I LOVE YOU, ENCUS

I LOVE YOU, ENCUS
Ngobrol bersama



Mira melihat Sigit akan berangkat kuliah sore itu. Memakai jaket jeans dan motor matic, berasa keren dilihat dari pandangan seorang gadis. Namun sayang, hatinya sedang tak ingin menyimpan sebuah nama untuk tinggal disana.


Rasa sakit yang diberikan Bobby seolah masih terasa, apalagi hinaan yang diberikan oleh ibunya.


Belum ingin terbuai dengan mulut manis laki-laki. Baginya semua hanya angin. Begitu pula dengan ucapan Rayyan tempo hari, Mira hanya menganggapnya lelucon.


Mana mungkin ada orang mengatakan suka dalam waktu yang sangat singkat. Aneh saja bagi Mira jika menganggap ucapan Rayyan adalah serius. Sesuatu yang mustahil jika seseorang sekelas Rayyan Aquino menyukai gadis seperti dirinya. Bagaikan pungguk merindukan bulan, begitulah pribahasa yang cocok bagi mereka. Itu menurut pandangan seorang Mira.


" Mungkin hanya ingin menggoda saja, atau malah merayu." Begitu pikiran Mira.


" Dan maaf, jika iya berarti salah alamat anda bung."


Sabar ya bang Rayyan, mungkin harus lebih spesifik lagi, atau butuh waktu dia nya... 😉😉


" Mas, titip beliin mie cup ya." Mira buru-buru menghampiri Sigit untuk memberikan uang.


" Tapi saya pulang malam mbak, gak papa?" tanya Sigit.


" Gak papa, cuma untuk persediaan aja. Kalo malam suka malas makan nasi." ujar Mira.


" Oh, ok. Tapi malam lho ya."


" Ya."


Sigit menghidupkan mesin dan melajukan motor, kan berhenti untuk menutup gerbang.


" Biar aku aja." Mira mendorong pintu besi tinggi itu, hingga tertutup.


Sigit tak jadi turun, hanya mengangguk dan berangkat kuliah.


Mira masuk ke dalam rumah, bergabung bersama Gea dan Geby yang sedang melihat kartun.


" Mbak, aku ada PR." Kata Gea.


" Ambil bukunya, bawa sini."


Gea mengambil tas dan duduk di karpet bersama dengan Mira dan Geby yang langsung menjadikan paha Mira sebagai bantalan.


Mira membantu Gea mengerjakan tugas sekolah. Kadang Geby tertawa melihat film spons berwarna kuning itu berbicara sambil tertawa aneh.


" Lucu ya dek." Gea mengelus rambut adiknya.


Mira tersenyum melihat betapa Gea sebenarnya menyayangi adiknya itu.


" Ayo selesaikan tugasnya, masih 3 lagi."


Gea menurut apa kata Mira.


Hp bergertar cukup lama di dalam sakunya, menandakan ada panggilan masuk.


" Mas Rayyan, kenapa ya?"


Mira menyentuh tombol hijau dan panggilan langsung tersambung.


" Iya mas." Jawab Mira.


" Lagi ngapa?"


" Masih bantu Gea mengerjakan tugas sekolah."


" kangen." ucap Rayyan tiba-tiba.


Mira menjauhkan hpnya, seolah memandang aneh pada benda bersuara yang mengatakan kata 'kangen'.


" Sama Mbot, mana dia?" sambung Rayyan, padahal maksudnya bukan kangen sama Geby tapi emang kata itu untuk Mira.


" Masih tiduran sambil lihat kartun. Mau ngomong?"


Rayyan mengganti panggilan dengan VC, Mira langsung menerima dan mengarahkan kamera pada Geby yang sedang tertawa lucu.


Harusnya wajah kamu Mira, aku kangennya sama kamu.


" Hallo Mbot." Rayyan melambaikan tangan, agar Geby mengalihkan perhatian melihatnya.


" Om Ayyan." Geby beralih ke layar hp Mira.


" Masih ngapain?"


"Nton mpi ( nonton tv)"


" Om, jangan ganggu! Aku lagi belajar. Berisik tau!" Suara Gea yang protes. Dia terganggu dengan perhatian Mira yang harus memegangi hp.


" Tumben belajar?" Ledek Rayyan.


" Udah ya om. Maaf aku matiin."


Gea meminta menyentuh gambar telpon tanda menutup, dan seketika sambungan terhenti.


Rayyan mendesah kesal dengan perlakuan Gea.


" Deket ku remas kau Gea." Dia meremas bantal yang sedang dipeluknya, mengibaratkan itu adalah Gea. Gemes sama keponakannya yang dirasa menjadi biang kerok proses pendekatan yang ia lakukan.


" Susah bener ya." Rayyan kembali memeluk bantal yang tadi ia remas.


" Kalau kayak gini gimana mau ada kemajuan?"


* * * * *


Sehabis sholat, Mira keluar bergabung dengan Nano yang sedang melihat TV. Di lantai atas itu ada kelengkapan yang sama dengan lantai bawah. Ada dapur dan ruang tv juga, biasanya yang menggunakan adalah para pekerja di keluarga itu.


" Mas Nano sudah lama kerja disini?" Tanya Mira.


" Sudah 2 tahun mbak." Jawab Nano.


" Asal darimana?"


" Saya dari sukabumi."


" Kalau mas Sigit?"


" Katanya dari Tangerang mbak."


Mereka baru bisa saling bertanya tentang asal masing-masing, karena walaupun bekerja di tempat yang sama, namun pekerjaan yang berbeda, membuat mereka tak memiliki waktu. Mira sibuk dengan anak-anak, Nano dengan rumah dan antar bu Rita dan pak Nathan, walaupun kadang-kadang bos mereka membawa sendiri mobil ke tempat kerja. Sedang Sigit membantu mengurus rumah, kebun dan antar jemput Gea sekolah, juga les, setelah sore dia berangkat kuliah pulang sudah malam.


" Mbak Mira dari Lampung?" Tanya balik Nano.


" Iya."


" Sudah berkeluarga?"


" Belum. Kalau mas Nano sendiri, sudah?" tanya Mira.


" Belum mbak, ini lagi kumpul-kumpul buat nglamar si Gadis."


" Oh... Jadi mas Nano ini calonnya mbak Gadis anaknya mbak Sri?" Mira terkejut mengetahui fakta baru, bahwa Nano adalah calon menantu mbak Sri.


" Iya mbak." Nano menjawab sambil tersenyum malu.


" Merantau dapat jodoh ya mas." Canda Mira.


" Ya gitulah mbak."


Langkah kaki terdengar menaiki tangga. Mira dan Nano menoleh bersamaan, ingin tahu siapa yang datang. Ternyata Sigit.


Ia langsung menghampiri Mira dan memberikan titipan berupa mie cup pada Mira. Otomatis jarak mereka berdekatan.


Nano memandang sambil mengamati kedua rekannya yang sedang berdialog, tanpa mengajaknya berbicara, karena urusan mereka hanya seputar mie cup yang diminta Mira dan uang kembali.


" Ini mbak kembaliannya." Sigit menyerahkan beberapa lembar uang ke tangan Mira.


" Ma kasih ya mas. Kalau pada mau buat mie aku simpan disini ya." Mira membuka lemari khusus makanan yang tak jauh dari tempat tv, biasa mereka menyimpan kebutuhan bulanan mereka disana.


Nano hanya mengangguk bersamaan. Mira kembali untuk bergabung dengan Nano dan Sigit yang duduk di kursi tempat Mira tadi duduk. Melepas jaket dan tas, meletakkannya di samping. Mira memilih tempat duduk lain, di samping Sigit. Lagi Nano menatap dengan pandangan menilai kepada Mira dan Sigit.


" Ngapa mas?" Mira menyadari itu.


" Kalau dilihat-lihat kalian kok mirip ya."


Sigit ikut memandang Nano, kemudian beralih ke Mira, begitu pula Mira melakukan hal yang sama.


" Bedanya kalau mbak Mira perempuan dan Sigit laki-laki." Lanjut Nano.


" Apa jangan-jangan kalian punya hubungan saudara?" Tanya Nano.


" Saudara dari Adam dan Hawa. Ketemu juga baru sebulan, dan itu juga disini." Sigit menanggapi ucapan Nano dengan bercanda.


" Ya saudara gak papa ya mas, malah banyak rejeki, ketimbang banyak musuh." Mira ikut menimpali.


Sigit dan Mira tertawa bersama, berbeda dengan Nano yang masih mengamati kedua wajah rekannya.


" Orang bilang kalau punya wajah mirip, berarti jodoh." Ucapnya lagi.


" Kasihan kamu No, wajah kamu gak mirip sama si Gadis. Berarti kalian gak jodoh." Sigit mengejek Nano, mengatakan filosofi yang ia ucapkan belum tentu benar. Karena nyatanya memang benar, Nano dan Gadis memang tidak ada miripnya, tapi nyatanya mereka memutuskan untuk bersama.


" Tapi sifat kami mirip." Bantah Nano tak mau kalah.


" Hati-hati mas, kalau punya sifat mirip. Sama-sama sabar si bagus, tapi kalau sama-sama keras, bisa berabe tuh." Mira juga ikut membenarkan ucapan Sigit.


" Kalian itu, mbok ya dukung temennya kenapa, jangan malah membuat aku jadi takut." Nano kini merasa bahwa ucapan Mira dan Sigit ada benarnya. Kadang kemiripan sifat yang ia dan Gadis miliki, sering membuat keduanya berantem, tapi untungnya mereka masih bisa mengatasi.


" Makanya bukan berarti mirip itu berjodoh. Pasti mbak Mira sudah punya pasangan ya kan mbak."


Ucapan Sigit membuat Mira langsung diam. Padahal dia tadi begitu semangat dengan mengejek mas Nano.


" Hem.." Mira hanya tersenyum sedikit, tak mau mananggapi ucapan Sigit.


" Aku ke kamar ya."


Mira memutuskan untuk ke kamar. Dengan begitu dia akan bebas dari pertanyaan Nano dan Sigit dalam perbincangan mereka di ruang tv.


Kekasihku di ambil orang.... Aku ditinggal pas lagi sayang-sayange..... Hiks.... Hiks.... 😢😢😭


🔹🔹🔹🔹🔹🔹


Selamat membaca, semoga menghibur....


Jangan lupa kasih jempol kalian karena


Jempolmu semangatku


Salam manisku Fillia