I LOVE YOU, ENCUS

I LOVE YOU, ENCUS
Peringatan untuk Sigit



" Oma, opa, kami pamit pulang ya....."


Mira menggiring kedua anak asuhnya untuk berpamitan pada oma dan opa.


Kedua orang tua itu menyalami dan mencium kedua cucunya, namun Gea tak mau. Merasa malu kerena sudah besar.


" Aku kan sudah besar oma, opa, kenapa harus dicium?" Gea menggerutu sambil mengelap bekas bibir oma dan opanya.


" Sudah besar, tapi juga masih cucu oma sama opa kan?" Kata oma.


" Iya... Tapi salim aja cukupkan. Begini..." Gea mengambil tangan oma dan opa bergantian.


" Asalamualaikum." lanjutnya kemudian.


" Walaikum salam." Oma, opa menjawab salam cucunya dengan menahan tawa.


" Pamit oma, opa. Asalamualaikum." Pamit Mira pada orang tua majikannya.


" Walaikum salam."


Sigit membuka pintu untuk masuk Gea dan Geby. Mira membuka pintu sebelah, namun dilarang oleh Gea.


" Encus di depan aja, sama om Sigit. Aku mau mainan sama adek." Ucap Gea. Mira menatap Geby, anak itu mengangguk.


" Encus disini aja ya, nanti adek bisa jatuh kalau encus gak jagain." Mira tak mau ambil resiko.


" Enggak cus, kami sudah biasa di belakang. Iya kan om Sigit?"


Mira mengalihkan pandangannya pada Sigit yang mengangguk membenarkan ucapan Gea.


" Ya sudah hati-hati kalian di belakang. Gea jagain adek ya."


" Siip." Gea mengacungkan kedua ibu jarinya disertai senyum senang.


Mira memutar tubuhnya setelah menutup pintu mobil, sayangnya kakinya salah gerak, hingga mengakibatkan tubuhnya oleng hampir jatuh.


" Hati-hati mbak...!" Teriak Sigit, namun sigap menangkap tubuh Mira, hingga Mira tidak jadi jatuh.


Beberapa detik bertangsung, mata bertemu mata, dan bagian tubuh mereka saling menempel, menimbulkan detak aneh pada jantung Sigit.


" Kamu tidak apa-apa Mira?" Suara oma mendekat dengan kawatir melihat Mira yang hampir jatuh. Dan itu sukses menyadarkan keduanya untuk kembali berdiri tegak.


" Tidak apa-apa oma, tadi kakinya aja belum pas." Ucap Mira pada oma.


" Lain kali hati-hati." Pesan oma.


" Iya oma." kata Mira.


Oma melihat ke Sigit. Terpaku sejenak, kemudian ke Mira. Membandingkan dua orang di hadapannya. Terlintas beberapa keheranan saat melihat dua orang ini memiliki wajah yang nyaris mirip, dan oma baru menyadarinya.


" Oma, pamit ya." Suara Mira menyadarkannya.


" Sebentar." Oma menahan tangan Mira yang akan memutar, melewati oma dan Sigit. Kemudian oma mensejajarkan Mira dan Sigit.


" Ada apa oma?" Mira merasa aneh, melihat oma. Begitu pula Sigit.


" Kok, kalian mirip ya?" Ucap oma, sambil bergantian memandang wajah Mira kemudian beralih ke Sigit.


Keduanya hanya diam, melihat bayangan mereka dari body mobil, dan memang ada kemiripan dari keduanya. Dan anehnya bukan hanya oma yang mengatakan bahwa mereka mirip. Nano malam itu juga mengatakan demikian.


" Apa kalian saudara?" Tanya oma.


" Mana mungkin oma. Kami baru kenal disini." Sanggah Mira, dan Sigit ikut mengangguk membenarkan.


" Tapi kok bisa mirip begini." Oma menilai lagi keduanya.


" Mungkin hanya kebetulan oma. Kan emang banyak orang yang mirip walaupun bukan saudara." Ucap Mira.


" Iya juga sih. Soalnya temen oma juga gitu ada yang mirip, tapi akhirnya mereka berjodoh." Oma mengatakan itu, karena memang temannya ada yang berjodoh karena mirip.


" Begitu ya oma, tapi itu mungkin cuma kebetulan lagi oma." Kini Sigit yang gantian berucap.


*Tapi jika ia, aku juga tak menolak. Mbak Mira cantik, baik lagi. Masih kurang apa coba. Kalau rejeki masih bisa dicari sambil berjalan. Sigit membatin.


Aduh gawat, kalau Mira sampai sama Sigit, kasihan dong Rayyan. Patah hati dia! Apa aku jodohin aja ya mereka. Keburu diambil orang nih anak. Batin mama Sarah*.


" Encus... Ayo pulang." Suara Gea berteriak dari dalam. Membuat Mira langsung pamit dan masuk. Begitu pula Sigit.


" Hati-hati." Oma melambai."


Selama perjalanan, tidak ada suara yang keluar dari Sigit ataupun Mira. Hanya suara kedua bocah di belakang yang ramai tertawa.


Sampai rumah, mereka saling canggung gara-gara oma. Bahkan melihat satu sama lain sepertinya enggan.


" Trima kasih mas Sigit." Mira buru-buru menggandeng kedua anak itu dan menggiring masuk rumah, setelah mengucap kata terima kasih. Sigit hanya mengangguk, mengawasi tubuh Mira berlalu masuk sampai tak terlihat.


*Masa iya sih? Apa mungkin mirip itu berarti jodoh?


🔹🔹🔹🔹🔹🔹*


Hari itu bu Rita pulang. Anak-anak tentu saja kangen dengan sang mama, bahkan mereka tak ingin lepas barang sedikitpun. Hampir 2 minggu ditinggal pergi, hati siapa yang tak merasa rindu, apalagi anak-anak seumuran Gea dan Geby.


" Mira trima kasih, sudah jaga mereka." Ucap bu Rita.


" Sama-sama bu." Mira tersenyum.


Sigit kebetulan masuk dan tak sengaja melihat senyum Mira yang ditujukan pada bu Rita.


Memang manis, tambah cantik.


" Apa Git, senyum-senyum?" Bu Rita memergoki Sigit yang tersenyum gara-gara melihat Mira tersenyum.


" Enggak bu."


Ia kemudian meletakkan koper di depan pintu kamar bu Rita, dan naik ke atas.


" Panggil mbak Sri ya Git, tolong."


" Iya bu."


Karena menengok otomatis Sigit melihat juga Mira yang berada di samping bu Rita sedang memberi susu Gea.


Keibuan sekali.


Ia mengeleng, kemudian melangkah menaiki tangga untuk memanggil mbak Sri sambil menghilangkan bayangan wajah Mira yang entah mulai kapan memenuhi pikirannya.


🔹🔹🔹🔹🔹🔹


" Mbak Mira duluan aja." Sigit yang mau mandi sore itu mempersilahkan Mira yang juga akan mendi.


" Mas Sigit duluan aja, kan mau kuliah." Ucap Mira.


" Mbak aja dulu, ini juga masih lama. Masih 1 jam lagi." Kata Sigit.


" Gak papa nih saya duluan. Soalnya saya harus ikut ibu ke mall. Beli susu untuk adek." Mira merasa kebetulan jika dia disuruh mandi duluan.


" Ya... Gak apa-apa mbak. Saya habis mbak Mira aja mandinya."


Mira akhirnya masuk ke kamar mandi. Sedangkan Sigit menunggu sambil berjalan ke ke kamar tak lupa dengan senyum ala kasmaran yang membuatnya terlihat berbeda dari pandangan seorang Nano.


" Ngapain senyum-senyum? Udah gila apa kamu Git?"


" He'em.... Gila, apa iya ya.... Kayaknya gila dikit itu menyenangkan." Masih dengan senyum yang menggembang di bibirnya membayangkan wajah Mira.


" Bau-baunya aku tahu ni apa yang membuatmu tersenyum terus." tebak Nano.


" Apa?"


" Dari tadi aku lihat kamu kayak gimana gitu sama mbak Mira."


Ucapan Nano membuat Sigit merubah wajahnya menjadi datar.


" Sok tahu!" Kemudian ia menimpuk Nano dengan bantal. Untuk menutupi kebenaran tebakan Nano.


" Hati-hati, sainganmu berat kalau mau deketin mbak Mira."


" Maksudmu?" Sigit tertarik dengan ucapan Nano.


" Ya, lebih baik mundur daripada patah hati!"


Bukan tanpa alasan Nano mengatakan itu. Pasalnya saat subuh beberapa minggu lalu, ketika Rayyan meminta Sigit membuka gerbang dan mengajak Mira, Nano memperhatikan apa yang terjadi antara Mira dan Rayyan dari balkon atas, dan tempatnya berdiri waktu itu tepat di pagar tembok tempat Mira dan Rayyan berada.


" Ya pokoknya lebih baik mundur alon-alon."


Begitulah Nano memberi peringatan pada Sigit, teman seperjuangannya sejak 2 tahun bekerja di keluarga Aquino. Tak akan tega dia melihat temannya sakit hati, tapi dia juga tidak mungkin memberi tahu apa yang ia saksikan waktu itu.


Biar waktu yang berbicara.