I LOVE YOU, ENCUS

I LOVE YOU, ENCUS
Miss you



Rayyan mencoba untuk mengembalikan perasaan yang menggelitik hatinya, dan mencoba untuk melupakan sejenak kejadian penembakan dadakan di dalam mobil sesaat sebelum dia berada di area lintasan.


Tapi emang nasib, semakin berusaha lupa, tapi ada saja yang membuatnya ingat, membuat seorang Rayyan menggila dalam latihan hari itu.


Dia mengendarai motor dengan kecepatan full, seolah ingin melampiaskan segala kegundahan


hatinya, terhadap Mira.


Bahkan team yang mendampingi seolah tak percaya dengan rekor waktu yang dicapai Rayyan kali ini.


" Good job bro."


Mathew memberikan air mineral untuk Rayyan. Yang langsung ditenggak dan sisanya ia guyur di atas kepalanya.


" Kayak orang frustasi lu!" Mathew memperhatikan cara Rayyan mencoba mendiinginkan kepala, lewat air yang tertuang. Gaya tak biasa dari seorang Rayyan yang selalu cool tanpa bantuan freezer.


" Cara naklukin cewek kayak mana Met? Lu kan jago."


" Hahaha...." Si Mathew malah tertawa.


" Sialan lu!"


Rayyan melempar botol bekas ke sahabat, sekaligus managernya.


" Kelewat puber, apa lagi puber kedua lu?"


" Dua-duanya." Rayyan meninggalkan motor di tempat dan berjalan mencari tempat teduh. Cuaca memang sangat terik, apalagi setelah bertarung bersama kuda besi miliknya.


Iseng mengambil hp dan memotret dirinya yang masih menggunakan seragam latihan. Mengirimkan pada Mira.


Dia tertawa sendiri membayangkan Mira membuka foto dirinya yang sedang bergaya sok cool dengan segala atribut yang melekat padanya. Berharap sang pujaan hati semakin terpesona melihatnya.


" Cewek mana yang bisa menggantikan hoby mu?" Mathew duduk di dekat Rayyan.


" Lihat, cantik gak?"


Rayyan memperlihatkan foto Mira yang ia jadikan wallpaper hpnya.


" Polos itu mah." nilai Mathew.


" Selera gue emang yang begini, bukan yang sudah banyak pengalaman."


" Nyindir lu!"


" Lha emang gitu kan, lu suka sama yang ngumbar paha sama belahan dada, udah gak ada tantangannya sama sekali."


" Mau yang lebih menantang, noh!" Mathew menunjuk seorang pramusaji yang berjalan berlenggak-lenggok di dalam kafe sebrang.


" Bisa digampar gue ma suaminya. Maksud gue bukan menantang yang begituan." Ucap Rayyan.


" Menantang pas jebolin gawang maksud lu? Susah bro cari yang ori hari gini." timpal Mathew.


" Tapi gue yakin dia masih ori, kayak perasaan gue ke dia."


" Tahu dari mana?"


" Hati nurani." Rayyan menunjuk dadanya.


" Sok-sokan lu!"


" Orang bilang hati tak bisa bohong."


" Siapa yang bilang?" Mathew sanksi dengan ucapan Rayyan.


" Lu gak dengar? Ya gue lah... Oon lu!"


" Terus kalau udah dapet dia, kelanjutan karir lu gimana bro?"


" Harus pilih salah satulah." Rayyan menerawang langit yang seolah berubah mendung.


" Gue gak bisa egois."


" Terus team gimana?"


" Masih ada junior yang baru kan? Mereka lebih kompeten. Gantian kasih kesempatan yang lain."


" Bukan lu takut jadi perjaka tua?"


" Sialan lu!" Rayyan melempar Mathew dengan ranting yang ia temukan di sampingnya.


" Hobby lempar beginian, lempar cewek baru tu."


" Biasanya lu cari sendiri di klub."


" Lagi tobat gue, belum ada pemasukan tambahan gara-gara lu oleng."


" Bisa gitu?"


" Ya bisalah, gak menang bonus ilang. Apa gue cari rider baru aja ya buat cadangan." Canda Mathew.


" Cari aja, tahun depan gue udah gak bisa ikut lagi." Ucap Rayyan serius.


" Seriously?"


" Heem."


" Nyokap gak ijinin lagi gue balapan." ucap Rayyan.


" Terus rencana lu selanjutnya?"


" Marriage, bikin anak yang banyak."


" Songong, nembak cewek aja ditolak." Timpal Mathew.


" Bukan ditolak, tapi belum dijawab." sanggahnya.


" Digantung?"


" Bukan."


" Terus?"


" Dicuekin."


" Hahaha..... Lu tuh cari yang susah. Banyak model yang bisa diajak kencan, cari yang begituan."


" Udah dibilang, gua gak suka yang pamer body, udah banyak yang lihat."


" Lu sarungin aja cewek lu, dari atas ampe bawah, biar gak dilihat orang."


" Gak gitu juga kali!" Rayyan membuka hpnya yang berbunyi, ada notifikasi pesan dan itu dari Mira.


Semangat ya... 💪 Encus


Rayyan tersenyum membaca pesan dari Mira.


" Mood booster gue."


" Gitu doang." Mathew mencembik.


" Lu tau gak, ternyata dia penggemar gue." Rayyan pamer pada Mathew.


" Jangan-jangan dia itu gak suka ma lu, tapi cuma sebatas pengagum." Mathew sengaja membuat ngedrop semangat Rayyan dengan ucapannya.


" Lu kasih semangat gue, biar menang, bukan bikin gue ngedrop." Rayyan menggerutu, kesal dengan Mathew.


" Telpon dia, pepet terus." usul Mathew.


" Lagi repot dia, urus keponakan gue. Yang satu lagi sakit, yang satu nakalnya minta ampun. Udah gitu ditinggal emaknya fashion show di luar kota." jelasnya.


" Dia baby sitter ponakan lu?"


Rayyan mengangguk membenarkan ucapan Mathew.


" Sayang banget, cantik-cantik kerja begituan."


Rayyan tak suka dengan ucapan Mathew yang seolah mengatakan bahwa kerjaan Mira itu tak baik.


" Mending kerja begitu, halal. Ketimbang jual badan, haram!" Bela Rayyan, tidak terima dengan ucapan Mathew yang meremehkan pekerjaan Mira.


" Tapikan sayang, cantik gak dimanfaatin."


" Ya gue lah yang manfaatin." Rayyan berdiri, membersihkan sisa rumput yang menempel di celananya.


" Cari makan sana, laper gue." pinta Rayyan.


" Ke sana aja yuk." Ajak Mathew ke kafe sebrang.


" No! Cari yang sehat aja." tolak Rayyan.


" Mau apa?" tanya Mathew.


" Sayur jantung pisang."


" What? Makanan apa tuh?"


" Mama sering beli tu sayuran, rasanya mak nyus."


" Mama lu masak begituan?"


" Emang kenapa?"


" Pantesan selera lu jadi ndeso."


" Serah lu dah, bilang apa! Buruan, laper gue." titahnya.


" Tapi dimana dapet makanan kayak begitu?"


" Gak ngerti." Ucap Rayyan, santai. Bermaksud mengerjai si Mathew.


" Lu kalau makan disesuaiin sama muka dong, bule makan daun pisang." Gerutu Mathew.


" Jantung pisang oon!" Rayyan menoyor kepala Mathew.


" Ya itu maksudnya." Mathew membenarkan ucapan Rayyan.


" Stick aja ya?" Rayu Mathew sambil menscroll hpnya, melihat beberapa menu pilihan untuk diorder.


" Gado-gado aja."


" Ok!" Mathew langsung mengklik gambar gado-gado yang kebetulan nongol saat Rayyan mengucapkan jenis makanan dengan saus kacang itu.


" Gue salmon ya."


" Terserah."


Hp Rayyan berdering, bertulis nama encus di layar hpnya.


Kaget iya, namun membuatnya merasa sangat senang, tanpa menunggu lama langsung menyentuh tombol hijau.


" Hallo om."


Kok suara Gea? Batin Rayyan.


" Apa?" jawabnya. Malas ternyata bukan suara Mira seperti keinginannya, namun ternyata si Gea.


" Kangen om, kapan pulang?"


" Baru juga belum seminggu udah kangen. Mbot mana?" Harusnya dia tanya encus mana? Tapi itu tak mungkin dia lakukan.


" Om aja yang telpon ya, sayang ntar paketan encus habis." Pintanya.


" Ya sama aja dong om, emang kalau om yang telpon terus data punya encus utuh gitu?"


Rayyan terdiam sejenak, merasa ucapan Gea benar.


" He'em iya, ya udah, ganti video ya, om juga kangen Mbot."


Sebenarnya cuma alasan Rayyan, agar bisa melipat Mira.


Dan seketika panggilan langsung berubah menjadi VC.


Nampaklah gambar Gea dan Geby disana.


" Hai...." Geby ikut melambai.


" Sudah sehat?"


" Udah om."


Mata Rayyan nampak mencari sesuatu di dalam layar, namun sepertinya sosok itu tak nampak.


" Sudah makan?" Tanya Rayyan pada kedua keponakannya.


" Masih disiapain ma encus, tuh." Kamera diarahkan oleh Gea ke Mira yang berdiri membelakangi mereka, sedang mengambil makanan untuk anak-anak.


Rayyan memandang Mira yang nampak bagian belakang.


*Berbalik Mira, obatin rasa rindu ini.


Satu


Dua


Tiga*


Benar saja, Mira berbalik, berjalan mendekat ke meja tempat anak-anak menunggu. Begitu melihat layar hpnya yang sedang di pegang Gea, Mira tercengang melihat wajah Rayyan disana, memandangnya penuh senyum.


" Miss you."


Mira kembali hanya terdiam, tanpa espresi, sama seperti ketika ia mendengar isi hati Rayyan padanya.