I LOVE YOU, ENCUS

I LOVE YOU, ENCUS
Bahagia yang sederhana



Tidak ada kebohongan yang membawa kebaikan. Karena buah dari kebohongan adalah rasa sakit. Sama saja dengan kepercayaan yang dibalas dengan penghianatan, maka sakitnya akan sangat sulit untuk diobati. Ini kenyataannya, bukan katanya. Kalau tidak percaya boleh dicoba......


🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹


Ada ketakutan dalam benak orang tua Sigit, mengingat nama pertama yang terucap saat sadar adalah Mira.


Semoga saja apa yang dikawatirkan oleh orang tuanya tidak terjadi. Jelas saja masalahnya akan semakin rumit jika Sigit sampai mempunyai perasaan terhadap Mira. Entah apa jadinya.


" Bapak, apa yang harus kita lakukan?" Ibu Reni meminta pendapat suaminya. Mereka kini berada di kantin rumah sakit. Sudah berhari-hari tidak pulang, menunggu Sigit membaik.


" Bapak akan mencarinya." Ucapnya.


" Ibu tanyakan pada Sigit, apa hubungan mereka sampai bisa bertemu dan saling kenal! Semoga saja mereka hanya sekedar teman." ucap sang bapak.


Bukan tanpa alasan, oran tua Sigit memang tidak mengetahui jika Mira bekerja di tempat yang sama dengan Sigit. Dan keluarga Aquino menutup semua kemungkinan agar keluarga Sigit tidak mengetahuinya. Termasuk meminta Nano untuk bungkam. Dan selama ini Sigit juga tidak menceritakan darimana dia mengenal Mira. Semenjak sadar, dia hanya mengucapkan kata yang menurutnya perlu dan terus menayakan Mira.


" Ibu akan mencoba mencari tahu pak. Ibu juga takut jika mereka ternyata memiliki hubungan lebih dari sekedar teman." Ucap sang ibu dengan cemas. Bapak hanya mengangguk.


" Jika bapak pulang ke kampung, apa ibu mengijinkan?"


Ibu hanya terdiam. Merasa ada ketidakrelaan jika suaminya pulang ke kampungnya. Sudah dipastikan bahwa suaminya itu pasti akan bertemu dengan rivalnya yaitu bu Santi.


" Ibu percaya sama bapak kan? Bapak hanya kesana untuk mencari Mira, karena selama ini Santi yang merawatnya."


" Apa Santi merawat Mira dengan baik pak? Apa Santi sama seperti ibu tiri yang jahat terhadap anak yang dibawa suaminya?" Tanya ibu Reni. Dia merasa bersalah karena tidak tahu bahwa anaknya masih hidup. Dan tidak bisa memberikan kasih sayang dari seorang ibu kepada anaknya.


" Santi merawat Mira dengan sangat baik. Sama seperti anak kandungnya sendiri. Bahkan jika aku tidak mengatakan kebenaran ini, tidak ada yang mengira bahwa mereka itu bukan ibu dan anak kandung."


" Kenapa bapak tidak membawa dia pulang saat bapak meninggalkan Santi?" Tanya bu Reni.


" Santi tidak mau Mira mengetahui siapa dirinya. Dia tak ingin melihat Mira terluka karena kebohongan yang bapak lakukan."


" Bapak memang salah. Dulu waktu Mira masih kecil, Santi meminta bapak untuk membawa kabur Mira dan menyatukan kembali keluarga kita. Tapi entah mengapa bapak terlalu takut saat itu terhadap neneknya Mira. Mungkin jika bapak menuruti perkataan Santi, semuanya tidak seperti ini jadinya bu."


" Apa Santi tahu kalau bapak masih sering pulang kesini?"


" Dia tahu semuanya. Bahkan tahu kalau bapak tidak pernah bercerai darimu."


" Maafkan bapak yang tidak bisa tegas menjadi kepala keluarga. Tidak bisa melindungi keluarga kita, anak-anak kita."


" Seandainya waktu itu bapak tidak menyembunyikan kebenaran tentang kita dari nenek. Kita pasti menjadi keluarga yang bahagia."


Ibu Reni merasa terenyuh melihat suaminya begini. Memang semua salah suaminya, tapi semua sudah berlalu. Dan sekarang yang perlu dihadapi adalah bagaimana cara menemukan Mira dan menjelaskannya pada Sigit.


" Kita kembali ke kamar Sigit pak, ibu takut dia butuh sesuatu." Ibu beranjak dari duduknya, mendahului bapak untuk membayar menu sarapan mereka.


🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹


" Mira, kita ke dukun pijat ya, kita benarkah tanganmu biar nanti tidak semakin parah. Ini hanya retak kan? Bukan patah?" Tanya ibunya Mira, bu Santi sambil membuka perban yang membungkus tangan Mira.


" Tetangga bilang ada orang yang bisa membantu masalah beginian."


" Apa masih bisa diperbaiki bu?" Mira ragu, karena ini menyangkut tulang.


" Ya kita coba saja. Obatmu yang dari rumah sakit sudah habis, dan ini masih terlihat sedikit membengkak. Ibu takut nanti malah semakin parah kalau tidak mendapat penanganan yang pas."


Mira mengangguk setuju. Memang benar bahwa saat di rumah sakit dokter hanya memeriksa keadaan tangannya dengan melakukan rongent. Setelah itu hanya membalut tangan yang katanya tulangnya retak agar tidak terlalu banyak pergerakan dengan perban. Setelah itu dia hanya meminum obat yang dibawakan dokter Tomy. Mira tak terlalu paham dengan kasus patah tulang, jadi hanya menurut saja.


" Kita kesana setelah sarapan ya, ibu sudah masak orek tempe sama ikan lele goreng kesukaanmu."


" Terima kasih bu." Ucap Mira, memberikan senyum untuk ibunya itu.


" Jangan ucapkan terima kasih pada ibu, ini memang tugas ibu." Ibu menggulung perban yang lama, kemudian mengenakan yang baru pada lengan Mira dengan begitu telaten. Mira bahagia memiliki ibu seperti bu Santi.


" Ibu."


" Hem." Ibu hanya menyahut sambil fokus pada perban di tangan Mira.


" Kenapa ibu menyayangi Mira?"


Ibu menghentikan sejenak pergerakan tangannya yang memutar memasang kain perban. Merasa bahwa Mira menyadari sesuatu yang membuat kekawatiran dalam hatinya muncul begitu saja.


" Apa jawaban yang kamu ingin dengar nak?" Ucap bu Santi dengan begitu lembutnya.


" Mira hanya merasa beruntung memiliki seorang ibu seperti ibu." Mira menyenderkan kepalanya pada bahu samping ibunya.


Bu Santi melanjutkan kembali kegiatannya. Tak ingin menanggapi lebih perkataan Mira.


" Ibu." Panggil Mira lagi.


" Jangan tanya yang aneh-aneh pada ibu Mira. Jika ibu tidak menyanyangi anaknya, apa ibu harus menyanyangi anak orang lain?" Ucap bu Santi dengan sedikit ketus. Membuat Mira malah tersenyum melihat ibunya itu kesal padanya.


" Aouw.... Ibu pelan-pelan, itu sakit." Mira pura-pura meringis, padahal bu Santi membalut tangannya dengan hati-hati.


" Ingin ibu pukul tangan milik anak ini, kenapa senang sekali mengerjai orang tua." Ibunya mengancingkan perban setelah selesai.


" Sudah ayo sarapan, Andre sudah menunggu." Ajak bu Santi.


" Ibu." Panggil Mira lagi.


" Apa lagi?" Bu Santi terlihat kesal sekarang, karena Mira terus memanggilnya.


" Apa boleh aku terus memanggilmu begitu?" Mira menatap mata ibunya yang menatapnya dengan tatapan tak mengerti.


" Tidak!" Ucap ibu tegas.


Deg


Hati Mira terasa begitu sakit, mendengar ucapan ibunya.


Jadi apakah benar dia bukan ibuku?


" Kamu tidak boleh memanggil ibu dengan sebutan itu terus. Ganti dengan nenek, atau eyang. Cepatlah menikah agar ibu segera mendapat gelar baru." ucap ibu Santi.


Mira lega, ternyata maksud ucapan ibunya bukan seperti pikirannya. Memang dia saat ini sedang berusaha untuk tidak menanyakan kebenaran tentang dirinya, karena dia sendiri juga belum siap menerima jika memang kanyataannya sama seperti yang diucapkan bapaknya.


" Ibu ingin aku menikah?" Tanyanya kemudian.


" Ibu..... Enak dincintai atau mencintai?"


" Kalau menikah itu enaknya saling mencintai Mira. Karena menikah itu hubungan yang timbal balik. Saling memberi dan menerima. Dicintai saja tidak cukup, apalagi hanya mencintai banyak sakit hatinya." Ucap ibu Santi.


" Ibu curhat nih?" Mira malah meledek, mengingat ibunya hanya menikah karena dijodohkan.


" Ya.... Ya... Ya... " Ibu menjawab dengan malu-malu " Makanya menikahlah dengan orang yang kamu cintai dan juga mencintaimu. Bertepuk sebelah tangan itu tidak enak." ucapnya kemudian.


" Apa ibu juga mencintai bapak?" Mira memicingkan mata, menaruh curiga pad a ibunya.


" Jawab ibu!"


Ibunya hanya diam. Mira jadi paham sekarang, ternyata selama ini, ibunya juga mencintai bapaknya.


" Tapi kenapa ibu merelakan bapak, kalau ibu mencintai bapak?" Tanya Mira.


" Orang bilang, jika kita mencintai orang, maka kita akan bahagia jika melihat orang yang kita cintai bahagia." Ucap ibu.


" Walaupun kita sendiri terluka ibu?" Sahut mira. Ibu mengangguk, ada kesedihan di wajah itu.


" Lalu kenapa ibu menyuruhku cepat menikah?"


" Karena ibu mendengar nyanyian cinta di malam hari dari kamar gadis ibu." Ibu tersenyum penuh arti sambil melihat wajah Mira yang bengong.


" Tutup mulutmu, nanti ada lalat masuk." Ibu menggerakkan mulut bawah dan atas Mira agar tertutup.


" Ibu tahu, kamu menerima telpon malam hari."


" Ibu mendengarnya?"


" Kamar ibu ada di sebelahmu, dan kalian berisik sekali."


Mira malu, sangat malu ibunya mendengarnya sedang menerima telpon dari Rayyan.


" Maaf ibu, ibu terganggu ya. Mira janji tidak akan telponan malam-malam lagi." Mira mengangkat jarinya membentuk huruf V.


" Jangan begitu, ibu maklum. Lanjutkan saja. Apa dia tampan?"


Mira semakin malu, mendengar pertanyaan ibunya.


" Dia tampan seperti Bobby?"


" Lebih dari dia ibu." Mira tak terima jika Rayyan di bandingkan dengan Bobby. Walaupun secara tidak langsung dia mengakui bahwa Rayyan memang tampan.


" Kenapa pipimu jadi merah begini!" Ibu mencubit pipi Mira yang sedang merona.


" Ah.... Ibu ini!" Mira memalingkan wajahnya dari ibunya.


" Berarti anak ibu sudah bisa move on."


Mira terbelalak mendengar ibunya mengatakan istilah move on. Otomatis dia langsung menengok ke arah ibunya lagi.


" Kenapa?" Bu Santi malah heran.


" Kok ibu tahu istilah move on?"


" Ya ibu harus tahulah, emang kamu aja yang boleh move on?"


Mira memicingkan matanya, menatap curiga pada ibunya.


" Maksud ibu? Ibu mau nikah lagi?" tebak Mira.


Ibu terdiam. Dia sebenarnya tak ingin mengatakan, namun tadi malah keceplosan.


" Kalau kamu dan Andre tidak setuju, ibu tidak akan memaksa, ibu akan batalkan rencananya."


" Siapa dia bu?" Mira mendesak ibunya, ingin tahu laki-laki yang dipilih ibunya untuk menggantikan bapaknya.


" Pak Subagio, gurumu SMP. Tapi kalau kamu tidak setuju, ibu tidak apa-apa." Buru-buru ibunya mengatakan itu. Takut anaknya akan kecewa dengannya.


" Andre." Panggil Mira yang kebetulan lewat depan kamarnya.


" Apa kak?" Andre masuk ke kamar Mira dan melihat ibunya sedang menunduk.


" Ibu kenapa?" Andre duduk di sebelah ibunya.


" Katakan ibu, biar Andre juga mendegar." Mira menggoyangkan lengan ibunya. Ibu masih diam, membuat Andre bertanya lagi.


" Ibu kenapa sih? Ibu gak punya uang belanja? Ini Andre dapat uang lebih dari tambal ban kemarin." Andre merogoh sakunya, namun ibunya menahan.


" Ibu masih punya uang. Bukan itu yang mau ibu katakan." Cegahnya, membuat Andre mengurungkan mengambil dompet dari sakunya.


" Ibu akan menikah lagi apa boleh?" tanyanya pada Andre.


Andre terpaku sejenak mendengar keinginan ibunya.


" Dia pak Subagio, kamu mengenalnya. Tapi kalau kalian tidak setuju, ibu mundur." Ibu tertunduk lesu, tak berani menatap wajah anak-anaknya.


Mira dan Andre saling tatap. Menanyakan lewat bahasa mata tentang keinginan ibunya. Hingga mereka akhirnya mengangguk secara bersama.


" Ibu, kami setuju." Ucap Mira dan Andre.


Ibu terkejut mendengar anak-anaknya menyetujui keinginannya. Langsung merangkul anak-anaknya dan menciumi pucuk kepala mereka bergantian.


" Kami bahagia jika ibu bahagia. Pak Subagio adalah orang baik. Sayang aja sampai tua belum berjodoh. Ternyata menunggu ibu menjadi janda." Ucap Andre.


Ibu melotot mendengar ucapan Andre.


" Maaf ibu, bercanda." Andre menyusup kembali dalam pelukan ibunya sambil tertawa yang diikuti dengan tawa keras oleh Mira.


" Memang kalian ini anak-anak kurang ajar ya, beraninya menggoda orang tua."


Ibu menarik telinga kedua anaknya, membuat mereka mengaduh kesakitan.


" Ampun ibu..." Mereka menahan rasa bukan sakit, namun bahagia karena ibunya akhirnya bisa bahagia dengan laki-laki pilihannya.