
" Ma... Lamar Mira buat Rayyan."
Uhuk... uhuk...
" Minum ma, pa." Kedua tangan Rayyan menyodorkan gelas pada papa dan mamanya.
Setelah menegak minuman, tenggorokan lega tapi hati dongkol mendengar ucapan anaknya, mama Sarah menoyor kepala anak sablengnya.
" Usaha dulu, main lamar aja." Mama pergi ke dapur.
Papa menggeleng tak percaya dengan kelakuan anaknya, yang makin hari makin sableng.
" Emang kalau ditolak gak malu kamu? Tiba-tiba mau nglamar si Mira? Kasih liat papa dulu gimana orangnya."
Rayyan mengambil hp, membuka galeri dan memberikan pada papanya.
" Ini, lihat."
" Kok kayak pernah lihat wajah ini ya?"
" Ngarang."
" Beneran."
" Dimana?"
" Di hp kamu."
" Papa....!" Rayyan merebut kembali hpnya dengan geram. Kesal dengan papanya.
" Papa sama mama emang kompak, sama-sama aneh, pantesan jodoh." sungutnya.
" Berarti kamu gak cocok sama Mira, Ray." Mama menimpali ucapan Rayyan sambil kembali ke tempat duduk, meletakkan telur balado sebagai teman makan nasi uduk, sarapan pagi itu.
" Maaaa....."
" Dia cuek, kamu somplak."
" Kan bisa nular." Rayyan tak mau kalah.
" Apanya?"
" Ya somplaknya."
" Emang penyakit nular?"
" Berarti papa sama mama penyakitan?"
" Hus.... Ngawur nih mulut kalau ngomong." Mama ingin mengucir mulut anaknya dengan gerakan tangannya yang memutar di udara.
" Kan aku ketularan somplak dari...."
" Mau bilang papa juga somplak, dasar anak sableng." Papanya mengetuk kepala Rayyan.
" Bisa gagar otak nanti aku pa." Rayyan mengelus-elus kepalanya yang masih berasa sakit.
" Kamu jatuh berkali-kali saat balapan aja gak masalah, masa iya cuma di ketok gini aja gagar otak."
" Sakit pa." Keluhnya, karena papanya kembali mengetok kepalanya di tempat yang sama.
" Ngomong balapan, jadi pergi tahun depan?" tanya mama.
" Jadilah."
" Terus Mira?"
" Kayaknya aku gak ada cara buat deketin dia, susah. Gimana coba?"
" Gampang naklukin sirkuit ya."
" Bener."
" Coba cari tahu kehidupan dia, kenalan lebih jauh. Ada pepatah bilang, tak kenal maka tak sayang." Ucap papanya, mencoba memberi solusi anaknya
" Tapi aku baru tahu aja udah ngrasa sayang." Ucapnya.
" Itu yang namanya cinta pandangan pertama. Sulit itu dapetinnya, ya pa." Mama melirik papa yang malah terasa tersindir.
" Kalau papa bukan pandangan pertama mama, tapi hasil curi-curi pandang."
Rayyan berhenti mengunyah, mendengar ucapan papanya.
" Emang gitu?"
" Ya iya, emang gimana?" Papa jadi kesal sendiri sekarang.
" Kamu di kantor tiap hari, kerja bareng cuma terhalang kaca, dari sana papa nyuri pandang, cari perhatian ke kamu."
"Jadi waktu mama jadi seketaris papa, emang papa udah suka sama mama? Bukan karena kejadian itu?"
" Kejadian apa?" Rayyan kini semakin tertarik dengan kisah mama dan papanya.
Kedua pasang mata orang tuanya memandang bergantian, menyadari bahwa mereka kelepasan berbicara.
" Kejadian apa ma, pa?" Tanya Rayyan sekali lagi.
" Kejadian terbentuknya kakak kamu?" celetuk sang papa, yang langsung mendapat pukulan dari mama Sarah.
" Sudah jangan diungkit lagi."
Tapi ucapan mamanya semakin membuat Rayyan penasaran.
" Ayo dong pa, ma cerita." Desaknya.
" Habiskan makananmu!" Mama mengalihkan perhatian dengan menunjuk nasi yang masih ada di piring Rayyan.
" Segera, tapi habis itu cerita ya." Rayyan menyendok dengan lahap, bahkan nasi yang masih banyak itu langsung habis tanpa jeda.
" Glek... Glek... Ah... Sudah habis, ayo cerita."
Rayyan meletakkan gelas kosong di atas meja, dan menangkupkan sendok tanda sudah selasai sarapan.
Mama dan papa hanya saling pandang, bingung, haruskah ia menceritakan awal hubungan mereka pada anaknya yang memiliki rasa ingin tahu terlalu tinggi itu, namun pelajaran sekolah selalu dapat nilai pas, pas untuk bisa naik kelas. Bukan bodoh, hanya saja dia tak terlalu suka belajar dengan buku, tetapi lebih senang dengan praktek langsung, dan hoby bermotor yang tak bisa hilang sampai sekarang, malah membuatnya sukses walaupun secara akademis dia tak pandai. Itu kenapa orang tua Rayyan tak pernah memaksa Rayyan untuk bekerja di perusahaannya toh sekarang saja dia bisa mengumpulkan tabungan, membuka bengkel sekaligus showroom motor khusus balap sendiri, tanpa bantuan orang tuanya. Setidaknya itu sudah cukup membuat kedua orang tuanya bangga.
Untuk urusan kantor dan perusahaan masih ada Jonathan yang bisa menghandle, secara memang Jonathan lebih cerdas dibanding Rayyan.
Beruntung, sebagai orang tua, mama dan papa tak pernah mengharuskan anak-anaknya untuk menuruti keinginan mereka. Hanya mereka meminta agar anaknya bisa bertanggung jawab atas keputusan mereka sendiri. Pemikiran orang tua ideal yang diinginkan oleh anak-anak.
" Ayo ma cerita." Rayyan menopang tangannya bersiap mendengar cerita kisah cinta kedua orang tuanya.
" Papa berangkat ya." Papa langsung kabur, melihat jam di pergelangan tangan. Alasan yang tepat untuk menghindar dari Rayyan.
" Mama di rumah kan?"
Mama bingung sekarang, secara memang dia tak pernah kemana-mana, biasanya dia pergi ke toko siang, dan ini masih pagi.
" Mama mau ke tempat Geby."
" Alasan." Rayyan mendengus kesal dan beranjak labih dulu meninggalkan sang mama.
Mama tahu Rayyan kecewa karena penasaran, dia tahu pasti bahwa seorang Rayyan tak bisa membiarkankan dirinya dalam keadaan begitu. Selalu ingin sesuatu yang pasti, bukan digantung dan mati penasaran.
Benar saja, kini anak itu kembali dan duduk di depan sang mama yang belum beranjak.
" Maaaa.... Ma.. Ma..." Matanya itu, menampilkan puppy eyes.
" Kenapa kamu selalu seperti ini." Mama mencubit gemas anak kelewat tuanya itu.
" Tell me, please?"
Mama mendesah, menghembuskan nafas beratnya. Menghindar dari anak satunya ini memang tak akan mudah. Tak ada pilihan, dia harus menceritakan kejadian yang tak ingin diingatnya. Toh, sekarang ia bahagia.
" Di kamar mama."
" Ok."
Rayyan mengikuti mama Sarah yang berjalan ke kamar.
Di kamar, Rayyan duduk di sofa. Sedangkan mama Sarah mengambil buku di dalam lemari. Membawa buku itu, dan memberikannya pada Rayyan.
Rayyan menerima buku yang sudah usang, seperti sudah lama, namun tak berdebu, karena
di simpan dengan baik di dalam lemari.
" Buka dan baca, jangan ingin bertanya, maka hanya sama mama, jangan dengan papamu. Apalagi dengan kakakmu, karena kakakmu tak tahu tentang ini."
Rayyan membuka lembar pertama, bertuliskan sebuah judul berukir ' Story of Sarah'.
" Dairy mama?"
" Disana ada semua yang ingin kamu tahu tentang mama dan papa. Tapi jangan marah, karena itu sudah berlalu, dan kami sekarang bahagia."
Rayyan semakin penasaran dengan isi buku itu,
ingin membuka dan membaca sampai selesai saat itu juga. Namun hp dalam sakunya berbunyi.
" Hallo Met."
" Latihan sekarang."
" Ok, aku kesana sekarang."
" Mau latihan?" Tanya mama Sarah.
" Iya ma, persiapan musim selanjutnya. Mudah-mudahan ini bisa jadi musim terakhir seperti yang mama minta."
" Bukan begitu, mama hanya ingin yang terbaik untukmu." Mama mengelus lengan Rayyan.
" Aku mengerti, aku pamit dulu."
Rayyan mencium pipi mamanya sebelum keluar dari kamar mama, sambil membawa buku milik mamanya.
" Ma, aku mungkin gak pulang selama latihan. Aku nginap di bengkel." Dia berhenti di ambang pintu, hanya untuk mengatakan itu.
" Hati-hati."
" Doakan Ray, biar menang, bisa untuk mas kawin pialanya."
" Kalau mama ogah dikasih piala."
" Bukan cuma piala lah ma."
" Terus apa?"
" Toko berlian punya mama.... Hahaha...." Rayyan berlari keluar, menghindari bantal yang melayang ke arahnya.
" Setidaknya kehadiranmu adalah bukti kalau mama sudah sembuh dari luka itu Ray, walaupun kehadiran kakakmu adalah tragedi."
Mama mengambil bantal yang ia lempar dan meletakkannya kembali ke ranjang.