
Lampung 06:00 wib
Mira tiba dengan taksi online yang ia pesan ketika sampai di terminal.
Andre yang akan berangkat sekolah masuk lagi ke dalam rumah begitu melihat Mira turun dari mobil. Tanpa melihat bagaimana keadaan kakaknya itu yang sedang menekuk tangannya yang sakit di depan perutnya.
" Ibu..... Ibu.... Kak Mira pulang." Teriaknya, kemudian keluar lagi sebelum panggilannya terjawab oleh sang ibu yang sedang mencuci di kamar mandi.
Andre berlari keluar menyongsong Mira yang diikuti oleh Dony dari belakang membawakan tasnya.
Sejenak Andre berhenti, mengamati keseluruhan penampilan Mira. Kondisi yang jauh berbeda ketika Mira keluar meninggalkan rumah 6 bulan yang lalu.
Mira berjalan mendekat, menghampiri Andre yang menatapnya dengan penuh kawatir.
" Kak, kenapa dengan tanganmu? Kenapa wajahmu pucat begini? Dan lenganmu..... Ya ampun, siapa yang berani melukaimu kak? Katakan." Nada Andre bercampur antara kawatir dan marah menjadi satu, membuat Mira ingin tertawa geli melihat adiknya itu.
" Mana lagi kak yang terluka?" Andre memutari tubuh Mira mencari lagi luka-luka lain yang mungkin ada selain itu, namun tak menemukan.
Lukanya enggak disitu Ndre, tapi dihati kakak.
Senyum Mira menghilang melihat sosok yang berlari keluar dari dalam rumah menuju dirinya yang masih berdiri diluar bersama Andre dan Dony.
" Ibu." Hanya suara lirih, seperti tercekat di tenggorokannya. Ada rasa berat ketika ingin mengucapkan kata itu, pikirannya kembali pada ucapan bapaknya malam ibu.
" Kamu pulang nak? Kenapa tidak mengabari ibu?" Ibu langsung merangkul tubuh Mira yang mematung. Namun tak dipungkiri ia juga merindukan orang yang sedang memeluk erat dirinya, membuatnya meringis karena tangannya tertekan tubuh ibunya.
Merasa ada yang mengganjal, bu Santi melepas pelukannya, mengarahkan pandangannya pada tempat dimana tangan Mira yang membuat pelukannya terasa tak nyaman.
" Ini kenapa? Lalu goresan ini?" Nada kawatir khas seorang ibu yang melihat anaknya terluka. Tak menyiratkan sama sekali jika ibu yang dihadapannya ini bukan ibunya.
Mana mungkin?!
Mira masih tak percaya.
" Ayo masuk! Ini siapa?" Ibu mengajak Mira dan menanyakan Dony yang berada di belakang Mira.
" Ini mas Dony bu, yang mengantar Mira."
Ibu meneliti sosok Dony dari atas sampai bawah. Membuat Dony merasa tidak nyaman.
" Ibu, jangan begitu. Ayo kita masuk. Mas Dony ini rumah saya."
Mereka masuk ke dalam rumah sederhana peninggalan nenek Mira.
" Ayo langsung ke ruang makan aja. Ngopinya di sana sekalian sarapan ya dek Dony."
Dony hanya mengangguk, merasa rikuh dengan sebutan yang diberikan oleh ibunya Mira.
" Saya langsung aja bu mau pamit. Berhubung mbak Mira juga sudah sampai dengan selamat, jadi saya harus kembali lagi untuk bekerja." Ucap Dony.
" Lho kok buru-buru. Belum sarapan. Ayo sarapan sekalian bareng kami. Bogor itu jauh lho, kalau cuma tetanggaan ibu ,gak keberatan kalau dek Dony langsung pulang. Istirahat dulu, ibu siapkan kopinya." Ibu menggiring tubuh Dony ke ruang makan. Mira hanya tersenyum melihat ibunya itu.
" Mira ke kamar dulu ya."
Mira mengambil alih tas yang dibawa oleh Dony, namun ibu melarang dan memilih membawakan tas Mira ke kamar.
Melihat Mira kesusahan melepas jaketnya, ibu langsung membantu. Merasa ngeri dengan luka yang terlihat masih baru itu.
" Ibu ambilkan obat dulu. Sarapan saja di kamar. Ibu ambilkan ya." Ucap ibu Mira yang bergegas keluar kamar, namun Mira menahan ibunya.
" Nanti saja ibu, masih ada mas Dony. Mira hanya mau ke kamar mandi, penuh ini...." Mira menepuk pelan perut bagian bawahnya. Ibunya mengangguk paham.
" Bisa sendiri? Perlu bantuan ibu?"
" Tidak ibu, Mira bisa kok."
Mira langsung masuk ke kamar mandi di dalam kamarnya. Ingin menuntaskan segala rasa yang ia tahan selama diperjalanan.
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
Setelah Dony pamit. Mira yang sudah mandi keluar kamar untuk bertemu ibunya yang sedang membereskan piring-piring kotor.
Mira menatap tubuh itu dari pintu dapur. Tak langsung mendekat. Mengamati dengan seksama ibunya yang kata bapaknya bukan ibunya.
Tidak! Dia ibuku.
Mira melangkah mendekat. Memeluk ibunya dari belakang membuat bu Santi terkejut. Menghentikan sejenak kegiatannya membereskan cucian piring. Memberi waktu pada Mira agar menuntaskan perasaannya.
" Kamu kangen ibu?"
" Kita duduk dulu. Ibu ingin tahu kenapa kamu bisa terluka begini? Apa mereka menyiksamu? Ini baru di Indonesia kamu bekerja, pulang dalam keadaan begini. Memang kamu itu sebaiknya di rumah saja sama ibu. Makan gak makan kalau ibu bisa melihatmu baik-baik saja ibu cukup bahagia. Kamu membuat ibu merasa cemas beberapa hari ini, ternyata benar firasat ibu, kalau kamu memang sedang sakit." Ucap ibu dengan penuh rasa cemas.
Ibu menggiring Mira duduk di sofa ruang tv. Memperhatikan dengan seksama wajah yang terlihat muram.
" Ada apa?"
" Apa ibu marah?" Tanya Mira.
" Ibu bukan marah, tapi ibu kawatir melihatmu pulang dalam keadaan begini. Ibu merasa tak sanggup jika harus melepasmu jauh lagi dari ibu. Dan ternyata yang ibu takutkan terjadikan. Kamu terluka begini."
Mira terdiam. Menunduk. Bukan karena dia takut diomeli ibunya. Namun ia merasa dirinya sangat bimbang. Masih terngiang ucapan bapaknya.
" Ibu..."
Ibu menatap heran pada Mira yang seolah ingin mengatakan sesuatu.
" Ada apa?" jawab ibu.
Mira merebahkan kepalanya di pangkuan ibunya. Merasakan nyamannya berada dalam sentuhan ibunya. Memejam seakan merasakan bahwa ibunya adalah sosok yang tak bisa tergantikan oleh siapapun.
" Ibu...."
Ibunya hanya mengelus dahi sampai rambut Mira.
" Ibu senang punya anak sepertiku?"
" Pertanyaan macam apa itu? Apapun keadaan anak, ibu pasti akan bahagia memilikinya. Jangan bertanya yang aneh begitu!" Ibu menepuk pelan kening Mira saat mengatakan itu.
" Ibu, apa aku anak yang menyebalkan?"
" Apapun sifatmu, kamu tetap anak ibu. Kamu kenapa sih? Apa kepalamu terbentur? Pulang dari merantau ngomongnya kok aneh begini?"
" Ibu, kalau misalnya ada orang yang bilang kalau Mira bukan anak ibu, bagaimana? Itu enggak mungkin kan bu?"
Deg
Tangan ibu Santi berhenti mengelus kepala Mira, merasakan jantungnya seakan berhenti saat Mira bertanya seperti itu.
" Ibu ini adalah ibumu. Siapa yang berani mengatakan kalau kamu bukan anak ibu?"
" Ibu sayang padaku kan?"
" Tentu sayang, jika tidak pasti kamu sudah ibu kasih ke ikan lele saat kamu nangis minta dibeliin boneka waktu kecil."
" Tapi ibu malah kasih makan ikan lelenya ke aku dan langsung membelikan aku boneka habis makan."
" Itu karena kamu nangisnya karena kelaparan. Boneka itu hanya hadiah dari ibu, karena kamu mau makan. Waktu kecil, kamu susah sekali makan. Ibu kadang berpikir untuk tidak memiliki anak lain lagi. Cukup kamu aja sudah bikin ibu repot. Tapi setelah kamu besar malah muncul Andre." Kenang ibunya.
" Waktu Andre lahir aku umur berapa bu?"
" 7 atau 8 tahun ya, ibu lupa. Sekitar itu."
" 8 tahun bu. Kenapa jauh jarak umur Mira sama Andre?"
" Itu karena ibu tidak ingin kasih sayang ibu waktu kamu kecil harus terbagi. Ibu masih terlalu sayang jika harus membagi kasih sayang ibu jika memiliki bayi lagi."
" Ibu, kenapa mau mengasuhku?"
" Karena kamu anak ibu. Apaan sih kamu ini pertanyaannya lama-lama ngawur. Tidur sana. Istirahat, biar cepet sembuh." ucap ibu Santi.
" Ibu enggak kerja?"
" Mana mungkin ibu bekerja disaat anak ibu sakit begini. Ayo cepat tidur sana. Ibu kerja di rumah. Nemenin anak ibu."
" Ibu.... Boleh enggak Mira minta sesuatu?"
" Apa?"
" Peluk Mira."
Ibu menunduk menatap wajah Mira yang ada dipangkuannya.
Matanya terpejam, Namun ada buliran yang merembes keluar dari ujung kedua mata itu. Ibu mengusap dengan jarinya.
" Ibu akan selalu memelukmu, sampai ibu tak bisa lagi menggerakkan tangan ibu. Ibu tidak akan melepaskanmu. Apaapun keadaanmu, karena kamu adalah anakku."