
Rayyan melangkah menuruni tangga dengan mama yang mengikuti dari belakang.
Ruangan yang sudah disulap menjadi altar untuk pernikahan dengan bapak penghulu yang sudah siap duduk di meja tertutup kain, serta beberapa dokumen di atasnya. Dan Sigit sebagai wali dari Mira juga sudah duduk di sebelah bapak penghulu.
Mama membawa Rayyan untuk ikut duduk bergabung bersila di hadapan kedua orang tersebut dengan sekat meja.
Meremas berulang kali tangannya yang berkeringat, detak jantungnya seolah berpacu susul menyusul. Namun begitu pintu kamar tamu terbuka, menampakkan wujud bidadari Surga, berhias sanggul, berbalut kebaya berwarna putih bersih, dengan riasan yang menambah aura kencantikan yang berlipat ganda dan senyum menawan yang mampu menenangkan itu menjadi kekuatan untuk Rayyan, hingga gugup yang sedari tadi menghantuinya seakan menguap begitu saja.
Dengan sigap, ia mengulurkan tangan untuk sang kekasih duduk di sebelahnya, tanpa ingin berpaling dari wajah cantik yang seakan tersenyum malu padanya.
Menjabat tangan penghulu dengan begitu erat, seolah tekadnya tersalur disana, dan dengan sekali tarikan nafas Rayyan mengucap janji suci atas nama Mira Adinda dengan disaksikan oleh keluarga besar. Dan diakhir kalimat, semua bersorak.
" SAH!"
" Alhamdulilah........"
" Dengan demikian kalian sudah sah menjadi pasangan suami istri."
" Selamat."
Itulah kisah awal percintaan keduanya untuk masuk ke gerbang kehidupan sesungguhnya, yaitu pernikahan.
Doa terbaik, mengiring langkah keduanya, semoga dan semoga silih berganti diucapkan sebagai wujud dukungan untuk keduanya.
" Trima kasih." Begitulah kata yang terucap sebagai bentuk syukur.
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
" Kalian akan langsung pulang?" Tanya mama Sarah saat Rayyan turun dari lantai 2 rumah mama, pagi itu.
" Lebih baik iya, kalian akan berangkat ke Jerman kan?" Tanya Rayyan kepada papa Jo, yang ditanya malah terkekeh, membuat Mira yang keluar dari dapur dengan berpakaian gamis dan kerudung kepala ikut tersenyum.
" Mana bisa hari lebaran pergi ke luar negeri, mau apa juga kesana?" Mama yang menjawab.
" Orang kasmaran emang suka gitu ma, lupa waktu." Papa masih dengan kekehannya.
" Lah kemarenkan papa yang bilang Mau ke Jerman?"
" Gak jadi. Besok aja." elak papa Jo.
" Gak jadi, apa emang enggak?" Mata Rayyan menatap tajam sang papa yang malah tertawa.
" Maaf lahir batin ya Ray." Ucap papa masih dengan tawanya.
" Ya ampun, aku gak sholat ID donk! Kenapa gak ada yang bangunin aku sih?! Kamu juga yank, kenapa gak bangunin mas?" Rayyan kesal sembari mengambil tempat duduk di meja makan.
" Sudah mas, mas aja yang susah dibangunin."
" Kurang keras kali yank banguninnya." Dengus Rayyan.
" Iya, besok aku bangunin pake palu, kan keras." ucapan yang membuat semuanya terkekeh.
" Mas kan baru pulang subuh, tidurnya kayak kecapekan banget, jadi gak tega banguninnya." Mira ikut duduk di samping Rayyan.
" Jadi enggak bisa sholat ID bareng kamu kan yank." Sesal Rayyan.
" Tapi mas Dony juga butuh kamu kan mas. Gimana keadaannya sekarang?"
" Udah mendingan, untung lukanya cepet ditangani."
" Emang gimana ceritanya kok bisa sampai kena ledakan mercon Ray?" Mama Sarah yang bertanya.
" Diakan lagi jaga pos, terus ada yang nglempar petasan di pos jaga tempat dia tugas. Belum sempat menghindar, udah meledak duluan." jelas Rayyan.
" Bahaya ya jadi polisi? Resikonya nyawa." Mama Sarah bergidik ngeri.
" Rayyan juga ma, kalau pas celaka juga taruhannya nyawa."
" Nyawa kamu kan ada 9, celaka berkali-kali enggak ngaruh tuh nyatanya."
" Emang aku kucing?"
" Iya, kucing garong." Mama terkekeh membuat Rayyan semakin kesal.
" Gak bagus amat, ngatain aku kucing garong." dengusnya.
" Baguslah mas, positifnya aja, kamu garong yang udah ngerampok hati aku." Si Mira mulai ngombal.
" Heleh receh!"
" Mending mas, ketimbang enggak."
" Kode tuh Ray!" Mama Sarah yang bilang " Emang kamu udah kasih dia apa?"
" Black card aku kan dia yang pegang." Jawab Rayyan.
" Semalem yang minta sebelum berangkat ke rumah sakit siapa?" Mira mencembik.
" Habis aku lupa bawa dompet, ketinggalan di bengkel, ya tau kamu bawa kartu itu dari Andre kemaren ya mas pinjam. Cuma pinjem kok, entar dipulangin lagi."
" Iyalah, ntar aku kasih semua ya, sekalian kasih nafkah batin juga..... Ya.... ya...." Goda Rayyan dengan tatapan mata menggoda.
" Ngomongin itu di kamar, jangan pamer mentang-mentang pengantin baru." Sungut mama Sarah.
" Baru banget ya ma, masih fresh from the oven." gelak Rayyan.
Mira pergi ke dapur, dengerin omongan Rayyan yang tak berfaedah lama-lama jengah dia.
" Malu tuh istrimu." Papa Jo memberi kode dengan matanya.
" Belum diapa-apain kok udah malu." Rayyan terkekeh.
" Emang belum? Rugi tau! Dua malam dianggurin." Bisik papa Jo, biar tak terdengar oleh mama yang sedang mengisi air putih.
" Masih ada banyak malam pa, tenang aja." Rayyan balas berbisik.
" He'em." Mama kembali.
" Ngerumpiin perempuan gatel-gatel ntar tuh bibir." Mama menyumpahi.
" Gatel pengen nyium mama ini." Papa nyosor mama Sarah yang segera meletakkan piring tepat saat papa hampir mengenai wajah mama.
" Cium nih piring."
" Hahaha." Rayyan hampir terguling karena tertawa melihat kelakuan papa dan mamanya.
" Udah tua aja, kok mesum!"
" Yang muda biar kepingin!" Dengus papa Jo.
" Gak kalau cuma kayak gitu, masa iya nyium piring aja kok pingin. Gak bengetlah."
" Nih." Mama menempelkan satu piring lagi ke wajah Rayyan.
" Kan impas, satu-satu." Mama kemudian meletakkan piring itu ke depan Rayyan.
" Mama tuh."
Mama masuk lagi ke dapur, berhubung bi Ijah pulang kampung, mama sama Mira turun tangan di dapur.
" Asalamualaikum." Teriakan 2G yang berhambur masuk ke dalam rumah, diikuti oleh mama Rita dan papa Nathan.
" Opa, selamat lebaran." Saling bergantian untuk menyalami papa Jo kemudian Rayyan, kedua bocah itu langsung mencari oma dan Mira ke dapur.
" Encus, oma."
" Hei..... Selamat lebaran sayang, sini cium dulu."
Bergantian mereka saling memeluk dan mencium, diikuti Mira kemudian masuk juga ibu 2G.
" Mama, maaf lahir batin." mama Rita mencium tangan mama Sarah kemudian keduanya saling memeluk.
" Mira, maaf lahir batin ya." Mama Rita bergantian ke Mira.
" Maaf lahir batin juga bu."
" Mbak!" Koreksi mama Rita.
" Oh.... Iya mbak."
Setelah acara salam peluk, mereka kini berkumpul di meja makan untuk bersantap bersama. Suasana ceria dan bahagia seluruh keluarga Aquino begitu terasa di lebaran tahun ini, apalagi dengan Rayyan yang sudah menikah, menambah suasana makin bahagia.
Berkumpul bersama di halaman depan, untuk berswa foto, sekaligus untuk memberi ucapan via media dari keluarga besar Aquino, dengan diawali oleh papa Jo sebagai moderator.
Setelah kamera siap, semua dengan anteng menunggu papa Jo mulai berbicara.
" KAMI SEGENAP KELUARGA BESAR AQUINO, BESERTA JOHAN'S GRUP MENGUCAPKAN MINAL AIDIN WAL FAIZIN MOHON MAAF LAHIR BATIN, UNTUK SEGENAP KARYAWAN KARYAWATI JOHAN'S GRUP DAN SELURUH KRU RAYYAN AQUINO DAN AQUINOS JEWELLERY."
" Sudah pa?" Tanya papa Nathan, papa mengangguk.
Tiga
Dua
Satu
Cekrek
Send... Berhasil!
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
Untuk segenap para readers ku sayang, otor ucapkan MINAL AIDIN WAL FAIZIN MOHON MAAF LAHIR BATIN, maafkan segala kesalahan otor yang tak bisa otor sebutkan satu persatu ya... LUV YOU ALL...😍😍😍😍
Salam
FILLIA