
RAYYAN
Dia sederhana, cara berpikir dan bertindak adalah perpaduan dari kata sederhana yang cocok untuk pribadi sepertinya.
Walaupun kadang keras kepala, tatapi aku suka.
Menangis, ya... Hal yang paling aku tak bisa saat melihatnya menangis. Maka dari itu, aku selalu berusaha untuk tidak membuatnya menitikkan barang setetespun air dari kedua mata indahnya. Walaupun usahaku pernah gagal.
Entah bagaimana aku bisa selalu tergantung pada kehadirannya? Sejak dari pertama hingga saat ini, selalu terasa ada yang hilang dan kurang, jika tidak melihat ataupun mendengar suara merdunya.
Dan sakit, aku selalu ingin menghindarkan dirinya dari rasa itu, entah dari fisik maupun batin.
Jika orang mengira aku posesif, ya aku akui aku memang begitu padanya, dan sukanya dia tak keberatan dengan itu. Walaupun kadang dia suka mencari kesempatan untuk melanggar apa yang tidak boleh ia masukkan ke dalam tubuhnya.
Entahlah, benang takdir seperti apa yang mengikat kami. Nyatanya, aku bahagia saat bersamanya, dan selalu, selalu dan selalu ingin bersamanya.
Jadi bisa dibayangkan, saat harus terpisah ruang dan waktu, aku hampir gila dibuatnya.
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
" Perlu berapa lama?"
" ............."
" Ok, nanti saya hubungi kembali. Trima kasih, selamat malam."
Rayyan menutup wajahnya, ketika Mira keluar dari kamarnya.
" Mas kok disini? Katanya tadi ngantuk?"
Mira melangkah keluar dengan membawa tiang infus. Rayyan buru-buru menghampiri Mira.
" Ngapa kok keluar lagi yank?" Tanya Rayyan, mengambil alih tiang infus.
" Mau minum." jawab Mira.
" Ya ampun, kan bisa telpon mas, ngapain keluar lagi? Kan repot harus bawa beginian."
" Hpnya mana?"
Rayyan tercengang. Dia tidak tahu kalau Mira ternyata tidak memegang hp.
" 2 mas yang pegang semua kan?"
" Emang kemaren belum jadi beli?"
" Udah sih, tapi di rumah ibu. Gak kebawa."
" Ya udah ntar mas kasih yang ada di mas. Balik lagi aja ke kamar, entar mas ambilin minumnya. Mau apa sekalian enggak? Cemilan?"
" Enggak minum aja, tapi yang dingin ya." Pinta Mira, sambil berbalik masuk.
" Ok, tunggu di kamar aja. Biar mas ambil dulu."
" Makasih mamas."
" Sama-sama adek." Senyum manis dari wajah tampan Rayyan membuat Mira jadi gemes, ingin mencubit pipi putih milik Rayyan.
" Manis benerr."
" Yang mana yang manis? Ini apa ini?" Rayyan menunjuk bibir dan pipinya.
" Terserah mas aja! Buruan kalau mau ngambilin minum? Jadi enggak nih! Kalau enggak Mira ambil sendiri." Galak mode on.
" Iya.. iya, ini mas ambilin ya, yang anget ya tadi yank." Rayyan buru-buru mendekat ke dispenser, mengambil gelas, mengisi dengan air hangat.
" Dingin mas, mau yang dingin." Suara Mira sebenarnya jelas, tetapi emang dasar Rayyan.
" Kok anget?!" Protes Mira ketika tangannya menyentuh gelas yang diberikan oleh Rayyan.
" Gak bagus minum dingin yank, apalagi kamu masih sakit."
" Rasanya di dalam panas mas, enakan minum dingin."
" Kalau panas, ya bagusnya minum yang anget, kalau dingin nanti malah makin sakit lho."
" Iyalah... iya." Mira akhirnya ngalah, meneguk minuman hangat sampai habis, berdebat dengan Rayyan memang tidak akan ada menangnya, apalagi masalah makanan atau minuman.
" Sini gelasnya, apa masih mau lagi?" Rayyan mengulur tangan meminta gelas dari Mira.
" Enggak, udah cukup. Ma kasih ya mas, maaf jadi ngrepotin."
Rayyan hanya tersenyum, keluar sebentar, kembali dengan gelas yang penuh berisi.
" Kok bawa minum lagi?"
" Buat persiapan kalau nanti haus, kan enggak harus keluar kamar."
" Oh....!"
" Tidur geh, udah malam ini. Ini tvnya matiin aja ya." Rayyan hampir meraih remot, tetapi Mira lebih dulu mengamankan barang itu.
" Masih mau nonton, nanti kalau udah ngantuk aku tidur kok."
Rayyan mencoba sabar " Kamu masih sakit yank, harus banyak-banyak istirahat." Bujuknya.
" Ini juga istirahat mas, emang aku kerja?"
" Iya, tapi ini udah malam, waktunya tidur."
" Iya... bentar lagi ya. 30 menit lagi." Tawar Mira.
" Sini....!" Rayyan meminta remot.
" Bentar lagi sih mas."
" Udah malam lho."
" 15 menit lagi deh."
" 15 menit sama sekarang apa bedanya hem?!"
" Ya udah satu jam." Mata Rayyan menatap tajam, namun Mira bukannya takut malah tertawa.
" Mas tuh kalau galak lucu tahu, enggak pantes. Iya... iya ini aku tidur." Mira membetulkan posisi tubuhnya.
" Remotnya?"
" Ntar aku yang matiin."
" Enggak, bawa sini."
" Iiih! Mas ini, nyebelin." Gerutu Mira, namun belum juga memberikan remot pada Rayyan yang sudah menunggunya dengan tangan yang terulur.
" Gak jadi tidur entar kalau tvnya enggak dimatiin."
" Ntar kan lama-lama ngantuk mas sambil liat tv, kalau dipaksa tidur malah susah tidurnya." rengek Mira.
" 10 menit." Rayyan memberi tenggang waktu.
" Orang tidur kok pake jam, mana bisa." bantah Mira.
" Lihat sekarang jam berapa yank? Udah jam 11 malam, waktunya tidur."
" Biasanya juga tidur jam segitu malah dibangunin."
" Ya itukan kalau lagi jauhan, sekarang kan udah deket, jadi enggak ada alasan buat tidur malam."
Mira jadi punya ide " Mas, telponan aja yuk." Ajaknya, sambil menahan tawa.
" Ish! Apaan yank, enggak lucu tahu! Siniin remotnya."
" Mas itu kurang akal, tinggal dimatiin lewat tv langsung ajakan bisa, kenapa ribut sama remot sih. Nih!" Mira terpaksa memberikan remot daripada Rayyan terus mengomelinya.
Rayyan langsung mematikan tv, kemudian meletakkan remot di meja.
Mira hanya meringkuk sambil memandang tv yang sudah padam. Tak peduli Rayyan yang masih disana.
" Udah tidur."
" Sayangkan tvnya enggak dilihat." Ucap Mira.
" Kan tvnya udah mati."
" Tapi belum ngantuk."
Rayyan mendekat, duduk di dekat kepala Mira.
" Mas temenin, tidur ya." Rayyan mengelus kepala Mira, biasanya saat orang susah tidur, sentuhan lembut dibagian kepala bisa membantu membuat saraf rileks.
" Mas tidur aja, katanya tadi ngantuk."
" Ntar, nunggu kamu tidur."
Mira diam saja, tetap memandang tv yang sudah padam. Rayyan sebenarnya tahu itu.
" Laper enggak?"
Hanya gerakan menggeleng yang menjadi jawaban Mira.
" Berapa jam emang tadi tidur?"
" Dari pagi, cuma jeda makan, minum, sama mandi selebihnya tidur sampai sore."
" Bingung mas, mau ngapain! Enggak ada temen. Untung tadi mama kesini, tapi cuma sebentar, bawain bubur buatan bi Ijah. Ajeng juga cuma sebentar, ganti infus sama ngecek, habis itu pergi sama mas Dony. Sedangkan mas Mathew dateng nganter makanan terus pergi lagi."
Rayyan jadi merasa bersalah, tapi mau bagaimana lagi, itu juga untuk kebaikan Mira agar punya waktu untuk istirahat. Sebenarnya dia bisa minta Gadis anaknya mbak Sri menemani Mira, sekaligus bawa Gea sama Geby. Tapi Mira butuh istirahat, jadi lebih baik dia sendiri dulu, toh Rayyan juga tidak jauh dari bengkel, bisa pulang sebentar untuk menengok Mira, tetapi saat tadi siang dia pulang, Mira masih tidur.
" Besok mas suruh Gadis kesini ya."
" Diakan kerja mas."
" Kerja di toko punya mama, jadi enggak masalah kalau mas minta dia kesini buat nemenin kamu." Jawab Rayyan.
" Emang mama punya toko lagi selain tempat aku kerja?"
" Ada, toko kain di Bogor."
" Ohh.."
" Apa masih belum ngantuk?"
" Mulai, tapi belum banget."
" Udah minum obat?"
" Udah tadi, habis makan."
Rayyan membetulkan posisi duduknya agar lebih nyaman, bersender di ranjang di sebelah Mira berbaring. Kemudian mulai mengelus kepala Mira dengan lembut.
" Mas."
" Hem."
" Apa alasan mas suka sama aku?" Tanya Mira tiba-tiba.
Rayyan tak menjawab, tetap dengan kegiatannya mengelus kepala Mira. Tak mendapat jawaban, Mira mendongak membuat gerakan tangan Rayyan berhenti.
" Kok gak dijawab?"
Menunduk, memperhatikan bagaimana Mira berekspresi menunggu jawaban dirinya, Rayyan hanya tersenyum.
" Apa perlu alasan untuk menyukai seseorang?" Pertanyaan berbalik pada Mira.
" Setidaknya ada sesuatu yang bisa membuat seseorang jatuh cinta." Jawab Mira.
" Apa itu harus? Lalu apa yang membuatmu menerima cintaku?" Pertanyaan itu justru sekarang membingungkan Mira.
" Kenapa diam?" Rayyan menatap netra Mira yang seolah sedang berpikir.
" Jika hanya kagum, mungkin akan mudah mendapat jawabannya, bisa aja kagum karena kamu cantik, baik, lemah lembut, penyayang, dan semua kelebihan yang kamu punya, bisa jadi alasan mas kagum sama kamu. Tapi nyatanya di balik semua itu, kamu itu keras kepala iya, pemarah iya, bandel iya, ngeyel apalagi. Tapi itu juga tidak bisa menjadi alasan mas untuk tidak menyukaimu."
" Terus apa dong?" Tanya Mira.
" Orang mencintai itu tidak pernah memandang dari apa dan bagaimana, tetapi mau menerima secara utuh dari orang yang dia cintai."
" Mas gitu sama aku?" Hanya anggukan dan senyuman yang Rayyan berikan.
" Terus apa alasan kamu menerima cinta mas?"
Jiwa jahil mira mulai meronta, mendapat pertanyaan yang seperti makanan lezat.
" Mau tahu jawabannya?"
" Hu'um."
" Dengerin baik-baik, gak ada kata ulang soalnya."
Dengan patuhnya Rayyan menunggu jawaban Mira.
" Kasihan aja sama mas, mubajir juga kalau nolak cowok tajir, terkenal pula."
" Bener gitu yank?" Tanya Rayyan dengan kekecewaannya, berharap untuk mendapat jawaban lain yang melegakan, setidaknya membuatnya senang, bukan seperti tadi.
" He'em. Emang mas maunya aku jawab apa?" Dengan santainya Mira malah bertanya tentang jawaban yang diharapkan Rayyan.
" Yang romantis dikit kek yank, jawaban apa itu tadi, bikin kecewa aja!" Dengus Rayyan, hatinya jangan ditanya, dongkol setengah mati.
" Cemberut tambah genteng lho mas, tambah gemesin, bikin tambah cintak akunya.... cup." Satu kecupan di pipi membuat senyum Rayyan kembali lagi, bahkan rasa lega, melarutkan hatinya yang hampir menangis gara-gara jahilnya si Mira.
" Kamu tuh ya!" Rayyan menyentil kening Mira, membuat Mira mengaduh.
" Sakit?!" Tanya Rayyan.
" He'em." Mira mengusap-usap rasa sakit yang membekas.
" Ya kayak gitu rasanya kalau kesentil."
" Emang mas kesentil apanya?"
" Hati aku, gara-gara kamu ngomong kayak gitu tadi."
" Masa sih, coba lihat." Mira beranjak duduk, ingin menyentuh tepat dihati seperti yang dikatakan Rayyan, tetapi dengan sigap Rayyan mendekap dadanya, mencoba melindungi yang mungkin akan dijamah oleh Mira. Membuat Mira terkekeh, melihat bagaimana reaksi spontan Rayyan yang seperti gadis mau diambil perawannya!!!
" Jangan kayak gitu mas, aku gak segitunya kok." Mira masih terkekeh.
" Lha itu tadi mau ngapain?"
" Mau ambil guling tuh, sebelah sana." Tunjuk Mira pada benda di balakang Rayyan.
" Sana keluar, aku mau tidur." Mira meletakkan guling di sebelahnya, untuk meletakkan tangannya yang masih terpasang jarum infus.
" Apa mau tidur disini haa?!" Mira menaik turunkan alisnya, menggoda Rayyan.
" Kalau enggak takut diraba-raba, tidur aja situ."
Rayyan mencelos, menjauhkan diri dari Mira. Bukan dia takut dengan ancaman Mira, tapi dia takut gak bisa bertahan, kalau sampai Mira bereaksi dengan tubuhnya. Membayangkan aja membuat dirinya meremang, apalagi sampai kejadian, aduh....!
Gini-gini gue tuh Normal pake banget, mau bukti, entar kalau udah resmi habis kamu yank...!!
" Jangan lupa tutup pintu."
" Iya bawel!"
" Eeh! Kesel dia."
" Enggak, siapa juga!" Rayyan mulai meraih handle.
" Mas."
" Apa!" Ada nada kesal dari jawaban Rayyan.
" Lihat sini geh." Mira masih senyum-senyum melihat wajah Rayyan yang kesal.
" Apa lagi sih." Rayyan benar-benar kesal sekarang.
" Luv you." Canda Mira, sambil terkekeh, dan reaksi Rayyan hanyalah dongkol.
" Gak lucu tau yank bercandanya."
Kelewatan kah bercandaku?
Mira jadi bingung melihat reaksi Rayyan yang terlihat menahan amarah. Dan itu sukses membuat Mira jadi kalut. Dia beranjak berdiri, dengan membawa tiang infus, mendekat ke Rayyan yang masih di pintu.
" Maaf."
" Enggak perlu minta maaf, emang apa salahmu?" Rayyan berucap dengan nada datar, bahkan menatap Mira saja enggan, lebih memilih menatap tiang infus.
" Itu tadi kelewatan ya aku bercandanya?" takut-takut Mira bertanya.
" Tidur, udah malam." Nada Rayyan yang terdengar memerintah, membuat Mira sedih. Dia menunduk, tak berani manatap Rayyan.
" Tidur." Ulang Rayyan sekali lagi.
Mira makin menunduk, bahkan air matanya mulai menggenang.
Rayyan menarik nafas dalam, beginilah cara dia mengontrol emosinya.
" Tidur ya." Rayyan membawa Mira kembali ke ranjang, tetapi Mira tetap diam di tempat.
" Mas enggak marah cuma jengkel dikit. Udah ya, sekarang tidur, udah malam ini." Bujuk Rayyan lagi.
" Jengkel dikitnya diilangin." Ucap Mira ditengah isakannya.
" Iya, udah ilang sekarang. Tidur ya."
" Kok cepet ilangnya?"
" Ya kan marahnya cuma bercanda." Rayyan tersenyum, untuk menyakinkan Mira.
" Huh... Kirain marah beneran!" Sungut Mira sambil menghapus air matanya.
" Dasar air mata buaya." Rayyan menghapus ujung mata Mira yang masih basah.
" Mas itu yang buaya!"
" Terserah kamu ajalah mau bilang mas apa, yang penting kamunya seneng."
" Mau bikin aku seneng?" Tanya Mira.
" Peluk." Rengeknya menghambur ke dalam tubuh Rayyan. Dengan sekali dekap, tubuh Mira sudah tertutup dengan lengan Rayyan.
" Jangan kenceng-kenceng, gak bisa nafas." Mira menjauhkan wajahnya dari dada Rayyan.
" Mulai lagi bawelnya.. Ih!"
" Biarin, yang penting kan cinta."
" Sama siapa?"
" Sama mas lah."
" Ciuz?!"
" Miapa?!"
" Heleh kok gitu jawabnya."
" Lha terus gimana?"
" He'eh ajalah, biar cepet."
" He'eh." Mira menirukan ucapan Rayyan.
" Iihh... Kok lama-lama bikin gemes gini sih." Rayyan menekan hidung Mira.
" Pesek nanti mas diginiin."
" Ntar minta tuker tambah sama petruk."
" Engaklah, sama Ajeng aja."
" Kok Ajeng? Diakan pesek!"
" Bukan hidungnya, tapi infusnya tuh, udah mau habis."
Rayyan menengok kantung infus yang tinggal sedikit.
" Mas hubungin Tomy aja ya, kasihan Ajeng kalau anaknya ditinggal, ini juga udah malam."
Rayyan bergegas mencari hpnya, kemudian menghubungi Tomy.
" Tom, bisa kesini enggak, infus Mira habis."
" Emang Ajeng gak kesitu tadi?"
" Enggak, makanya aku nelpon kamu." Jawab Rayyan.
" Loh! Tadi dia ijin mau ke situ lho."
" Jam berapa?"
" Sekitar jam 9 nan, orang dia jatah jaga malam, terus minta aku gantiin sebentar, aku kira Mira ada masalah makanya dia lama."
" Tapi dia gak kesini lho Tom."
" Coba hubungi Dony apa Mathew, aku kesana sekarang. Itu infus Mira yang dipasang apa?"
" NaCl."
" Ok, aku kesitu. Hubungi Dony atau Mathew.
" Tapi Dony tadi ada di kamar."
" Berarti Mathew, dasar oon kok gak berkurang."
" Ya udah, aku meluncur sekarang."
Begitu telpon terputus, Rayyan langsung menghubungi Mathew.
" Met, lu dimana?"
" Di rumah sakit, Khansa kejang."
" Terus gimana sekarang keadaannya?" Rayyan ikut panik.
" Udah normal, tapi demamnya belum turun."
" Ajeng ada disitu kan?"
" Ada, dia langsung kesini waktu aku kabari. Maaf ya, kayaknya dia enggak bisa ngrawat Mira dulu."
" it's ok, ada Tomy. Kalian fokus aja sama Khansa. Besok enggak usah kerja dulu."
" Thanks ya Ray."
" Apa mas?" Tanya Mira, ketika Rayyan kembali ke kamar.
" Khansa kejang, sekarang dibawa ke rumah sakit."
" Loh... Tapi mas Dony kok di bawah."
" Kan Mathew bapaknya bukan Dony yank."
" Tapikan dia calonnya Ajeng."
" Dia mundur."
" Maksudnya?"
" Dony sama Ajeng bubar."
" Putus gitu maksudnya?"
Rayyan mengangguk.
" Ahkirnya."
" Apa?"
" Ajeng lebih memilih bapak anaknya daripada calon bapak anaknya."
" Keputusan yang tepat bukan?"
" He'em."
" Kayak mas yang mutusin buat hidup sama kamu." Rayyan mendekat ke Mira, namun harus gagal karena kehadiran tamu.
" Ntar lagi mesraannya, infusnya diganti dulu."
" Sirik tanda tak mampu, ya yank.... Cup."
" Ada orang disini." Gerutu Tomy sambil mengganti infus.
" Siapa bilang ada kodok."
Lirikan Tomy malah membuat Rayyan dan Mira terkekeh.
" Iri bilang bos!"
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
Jangan lupa vote, hadiah, like n komennya ya readers ku sayang.
Aku merindukan jempolmu, karena
jempolmu semangatku
Salam
Fillia