terpenjam.
" Kamu nih kenapa sih yank, kok aneh gini?" Rayyan bergumam sendiri, karena Mira sudah terlelap kembali di alam mimpi di jam 08:15 waktu Spanyol.
Rayyan menyelimuti Mira sebelum akhirnya beranjak pergi untuk meeting di bawah, karena Mathew bilang kalau dia sudah ada disana bersama Mr. Jay.
" Mas pergi dulu ya." Pamitnya sambil mengecup pelan puncak kepala Mira.
" Om Lukas sudah disini Ray, bisa ajak Mira kesini nanti malam? Keluarga papa juga dateng lho." Mama Sarah menelpon saat Rayyan sudah selesai meeting dengan Mr. Jay.
" Nanti sore aku kesana ma, sekalian cek out. Besok balik ke Indonesia. Mira pengen ketemu sama bu Santi." Jawab Rayyan.
" Iya enggak papa, yang penting malam ini kesini. Pakai kostum yang udah mama siapin ya, kalian kan jadi tamu istimewanya."
" Enggak janji ma, soalnya Mira kayak enggak enak badan gitu. Ini aja aku gak bisa pergi jauh dari hotel."
" Emang dia kenapa?"
" Aneh aja dari semalem. Tengah malam minta bubur sum-sum tapi buatan bu Santi, terus tidur lagi setelah sarapan, aneh kan dia ma."
" Kamu bawa kesini aja sekarang, biar Ajeng periksa." Saran mama.
" Tapi dia enggak demam tuh."
" Ya pokoknya anter kesini aja, sekalian cek out, gak perlu nunggu malem. Mama bisa kalau buat bubur sum-sum, nanti mama yang bikin."
" Ya, tapi setelah Rayyan selesai kerja ya."
" Terserah kamu, yang penting bawa dia kesini."
" Ok, bye Ma."
Setelah menerima telpon dari mama, mengajak Mathew naik ke kamar. Namun kedua pria itu terkejut melihat Mira yang sedang duduk sambil makan jeruk. Bukan terkejut karena Mira makan jeruk, tetapi melihat tumpukan kulit jeruk di meja, itu berarti Mira makan lebih dari 10 biji jeruk.
" Nanti perutnya perih yank, kebanyakan makan jeruk."
" Apa kamu lapar?"
Mira hanya menggeleng.
" Pengen aja makan jeruk, bisa beliin lagi enggak, udah enggak ada lagi dikulkas. Masih pengen, tapi udah habis." Mira mengangkat tempat penyimpanan buah yang hanya tinggal buah lain disana.
Mathew meminta ijin Rayyan untuk beranjak, tapi Rayyan mencegah " Jangan! Kamu enggak lihat, dia udah makan jeruk segitu banyak, bisa sakit perut ntar dia."
Dua laki-laki matang bo doh yang kurang wawasan tentang perempuan itu berjalan masuk, mendekati sang perempuan yang sedang menikamati jeruk terakhir dengan begitu nikmatnya.
" Mas pengen?" Mira menawari Rayyan saat Rayyan tak mengalihkan pandangannya pada jeruk di tangan Mira yang tinggal separuh.
Mira memberikan satu siung dan menyuapkan di mulut Rayyan, rasa asam yang langsung terasa, membuat Rayyan mengeluarkan jeruk dari mulutnya.
" Asem banget."
Mathew ikut menelan ludah melihat Rayyan menahan rasa asem dari jeruk, tetapi Mira seolah menampik penilaian kedua orang itu dengan mangatakan bahwa jeruknya seger.
" Asem banget itu yank."
" Ini seger mas, mau lagi."
" No!" Rayyan langsung menghindar.
" Mas Mathew mau? Mumpung masih lho."
Mathew langsung menggerakkan dua tangannya di depan, melihat reaksi Rayyan dia sudah tahu kalau jeruk itu sangat-sangat asam.
" Ya sudah aku habisin sendiri." Mira melahap jeruk yang masih tersisa dengan espresi begitu senang, berbeda dengan Rayyan dan Mathew yang merasakan ngilu saat produksi air liur terasa banyak di dalam mulut mereka.
" Mas, mama bilang kita suruh kesana sekarang." Mira mengumpulkan kulit-kulit jeruk ke dalam tong sampah, kemudian berdiri menuju lemari untuk mengambil koper.
" Aku beres-beres sekarang ya?"
Rayyan berpandangan dengan Mathew, seolah mengatakan bahwa Miranya kembali.
" Kenapa?" Mira menatap menyelidik pada dua orang yang masih bertatapan itu.
" Kamu udah baikan?" Tanya Rayyan.
" Emang aku kenapa? Aku enggak papa." Jawab Mira santai sambi mengeluarkan pakaian dari dalam lemari.
" Bukannya tadi pengen tiduran?"
" Kan tadi, sekarang udah enggak. Udah gak ngantuk lagi. Bantuin biar cepet selesai."
Rayyan dan Mathew walaupun masih bingung, mereka segera berdiri, membantu Mira beres-beres, setelah selesai mereka langsung cek out, kemudian pulang ke rumah papa Jo.