
" Mas."
" Hem."
" Maunya punya anak laki apa perempuan?'
Pembicaraan ini terjadi saat Rayyan sedang memijati kaki sang istri sambil menonton tv di kamar, mereka kini sedang menonton acara motogp, tetapi saat acara dimulai Rayyan menutup wajah Mira agar tidak melihat acara motor sedang berlangsung. Bukan tanpa alasan, kram perut! Itu yang Rayyan takutkan.
" Sama aja bo'ong mas kalau kayak gini, ngajak nonton tapi enggak boleh liat." Sungut Mira sambil mengakat tangan Rayyan dari wajahnya. Sebagai gantinya dia menghadap ke perut Rayyan yang tak memakai kaus, gerah katanya.
" Takutnya lahir sebelum waktunya yank dedeknya. Kamu kan terlalu tegang kalau lihat mereka beraksi."
" Iyaaa.." Mira kini fokus dengan bulatan di tengah perut Rayyan, membuat Rayyan merasa geli.
" Geli tau yank." Fokusnya kini harus terbagi, Mira tak peduli, masih terus bermain dengan pusar tak bertuan.
" Mas, kok enggak dijawab pertanyaanku."
Rayyan mengalihkan sebentar pandangannya untuk menunduk memperhatikan Mira yang sibuk ngu-del, kebiasaan baru selama hamil, menjadikan Rayyan jarang memakai pakaian saat di rumah. Kadang kebiasaan lain yaitu nge-tek, berlama-lama menciumi ketiak Rayyan saat Rayyan pulang dari kerja, katanya bau keringatnya wangi. Emang kebiasaan aneh ibu hamil, tetapi menolak juga percuma yang ada nanti malah ngambek. Weslah, ngalah demi anak istri apa salahnya, biarkan saja sesuka hati mereka mau melakukan apa atas tubuh papanya!
" Mau laki atau perempuan?"
" Ya laki ya perempuan."
Mereka memang sengaja tidak bertanya jenis kelamin anak mereka, walaupun kadang penasaran, tetapi mereka lebih suka jika mengetahui saat telah lahir, biar surprise alasannya.
" Kalau lahirnya laki semua gimana?'
" Ya gak gimana-gimana." Jawab Rayyan santai.
" Katanya pengen perempuan." Sungut Mira, kesal karena Rayyan hanya santai menanggapi dirinya.
" Ya kalau lahirnya laki-laki terus mau apa? Bikin lagi adeknya biar perempuan." Rayyan memberi solusi.
" Kan udah dua, masa iya mau nambah lagi?"
" Masih sanggup aku yank, kalau cuma nambah anak. Mau berapa lagi ayuk." Rayyan cengengesan, sedangkan Mira cemberut.
" Kalau mas mau gantian hamil ya enggak papa."
" Mana bisa, wadahnya kan kamu yang bawa."
" Emang mas enggak sebel ngurusin orang hamil."
" Kalau sebel yang enggak dibikin hamil."
" Berarti mas seneng dong kalau aku hamil lagi."
" Dikeluarin dulu yang ini, baru hamil lagi. Jangan buru-buru sanyang, mas sabar kok nunggu anak kita lahir."
Plak!
" Nyebelin!"
Rayyan terkekeh. Mira beranjak bangun.
" Mau kemana?"
" Laper."
" Beli nasi padang yuk, ditempat yang waktu itu kita beli pas kamu ngidam." Ajakan yang membuat langkah Mira terhenti, demi melihat wajah Rayyan yang masih santai.
" Tumben mas mau ngajak jajan di tempat begituan. Enggaklah, bau daging!" Mira melanjutkan berjalan menuju kulkas, mengambil mangkuk es kream.
" Beli ini aja yuk, udah mau habis ini." Mira duduk di samping Rayyan sambil menyuap es kream ke mulutnya.
" Dokter bilang suruh makan ini, biar dedek BBnya nambah."
" Tapi kan kita belum cek lagi yank, takutnya BBnya kebesaran. Kalau mau OP enggak papa, tapi kamu maunya normalkan!" Rayyan mengingatkan.
" Besok jadwal kontrol lagi ya. Cepet banget." Mira melihat kalender duduk di meja, disana tertera satu tanggal yang dilingkari sebagai pengingat jadwal kontrol bulanan.
" Udah masuk bulan ke-8, tinggal sebulan lagi dedek lahir. Wuih... Bakal rame nanti rumahnya." Mira sumringah membayangkan hari-hari kelahiran anaknya.
" Seneng ya?"
" He'em."
" Sama." Rayyan menarik tubuh Mira, mendekapnya lalu memberikan kecupan kecil dipelipisnya.
" Mas."
" Hem."
" Apa sih."
" Hadap sini geh."
Rayyan menengok ke samping
Cup
" Jangan mulai!" Rayyan mengingatkan, Mira mengecup bibirnya, meninggalkan rasa es kream yang baru habis dilahapnya.
Mira malah menyentuh bulatan kecil di puncak dada Rayyan, bermain-main disana, menimbulkan geleyar merambat ke seluruh tubuh. Tetapi Rayyan tetap diam, fokus matanya masih di layar televisi, tetapi pikirannya entah kemana, karena kini ia sibuk menahan sesuatu yang sedang bergerak di dalam sana.
" Yank. Jangan!" Pelan Rayyan mengambil tangan Mira dan menyingkirkannya dari pucuk-pucuk gunung kecilnya.
Tetapi tangan yang beralih di lututnya itu kini bergerak merambat pelan naik.
" He'em! Lihat tv aja tuh, baby alien di depan."
Mira tak peduli, kini tangannya sudah menyusup di bawah kain satu-satunya pelindung yang dipakai Rayyan. Dengan cepat Rayyan menangkap tangan nakal yang bergerilya mencengkeram sarung pedang.
" Ntar aku gak bisa nahan, kamu protes lagi!"
Mira hanya tersenyum, tetapi senyum itu malah terlihat menggoda.
Shit!
Rayyan berpaling agar tidak terpengaruh dengan bibir merah yang malah mendekat.
" Masss."
Astaga!
" Yuk beli es kream, katanya mau es kream lagi kan, di kulkas udah habiskan." Ajak Rayyan, serasa menggenggam tangan Mira yang terus saja ingin mengusik ularnya.
" Yank.... Jangan!" Dia berusaha untuk tetap bertahan, tetapi apa yang dia lihat di bagian bawah leher Mira yang sedikit terbuka, membuatnya harus bersusah payah menelan salivanya, hingga pergerakan jakun yang naik turun membuat Mira ingin tertawa.
" Gak tahan ya?!" Ejek Mira dengan wajah yang terlihat tanpa dosa.
" Nanti itu! Sekarang kita beli es kream dulu. Katanya tadi ngajak, ayok!" Ucap Mira dengan ceria, membuat Rayyan melemas!
Ya Allah, dikerjain aku!
" Ini gimana?" Rayyan menunjuk bagian tubuhnya yang menyembul di dalam sana.
" Kan mas tadi ngajakin beli es kream, ya ayok." Jawab Mira polos, membuat Rayyan harus menahan nafas lalu keluarkan, lagi tahan keluarkan!
" Ini juga es kream." Tunjuknya.
" Enggak dingin, enggak enak kurang seger, malah bikin gerah. Beli es kream dulu nantikan kalau gerah bisa didinginin pakai es kream."
" Ngomong apa sih kamu! Ya udah ayok kalau mau beli es kream." Rayyan langsung beranjak tak peduli lagi dengan sesuatu yang menegang berdiri tegak karena ulah jari-jari nakal Mira.
" Marah ya, jangan marah ya suamiku sayang, nanti gantengnya ilang lho." Mira mencolek dagu Rayyan disela-sela Rayyan yang sedang memakai kaus.
" Jadi enggak nih!" Rayyan menatap sebal pada sang istri yang malah terkikik dengan bangganya.
" Mas keluar aja, orangnya udah di depan. Aku tunggu disini."
" Siapa?"
" COD! Aku udah pesen online tadi, mager kalau harus keluar rumah." Mira merebahkan lagi tubuhnya di ranjang, sedangkan Rayyan meluruh, menahan kekesalannya akibat dikerjai sang istri. Lebih baik dia segera keluar daripada melihat wajah Mira yang tertawa menyebalkan!
Es kream sudah di tangan, setelah membayar Rayyan kembali, langsung menuju kamar untuk memberikan pesanan Mira.
Dia ingat saat keluar kamar pintu dalam keadaan terbuka, tetapi kenapa saat kembali pintunya tertutup.
Tangan Rayyan langsung memutar handle pintu, tetapi langkahnya terhenti di depan pintu saat siluet tubuh Mira tercetak jelas dalam balutan kain tipis berwarna hitam transparan, menutupi tapi tetap terlihat, dua gunung tangkuban tangan dengan puncak yang terlihat meninggi, serta sesuatu di bagian bawah sana yang berhiaskan padang rumput, kini terlihat bagaikan pemandangan yang sangat luar biasa, membuat Rayyan tak bisa mengalihkan barang sedetikpun matanya dari pemandangan yang tak pernah sama sekali ia lihat selama ini.
Mira berjalan melenggok, walaupun perutnya besar, tak mengurangi kecantikannya, dan Rayyan tak bisa lagi untuk mengabaikan godaan yang kian mendekat dan kini tak berjarak, dengan sekali tarik, mereka sudah saling menempel. Tak peduli lagi dengan es kream yang terjatuh dari tangan Rayyan, dia lebih fokus dengan menangkup gunung tangkuban tangan yang saat ini lebih terasa penuh di kedua tangannya.
Dia yang menggoda, jangan salahkan bila aku tak bisa bertahan!