I LOVE YOU, ENCUS

I LOVE YOU, ENCUS
Marah



Rayyan bukan kesal mendapati dirinya sengaja dikunci oleh Mira. Tak berusaha memanggil Mira, dia memilih mengambil kunci cadangan di laci.


" Emang siapa pemilik kamar ini sebelum dia datang, ayo apa yang akan kau lakukan sayang ketika melihatku bisa keluar dari kamar yang kau kunci dari luar?"


Rayyan bersenandung kecil sambil menutup kembali pintu kamar, kemudian berjalan santai menghampiri Mira yang terkejut mendapati Rayyan bisa keluar dari kamar.


" Kenapa yank? Kok raut wajahnya enggak seneng amat?" Rayyan tetap santai mengambil dua gelas air minum hangat dan ia letakkan di meja untuk dia dan Mira.


" Oh... Enggak! Mas udah selesai mandinya, ayo makan." Mira gugup, takut ketahuan dia mengunci Rayyan di kamar.


" Ya ayo, mari makan, mas udah laper banget ini." Rayyan menerima piring berisi makanan lengkap dari masakan Mira.


" Trima kasih sayang." Rayyan tersenyum sangat manis kemudian memulai menyuap " Oh ya, pintu kamar apa rusak ya yank, kok...."


" Uhuk!" Mira langsung tersedak air yang belum sempat masuk ke tenggorokannya, mendengar Rayyan membahas tentang pintu.


" Pelan-pelan yank! Mas gak minta kok." Rayyan menepuk-nepuk punggung Mira agar merasa lega.


" Udah yuk makan, apa mau mas suapin." Tawar Rayyan, yang langsung di tolak oleh Mira.


" Aku makan sendiri aja mas, takut mas enggak kenyang nanti."


" Mas emang gak mau makan kenyang." Rayyan langsung teringat untuk tidak makan saat malam hari, apalagi ini menjelang dia akan ikut balapan lagi.


" Kenapa? Apa makanannya gak enak?" Mira jadi kawatir, melihat Rayyan menyuap sedikit ke mulutnya.


" Enak kok, ini enek." Rayyan kembali menyuap.


" Kalau enak, terus kenapa kok gak mau makan sampai kenyang?" Mira masih tak enak hati, jika ternyata masakannya memang tidak enak.


" Takut gak bisa gerak aja nanti." Rayyan membuat alasan yang malah mengundang rasa penasaran Mira.


" Maksudnya?" Mira malah bingung.


" Ntar aja jelasinnya, sekarang kamu juga makan dulu, sini aaa...." Rayyan memberikan suapan untuk Mira, karena sudah ada di depan bibirnya, Mira langsung membuka mulutnya.


" Enakkan?" Rayyan berganti menyuapi dirinya sendiri tetapi hanya separuh sendok kemudian berganti ke Mira.


" Terus ini gimana?" Mira menunjuk piringnya yang baru terisi nasi.


" Ya enggak gimana-gimana! Nanti buat nambah. Enakkan makan barengan gini tau yank."


" Mau nambah lagi?"


" Kenyang. Mas aja, dari tadi aku terus yang makan, mas cuma dikit. Enggak enak ya?"


" Sudah dibilang takut enggak bisa gerak nanti." Jawab Rayyan.


" Ya udah sini aku aja yang habisin makanannya, mubajir buat besok udah enggak enak. Tapi kalau nanti lapar jangan nyari yang enggak ada!" Mira kesal, karena Rayyan hanya makan sedikit, padahal tadi sewaktu dia masak, Rayyan selalu bilang lapar.


" Gak suka bilang aja." Mira mengambil sayur dan lauk yang masih ada, kemudian mengambil nasi yang masih ada di piring Rayyan, membuat Rayyan merasa bersalah.


" Bukan gitu yank, mas cuma enggak biasa makan malam." Rayyan mencoba untuk menjelaskan.


" Ya! Tidur sana! Jangan disini." Mira menyuap makanan ke dalam mulutnya, tanpa peduli dengan Rayyan yang duduk di sebelahnya.


Jengah dengan Rayyan, Mira membawa makanan ke dapur, duduk disana, menghabiskan apa yang seharusnya di habiskan. Hatinya merasa sakit, melihat Rayyan tidak mau memakan makanannya, bahkan tadi seperti terpaksa.


Rayyan diam, masih duduk di tempat, tanpa ingin menyusul Mira ke dapur. Hingga beberapa saat kucuran air dari kran terdengar, itu berarti Mira sedang mencuci peralatan.


Rayyan bangkit, hatinya tak tenang sudah membuat Mira marah, mungkin juga tersinggung, dan kecewa. Jelas, karena Mira sekarang malah pergi saat melihatnya masuk ke dapur.


" Yank, maafin mas, bukan maksud mas gak mau makan masakanmu, mas cuma ingat kalau harus jaga pola makan, karena bentar lagi mau....."


Belum sempat selesai bicara Mira sudah menyela " Ya, aku tahu!" Kemudian Mira masuk ke kamar, menutup pintu dan merebahkan diri disana.


" Yank, maaf. Seharusnya aku ngomong dari sebelum kamu masak, tapi...."


Pintu kamar terbuka, membuat Rayyan berhenti bicara.


" Tapi apa? Mau bilang masakanku enggak enak? Kamu enggak doyan masakanku, karena enggak seperti masakan chef yang biasa mas makan?" Ucap Mira, bahkan tatapan mata yang mengintimidasi membuat Rayyan menjadi bingung.


" Mulai besok aku gak akan masak! Toh kamu punya Mathew yang bisa mengurus semua keperluan kamu."


" Bukan gitu yank...."


" Lantas apa? Oh.... Aku tahu, kamu gak bisa makan masakan orang desa? Iya kan, kalau emang iya, berarti kamu salah cari pasangan!" Mira beranjak meninggalkan Rayyan yang mencoba mencegahnya dengan memegangi lengannya.


" Kamu mau kemana?" Tanya Rayyan.


" Ke rumah Ajeng." Ucapan bernada datar itu seolah menusuk perasaan Rayyan. Ternyata dirinya benar-benar membuat Mira kecewa sampai ingin meninggalkannya.


" Jangan pergi saat sedang seperti ini, kita bisa bicara baik-baik kan?" Mencoba melembut untuk membuat Mira mengerti.


" Ya, akan lebih baik jika dibicarakan, daripada tindakan membuat sakit hati." Sindir Mira.


" Untuk yang tadi mas minta maaf." sesal Rayyan.


" Sudahlah, sudah terlanjur juga." Mira melepas tangan Rayyan yang masih memegang lengannya, tetapi saat terlepas Rayyan malah berganti memeluknya erat.


" Maafin mas ya...."


Mira hanya diam, tetapi diam itu membuat Rayyan semakin bingung.


" Yank...."


Mira memejamkan mata, mencoba untuk membuat dirinya tenang, tetapi rasa kecewanya membuatnya menghembuskan nafas berat.


Tanpa ada niat untuk membalas pelukan Rayyan, Mira tetap berdiri tak bergeming sedikitpun, bahkan menatap Rayyan saja rasanya enggan.


Masih dalam pelukan, Rayyan membimbing Mira masuk ke kamar, walaupun mendapat penolakan dari Mira yang masih tetap berdiri, tak ingin melangkah mengikuti Rayyan yang membimbingnya.


" Kita bicara baik-baik ya..." Bisik Rayyan dengan lembut.


" Iya, mas ngerti kamu marah, kamu kecewa, kamu tersinggung, tapi mas minta kamu dengerin dulu penjelasan mas. Kita masuk ya..."


Sekali lagi Rayyan membujuk Mira, tetapi Mira melepas pelukan Rayyan dan memilih masuk sendiri ke kamar, merebahkan diri dengan menutup tubuhnya dengan selimut.


Rayyan perlahan masuk, menutup pintu kemudian berjalan mendekat ke ranjang, kemudian ikut merebahkan tubuhnya di samping Mira. Menghadap tubuh Mira yang membelakanginya. Melingkarkan lengannya ke gundukan selimut berisi tubuh Mira.


" Berada di lintasan itu, bukan hanya menjaga keselamatan diri sendiri, tetapi menjaga yang lain juga. Walaupun mereka lawan, tetapi dilain sisi mereka juga kawan." Rayyan mulai bicara, dia tahu Mira mendengarkannya dalam diam.


" Maka dari itu kami para rider dituntut untuk menjaga kesehatan, dengan mengatur pola makan, olah raga, dan istirahat yang cukup. Karena saat kita lalai, resikonya sangat berat, bisa membuat kita sendiri celaka, juga yang lain." Rayyan mengusap-usap kepala Mira yang terbungkus selimut.


" Satu minggu ini mas tidur tidak teratur, makan apa aja yang ada karena saat ini hari raya, padahal tinggal beberapa hari kedepan mas ikut nglintas."


" Masakan kamu itu enak, enak banget malah.." Rayyan menjeda ucapannya " Tetapi mas harus bisa menahan agar tidak melebihi batas asupan makanan, apalagi malam hari. Setidaknya hanya sampai mas tampil, setelah itu mas bebas mau makan apa aja, dan kapan aja."


" Yank.... Kamu enggak tidurkan?" Rayyan menunggu jawaban Mira, tetapi Mira masih tak bersuara, walaupun dia paham maksud ucapan Rayyan.


" Ya udah kalau ngantuk, selamat bobo ya." Rayyan mengecup kepala Mira yang terbungkus selimut, kemudian ikut terpejam.


Lama-lama terbungkus selimut Mira menjadi gerah, tetapi karena tangan Rayyan Masih melingkar di tubuhnya dia hanya diam saja, mencoba bertahan dengan situasi itu, walaupun keringat mulai keluar. Hingga ia tak tahan lagi, Mira perlahan membuka bagian kepala, kemudian perlahan bergerak untuk menyibak ke bawah dengan hati-hati takut mengenai tangan Rayyan.


Mudah-mudahan dia udah tidur.


Mira merubah posisinya agar bisa melihat Rayyan, tetapi baru berbalik, matanya langsung bertemu dengan mata Rayyan yang ternyata belum tidur. Bahkan sebuah senyuman langsung menyambutnya, membuat Mira baru menyadari kalau sekarang mereka sedang tidur bersama di dalam satu kamar dan satu ranjang dalam posisi Rayyan memeluk dirinya. Apakah yang akan terjadi selanjutnya.....?!