
" Udah siap?" Rayyan melongok dari pintu kamar untuk melihat kesiapan sang istri.
Hari ini, mereka akan menghadiri acara pernikahan Mathew dan Ajeng.
" Tolong bantuin mas, resletingnya susah ini!" Mira mencoba menggapai dari belakang tubuhnya, tapi tangannya tak sampai.
Rayyan masuk dan membantu sang istri menarik resleting ke atas, dan terakhir ditekannya sedikit ke dalam agar tidak melorot.
" Kok kamu tambah cantik sih yank." Puji Rayyan saat melihat bayangan sang istri dari cermin.
Mira mengenakan dress berbahan brukat berwarna hijau tosca. Kulitnya yang kuning bersih tentu akan ter highlight dengan warna tersebut.
" Apa iya, perasaan tambah gendut." Mira berputar ke samping kanan dan kiri untuk melihat penampilannya.
" Gak gendut, ini ideal." Rayyan memeluk pinggang yang sedikit lebih berisi.
" Kayak gini pas, gak kurus banget kayak kemarin."
" Kemarin itu bukan kurus mas, tapi langsing. Kalau sekarang langsung." Mira mencembik.
" Nanti kalau udah selesai masa kasih ASI dedek, mas ajarin bentuk body kayak gadis lagi, kalau sekarang biar aja, yang penting dedek dapet gizi yang cukup." Rayyan menyemangati.
" Katanya gini aja bagus, gimana sih mas." Mira protes.
" Ya kalau buat mas sih, bagaimanapun bentuk tubuh kamu, mas sih gak ada masalah, tetap sayang makin cinta."
" Tapi kalau makin besar ya gak nyaman mas." Mira melihat ukuran pinggangnya yang terlihat agak bulat.
" Ini wajar sayang, kan lahiran baru beberapa bulan. Nanti juga balik lagi." Rayyan sebenarnya tahu kalau istrinya memang terlihat sedikit mengembang, terutama di bagian pinggang. Tapi dia bukan tipe laki-laki yang punya masalah besar terhadap fisik, jika memang saat ini istrinya agak gemuk ya enggak masalah yang penting sehat.
" Besok ajarin olahraga ya." Pinta Mira.
" Ok! Tapi jangan terlalu dipaksa."
" Setidaknya buang lemak mas, biar gak terlihat gede. Disini, sini, sama sini." Mira menunjuk perut, pipi dan lengannya.
" Satu lagi, sini." Rayyan menepuk bok*ng Mira.
" Tuh kan, ngledek." Mira cemberut.
" Ya nambahin yang, tadi cuma sini, sini, sini sama sini, oh ya yang ini juga."
PLAK!
" Jangan pake nempel." Mira memukul tangan Rayyan yang hampir menyentuh wadah air kehidupan untuk baby twins.
" Pegang dikit yank, pelit amat!" Rayyan memelas.
" Jangan sekarang, sudah waktunya. Pergi dulu, ntar gak kebagian pas di Gerejanya. Noh tinggal sebentar lagi." Mira memperlihatkan layar hpnya yang baru dia tekan, dimana disana terpampang foto keempat wajah anggota keluarga.
" Tunggu bentar." Rayyan melangkah menuju laci nakas.
" Tadi ngribetin, giliran udah mau berangkat malah sibuk." Gerutu Mira.
" Bentar doang yank. Nah, ini udah ketemu." Rayyan menggenggam barang yang baru diambilnya dari laci, kembali pada Mira setelah menutup laci.
" Ini dilepas ya." Rayyan melepas kalung yang biasa menghias leher Mira.
" Nah pakai yang ini." Rayyan mengganti dengan yang baru, yang khusus dipesannya beberapa hari yang lalu.
" Mas...." Mira takjub saat melihat bentuk liontin yang menggantung di lehernya.
" Buka...!" Pinta Rayyan.
" Kok cuma foto mas aja, terus yang sebelah sini cuma dedek." Mira memperhatikan dua foto yang berada di masing-masing sisi dalam liontin.
" Aku kok enggak ada?" Protes Mira.
Rayyan tersenyum, dia membuka kancing kemejanya yang tertutup dasi, hanya membuka kancing nomor dua dan mengeluarkan benda yang berbentuk sama dengan yang baru diberikannya pada sang istri.
Dia membuka bandul liontin yang ia kenakan, dan disana ada foto Mira di sebelah, dan sebelah lagi foto anak-anak.
" Kamu disini." Tunjuk Rayyan.
" Biar selalu dekat sama ini." Rayyan memindah telunjuknya di dadanya.
" Owww, so sweet." Mira meleleh.
" Ma kasih mas." Mira memandang Rayyan dengan penuh cinta, begitu juga Rayyan menatap Mira dengan pandangan yang tak kalah penuh cinta.
" Aku bersyukur memiliki kamu."
" Yah, emang pada akhirnya kita harus selalu bersyukur." Rayyan terkekeh.
" Ayo berangkat! Katanya takut telat." Ingat Rayyan.
" Ya habisnya kamu sih mas, malah bikin aku bahagia gini, jadi baper kan?" Mira mencubit kecil perut berbalut jas milik Rayyan.
" Emang sudah jadi kewajiban mas buat kamu bahagia, dan itu berlari kamu berhak untuk bahagia." Rayyan gantian menyubit kecil hidung Mira.
" Mesraan terus kapan berangkatnya." Mira gantian terkekeh.
" Mesra itu wajib sayank, jangan sampai enggak. Kita bikin iri mereka semua." Rayyan tersenyum sambil menarik pinggang sang istri.
" Ayo jalan." Rayyan membimbing Mira keluar kamar.
" Tasnya." Mira berhenti sejenak mengingat benda yang tak boleh tertinggal itu.
" Ada di mobil, sudah mas siapin."
" Ya ampun mas, kamu benar-benar bikin orang iri. Perhatianmu itu loh."
" Dan itu khusus untukmu sayang."
" Mesraan terosss." Dony melengos sambil membuka pintu untuk Mira dan Rayyan di bagian penumpang, sedangkan di kursi depan sudah duduk dengan anggunnya seorang wanita cantik.
" Ini yang mas Dony yang diceritain kemarin?"
Sang wanita menoleh, sambil mengulurkan tangan.
" Salsabila bu."
Dia adalah bodyguard khusus yang disewa oleh Rayyan untuk memantau baby twins, karena baby twins sekarang ada di rumah oma, maka mereka kini melaju menuju rumah oma untuk mengantar sang bodyguard.
" Wah, cantik banget." Puji Mira, dimana itu membuat sang bodyguard tersipu malu.
" Masih cantikkan kamu sayang." Bisik Rayyan ketika sang bodyguard kembali pada tempatnya.
" He'em. Ntar lagi disambung lagi. Masih di jalan, enggak enak kedengaran orang." Ucap Mira.
" Kasihan yang jomblo. Ya enggak mas Dony."
" Betul mbak Mira, tapi saya sudah bukan jomblo lagi sekarang." Ucap Dony dengan sopan tetapi terkesan sombong.
" Weh, habis dari tempat Mathew langsung ke tempatmu Don?" Ucap Rayyan.
" Ke Lampung dulu mas Rayyan, mas Sigit bulan depan, kalau kami tahun depan. Nunggu selesai kontrak kerja dek Billa dulu."
" Sekalian aja Don, mumpung musim."
" Musim apa mas?"
" Musim kawin."
Mereka tergelak bersama, sedangkan satu gadis di depan hanya melengos malu.
" Kondangan terus, bisa bikin badan melar ya mas." Mira yang bilang.
" Jangan kawatir, mas yang akan jadi instruktur pribadi khusus buat kamu. Tinggal pilih mana yang mau dibentuk? Kalau perut mas ahlinya."
" Bikin melendung ya mas." Sahut Dony.
" Ya itu salah satunya."
" Mulai!" Mira jengah.
" Lha itu memang salah satu keahlian mas lho yank."
" Ada telinga perawan." Bisik Mira pelan.
" Apa?! Mau adik buat 2A, ya ampun yank, digedein dulu ya mereka, baru program lagi." Ledek Rayyan.
Mira melotot, kesal dengan candaan Rayyan yang gak nyambung baginya.
" Angel wes angel, ngomong sama kamu mas!" Keluh Mira sambil memijit kepalanya yang mulai pening dengan kelakuan Rayyan.
" Kalau mau yang mudah bisa kok yank, tapi gak disini, nanti aja di rumah, spesialis di kamar." Bisik Rayyan, membuat Mira ingin menelan habis suami tengilnya yang sedang tertawa tanpa dosa.
" Karepmulah mas!"