I LOVE YOU, ENCUS

I LOVE YOU, ENCUS
Kucing vs Tikus



Rayyan mengerjapkan mata, memperjelas pandangannya dengan melihat secara jelas kepada Mira yang saat ini tengah membelakanginya dan memandang foto dirinya


saat memegang piala di atas podium.


Bahkan kini semakin jelas karena Mira tidak sedang berdiri, namun masih menyantap sarapan yang sudah disiapkan oleh bi Ijah.


Melihat Rayyan berada di depan kulkas, Mira menawari sarapan.


" Ya...."


Hanya itu jawaban Rayyan.


Hatinya kecewa, ternyata hanya bayangannya saat melihat Mira tersenyum lebar, memandang takjub pada dirinya dan foto kebanggaannya. Nyatanya, sosok itu kini tengah menikmati sarapan dengan tenang tanpa tersenyum sedikitpun.


Ya ampun Rayyan, apa yang sudah merasukimu?


Rayyan melangkah keluar, memakai kembali jaketnya dan kaca mata hitam yang tadi ia letakkan di sofa.


" Mau kemana kamu?"


Mama Sarah keluar dari kamar, membawa paper bag ditangannya.


" Ke bengkel ma."


Jawaban lesu tak bersemangat dari Rayyan membuat kerutan diantara kedua alis mama Sarah yang terbentuk rapi.


" Kok gak semangat."


" He'em."


Rayyan tersenyum sedikit, namun kembali datar.


" Kau ingin mengantarnya?" Bisik mama Sarah, agar tak terdengar oleh Mira yang berada tak jauh dari mereka, hanya bersekat lemari berisi hiasan berharga dan unik milik mama Sarah.


" Bukannya mama yang mau nganterin!"


" Mama gak serius sayang." Ucap sang mama, sambil menyodorkan paper bag pada Rayyan.


" Kasih si Gembrot." Ucapnya.


" Mama kok nyebelin ya!" Rayyan ingin memaki mama Sarah, namun sadar betul bahwa mama bukan sahabatnya, walaupun hubungan mereka


seperti seorang teman, namun Rayyan tahu bahwa mama adalah orang tua yang harus dihormati.


" Emang jatuh cinta itu selalu membuat pelakunya jadi sensi."


" Mama emang pernah jatuh cinta?"


Pertanyaan konyol macam apa ini! Mama Sarah


kini terpancing dengan celetukan anak somplaknya.


" Terus kamu hasil dari mana kalau bukan dari cinta mama?"


" Dari 'itu'... Maksud aku....."


Plak


Satu pukulan mendarat di kepala Rayyan saat akan memperjelas ucapannya.


" Apa maksudmu?! Ayo jawab! Dasar anak kurang ajar."


Mama mendaratkan pukulan bertubi-tubi pada punggung Rayyan, yang otomatis membuatnya berteriak kesakitan.


" Aduh... emak.... Ampun... emak..... Iya... Maaf..."


" Dasar anak kurang ajar kamu tuh.... Rasain nih!"


Bukk


Satu tabokan mendarat di bokongnya.


" Ya ampun ma, berasa jadi anak tiri aku."


Rayyan mengusap-usap bokongnya yang terasa panas.


" Masih mau lagi!"


Mama sudah bersiap dengan tangannya yang hampir menyentuh bokong Rayyan yang tengah ditutupi dengan kedua telapak tangan oleh Rayyan untuk menghalau tangan sang mama. Namun keluarnya Mira dari dalam membuatnya urung melakukannya.


" Eh... Sudah sarapanya?"


" Sudah oma." Mira tersenyum ke arah oma, membuat jantung Rayyan berasa berdetak kencang dan tak beraturan, karena posisi Mira yang berdiri di belakangannya.


" Kamu antar Mira ke rumah kakakmu. Jangan lupa titipan mama."


" Okey Ma."


" Hati-hati bawa orang cantik, banyak resikonya." Pesan mama Sarah pada Rayyan yang berasa ingin mengutuk mamanya jadi semut, agar tak bisa bicara.


" Iya mama."


" Jangan ngebut-ngebut."


" Iya mama."


" Lewat sebelah kiri."


Rayyan memutar ke sebelah kiri mamanya, yang mana membuat mama kembali memukulnya.


" Ambil ini ma... Sakit tau!" Rayyan menunjukkan kontak mobil sambil menggosok punggungnya yang panas, karena pukulan mamanya.


" Mama kira kamu mau ngledek mama."


" Mana berani, belum apa-apa aja sudah kena pukul." Gerutunya sambil menarik tangan Mira, membawa keluar rumah, hingga Mira hampir terseret karena tak siap.


" Jangan cari kesempatan Rayyan!"


" Apa sih maaa....." Dengan malas Rayyan berhenti dan berbalik menunggu sang mama yang berjalan menghampiri Rayyan dan Mira.


" Ini! Lepas... Kasihan dia kesusahan karena kamu tarik."


Mira mengusap lengannya yang terasa ngilu.


" Maaf ya."


Mira mengangguk sambil meringis.


" Belum apa-apa aja sudah nyakitin." Mama mengusap lengan Mira.


" Tidak apa-apa oma." Mira jadi merasa tidak enak dengan perlakuan majikannya yang ia rasa berlebihan.


" Oma hanya tidak suka dengan laki-laki kasar pada perempuan." Ucapan halus oma, membuat hati Mira menjadi melow.


" Gak sengaja mama, aku kira tadi helm aku." Celetuk Rayyan.


Mama melotot mendengar ucapan Rayyan yang seakan tak punya salah bahkan tak masuk akal. Helem sama tangan, sama dari mana coba?


" Makanya yang dipegang jangan cuma helm sama motor aja, biasakan pegang manusia!" mama mengambil tangan Mira dan tangan Rayyan untuk ditautkan, namun Mira buru-buru menarik tangannya


" Oma... Saya pamit." Ucap Mira kemudian, sambil menyalami ibu majikannya yang serasa aneh menurutnya.


" Oh... Iya. Bilang sama oma kalau dia macam-macam." Mama Sarah melirik putranya dengan sadis.


" Iya oma, saya pamit."


Mira berjalan mendahului Rayyan yang tersenyum penuh kemenangan pada sang mama.


" Seharusnya bilang trima kasih sama mama." Bisik mama Sarah pada Rayyan.


" Trima kasih mama sayang." Rayyan mengecup


pipi sang mama.


" Semoga berhasil, mama doakan semoga kamu tak putus asa mendekatinya. Lihatlah, dia sepertinya tak tertarik padamu."


Rayyan memandang dengan tatapan memelas pada mama Sarah yang ternyata malah membuat semangatnya jadi kendor.


" Lihat saja... Tuh." Mama menunjuk pada Mira yang sedang memandang taman indah di halaman rumah itu.


" Lebih memilih memandang tanaman dari pada wajahmu yang tampan. Ayo tunjukkan gayamu yang kayak panggil ayam! Kasih dia makan!" Tantang sang mama.


" Mau taruhan." Ajak Rayyan, terpancing dengan ucapan mamanya.


" Siapa takut!" Mama menatap tajam tak ingin kalah dengan sang anak. Karena dia cukup bisa menilai bahwa Mira bukanlah gadis remahan yang mudah di rayu.


" Mama kasih apa kalau aku menang?"


" Apapun yang kamu minta. Tapi kalau mama menang kamu harus kasih motor koleksimu."


" Mana bisa begitu ma! Ini namanya pemerasan." Sungut Rayyan.


" Kamu takut kalah kan?" Mama menaik turunkan alisnya sambil berkacak pinggang.


Rayyan mendengus kesal, tapi bukan dia jika mengalah begitu saja dengan mamanya.


" Ok! Aku kasih mama motor-motor aku. Tapi kalau mama kalah, mama harus kasih koleksi berlian mama."


" What!" Mama berteriak tak terima, pasalnya berlian yang ia miliki adalah berlian yang ia jual di toko miliknya. Itu berarti dia harus menyerahkan tokonya juga.


" Impas ma, mama tahu motorku juga satu showroom, jadi taruhannya cukuplah. Mama dapat motor, aku dapat berlian setoko sama gadis itu." Rayyan menunjuk Mira yang masih berdiri di dekat mobil, menunggunya.


" Kasihan dia, aku antar dulu ya ma.... Bye."


Rayyan berjalan, sambil melambai ke arah mamanya yang masih mematung memikirkan bahan taruhan yang diminta Rayyan.


" Mama yakin kamu pasti kalah."


Rayyan berhenti dan berbalik, menampilkan senyuman manisnya untuk sang mama.


" Restu mama adalah sangu, jadi selama mama merestuiku tidak akan ada kata kalah dalam kamus seorang Rayyan Aquino." Ucapnya sambil membuka pintu mobil untuk Mira.


" Silahkan masuk tuan putri."


Mira membatu, tak langsung masuk ke dalam mobil, karena pintu yang dibuka oleh Rayyan adalah pintu kemudi.


Ia memutar dan membuka sendiri pintu untuknya, masuk dan duduk di kursi samping kemudi tempat tasnya masih berada di sana.


Rayyan menggaruk kepalanya, menyadari kebodohannya dan melihat sejenak ke arah sang mama yang tersenyum meremehkannya.


" Selamat berjuang anak nakal, mama akan datang ke showroom milikmu secepatnya."


" Dan aku akan jadi milyader dalam waktu dekat mama, berlian mama adalah asetku."


" Kita lihat saja nanti."


Mira menatap jengah pada Rayyan yang belum juga masuk ke mobil. Ia sendiri tak tahu apa yang dibicarakan ibu dan anak yang seperti kucing dan tikus.


Ada yang anak sama emak begitu!


Mira menggeleng kepala tak percaya.


" Mas, jadi anterin enggak."


Barulah Rayyan sadar dan menyudahi dialog tak bermutunya bersama sang mama.


" Hehehe... Maaf." Rayyan menutup pintu mobil dan menyalakan mesin dan berputar arah menuju rumah mbak Rita yang ternyata terlewati.


Mira menatap Rayyan tak percaya. Bukannya tadi mereka melewati jalan itu, tapi kenapa sekarang kembali lagi.


" Rumah Geby di sana." Rayyan membelok gang


masuk menuju perumahan elit, tahu jika pandangan mata Mira mengandung pertanyaan.


" Tadi ada yang harus diambil, jadi mama minta sekalian dibawa untuk Geby..... Ya ampun! paper bag nya lupa. Kita putar balik ya."


Rayyan ingat kalau barang itu tadi masih dipegang mamanya, belum ia terima.


Astafirullah....!


Mira ingin memaki, tapi sabar adalah sifatnya, jadi dia hanya mengangguk saat Rayyan memutar kembali mobilnya menuju rumah mama Sarah.