I LOVE YOU, ENCUS

I LOVE YOU, ENCUS
Tamu Istimewa



Harusnya aku yang disana, dampingimu dan bukan dia


Harusnya aku yang kau cinta dan bukan dia...


Dony....


Dia termangu menyaksikan dua insan yang sedang mengucap janji suci di depan altar, disaksikan oleh kedua matanya yang tak kuasa berkaca-kaca...


Dia sudah melaju, sedangkan aku disini masih tertatih...


Relakan yang baik, maka kau akan mendapatkan yang terbaik.


Dony sekali lagi mengingat ucapan Rayyan yang memberinya semangat tak kala dirinya harus rela mundur demi kebahagiaan dia yang saat ini telah melangkah menuju jalan hidup yang dipilihnya bersama sahabatnya sendiri.


Sakitkah....?!


Pasti....!


Tapi apa daya, takdir belum menentukan dirinya harus berlabuh bersama dia yang kini sedang meminta restu pada orang tuanya, orang tua yang sama yang pernah memberikan restu untuknya waktu itu, waktu semua belum jelas masih abu-abu, disaat Ajeng terpuruk. Tetapi kini, dia tahu bahwa Ajeng bukanlah untuknya, karena jauh dari sebelum dirinya ada, sudah ada orang lain lebih dulu hadir menandainya, seharusnya dia membantu Ajeng tetap berjuang mencari sosok tegap nan rupawan yang kini menyematkan cincin lambang ikatan sehidup semati, bukan malah menawarkan diri menjadi sosok pahlawan kesiangan yang rela bertaruh demi membuat status jelas bagi Ajeng dan anaknya.


Dia salah jika awal niatnya hanya ingin menjadi pelindung, karena nyatanya tetap saja terselip rasa yang kini terasa nyeri saat dirinya berusaha ikhlas...


Ya ikhlas....


Harus ikhlas karena yang dia harapkan kini sudah hadir, dan aku harus tersingkir...


Puk... Puk... Puk


" Jangan menoleh ke belakang, jika di depanmu sudah ada yang terbaik, dia sedang menunggumu untuk berjalan bersama. Yah... Walaupun saat ini harus terhalang kontrak kerja." Bisik Rayyan pelan.


" Baper bos!" Ucap Dony singkat sambil mengelap ujung matanya dengan ujung jempol tangannya.


" Kayak perempuan aja." Pasalnya Rayyan baru saja melepaskan pelukannya saat Mira sesenggukan karena menyaksikan Ajeng dan Mathew bersumpah setia di depan altar.


Dia teringat Dony saat itu, jadi begitu Mira sudah tenang, Rayyan berganti ke Dony.


" Laki-laki juga manusia bos!" Begitu Dony mmembela diri. Laki-laki berkemeja batik itu kini menunduk dalam untuk menetralkan perasaannya.


" Ingat ada hati lain yang harus kamu jaga Dony, jika belum siap jangan membuka lembaran baru, itu akan menyakiti hati yang tidak seharusnya tersakiti."


Dony mengangguk membenarkan ucapan Rayyan.


" Move on, dia melaju, kamu pun harus begitu. Hidup tidak akan berhenti hanya karena rasa sakit, tetapi buat rasa sakit menjadi pembelajaran agar saat kamu bahagia nanti, kamu bisa tersenyum karena bisa melewatinya."


" Siap komandan!" Ucap Dony tegas namun pelan karena saat ini masih berlanjut upacara pemberkatan pernikahan Ajeng dan Mathew.


Rayyan terkekeh, membuat Mira menyikut lengannya.


" Jangan berisik!"


" Siap nyonya!" Rayyan langsung kicep mendapat tatapan peringatan dari sang istri.


Suasana kembali hening semua fokus dengan prosesi pemberkatan, hingga tiba saatnya memberi ucapan selamat.


" Mas, aku tunggu di mobil." Dony pamit sebelum Rayyan mengangguk.


Menyesap satu batang rokok, sambil duduk berjongkok di samping mobil. Ditemani oleh berapa laki-laki yang berprofesi sebagai sopir pribadi para tuan yang sedang berada di dalam gereja.


" Udah selesai mas acara pernikahannya?" Tanya seorang dari beberapa yang berdiri bersender di mobil.


" Udah pak, bentar lagi paling keluar." Jawab Dony seraya mengepulkan asap yang tersimpan di mulutnya, perasaannya sedikit rileks ketimbang di dalam tadi.


" Darimana mas?"


Kini mereka terlibat obrolan sesama sopir, walaupun pada kenyataannya dia bukan sopir beneran, melainkan seorang abdi negara.


" Dari Sentul pak." Jawab Dony, seraya memperhatikan pintu utama gereja, mengawasi kalau-kalau Rayyan dan Mira sudah keluar.


" Ganteng gini kok mau kerja jadi sopir mas, lebih pantas jadi model, atau polisi, TNI atau kerja kantoran mas." Nilai yang lain mengenai penampilan Dony yang rapi dengan kemeja batik berwarna emas dengan corak burung cenderawasih, celana bahan dan sepatu pantovel hitamnya yang mengkilat, apalagi dengan potongan rambut yang terlihat rapi karena baru dua hari yang lalu dia bertandang ke barber shop.


" Yang penting halal pak." Dony tersenyum merendah, tak ingin mengatakan yang sebenarnya pada orang asing kalau ternyata dirinya memang anggota kepolisian.


" Bapak-bapak saya permisi duluan, itu majikan saya sudah keluar." Dony pamit pada para rombongan supir yang berkumpul di dekat mobil.


Melihat Dony membuka mobil paling mewah yang berjejer di halaman parkir, para sopir itu berdecak.


" Pantas penampilan sopirnya begitu, wong mobil majikannya aja yang berlebel M harganya." Ucap sopir lain saat melihat mobil yang dikendarai oleh Dony.


" Bugatti."


" Majikannya yang mana sih." Ada sopir yang penasaran sampai memperhatikan Mobil berhenti di depan teras gereja dan dua orang berpenampilan elit turun menuju mobil.


" Bule."


" Pantesan, bisa beli mobil kayak gitu."


" Beruntung banget itu perempuan, dapet laki kaya."


" Wes nasibe Jo, Paijo! Ora usah ngiri. Kae majikanmu wes metu ( Udah nasibnya Jo, Paijo! Jangan iri. Itu majikanmu udah keluar)."


" Opo iyo, oh iyo. Yo wes aku budal disikan yo Den ( Apa iya, oh iya. Ya udah aku berangkat duluan ya Den)." Ucap Paijo pada rekannya si Udin, yang kemudian masuk mobil yang berhias bunga di depannya, ternyata dia adalah sopirnya Mathew.


🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹


Acara resepsi langsung di gelar saat itu juga setelah pemberkatan.


" Ma, kembar gimana?" Mira menelpon mama Sarah.


" Masih pada tidur. Gimana acaranya lancar?" Tanya mama Sarah.


" Alhamdulilah ma, lancar. Ini resepsi mau mulai. Nanti aku gak lama kok, paling mas Rayyan aja yang tinggal, aku tunggu di rumah mama."


" Gak papa kalau mau pulang bareng Rayyan, kembar gak rewel kok."


" Iya ma, tapi Mira pulang duluan, banyak temen bisnisnya mas Rayyan, kayaknya bakal lama banget ini."


" Ya udah, tunggu aja disini, biar nanti Rayyan pulang bareng papa."


" Iya ma, makasih ma."


" Iya, salam untuk Mathew sama Ajeng."


" Iya nanti Mira sampein. Asalamualaikum."


" Walaikum salam."


Setelah menelpon mama, Mira kembali ke dalam gedung, dimana disana berjubel tamu.


Mencari Rayyan diantara kerumunan tamu tidaklah gampang, walaupun punya ciri berbeda dengan tamu yang lain.


Mas, kamu dimana? Aku di pintu sebelah kiri, yang deket kolam.~ Encus


Tunggu mas kesana! ~ RA


Mira tersenyum mengamati nama kontak yang tak berubah, masih menggunakan nama yang sama dari saat nomor Rayyan masuk ke hpnya yang dulu, hingga sudah berganti hp, nama kontak suaminya masih tetap sama.


" Senyum-senyum sambil liat hp, lagi chat sama siapa?" Suara Rayyan terdengar dari samping, Mira segera mengalihkan pandangannya dari layar hpnya.


" Bukan lagi nge-chat, tapi lagi senyum sama nama kontak."


Rayyan berpikir Mira aneh, masa iya senyum dengan nama kontak.


" Siapa?" Rayyan curiga, Mira terkekeh melihat wajah siaga Rayyan.


" Cowok." Ledek Mira sambil memperlihatkan kontak dengan profil lengkap.


" Ganteng ya cowoknya, pantesan senyum-senyum."


Lega, perasaan Rayyan saat melihat siapa yang dimaksud Mira, yaitu dirinya.


" Mas lihat gak orangnya, lagi nyariin nih, gak ketemu dari tadi." Mira mengedarkan pandangannya ke tamu-tamu yang lain, dimana itu malah membuat Rayyan jadi gemes.


" Pengen tak cium, sayang banyak orang!"


Mira terkekeh, lalu melingkarkan tangannya ke lengan Rayyan.


" Sabar, di rumah nanti bebas." Bisik Mira.


" Nambah tapi ya."


" Hish! Apaan sih!" Mira tersipu, membuat Rayyan terkekeh lagi.


" Mas, aku pulang duluan ya."


" Bareng aja, mas juga udah gerah ini."


" Tapi bukannya disini banyak rekan bisnis mas."


" Ini acaranya Mathew, jadi biar dia yang menjamu mereka, mas bebas. Udah kangen juga sama anak-anak." Ucap Rayyan.


" Kita pamitan dulu sama mereka, baru kita pulang." Ajak Rayyan.


" Terus papa gimana?"


" Papa disini sampai selesai, dia kan gantinya orang tua Mathew."


Yah... Papa Jo memang ditunjuk sebagai wali dari Mathew. Namun begitu, ternyata Mathew mendapat kejutan di hari pernikahannya, yaitu kedatangan Yusril dan mamanya.


Bukan kedatangan Yusril sang adik yang mengejutkan, tetapi wanita berpakaian kebaya itu kini berjalan menuju panggung. Membuat Mathew benar-benar terkejut mamanya ada disini, diacara pernikahannya, apakah yang akan terjadi selanjutnya, Mathew berharap itu sesuatu yang baik, sebab dia berharap banyak dari senyuman Yusril yang berada di belakang mamanya.