
" Kok papamu sampai jam segini belum pulang? Di telpon juga gak diangkat Ray?" Mama Sarah bertanya via telpon pada Rayyan.
Waktu menunjukkan pukul 9 malam, seharusnya papa sudah pulang ke rumah setelah mendampingi Mathew selama satu hari ini. Dan resepsi juga sudah berakhir dari sore tadi.
" Mungkin masih ada urusan ma, ntar coba Rayyan cari info."
Baru saja telpon ditutup, panggilan dari papa Jo masuk.
" Asalamualaikum ma." Suara papa Jo menyapa dengan lembut, bermaksud meredakan suasana hati istri tercinta yang pasti sudah memanas karena 7 panggilan tak terjawab.
" Kemana aja?" Ketus mama Sarah.
" Kok salamnya gak di jawab."
" Salam!" Suara mama Sarah masih ketus, papa Jo terkekeh.
" Papa masih di rumah Mathew. Dia butuh pendampingan."
" Malam pengantin butuh pendampingan?!"
" Bukan ma, ibunya Mathew datang."
" Terus-terus gimana pa?" Nada suara mama Sarah terdengar menghalus , bahkan kini sepertinya marahnya lupa diganti dengan rasa penasaran.
" Ini masih mau bicara, makanya papa belum bisa pulang."
" Papa temenin dulu deh dia, kasihan." Iba mama Sarah dengan nasib Mathew, dia juga ikut kawatir apa kira-kira maksud kedatangan ibunya Mathew.
" Nanti papa cerita kalau sudah pulang, sekarang papa tutup dulu ya." Pamit papa Jo.
" Ok papa, mama tunggu di rumah."
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam."
Mama Sarah jadi kawatir sekarang dengan nasib anak malang yang harusnya bahagia di malam pengantinnya.
Mudah-mudahan ini adalah langkah awal menuju kebahagiaanmu Mathew.
Hanya doa yang bisa diberikan oleh mama Sarah sebelum dia akhirnya menutup pintu kamarnya.
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
" Kenapa sampai lupa pulang?"
" Kenapa tak minta restu mama?"
" Walaupun kamu bisa hidup sendiri, tapi mama tetap orang tua kamu, orang yang melahirkan kamu Mathew!"
Mathew hanya terdiam, tak bermaksud menjawab pertanyaan mamanya yang dia tahu mamanya sudah tahu jawabannya sendiri.
" Mama menunggu kamu pulang selama ini."
" Untuk apa? Menikahi wanita sialan itu? Bukannya sekarang Yusril sudah menikahi dia?!"
" Mama lihat! Apa dia bahagia?"
Yusril hanya menunduk, duduk di samping papa Jo.
" Setidaknya perusahaan keluarga kita tetap berjaya." Mama Rahma, ibunya Mathew berucap, dimana ucapan itu mendapat tawa sinis dari Mathew.
" Perusahaan akan lebih berjaya seandainya kalian orang tua yakin dengan kemampuan anak-anak kalian, bukan mendompleng nama dengan perusahaan lain!"
" Sudahlah ma! Apa sebenarnya tujuan mama kemari?"
" Ingin menyaksikan anak mama menikah."
" Mama sudah menyaksikannya, lalu apa lagi?"
" Ini istriku, dan ini anakku." Mathew menoleh pada Ajeng yang memangku Khansa di sampingnya.
" Kamu bahagia?" Mama Rahma menilik pada Ajeng yang menunduk sambil memeluk Khansa.
" Jangan menunduk di depan manusia lain Ajeng! Tunjukkan kita adalah manusia yang sama yang tidak harus tunduk pada siapapun." Mathew tak suka dengan tatapan mamanya yang mengintimidasi Ajeng seolah menilai seberapa pantas perempuan itu bersanding dengan anaknya.
" Jika aku tidak bahagia maka aku tidak mengambil jalan ini."
" Sebenarnya apa yang mama mau, sampai datang kemari?"
Mama Rahma menilik ke Yusril, menatap dari ujung matanya, sedangkan wajahnya masih mengarah ke Mathew seolah meminta Mathew untuk memperhatikan juga adiknya itu.
" Harusnya kamu mencontoh dia, adikmu. Menikah dengan meminta restu pada orang tua, bukan bertindak sesuka hatimu."
Yusril mencibir, tertawa dalam hatinya. Jika saja dia bisa memilih, dia akan melakukan hal yang sama dengan kakaknya itu, tapi sayangnya dia kini terjebak sendiri dalam drama rumah tangga bersama dengan wanita yang disebut kakaknya sebagai wanita sialan.
" Mengapa bukan mama tanya ke dia, apakah dia bahagia dengan pernikahannya?" Tanya Mathew sinis.
" Tentu saja dia bahagia, punya istri cantik, terhormat, sederajat, wawasan luas dan tentunya membanggakan." Mama Rahma melirik ke Ajeng saat mengatakan penilaiannya pada menatunya yang lain.
" Dia juga cantik, pintar, seorang dokter, bisa punya anak, tidak takut badannya rusak gara-gara melahirkan, lemah lembut, tidak arogan, tidak sombong karena punya banyak harta, dan satu lagi dia punya hati, tidak seperti ular berbisa."
Lanjutkan kak, katakan saja keburukan manusia itu, karena aku sendiri sudah muak!
Yusril tertawa dalam hatinya.
" Tapi dia bisa mengimbangi keluarga kita, gaya hidup kita."
" Hanya kalian, aku tidak, jadi jangan katakan kita!" Mathew tidak terima dengan ucapan mamanya yang seolah masih mengatakan bahwa dia sama seperti mereka.
" Apa sebenarnya mau mama?"
" Pulang! Bantu adikmu mengurus perusahaan kita!"
" Jika itu yang mama mau, maka mama sudah tahu jawabannya, yaitu 'TIDAK'."
" Mama masih cukup sabar menghadapimu yang durhaka Matthew."
" Maka jangan sabar, karena aku akan terus seperti ini, durhaka!"
" Yusril sudah menikahi Juwita! Kamu pulanglah!" Mama Rahma kini memperhalus nada permintaannya.
" Aku tidak akan pulang kalau wanita ular itu masih ada disana!"
" Dia adik iparmu."
" Suaminya saja tidak mengakuinya, kenapa aku harus mengakuinya sebagai adik ipar?!" Sinis Mathew.
" Yusril!" Mama Rahma meminta Yusril untuk membantunya.
" Maaf mama, aku sudah membantu mama dengan membawa mama kesini. Selebihnya aku tak mau ikut campur." Ucap Yusril dengan santainya.
" Pak Johan, saya minta tolong. Kita sebagai sama-sama orang tua, setidaknya anda bisa membujuk anak saya untuk menuruti permintaan saya."
Papa Jo hanya mengangguk sopan, pria paruh baya itu tak ingin berbicara banyak menanggapi sifat ibunya Mathew.
" Saya memiliki dua anak bu Rahma. Tapi tidak satu dari mereka yang saya haruskan untuk meneruskan usaha saya."
" Si sulung, karena memang sifatnya yang bertanggung jawab, dia dengan sendirinya mau membantu usaha saya tanpa harus saya minta. Dan si bungsu, sifatnya bertolak belakang dengan kakaknya. Dia bebas, tak ingin dikekang dengan aturan rumit sebuah keluarga yang mangharuskan ini harus begini itu harus begitu."
" Saya sebagai orang tua, dan istri hanya bisa mendukung, mengarahkan kemana mereka ingin berjalan. Tak terlalu pusing dengan kelangsungan usaha kami. Tapi nyatanya dengan begitu nyatanya mereka kini sukses sesuai dengan kemampuan dan bidangnya sendiri-sendiri."
" Untuk istri. Dua menantu saya tidak berasal dari keluarga yang kaya, yang punya perusahaan besar, pendidikan tinggi, dan Gaya hidup sama seperti kami. Yang satu ibunya seorang penjahit, ayahnya seorang satpam. Yang satu lagi dulunya pengasuh cucu kami dan orang tuanya hanya bekerja buruh mencuci baju."
" Tapi alhamdulilah, mereka semua sekarang bahagia."
" Karena menurut kami, jodoh, rejeki dan maut semua Tuhan yang atur."
" Dan bagi kami, kebahagiaan anak-anak adalah yang utama. Toh rejeki seseorang tidak ditentukan dengan siapa kita menikah, tetapi bagaimana kita berusaha."
" Tidak perlu kawatir menjadi miskin karena menikah dengan orang miskin, toh miskin ataupun kaya, di hadapan Tuhan kita semua sama."
Ibunya Mathew menjadi gusar dengan ucapan papa Jo.
Dia pikir akan mendapat dukungan dengan meminta pak Johan membujuk Mathew, ternyata dia salah memilih orang untuk diajak bekerja sama.
" Kalau begitu saya permisi, tidak ada gunanya saya disini."
" Yusril! Ayo pulang!"