I LOVE YOU, ENCUS

I LOVE YOU, ENCUS
Congrats!



Di dalam kamar perawatan, Mira menyuapi Rayyan.


" Enakkan."


Menu nasi padang saat ini tak menjadi masalah bagi Rayyan, walaupun di beli oleh Mathew di warung samping rumah sakit, tentu atas permintaan Mira.


" Lagi."


Rayyan mengangguk, entah mengapa menyantap nasi padang saat ini terasa sangat enak.


Apa begini yang Mira rasakan saat ngidam waktu itu?


" Mas makan sendiri ya, aku mau jalan-jalan lagi, cuma di koridor depan kamar aja."


Akhirnya Rayyan mengangguk, membiarkan Mira berjalan-jalan sendiri, tapi dia masih bisa mengawasi dari dalam kamar.


" Jangan jauh-jauh."


" Iya."


Baru pembukaan 3, mereka pikir akan butuh waktu lama lagi saat Mira melahirkan.


Mama dan papa Jo pulang ke rumah, untuk mengabil baju bayi yang sengaja di letakkan di rumah terpisah.


2 Ibu dan yang lainnya makan di luar, begitu pula Mathew yang pulang ke rumah mengurus baby Khansa.


Hanya Rayyan dan dokter Ajeng yang masih standby, karena dokter Ajeng sengaja menunggu sampai Mira melahirkan.


Memang semua tidak bisa diprediksi, Mira tiba-tiba mengeluarkan cairan yang cukup banyak, hingga membuat dia harus dilakukan tindakan.


Berada di kamar bersalin, 2 dokter, bidan dan beberapa perawat kini sudah bersiap untuk menolong persalinan Mira.


Rayyan, selalu berada di samping Mira, membantu dengan tetap di dalam, setibanya dengan begitu Mira merasa mendapat dukungan darinya.


" Tarik nafas dalam-dalam ya ibu, nanti waktu mengejan jangan langsung dikeluarkan. Sedikit-sedikit saja biar tenaganya tidak putus."


Mira mengangguk mengerti.


Rasa sakit yang ia alami memang sangat luar biasa, tetapi dia harus bisa menahan demi bisa menghadirkan dua buah hatinya.


Jika sakit terlalu mendera, Mira mencoba untuk melakukan pernafasan agar segera rileks.


Saat itu Rayyan dengan sabar menggenggam tangan sang istri, sambil menyeka keringat yang membasahi pelipis Mira, bahkan rambut panjang Mira kini sudah basah.


" Sudah siap ibu, minum dulu biar ada tenaga ya."


Mira mengangguk, menerima sedotan dan menyesap airnya, dirasa cukup, kini dia mulai bersiap.


" Yuk, dilihat dulu."


Mira mengangguk, dokter mulai melakukan pemerikasan di bawah Mira, memastikan kesiapan jalan lahir.


" Sudah lengkap." Dokter itu kini memberi aba-aba pada Mira bagaimana cara mengejan yang benar.


Meminta Rayyan untuk bergeser tempat duduk, agar para medis lebih leluasa membantu proses persalinan.


" Masih kuat pak? Kalau tidak tahan bisa menunggu di luar."


Rayyan mengangguk dengan mantap, ingin tetap menani Mira.


" Ok."


Mira mulai menegang, dokter mulai siap di bawah sana.


" Tarik nafas yang panjang ya ibu, tangannya pegang di sini." Dokter mengarahkan tangan Mira untuk merangkul pahanya ke atas.


" Ya begitu, ayo tarik yang panjang, sekarang pelan-pelan pakai buat menekan di bawah ya ibu. Ya betul begitu... Terus, jangan sampai putus,. Ya terus ibu,... Pinter... Ambil nafas dulu."


Dokter memberi waktu untuk beristirahat sejenak, karena merasakan perut Mira yang berhenti berkontraksi.


Rayyan mengelus puncak kepala Mira, mencoba memberi dukungan, Mira hanya tersenyum sambil meringis merasakan dua perasaan sekaligus, bahagia dan sakit.


" Mulai lagi, ayo... Siap-siap, tarik nafas dalam.... Ayo ibu, pasti bisa...." Dokter melakukan upaya di bawah sana, ketika Mira mulai mengejan.


" Sudah terlihat ini, semangat... Ayo, lagi... Satu, dua...Ti..."


Mira melemah dan nafasnya tersengal, dokter berhenti memberi arahan, membiarkan Mira beristirahat sejenak.


" Semangat sayang, kamu pasti bisa." Rayyan mengusap-usap dahi Mira, sesekali memberi minum jika melihat bibir kering istrinya.


" Nanti ditahan ya ibu, kasihan anaknya nanti terlalu lama terjepit, nafasnya diirit-irit keluarnya, terus pakai buat menekan di bawah ya..."


Mira mengangguk, berusaha untuk mengerti ucapan dokter, begitu terasa lagi, dia meminta dokter untuk segera membantu....


" Tahan... Tahan... Suster, tolong gunting..., ya ayo dorong sedikit saja... Jangan kuat, kuat, sedikit, sedikit, pelan, pelan, yak... Alhamduliah."


Oek... Oek... Oek....


Tangis bayi pertama keluar, semua bernafas lega, Rayyan mencium beberapa kali wajah Mira yang terlihat memerah, air mata sudah tak dapat di bendung lagi, terharu, bahagia, menjadi satu. Apalagi suara keras bayi mungil yang sedang berada di bawah sana, membuatnya ingin segera melihat wajah anaknya.


Dokter memperlihatkan bayi yang sudah diputus tali pusatnya, membungkus dengan kain putih yang sudah dipersiapkan oleh suster perawat, kepada Mira dan Rayyan.


" Laki-laki ya pak, ibu yang keluar lebih dulu."


Rayyan dan Mira menyabut bayi mereka dengan sangat haru, dokter membiarkan kedua orang tuanya menyentuh sebentar bayi pertama yang sudah lahir, kemudian memberikan pada suster agar di lakukan perawatan selanjutnya, karena ukuran bayi yang di bawah berat badan normal, yaitu hanya 22,2 gr, dengan panjang 50cm, termasuk ukuran normal untuk bayi kembar.


Tak berselang lama, dokter memberi instruksi pada Mira untuk bersiap dengan bayi yang kedua. Tak seperti yang pertama tadi, sekali kontraksi dan pintarnya sang ibu, bayi perempuan itu lahir dengan lancar.


Inilah yang menyebabkan perbedaan pendapat tentang siapa yang lebih tua dan lebih muda, siapa kakak dan siapa adik dalam kasus bayi kembar.


Bayi pertama dalam mitos dikatakan sebagai adik, mengapa? Karena yang kedua dianggap mengalah pada adiknya dengan membiarkan sang adik terlahir lebih dulu. Tetapi dalam dunia medis hal tersebut tidak berlaku, karena medis selalu menggunakan perhitungan, dan perhitungan waktu yang berbeda itu yang dipakai, jadi siapa yang lahir pertama itu yang tertua, dan terakhir adalah adik. Tinggal bagaimana nanti masyarakat mau pakai yang mana, itu dikembalikan pada kepercayaan masing-masing.


" Ibunya pintar sekali, selamat bapak, ibu, semuanya sehat..." Dokter tersenyum begitu semua sudah selesai.


Kedua bayi sudah berada dalam incubator, Mira sudah rapi, sehingga Rayyan sudah boleh masuk lagi ke dalam ruang bersalin.


" Dokter, ijin mau berdoa...."


" Oh ya, silahkan... Suster tolong bapaknya mau ke kamar bayi."


" Silahkan pak." Suster perawat menggeser pintu penghubung kamar bersalin, dan membiarkan Rayyan berada di dalam.


Ajeng masuk ke ruang bersalin.


" Selamat sudah berhasil menjadi ibu yang hebat!" Ajang merengkuh Mira yang berbaring lemah di atas tempat tidur di kamar bersalin, belum dipindahkan, karena masih diistirahatkan untuk mendapat pemantauan pasca melahirkan.


Sayup-sayup terdengar suara merdu Adzan berkumandang berasal dari kamar bayi, dan itu suara Rayyan.


Mira dan Ajeng terdiam, demi mendengarkan lantunan merdu yang dikhususkan untuk kedua bayi yang baru lahir ke dunia. Mira meneteskan air mata bahagianya melihat dari bayangan Rayyan yang terlihat dari kaca buram yang dipakai untuk sekat.


Tak menyangka jika dia bisa memberikan hadiah terindah untuk orang yang dicintainya itu, bahkan bisa dikatakan prosesnya sangat lancar, tidak ada kendala, dan ia yakin semua itu berkat dukungan suaminya yang selalu ada di sampingnya, memberikan dukungan untuknya.


Wajar jika dia mengucapkan beribu syukur, atas anugerah terindah yang bisa dia dapatkan selama hidupnya, dan kini semakin lengkap dengan kehadiran seorang suami tangguh dan dua malaikat kecil. Sungguh kebahagiaan yang sempurna.


Rayyan keluar dari kamar bayi.


" Selamat pak Rayyan." Ajeng menjabat tangan Rayyan.


" Terima kasih dokter Ajeng, berkat anda juga semuanya lancar." Puji Rayyan.


Ajeng hanya mengangguk.


Dokter Ajeng seharusnya sudah pulang dari saat pergantian shift jaga, tetapi demi Mira dia rela mundur sampai Mira melahirkan.


" Terima kasih banyak lho Jeng."


" Sama-sama. Aku pulang ya. Permisi pak Rayyan, saya pamit."


Rayyan hanya mengangguk, membiarkan Ajeng dokter Ajeng berlalu dari kamar bersalin.


Hanya tinggal berdua di kamar bersalin, dan moment itu adalah moment yang paling ditunggu keduanya.


" Trima kasih sayang, sudah menghadirkan dua malaikat dalam keluarga kita." Rayyan menggenggam jemari Mira.


" Terima kasih juga mas, sudah jadi papa yang kuat untuk kami. Trima kasih sudah kasih dukungan untuk kami."


" Itu belum seberapa jika dibandingkan perjuangan kalian tadi."


" Perjuangan kita mas, bukan hanya kami. Mas juga berjuang dengan keberadaan mas disini, nungguin aku sampai hampir pingsan kayaknya tadi."


" Kapan?" Rayyan mencoba mengingat.


" Tadi, waktu dedek yang pertama mau keluar."


Ucap Mira.


" Ya itu karena aku gak tega lihat kamu hampir nyerah yank, untungnya dokter bilang tahan, jadi aku ikut nahan biar enggak pingsan beneran."


" Mas ikut nahan?"


" He'em." Rayyan mengangguk.


" Berarti pas aku ngejen mas ikut dong."


" Refleks yank, kebawa situasi. Namanya juga tegang." Ucap Rayyan.


" Untung aja pas dedek keluar, mas gak ikut keluarin isi perut mas."


" Ya enggaklah, ada-ada aja kamu itu!" Rayyan mencubit hidung Mira yang terkekeh.


" Mau makan enggak? Mumpung masih anget itu makanannya, dokter bilang habis makan harus minum obat, jadi makan sekarang aja ya."


Mira mengangguk.


Rayyan beranjak ke meja tempat nampan makanan di simpan.


" Ayamnya enggak mau." Mira menolak saat Rayyan mencuil daging ayam.


" Kan dedek udah keluar."


" Enggak mau, pakai sayur sama tempe aja."


" Ok!" Rayyan mengalah.


" Mereka belum balik kesini mas?" Tanya Mira disela-sela acara makannya.


" Belum." Rayyan menggeleng.


" Udah kasih kabar ke mereka."


" Belum. Biar aja jadi kejutan buat mereka. Sekalian mau buktiin kalau mas ini adalah papa kuat dan tanggung yang bisa jagain istri setiap saat, tanpa mereka." Ucap Rayyan dengan sombongnya.


" His! Sombong." Mira mencibir.


" Biarin! Nyatanya gitu kan?"


" Iyalah...Iya... Aaa.... lama banget, udah kosong ini."


Rayyan sampai lupa kalau sedang menyuapi Mira.


" Habis ini udah ya, udah kenyang." Ucap Mira.


" Ok, mama..."


Mira tersenyum, ada desiran aneh saat Rayyan memanggilnya mama, sesuatu yang asing, tapi dia suka.


" Terima kasih papa."


" Hahay... Kok seneng ya dipanggil papa sama kamu, berasa sudah punya anak." Rayyan terkekeh.


" Emang udah punyakan, dua tuh disana." Mira menunjuk pintu penghubung kamar bersalin dengan kamar bayi.


" Iya... Papa enggak lupa kok ma, emang udah jadi papa sekarang."


Mira teringat sesuatu, ingat dengan dialog mereka yang membahas tentang nama bayi mereka. Karena dipikir akan lahir dua minggu lagi, mereka belum menentukan nama mana yang akan dipakai.


" Pa..."


" Hem... Apa?" Rayyan menengok setelah meletakkan nampan kembali ke atas meja.


" Jadinya mau kasih nama yang mana nih untuk babies twins."


" Marcello dan Marcella"


" Luis dan Luisa."


" Kenzo dan Kenia."


" Alfa dan Mega."


" Ghani dan Ghita."


" Mateo dan Mesyia."


" Kalau yang itu nanti dikira ngefans sama Mathew, kan hampir sama tuh." Rayyan tak setuju, walaupun nama Mesyia terdengar lucu.


" Kalau Alex dan Alexa?" Mira bertanya tentang nama terakhir yang sudah mereka persiapkan.


" Temen mas sekeluarga pakai nama itu, nanti dikira ikut-ikutan lagi."


" Terus mau yang mana?" Mira jadi bingung sekarang.


" Ntar kita kasih vote dulu ke yang lain, mana yang terbanyak dari nama yang udah kita siapin, itu yang dipakai."


" Biar adil, semua bisa ikut kasih nama. Dulu waktu Gea dan Geby, papa sama bang Nathan berasa diasingkan gara-gara yang kasih nama mama, terus lahir yang Geby, mbak Rita yang kasih."


" Kalau gitu tunggu mereka dateng aja ya."


" He'em."


🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹


Menurut kalian para readers, nama mana yang cocok untuk babies twins?


Ikutan vote yuk, biar makin seru!


Jangan lupa kasih semangat buat otornya.


Lama enggak crazy up, karena mau lembur kehabisan kopi 🙊 tapi enggak papa yang penting up lancar tiap hari... Hehehe...