I LOVE YOU, ENCUS

I LOVE YOU, ENCUS
Salah Paham



Suasana selalu ramai dikala sirkuit beroperasi, seri 4 akan dimulai. Semua readers sudah bersiap dengan kuda besi yang dengan gagahnya berjejer di lintasan.


Rayyan nampak berkeringat karena suhu di musim panas yang terasa menyengat dikulitnya, bahkan bulir-bulir bening mulai turun di pelipisnya.


Seorang model yang saat itu bertugas mendampingi Rayyan memberikan tisu, namun dengan sopannya dia menolak, dan lebih memilih memberi kode pada Mathew.


Dengan sigap Mathew mendekat membawakan apa yang dibutuhkan oleh Rayyan termasuk minuman.


" Thanks Met, jangan lupa siaran langsung untuk my future wife."


Model yang berdiri di sampingnya mencelos mendengar ucapan Rayyan yang seolah disengaja.


" Miss, I'm free." Mathew membisikan kata-kata itu di telinga sang model, yang langsung disambut dengan lirikan maut.


" I am engaged ( saya sudah bertunangan )." Ucap sang model dengan melirik ke jari manisnya yang berhias berlian, cukup mencolok karena jarinya yang kurus, sedangkan mata berliannya berukuran besar.


Rayyan dan Mathew hanya ber 'OH' ria, sambil membuang pandangan ke arah lain.


Setelah kepergian Mathew, suasana cukup tegang, karena Rayyan kini sudah bersiap mengganti topi dengan helem, itu berarti acara akan dimulai sebentar lagi.


Mathew mengarahkan kamera ke arah Rayyan sambil melakukan video call dengan Mira. Hari minggu Mira free tidak bekerja.


" Mbak, dia nyusahin kenapa milih sama dia sih?" Tanya Mathew kepada Mira disela-sela mengarahkan kamera ke arah Rayyan yang tersenyum manis.


" Bentar lagi mas, sabar ya. Nanti kalau sudah selesai musim biar saya yang urusin. Jadi masnya gak perlu repot dengan susahnya ngurusin dia." Jawab Mira.


" Bukan gitu mbak, maksud saya kenapa milih dia, sama saya aja mau?" ledek Mathew.


" Lebih susah sama masnya kalau saya milih situ?"


" Kok gitu mbak?" Mathew bingung dengan jawaban Mira.


" Kalau dia gak nglintas saya senang, tapi kalau masnya gak kerja saya susah. Dia berhenti masih punya usaha, tapi kalau masnya berhenti kerja jadi apa coba?"


" Pengangguran." Mathew menjawab sendiri pertanyaan Mira, karena memang benar bahwa pekerjaannya itu bergantung Rayyan.


" Bukan saya yang bilang lho mas." Mira merasa tidak enak hati.


" Emang bener sih mbak, tapi dia nawarin saya kerja ditempatnya setelah selesai dari sini."


" Tapikan tetep dia bosnya kan, pendapatan juga lebih unggul dia kemana-mana." ucap Mira, Mathew terkejut dengan kalimat barusan yang ia dengar dari pacar bosnya itu.


" Ternyata mbaknya matre juga." Celetuk Mathew dengan nada tak suka.


" Bukan matre mas, tapi realistis." Jawab Mira dengan enteng.


" Wes mas, tu mau mulai. Jangan ngajak bicara terus ya, nanti saya jadi tidak fokus. Karena setelah ini, takutnya ditanya detailnya sama mas Rayyan." Ucap Mira, padahal dia sebenarnya ingin berhenti diajak ngobrol dengan Mathew, merasa tidak nyaman. Entah karena apa, dia sendiri tidak tahu. Yang pasti dia hanya nyaman jika berbicara dengan doi yang sekarang sedang melambai sambil tersenyum.


Bunyi sirene sudah terdengar, pertanda semua sudah siap. Begitupun dengan semua riders. Para model sudah kembali dan kini hanya tinggal mereka yang sedang berkonsentrasi di garis star.


3


2


1


Dan deru mesin bergemuruh membahana dengan kuda besi serta penunggangnya yang sudah melaju mencari sendiri urutannya demi menjadi pemenang.


Mira meminta Mathew mematikan sambungan telpon. Dia lebih memilih menyaksikan lewat televisi yang terpasang lebar di kamar Rayyan.


Lebih jelas, apalagi setiap sesi pemgambilan gambar yang disorot hanya rider dengan urutan depan. Dan itu bisa ia lihat saat ini. Rayyan berada di urutan ke 5, dengan jarak hanya beberapa centi dari rider yang ada di depannya, dan saat ditikungan ia bisa mengambil alih posisi rider tadi, hingga ia kini berada di urutan ke 4.


Perjalanan masih jauh karena laps awal belum bisa menentukan siapa yang akan menaiki podium di seri 4 musim ini.


Pertarungan semakin ngeri, perut Mira serasa kram dan kaku saat menyaksikan bagaimana para rider mengeber motor dengan kecepatan yang secepat-cepatnya. Pandangan matanya tak bisa berpaling dari layar televisi yang menampilkan para riders yang bertaruh di lintasan dengan suhu yang sangat panas, terlihat jelas dari aspal yang berasap dari layar televisi.


Degup jantung Mira seakan berhenti ketika sebuah insiden hampir menjatuhkan Rayyan karena senggolan yang terjadi. Beruntungnya tidak ada yang jatuh, hanya Rayyan harus tersalib oleh 2 rider yang ada di belakangnya.


" Ya Tuhan." Mira terpekik, bahkan ia sampai menutup mulutnya sendiri. Pikirannya kacau, namun melihat Rayyan baik-baik saja dan tetap berlanjut dia merasa lega.


" Hati-hati mas." Mira berucap secara tak sadar.


Karena cuaca yang sangat panas, tak sedikit motor yang harus berhenti karena ban mengalami aus dan harus diganti, beruntung team Rayyan memilih ban yang sesuai dengan kondisi jalanan, hingga ia tak mengalami kendala. Walaupun sempat mengalami insiden kecil, nyatanya itu tak membuatnya tertinggal.


Sekarang motor berwarna biru dengan aksen hijau menyala itu bisa berada di urutan ke 3, di belakang rider berjulukan ' the little Samurai' dan yang terdepan di tempati oleh ' the baby alien'. Namun bukan Rayyan jika menyerah, di laps terakhir nyatanya dia bisa menyalib si Samurai dan bisa berada di belakang baby alien dengan jarak yang begitu tipis. Hingga ia finish diurutan ke 2.


Mira terpekik ke girangan, bahkan ia kini melonjak-lonjak di atas sofa. Beruntung tidak ada orang di bengkel, karena kalau siang Dony berjaga di pos depan.


Sesi wawancara yang dilakukan bergantian oleh para pemenang telah tiba, dan saat giliran Rayyan Mira menatap takjub pada pujaan hatinya itu yang dengan fasihnya berbahasa yang ia tak paham, apakah itu bahasa Portugal atau Spanyol, jika bahasa inggris tentu ia bisa mengerti artinya karena walaupun hanya lulusan sekolah menengah atas, Mira cukup fasih dengan mata pelajaran bahasa inggris.


Mira menyaksikan hingga acara pemberian penghargaan karena setelah itu acara televisi berganti dengan acara ngobrol oleh para pengamat dan pembawa acara. Jadi Mira tak begitu tertarik.


Satu jam setelahnya hp milik Mira berbunyi, dan itu dari Rayyan.


" Yank." Sapa Rayyan ketika wajah Mira nampak di layar hpnya.


" Selamat ya mas." ucap Mira dengan bangga.


" Hanya ke 2, gak kecewa kan?" Tanya Rayyan. Mira menggeleng.


" Ke 2 gak papa, yang penting tetap no 1 di hati aku." Jawab Mira dengan senyum cerah. Sedang wajah Rayyan yang memang sudah merah karena kepanasan malah bertambah merah hampir biru, jika saja Mathew tak segera menepuk pundaknya memberikan baju ganti. Jadi acara layang melayang gara-gara ucapan Mira menghilang seketika.


" Ganggu aja lu." Gerutu Rayyan " Taruh sana." Dia menunjuk kursi untuk meletakkan baju yang dibawa Mathew.


Mathew keluar dari ruangan Rayyan.


" Mas tadi bahasa apa?" Tanya Mira.


" Bahasa sini." Jawab Rayyan.


" He'em" Rayyan mengangguk.


" Berapa bahasa yang mas bisa?"


" 10 mungkin."


" WOOOOOW it's amazing!" Mira terbelalak kagum. Rayyan tersenyum aja, membiarkan sang pujaan hati bangga padanya.


" Tapi mas saat ini masih belajar bahasa lagi." Kata Rayyan, setelah Mira kembali biasa.


" Belajar bahasa lagi? Emang mas masih mau ikut nglintas lagi setelah musim ini?"


" Maunya kamu gimana? Mas lanjut apa berhenti?"


Mira diam, dia bingung dihadapan pada pertanyaan Rayyan. Tentu dia tidak ada hak untuk melarang Rayyan untuk berhenti ataupun mempersilahkan Rayyan lanjut.


" Terserah mas aja." Jawab Mira kemudian.


" Emang gak pengen mas kembali?"


" Apa bisa aku meminta?"


" Justru mas akan dengan senang hati menuruti."


Mira diam lagi.


" Kok diem yank?"


" Mas katanya mau belajar bahasa lagi, sayangkan kalau gak dipakai."


" Iya, sayang emang kalau enggak di pakai."


" Emang tahun depan mau ke nglintas kemana lagi mas kok belajar bahasa lagi?"


Rayyan mengulum senyum saat mendengar pertanyaan Mira " Mau tahu?" Tanyanya kemudian.


Mira mengangguk dengan perasaan kecewa, mengingat oma bilang ini balapan terakhir tapi nyatanya Rayyan masih ingin berlanjut.


Oma ternyata bohong, dan dia juga......


Mira ingat saat Rayyan mengatakan akan berhenti demi dirinya, tapi buktinya itu hanya dusta. Hatinya terasa nyeri.


Ternyata aku tak begitu berarti untuknya.


Rayyan bukan orang yang tak peka. Dia tahu perubahan wajah Mira saat dia mengatakan ingin belajar bahasa lagi, dan dia tahu Mira kecewa. Apalagi Mira yang diam saat ini.


" Masih mau tahu mas mau belajar bahasa apa? Terus mau ikut nglintas dimana?" Tanya Rayyan ulang. Mira hanya mengangguk tak bersemangat.


" Serius mau tahu? Lihat mas dong, kok lemes gitu."


" Gak kok, biasa aja." Mira berusaha melihat Rayyan, untuk menutupi kekecewaannya.


" Tanya geh bahasa apa, dan nglintas dimana?"


Mira tak bersemangat tapi masih bertanya seperti pertanyaan Rayyan.


" Bahasa apa dan nglintas dimana?"


" Senyum dulu geh." Pinta Rayyan.


Mira hanya menarik sedikit ujung bibirnya.


" Kok gitu?"


" Mira capek."


Hati aku bang, sakit! Batin Mira.


Rayyan jadi tak tega melihat Mira yang terlihat kecewa padanya.


" Yank, jangan gitu ih."


" Gitu gimana? Mira emang capek! Udah ya, Mira mau istirahat." Mira hampir memutus sambungan telpon, hatinya semakin berdenyut nyeri, dan dia yakin jika masih berbicara dengan Rayyan pertahannya akan segera runtuh.


" Yank, jangan matiin dulu. Danger dulu penjelasan mas." Cegah Rayyan.


" Apa?" Suara Mira terdengar dingin.


" Mas tadi cuma bercanda." Rayyan diam sesaat " Maksud mas itu bahasa yang mas mau pelajari itu bahasa cinta buat nglintas di hati kamu. Tapi kamunya sudah salah tanggap. Maaf ya."


Mira diam, ada campuran berbagai rasa dalam hatinya mendengar penjelasan Rayyan, namun dia terlanjur malu.


" Jangan marah lagi ya, ciuz... Maksud mas cuma mau bercanda."


" Gak lucu bercandanya!"


" Tapi senengkan.....?"


" Iish apaan sih!" Mira ingin tersenyum tapi malu.


" Senyumnya dilepasin aja yank, jangan ditahan." Goda Rayyan.


Mira langsung tersenyum, namun ia berpaling membuang muka, rasa panas yang menjalar di wajahnya sudah cukup membuatnya tahu bahwa wajahnya sudah seperti kepiting panggang.


" Jadi pengen cepet pulang." Geram Rayyan melihat wajah Mira yang bersemu malu, dan tentu perasaan bahagianya karena tanggapan Mira yang tak rela jika dirinya berlanjut.


Jangan kawatir sayang, tunggu abang pulang 😍😍😍😍