I LOVE YOU, ENCUS

I LOVE YOU, ENCUS
Jebakan Batman



BOLEH DI SKIP, GAK HARUS DIBACA!


Rayyan mencoba bertahan dalam keadaan dimana Mira sedang menguasai dirinya, di atasnya dan mengobra-abrik dirinya, walaupun dengan keahlian yang dibilang amatir, tapi tidak apa, Rayyan suka itu, toh mereka sama-sama amatir, hanya bedanya Rayyan punya wawasan dari beberapa sumber, sedangkan Mira sumbernya hanya Rayyan.


Lenguhan kecil menyelingi kegiatan Mira yang sedang belajar menjadi istri atas bimbingan Rayyan, bagaimana tidak, jika Rayyan tidak mengarahkan kemana dia harus beraksi, maka Mira hanya akan beraksi di satu titik saja, dan itu membuat Rayyan merasa geli.


Apalagi saat Mira bermain-main dengan ular milik Rayyan terlalu lama walaupun hanya dari luar, karena kenyataannya ular itu masih bersarang di segitiga pengaman, satu-satunya yang melindungi bagian tubuh Rayyan, dan justru itu yang membuat Rayyan hampir meledak, hingga Rayyan harus berbalik mengganti posisi Mira sebagai objek, bukan lagi subjek. Bisa jatuh harga dirinya jika sampai dia selesai lebih awal disaat sang istri belum apa-apa. Bahkan parahnya Mira saat ini masih lengkap mengenakan piama tidurnya sedangkan Rayyan tinggal kain pengaman di pertigaan, miris bukan?!


Sekarang Rayyan yang mendomisi kegiatan itu, sayangnya totalitas yang Mira mainkan malah membuat Rayyan makin menggila. Rayyan tak menyangka jika Mira bisa seperti itu, dipikirnya, Mira akan malu-malu atau ketakutan seperti tadi, tapi nyatanya tidak, dia sungguh berbeda dan panas, apalagi gerakan tubuhnya yang mengimbangi setiap arahan Rayyan benar-benar amazing.


" Jangan tinggalkan jejak disitu." Cegah Mira saat Rayyan beraksi di sekitar leher.


" Kenapa?"


" Kayak enggak ada tempat lain aja."


" Kalau disini boleh enggak?" Rayyan menunjuk gunung tangkuban tangan yang masih terbungkus.


" Yang penting jangan ditempat yang kelihatan."


" Asiap, laksanakan!" Dengan penuh semangat Rayyan beranjak dari lembah gunung setelah melepas penutupnya dan dengan teliti menanam bunga mawar merah hingga ungu disekitar kedua gunung tersebut, tak peduli penunggunya berteriak-teriak, yang penting dirinya happy, hingga puncak. Berlama-lama berada disana ternyata membuat nyaman bahkan kini ia hampir tenggelam di antara apitan gunung, dan kedua tangannya menjelajah puncak gunung, jika menengadah maka ia akan mendapati wajah bidadari cantik yang sedang merintih gak tahu karena apa.... yang pasti, pemandangan itu terlihat sangat indah dan sexy.


Berjalan turun, berlama-lama di atas gunung, membuat Rayyan penasaran dengan sebuah goa dengan rerumputan di sekitarnya, ia dengan perlahan menapaki jalanan datar nan rata, dengan meninggalkan jejak mawar merah disana, agar tidak tersesat ketika pulang nanti. Hingga akhirnya dia benar-benar sampai di goa itu, namun ternyata pemiliknya langsung menutupi bagian itu ketika ia hendak menjamahnya.


Rayyan mendongak memandang wajah Mira, seolah meminta persetujuan. Dia ragu, karena saat sudah sampai disana, Mira seperti ketakutan lagi.


Tidak ada jawaban, Rayyan akhirnya mundur, namun Mira menahannya, dan memberi akses dengan membuka tangannya.


" Yakin?" Tanya Rayyan, berusaha untuk tidak menunjukkan pemaksaan, walaupun jika akhirnya dia akan kecewa saat Mira mangatakan tidak.


" Hu'um."


" Jangan terpaksa, kalau emang belum siap kita bisa melakukannya lain kali." Rayyan mengambil selimut untuk menutupi tubuh Mira yang terbuka.


" Sekarang aja!" Mira jelas melihat raut kekecewaan di wajah Rayyan.


" Yakin?!" Sekali lagi Rayyan bertanya, dan Mira langsung mengangguk kali ini.


" Jangan minta mas mundur."


" Enggak!"


" Bener?"


" Iya."


" Yakin?"


" Yakin."


" Demi apa?"


" Demi cinta kita berdua."


Mendengar jawaban Mira, akhirnya Rayyan tak ragu untuk menjamah sesuatu yang memang seharusnya di jamah, dan akhirnya terjadilah yang seharusnya terjadi.


" Terima kasih."


" Untuk apa?"


" Untuk semuanya."


" Misalnya?"


" Ini."


" Jangan dibahas lagi, malu tahu!" Mira beringsut menenggelamkan wajahnya yang memerah di dalam pelukan Rayyan, membuat Rayyan tergelak melihat bagaimana lucunya istrinya itu malu membahas kegiatan mereka yang baru saja selesai.


" Jangan ketawa gitu, malu tahu mas." Mira mencubit perut Rayyan membuat sang empunya mengaduh.


" Tadi aja enggak malu, kenapa sekarang malu." Ledek Rayyan.


" Kapan?"


" Tadi itu, nyosor duluan."


Mira terdiam, mengingat dirinya mengira Rayyan marah.


" Ya salahnya mas marah, gak enak tahu didiemin." Dengus Mira.


" Emang enaknya kalau marah gimana? Triak-triak gitu, ketahuan donk kalau marah, enakan ya diem aja, kan dapet bonus."


" Dibahas lagi!" Mira mencubit lagi yang ini dibagian pinggang, membuat Rayyan menggeliat.


" Jangan disitu, geli tahu yank."


" Makanya jangan ngledek terus!"


" Iya... iya... Ampun."


" Mas, tidur yuk."


" Enggak."


" Kok ngajak tidur?"


" Ya mas itu aneh, yang namanya ngajak tidur ya berarti ngantuk, gimana sih."


" Tapi itu gimana?"


" Itu apa?" Mira mendongak, menjauh dari pelukan Rayyan untuk melihat apa yang dimaksud Rayyan.


" Itu." Rayyan mengarahkan pandangannya menunduk, Mira mengikuti.


" Ya ampun!" Mira langsung menutup matanya dengan kedua tangannya, ketika melihat ular yang berdiri tegak di bawah sana.


" Tidur mas, ngantuk! Tadi aja sakit banget tahu! Eh... Ntar.... tunggu-tunggu." Mira teringat sesuatu, dia langsung duduk, menyibak selimut dan mencari-cari sesuatu.


" Nyari apa?" Rayyan ikut bangun.


" Kok enggak ada ya?" Mira memeriksa seprei, mencari noda disana tapi enggak ada.


" Apa sih? Nyari apa?" Rayyan malah bingung, apalagi melihat wajah Mira yang kecewa.


" Kok enggak ada merah-merahnya?"


" Merah-merah apa?" Rayyan makin bingung.


" Katanya kalau baru pertama 'itu' berdarah, tapi kok aku enggak?"


Huft...! Rayyan bernafas lega, dia kira Mira kenapa, ternyata mencari noda darah.


" Apa aku udah enggak perawan ya, perasaan belum pernah gituan, tapi kok enggak ada." Mira malah jadi cemas sekarang, sedangkan Rayyan malah tersenyum melihat itu.


" Kok mas malah senyum sih? Mas gak kecewa gitu kalau aku udah gak virgin?"


Rayyan menarik Mira mendekat " Sini"


Rayyan menggapai hp di sebelah ranjang, kemudian membuka situs untuk mencari penjelasan tentang pertanyaan Mira. Kemudian memberikan hpnya pada Mira setelah menemukan yang ia cari.


" Baca ini, kalau belum jelas, besok tanya sama Tomy atau Ajeng, mereka pasti tahu."


Mira membaca artikel yang diberikan Rayyan, baru kemudian dia paham bahwa tidak semua wanita harus berdarah saat melakukan hubungan untuk pertama kali. Itu tergantung dari kondisi tebal atau tipisnya selaput dara yang dimiliki oleh masing-masing wanita, jadi masalah virginitas seorang wanita itu tidak bisa diukur dari keluar tidaknya darah saat berhubungan pertama kali.


" Sudah paham sekarang?" Tanya Rayyan, saat Mira memberikan hp padanya.


" Itu gunanya punya wawasan luas sayang." Rayyan mencubit hidung Mira.


" Jadi aku masih virgin dong mas."


" Enggak kalau sekarang."


" His jawabnya yang benerlah."


" Ya itu jawaban yang bener, mau coba lagi enggak, biar yakin."


Tangan Rayyan tentu sudah tidak terkondisi, sudah bergerilya kemana-mana.


" Sakit lagi enggak?"


" Ya enggaklah, sakitnya cuma sekali tadi doank. Mau coba lagi, biar tahu sakit apa enggak, yuk.... Udah siap ini."


" Enggaklah, ngantuk."


" Sekali ajalah yank, kasihan tuh yang ono nungguin."


" Yang ini enggak tapi. Sakit dia."


" Pelan-pelan deh ya."


" Besok lagi."


" Sekali lagi, bentar aja."


" Besok."


" Sekarang."


" Besok."


" Sekarang."


" Besok."


" Besok."


" Sekarang." Jawab Mira.


" Yes, jebakan berhasil." Rayyan berteriak girang, segera dia beraksi, tanpa menunggu Mira siap, dan malam itu akhirnya mereka begadang sampai pagi.