I LOVE YOU, ENCUS

I LOVE YOU, ENCUS
Persekongkolan



Mira membuka mata, namun tidak ada yang ia dengar seperti suara semalam yang begitu membingungkannya. Hanya suara burung dan kokokan ayam jantan dipagi hari ini. Tidak ada suara bapak, oma, dokter Tomy ataupun wanita yang semalam ada di ruangan itu.


Apa yang sebenarnya terjadi?


Mira mengingat setiap percakapan yang diucapkan bapaknya dan wanita yang ternyata adalah ibunya. Mengingat kenyataan bahwa ia bukan anak dari ibu, Santi.


Ibu yang selama ini membesarkannya, memberikannya kasih sayang yang begitu besar, bahkan tak beda dengan Andre yang ia tahu anak kandungnya yang kelahirannya ia saksikan di rumah sakit, bahkan dia yang menunggunya saat itu, karena bapaknya sedang bekerja.


Mana mungkin dia bukan ibuku?


Mira merasakan bawah lengannya bergetar, itu adalah hpnya. Ia meraba untuk menggapai dengan tangan satunya yang tak sakit. Menatap layar hpnya, tertera nama mas Rayyan disana.


" Selamat pagi bidadariku?"


Mira menjauhkan hpnya, menatap lagi nama yang tertera disana, masih sama yaitu mas Rayyan.


Kenapa caranya bicara berbeda? Apa dia sedang mabuk?


" Mira, selamat pagi. Apa kau mendengar suaraku?"


" Ya, aku mendengar mas. Ada apa?" Mira tak bersemangat untuk hanya sekedar basa-basi. Pikirannya belum bisa diajak kompromi, masih dalam mode bingung.


" Ada yang membuatmu tidak bersemangat? Kenapa suaramu terdengar lesu begitu? Mendengarmu begini sepertinya balapan kali ini aku bisa kalah."


Mira mengernyit bingung " Apa hubungannya denganku dengan menangnya mas Rayyan nanti?"


" Karena dirimu adalah semangatku."


" Apa maksudnya?" Mira tentu tak paham dengan maksud ucapan Rayyan.


" Maksudku, dukungan dari penggemarku adalah semangat untukku. Katamu kamu penggemarku kan, jadi apa salah kalau aku mengatakan begitu?"


" Ya, kau benar mas, hanya saja aku tidak bisa memberikan semangat pada siapapun saat ini, bahkan pada diriku sendiri." Ucap Mira.


Rayyan terdiam disana, mencoba untuk mencari cara agar keceriaan Mira kembali. Dia paham bagaimana suasana hati Mira saat ini.


Ia mengubah panggilan dengan VC. Mira tentu tak mau mengangkatnya, kerena ia tidak mau Rayyan mengetahui keadaaannya saat ini.


" Kenapa tak mau mengalihkan panggilanku? Aku tahu apa yang terjadi semalam. Jangan pernah menyembunyikan apapun padaku Mira. Aku temanmu, bicaralah padaku jika kamu punya beban."


Mira terdiam, memikirkan darimana Rayyan tahu tentang semalam.


Apa dokter Tomy yang memberitahunya?


" Aku mendengar semuanya semalam, kau ingat? Semalam kita sedang teleponan saat ada seseorang masuk ke kamarmu.... salah, tapi kamar rawatmu." Ralat Rayyan


" Apakah kamu sakit? Kenapa kau tak bilang? Kau sakit apa?" Nada bicaranya kini terdengar cemas.


" Apa aku tak boleh tahu keadaan temanku?" Tanya Rayyan ketika Mira tak menjawab pertanyaan.


" Tapi kamu tak memberiku kesempatan untuk menjawab mas, terlalu banyak pertanyaan, aku bingung." kata Mira.


" Oh.... Begitu ya, maaf Mira. Aku terlalu mencemaskanmu, apalagi mendengar bapakmu mengatakan kebenaran tentang dirimu."


" Kau mencemaskanku?"


" Kau tahu perasaanku, jadi ya.... Aku mencemaskanmu, bahkan semalam aku tak bisa tidur memikirkanmu." Akhirnya kata itu terungkap juga dari Rayyan yang memang sangat kawatir dengan keadaan Mira.


Mira sedih, tentu saja mendengar ucapan Rayyan. Disaat seperti ini keadaanya. Mira merasa hanya akan menjadi beban untuk Rayyan dikemudian hari.


" Bisakah kita hanya berteman?"


" Ya, kita sedang melakukannya. Aku temanmu dan kamu temanmu. Tapi apakah kita tidak bisa menambah kata dibelakangnya?" Tanya Rayyan.


" Misalnya?" Mira merasa tidak paham dengan maksud Rayyan.


" Ya misalnya teman dekat atau...... Teman hidup." Rayyan menjeda ucapannya.


" Heeh! Kesana lagi arahnya." Mira mendesah, merasa bahwa ucapan Rayyan hanya menjebaknya.


" Lalu kemana lagi arah bicaraku Mira, aku serius dengan ucapanku. Aku mempunyai perasaan khusus padamu, tertarik padamu, lalu aku mengharapkan perasaan ini akan terbalas, apa itu salah?"


" Tidak ada yang salah mas, hanya hatimu itu berlabuh ditempat yang penuh badai, dan itu hanya akan melukaimu."


" Sok puitis lu Mir, tapi ya.... bolehlah." Rayyan tersenyum kecut disana, merasakan perasaan yang campur aduk, antara kecewa dan sedih serta bahagia.


Kecewa karena cintanya belum juga bersambut, sedih karena merasa tak bisa menjadi orang berguna disaat Mira mengalami kesedihan, dan bahagia karena saat ini Mira tidak menjauhinya.


" Kita bicara itu nanti ya mas, ketika kau pulang." kata Mira kemudian.


" Sekarang fokus pada balapan nanti. Aku mendukungmu. Jangan kecewakan keluargamu."


" Aku pasti akan menang, jika bisa melihat senyummu. Ganti ke VC ya." pinta Rayyan.


Akhirnya Mira mengalihkan panggilan ke VC, dan nampaklah Rayyan yang sudah rapi. sedang Mira masih berbaring di ranjang pasien.


" Kamu sakit apa?" Tanya Rayyan, melihat latar ruangan Mira dari layar hpnya.


Mira menunjukkan tangannya yang terbungkus perban.


" Apa yang terjadi?" Rayyan terlihat cemas, namun malah membuat Mira tersenyum.


" Kamu memang cantik Mira jika tersenyum, tapi bukan senyummu yang aku inginkan, tapi ceritakan padaku kejadian yang membuat tanganmu begitu dan lenganmu.... Oh, ya ampun!" Rayyan ngeri melihat lebarnya luka yang terlihat menggores kulit Mira dibagian lengan. Ia merasa ngeri, walaupun kadang ia sendiri mengalaminya saat jatuh. Namun melihat luka itu ada pada orang lain, malah membuatnya meringis ngeri.


" Ingin mendengar?" Tanya Mira. Rayyan mengangguk.


Mira mulai bercerita bagaimana ia keluar rumah diantar Sigit menuju kontrakan mbak Sri.


" Kamu pergi jalan kaki dengan Sigit?" Ada nada tak rela dalam pertanyaan Rayyan.


" Iya." jawab Mira.


" Itu membuatku cemburu." Rayyan memang begitu, dia selalu mengatakan apa yang ia rasakan.


" Gombal!" Mira tak percaya pada reaksi Rayyan.


" Jangan lakukan itu lagi!" Sekarang nadanya semakin terdengar tegas.


" Lakukan apa?" Mira pura-pura tak mengerti.


" Jangan berjalan dengan laki-laki lain Mira, kamu hanya boleh berjalan denganku." Rayyan terlihat serius dari raut wajahnya, membuat Mira merasakan ada ketulusan disana.


" Sebenarnya mas ini serius atau bercanda sih?" Mira bingung sekarang.


" Apa yang kamu inginkan aku lakukan agar kamu tahu bahwa aku serius Mira?"


" Entahlah, aku masih bingung. Nanti saja kalau mas pulang, kita bicara lagi."


" Sekarang persiapkan diri sebaik mungkin, agar nanti bisa menang. Aku menunggumu pulang bawa piala. Nanti aku kasih hadiah."


" Hadiah? Apa?"


" Bukan hadiah namanya jika diberi tahu sekarang." sungut Mira.


" Lalu?"


"Menang dulu, pulang baru dapat hadiahnya."


" Tapi sebelum itu, aku mau minta tolong sama mas bisa?" Nada Mira sekarang berubah serius.


" Apa?" Tanya Rayyan.


" Bantu aku kabur dari sini! Aku tak sanggup dengan semua ini." Mira terlihat melow, dan Rayyan tak tega melihatnya.


" Kau ingin kemana?"


" Aku tidak tahu, hanya butuh tempat untuk tenang."


Rayyan berpikir sejenak. Kemana dia harus memberi Mira tempat agar aman dan bisa tenang.


" Aku akan bilang ke Tomy, agar dia bisa membawamu."


" Dokter Tomy?" Mira memastikan ucapan Rayyan.


" Ya, dokter Tomy. Kamu akan ikut dia sementara waktu. Biar mama yang urus. Aku akan bicara pada mama. Bersiap-siaplah."


" Ok."


Singkat waktu, Mira akhirnya pergi dari rumah sakit, mengikut mobil dokter Tomy dan dibantu oma, agar keluarga Sigit tidak bisa menemuinya. Bahkan Jonathan dibuat kalang kabut gara-gara polisi menuduhnya menyembunyikan Mira.


Oma hanya diam, tak berani mengatakan apapun. Pura-pura tak tahu kemana Mira pergi, karena dia sudah berjanji pada anaknya akan mengamankan calon menantu hingga waktunya tiba.