
Haruskah?!
Sabagai laki-laki normal, sangat normal, Rayyan sangat tergiur dengan kondisi saat ini, dimana Mira terlihat seperti makanan lezat siap santap disaat kelaparan melanda.
Sambil terus beraksi di daerah yang bukan terlarang, nampaknya sesuatu yang dinikmati hanya setengah hati itu terendus oleh si istri yang sensitif.
" Kalau enggak mau ya sudah, enggak usah dipaksa." Ucapan dengan nada kecewa itu membuat Rayyan terhenti.
" Kalau cuma terpaksa enggak usah sekalian." Mira marah, Rayyan tahu itu.
" Mas cuma enggak mau dedek kenapa-napa. Emang enggak papa kalau kita 'gituan'?" Rayyan menjelaskan alasannya.
" Dokter bilang enggak papa, yang penting hati-hati. Tapi kalau enggak mau ya sudah!" Mira berbalik kemudian merebahkan tubuhnya yang terlihat transparan karena baju yang ia kenakan hanya sebagai hiasan bukan penutup, dan menutupinya dengan selimut.
Rayyan menggaruk tengkuknya yang tak gatal, bingung harus bagaimana. Baginya menghadapi ibu hamil yang sedang ngambek, lebih susah dengan melaju menuju podium pertama. Serba salah.
Perlahan mendekat, membujuk dengan pelan, berbicara dengan lembut, menyentuh dengan sayang, akankah berhasil?
" Sudahlah mas! Aku mau tidur." Mira menutup semua kepalanya dengan selimut.
" Dek, bujuk mama ya, jangan suka marah-marah, nanti cantiknya ilang." Rayyan mengelus perut Mira yang terlihat menonjol, dan saat itu juga pergerakan kencang begitu terasa, bahkan kini perut Mira terasa menegang, membuat Mira merasa nyeri.
" Buka ya." Rayyan menarik pelan selimut yang segera turun sedikit demi sedikit memperlihatkan bagian rambut lalu wajah Mira yang hanya terdiam.
" Dedek gak suka kalau mamanya marah, lihat nih, dia ikutan marah." Rayyan menatap perut dengan tonjolan di beberapa bagian, itu jelas terasa nyeri saat ini.
Rayyan mengelus bagian tonjolan itu, memberikan sentuhan sedikit, hingga tonjolan itu perlahan melemas, tetapi pergerakan di bagian lain terasa begitu lucu baginya, bahkan tonjolan yang ini seperti bentuk kaki, membuat Rayyan berjingkat senang, hingga pergerakan kencang di ranjang membuat Mira menatap aneh pada suaminya itu.
" Lihat yank, kayak kaki. Apa ini kaki dedek ya."
Mira bergerak mengikuti tangan Rayyan yang menunjuk tonjolan itu, dia ikut berbinar dan seketika Rayyan langsung mengambil hp di meja samping tempat tidur kemudian mengabadikan momen langka itu.
" Wow, amazing." Rayyan memperlihatkan hasil foto pada Mira. Mira ikut tersenyum, lupa dengan rasa kesalnya.
" Kok bisa jelas begini ya mas."
" He'em." Rayyan hanya mengangguk tak ingin berkomentar yang bisa membuat Mira ingat bahwa dirinya sedang ngambek.
" Jadi enggak sabar nih nunggu lahir." Mira duduk sambil mengelus perut besarnya.
" Besar banget ya mas, beda sama ibu hamil lainnya."
" Yang lain kan cuma isi satu, kalau ini dua yank dan ini sangat istimewa." Rayyan memeluk Mira, mumpung udah lupa sama marahnya, dipeluk pasti diem aja.
" Mirip siapa ya entar, mirip aku apa kamu ya mas." Mira membayangkan wajah anaknya nanti, akan mirip dengan siapa.
" Mirip kita berdualah yank, kalau cuma mirip aku, nanti kamu gimana, kalau mirip kamu, masa mas cuma urun benih doank."
" Iya... Kalau cewek mirip mas pasti cantik. Hidung mas kan mancung tuh, terus kulit juga lebih putih mas ketimbang aku. Cewek blaster biasanya cakep-cakep." ucap Mira.
" Mirip kamu lebih cantik yank, kulit kuning begini gak gampang kelihatan tua lho. Lihat mama, udah umur segitu masih kelihatan cantik."
" Emang aku cantik mas?"
Pasti cuma mau njebak nih kalau sudah tanya kayak gini. Rayyan mulai waspada.
" Cantik banget, kenapa emang."
" Kok mas enggak selera lihat aku? Apa karena aku lagi hamil, aku gendut, gak seksi, gak menarik lagi buat kamu?!"
Tuhkan bener, apa aku bilang?
" Bukan kamu enggak menarik sayang, mas cuma kasihan lihat kamu. Mau apa-apa aja susah gini, tidur aja gak pernah nyenyak, masa iya mas mau egois mentingin kebutuhan mas sendiri." Rayyan mengungkapkan apa yang dia pikirkan, tetapi Mira mencembik.
" Bilang aja udah gak menarik lagi, tubuh aku kan udah jelek." Mira berpaling, tak mau melihat Rayyan, baginya wajah tampan itu menyebalkan sekarang.
" Kamu pengen?" Rayyan bertanya, dan sekarang Mira malu harus manjawab apa.
Seketika Mira langsung menjauh dari pelukan Rayyan untuk menghindari tatapan menyelidik yang diarahkan Rayyan padanya.
" Yank." Rayyan menahan tangan Mira agar tetap di tempat.
" Ganti baju."
" Kenapa harus ganti, gini aja kan seksi." Rayyan tetap penahan Mira agar tidak pergi, karena Mira kini sudah diposisi setengah berdiri.
" Jawab mas geh, kamu kenapa pakai baju begini?" Rayyan memperhatikan dari atas sampai ujung baju yang tak bisa menutupi tubuh utuh, yang malah terlihat menerawang dan transparan itu.
Mira sekarang bingung harus jawab apa?
Mana mungkin aku jujur bilang sama mas Rayyan kalau aku mau godain dia. Jujur juga dia gak tergoda buat apa!
Mental Mira down sekarang, usahanya untuk menyenangkan suaminya gagal.
Dia senang suaminya pengertian padanya, memahami keadaannya saat ini. Perutnya yang besar membuatnya kesulitan untuk bergerak, apalagi dengan kondisi kakinya yang terlihat membengkak, untuk beranjak dari tempat tidur waktu pagi dia kesulitan. Ditambah dengan pinggangnya yang terasa pegal dan kurangnya waktu tidur.
Tetapi sebagai istri dia juga ingin menyenangkan suaminya yang sudah begitu tulus mendampinginya, dan selalu siaga kapan saja dia butuhkan. Bahkan dia rela berada di rumah lebih lama hanya untuk menemaninya, ketimbang mengurus pekerjaan.
Dia memang jenis suami yang langka!
Dan itu membuat Mira merasa bersalah. Semenjak hamil, mereka jarang melakukan hubungan suami istri, dan itu membuat Mira kawatir Rayyan akan berpaling darinya, walaupun dia tidak melihat sisi brengsek dari diri suaminya itu, tetapi tetap saja, kebutuhan biologis seorang pria harus jadi perhatian khusus bagi seorang istri, apalagi sebentar lagi dia akan melahirkan dan memasuki masa nifas, dimana sebelum 40 hari, mereka tidak bisa melakukan hubungan suami istri.
" Mas."
" Apa? Sini." Rayyan menarik tubuh Mira, membuat tubuh bulat istrinya berada di pangkuannya, mendekap dengan lingkaran lengannya yang kokoh, walaupun kini lingkaran itu penuh, tapi Rayyan senang, membuatnya semakin mencintai istrinya itu.
" Apa aku gak menarik karena aku hamil?"
" Ngomong apa sih?! Siapa yang bilang begitu hem?"
" Kenapa mas enggak ngrespon aku pakai baju begini?" Mira menunduk, Rayyan kini tahu Ada yang dipikiran Mira.
" Siapa bilang? Mas susah payah nahan biar enggak lepas kendali. Kamu lihat sendiri tadi yang di bawah langsung bangun waktu kamu mainin ini." Rayyan menunjuk sesuatu yang ada di dada sebelah kirinya.
" Tapi kenapa mas enggak mau 'itu'? Padahal aku udah usaha buat bikin mas tertarik lihat aku pakai baju begini?"
Rayyan terkekeh, dia memperhatikan wajah cemberut Mira.
" Kamu enggak pakai baju kayak gini aja mas udah tertarik. Tapi trima kasih ya, udah usaha buat nyenengin mas, mudah-mudahan pahalanya berlimpah buat mamanya dedek."
Mira diam saja.
" Diaminin geh yank."
" Tapikan enggak berhasil mas." Mira menunduk, tangannya tanpa sadar bermain dengan pucuk kecil di salah satu dada Rayyan, di balik kaus yang masih melekat dan itu membuat Rayyan merasa geli.
" Makanya jawab pertanyaan mas yang tadi geh."
" Memang pertanyaan yang mana?"
Rayyan diam, Mira menunggu.
" Yang mana mas?" Mira mendesak karena sekarang dia penasaran.
" Kamu pengen?" Rayyan menulang pertanyaan yang dia lontarkan tadi, tetapi ternyata Mira sudah lupa dan sekarang dia bingung apa maksud Rayyan.
" Pengen 'itu'?" Tatapan mata Rayyan seperti lain, dan itu membuat Mira jadi kikuk sekarang.
Haruskah dia jujur kalau dia juga menginginkan 'itu'? Tapi bagaimana? Jelas dia malu.
" Yank." Suara Rayyan kini memberat, permainan Mira di pucuk dadanya yang tanpa sadar, dan penampakan tubuh dibalik kain transparan yang dikenakan Mira membuatnya kesulitan untuk menahan geleyar yang terasa begitu mendesak, apalagi bagian bawah sana sudah tegak, seharusnya Mira merasakan itu, karena kini Mira menduduki bagian itu.
Kini tangannya mulai bergerak menyusup gaun bagian bawah yang dipakai Mira. Mira yang tak menggunakan pelindung lain selain gaun itu, memudahkan Rayyan langsung menyentuh kulit tepat dibagian intinya. Mira kini tak bisa diam, tangannya mulai meremas lengan Rayyan yang ia pegang.
Apalagi kini Rayyan yang mulai aktif dengan bibirnya yang terbuka karena tak mampu menahan serangan di bawah sana, membuat Mira ikut aktif juga, membalas setiap gerakan yang dimainkan oleh Rayyan.
" Jawab mas sayang, kamu menginginkannya?" Mata sendu Rayyan menuntut jawaban Mira, Mira hanya bisa mengangguk, dan jawaban itu cukup untuknya mengambil tindakan lebih. Tanganya kini perlahan memindahkan tubuh Mira untuk berbaring di atas ranjang, dengan begitu dia memilih posisi teraman agar tidak berbahaya bagi kandungan Mira.
Setelah dirasa cukup bermain, dan Mira sudah siap, Rayyan kini memposisikan diri untuk melakukan penyatuan. Dengan begitu dia melaksanakan kewajibannya memenuhi keinginan sang istri yang ngidam tubuh papanya.😖
Jangan sampai nanti anaknya ileran hanya gara-gara ngidamnya enggak dituruti, toh mengabulkan permintaan yang ini bukan perkara yang sulit, bahkan jika diminta tiap hari, Rayyan akan dengan senang hati memenuhinya!