
" Kok jadi rumit begini ya?" keluh Rayyan ketika mereka kini tinggal bertiga di dalam kamar.
Mathew pamit mencari makan malam.
Mira terdiam. Sigit hanya menatap Rayyan yang kebingungan.
" Kalau menurut kalian bagaimana?" Rayyan mengajak Mira dan Sigit berdiskusi.
" Baiknya memang Ajeng harus kasih kesempatan sama mas Mathew." Mira yang bicara.
" Tapi bagaimana dengan mas Dony? Kecewa itu sakit!" Sigit ikut mengutarakan isi pikiran sekaligus hatinya.
" Bagaimanapun yang namanya anak, suatu saat pasti mencari asal-usul darimana dia hadir. Apalagi mas Mathew mau mengakui anak itu." Mira kembali bicara.
" Kalau mas Dony mau mengambil alih tanggung jawab, dan dia bisa menganggap anak itu sebagai anaknya, kan tidak ada salahnya!" Ucap Sigit.
" Tapi tetap saja, suatu saat jika terungkap identitas orang tuanya, anak itu pasti terluka." Bantah Mira.
" Tidak akan jika tidak ada yang memberi tahu." Sigit tetap kekeh.
" Nyatanya rahasia yang disimpan rapi berpuluh-puluh tahun, bisa terbongkar juga." Mira bersungut.
" Apa?" Tanya Sigit.
Rayyan malah bingung melihat saudara kembar itu saling berargumen, bahkan bersitegang mempertahankan pendapatnya masing-masing.
" Kok jadi kalian yang bertengkar?" Ucap Rayyan.
Tak terpengaruh dengan Rayyan, Mira dan Sigit melanjutkan acara debatnya. Keluar juga sifat mirip keduanya, yang sama-sama keras.
" Rahasia apa maksudmu?"
" Rahasia tentang kita yang disembunyikan oleh bapak!"
" Itu juga untuk melindungimu dari nenek!"
" Melindungi bagaimana? Maksudmu?"
" Melindungimu agar tidak dibuang oleh nenek."
" Dapat darimana pikiranmu itu, nenekku tidak seperti itu. Bapak aja yang tidak tegas!"
" Kok kamu jadi nyalahin bapak! Memang nenek yang tidak setuju bapak menikah dengan ibuku."
" Tapi bukan berarti harus bohong kalau aku sudah tidak ada, nyatanya sekarang aku masih hidup! Makanya jangan suka berbohong. Rahasia itu tidak baik kalau ditutupi, apalagi kalau ada yang tahu, itu namanya bukan rahasia."
Rayyan jadi bingung sendiri mendengar keributan olah si kembar.
" Ka...."
" Stop! Sudah berhenti! Harusnya kalian jangan bertengkar, aku kan tadi minta solusi, bukan kasih topik untuk berdebat." Rayyan menengahi, membuat keduanya berhenti seketika.
" Terus kesimpulannya bagaimana sekarang?" Lanjutnya.
" Kesimpulan apa?" Serempak Mira dan Sigit menjawab. Menyadari jawaban mereka sama, mereka sama-sama melengos.
Rayyan mendesah pelan, memijat kepalanya yang terasa pening.
" Biar aku yang bilang sama Ajeng." Ucap Mira kemudian.
" Bilang apa?" Rayyan menunggu jawaban Mira.
" Ini urusan sesama perempuan, laki-laki dilarang tahu!" Jawab Mira dengan sedikit kesal.
" Katanya gak boleh ada rahasia!" Jawab Sigit.
" Kalau yang ini rahasia wanita, kalau mau tahu punya pacar dulu baru ntar aku kasih tahu."
Sigit menggeleng, berpikir lebih baik dia diam. Ngomong sama saudara kembarnya ini, seprtinya tidak akan ada ujungnya.
" Kamu mau bantu ngomong sama Ajeng yank?" Rayyan bertanya.
" He'em. Kami bersahabat dari kecil, siapa tau dia mau dengerin aku, mas."
" Emang kamu dukung dia sama siapa? Mathew atau Dony?"
Mira berpikir sejenak.
" Aku juga seorang anak, pernah rindu merasakan kasih sayang utuh kedua orang tua."
" Dengan Dony ataupun dengan Mathew semuanya tidak masalah untuk Ajeng aku rasa, tapi akan lebih baik dengan Mathew jika mau anaknya nanti aman."
" Aman dari apa maksudmu?" Sigit bertanya lagi.
" Tidak semua anak bisa menerima kenyataan seperti itu mas, ada kalanya mereka akan menjadi pemberontak saat tahu bahwa dia bukan anak kandung dari orang yang mengasuhnya." Lirih Mira.
" Apa itu yang sempat terpikir olehmu waktu itu?"
Mira mengangguk, namun kemudian ia tersenyum " Tapi setidaknya itu hanya terpikir, kenyataan aku tidak begitu. Ada seseorang yang membuatku tidak harus melakukan hal gila."
" Siapa?" Rayyan dan Sigit sama-sama menanti jawaban.
" Ibu."
" Ibu siapa?" Tanya Sigit.
" Sudah!" Rayyan menengahi, dia mencium bau-bau perdebatan akan berlanjut ke season 2.
" Kapan kamu mau ngomong sama Ajeng yank?" Tanya Rayyan.
" Malam ini mas, besok kan pulang." Jawab Mira.
" Emang udah baikan?"
" Udah gak selemas tadi, setelah makan paling juga pulih." Jawab Mira.
" Emang kamu belum makan?"
" Udah tadi makan berita seharian ditv, kekenyangan makanya sampai masuk kesini." Sindir Mira.
" He'em." Rayyan berdehem. " Kenapa diingetin lagi sih."
" Ya biar inget, besok lagi kasih kabar kalau enggak jadi pergi!"
" Iya maaf, mas salah!" Rayyan mendesah pelan.
" Mau makan apa sekarang? Minta makan apa aja mas beliin deh..." Rayu Rayyan.
Pasalnya selama Rayyan pulang, Mira dilarang makan makanan instant dan makanan yang dijual di gerai makanan kaki lima, padahal makanan itu semua kesukaan Mira. Dan hanya diperbolehkan makan masakan bi Ijah dan makanan yang dibeli oleh Dony atau Mathew. Otomatis, semua terpantau oleh Rayyan.
" Bakso pake sambal yang banyak, pedes, panas, kayaknya enak lho mas."
" Jangan yang itu!" larang Rayyan.
" Mie ayam, saus sambel sama tomatnya agak dibanyakin, kecapnya dikit aja, sambelnya minta 3 sendok."
" Yang lain!"
" Soto ayam kampung, kecap sedikit, sambel banyakin."
" Lainnya!"
" Mie cup yang pedes dower."
" Kalau cuma mau dower nanti mas bikinin, tapi nunggu mereka tidur, kasian sama yang jomblo."
" Ngomong apa sih!" Mira jadi kesal, arah bicara tentang makanan, ditanggepinya sampe kesana.
" Jadinya makan apa ini? Salad, stick salmon,......... dll." Rayyan menyebutkan jenis makanan yang biasa disiapkan oleh Mathew.
" Tau gitu gak usah nawarin mau makan apa mas, tinggal beliin. Bikin kecewa aja." Dengus Mira.
" Menjaga kesehatan itu penting yank."
" Sendiko dawuh ndoro kakung." Mira memperhalus suara kesalnya.
" Iya....." Jawab Rayyan.
" Emang mas tahu artinya?"
" Tahu."
" Apa memang?"
" Aku cinta kamu kan."
Sigit hampir tersedak mendengar ucapan Rayyan, dan Mira tertawa terbahak-bahak, sambil berguling-guling. Sedangkan Rayyan hanya diam melongo menyaksikan Mira dan Sigit tertawa terpingkal-pingkal.
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
Otor mulai buat rangkaian bunga ini. Hayo siapa yang punya?
Mau bikin part panjang, matanya udah gak kuat. Mau bikin kopi, kopinya habis lagi, jadinya partnya pendek....
Tidur dulu aja ya otornya... See next chapter