I LOVE YOU, ENCUS

I LOVE YOU, ENCUS
Instruksi Yang Salah Sasaran



" Ayo dihabiskan sayurnya."


Mira sedang menghadap dua mangkuk berisi sayur berkuah dengan jenis yang berbeda. Sayur lodeh buatan ibu Santi dan sayur asam buatan ibu Reni. Ngidam yang baru tersampaikan.


Rayyan hanya menggeleng di samping istrinya yang lahap menghabiskan sayur-sayur itu tanpa nasi.


" Enak yank."


" He'em. Mas mau?"


" Nanti aja, sama-sama bareng yang lain. Mama sama papa masih di jalan."


" Mereka udah berangkat kesini?" Mira menghentikan kunyahannya demi melihat Rayyan mengangguk.


" Sowan besan." Rayyan terkekeh.


" Harusnya kami yang mampir nak Rayyan, bukannya malah didatangi." Ibu Santi menjadi tidak enak hati, begitu pula dengan ibu Reni.


" Mana yang sempat bu. Papa sama mama jarang bisa pergi bareng siang-siang begini." Ucap Rayyan, mengalihkan perhatiannya pada meja yang sudah penuh dengan hidangan.


" Semur ayamnya nanti aja ya bu, takutnya dia mual."


" Apa masih belum bisa makan yang berbau amis dia?" Tanya bu Santi.


Rayyan menggeleng, bu Reni hanya tersenyum.


" Persis seperti ibu waktu hamil dia dan Sigit, enggak bisa makan yang berbau amis."


" Tapi enggak papa, yang penting sehat."


Mira mendorong satu mangkuk yang sudah kosong, kemudian menarik satu lagi.


" Bersyukurnya dia doyan makan sayur, kalau ibu waktu hamil Andre cuma bisa makan nasi tiwul sama ikan asin jambal."


Rayyan mengeryit mendengar nama menu yang disebutkan bu Santi.


" Nasi tiwul itu, nasi yang dibuat dari singkong mas." Mira menjelaskan.


" Apa enak?'


Mira mengacungkan ibu jarinya " Delicioso."


Tetap saja Rayyan tak mengerti dengan kata enak yang dinaksud Mira, karena wujudnya saja dia belum pernah melihat.


" Asalamualaikum."


Papa dan mama Sarah muncul di pintu yang sengaja tidak ditutup.


" Ma, pa." Mira berdiri, memeluk bergantian kedua mertuanya.


" Sehat-sehatkan ibu sama cucu oma?" Mama Sarah mengelus perut Mira.


" Sehat dong ma, siapa dulu yang jagain." Ucap Rayyan bangga, ikut menyambut mama dan papa Jo.


" Iyalah... Percaya mama." Mama menepuk bahu Rayyan dengan bangga.


" Eh... Mbakyu. Gimana kabarnya? Sehat semua kan?"


Mama Sarah langsung berlalu ketika bu Santi dan bu Reni keluar dari dapur.


" Alhamdulilah mbakyu, seperti yang dilihat, sehat."


Mereka saling bertukar cium pipi kiri dan kanan, dan bersalaman dengan papa Jo.


" Sigit sama bapaknya masih keluar sebentar pak Johan." Bu Santi yang bicara.


" Tidak apa-apa bu, bisa ditunggu. Kami memang hari ini khusus datang kesini, pengen ngumpul bareng keluarga besar. Mungkin Nathan dan keluarga juga sebentar lagi datang." Ucap papa Jo.


" Untung masaknya banyak." Ucap Rayyan.


" Kan tadi mas udah bilang kalau pada mau ngumpul, jadi aku minta ibu masak yang banyak. Walaupun pakai menu ndeso." Ucap Mira.


" Wah... Masak apa mbakyu?" Mama Sarah antusias langsung melihat isi meja.


Ada sayur lodeh, sayur asam, sambal


" Enak ini mbakyu." Puji mama Sarah.


" Itu Mira yang minta, katanya pengen makan sayur lodeh sama sayur asem." Ucap bu Santi.


" Pengennya sudah dari waktu awal hamil mbakyu, tapi waktu itu masih di Spanyol. Saya suruh pulang ke Tangerang setelah balik ke Bogor, tapi Rayyan gak kasih ijin."


" Iya, kami ngerti. Namanya juga suami ya begitulah mbakyu, terlalu kawatir."


" Lauknya kok enggak kelihatan?"


" Masih di dapur ma, takutnya dia muntah lagi kalau nyium bau ikan sama ayam." Rayyan yang menjawab.


" Iyalah... Nanti tinggal diambil aja pas makan."


" Asalamualaikum." 2G berlari masuk diikuti kedua orang tuanya.


" Waalaikum salam." Serentak semua menyahut salam dari kedua cucu yang makin pintar.


Gea, sekarang sudah sibuk dengan kegiatannya les piano dan biola, bahasa Prancis dan kalau masih punya waktu dia ikut mama Rita ke butik, membuat pola desain baju. Ingin jadi seperti mama, begitu katanya.


Kalau Geby sudah masuk play grup, punya suster khusus, tapi bu Rita lebih sering membawa ke butik setelah pulang sekolah.


" Maaf pak Johan, kami baru kembali. Mencari buku-buku untuk bahan mengajar." Ucap pak Subagio, ketika mereka sudah tiba di rumah Rayyan.


" Tidak masalah pak Subagio. Mari silahkan duduk."


" Sigit, gimana kabarnya? Terus ini..." Papa Jo mencoba mengingat wajah Sania yang pernah dia lihat sewaktu acara ijab kabul Rayyan-Mira.


" Calon mantu pak." Pak Subagio yang menyahut.


" Gak mau kalah kamu Git!"


" Tetap aja kalah dia pa, adiknya aja udah mau punya anak dua. Dia lamaran aja belum." Ejek Mira.


" Tenang dek, ntar langsung keluar 3." Sigit berkelakar, membuat Sania langsung bersemu, apalagi semua mata kini memandang ke arahnya.


Bug!


" Halalin dulu baru rencana." Mama Sarah tak terima.


" Siap oma!" Ucap Sigit sambil mengusap bahunya yang ditimpuk dengan majalah oleh mama Sarah.


" Harus itu! Jangan seperti..."


" He'em, saya oma." Mathew muncul bersama baby Khansa. Ajeng tak bisa ikut karena sedang dines pagi, itu berarti baru nanti lewat jam 3 sore dia baru pulang.


" Ngaku dia!" Mama Sarah melirik tajam wajah tengil Mathew yang sedang duduk di dekat Rayyan.


" Sudah kumpul semua ini, makan yuk." Rayyan mengajak para tamu berkumpul di meja makan berbentuk persegi panjang yang cukup untuk menampung seluruh tamu. Panjang benar mejanya ya.


Mereka makan dalam suasana hangat, tetapi Mira memilih duduk di sofa yang tak jauh dari ruang makan. Hanya berdua dengan baby Khansa sambil menikmati jeruk. Karena dia sudah kenyang memakan dua mangkuk sayur, walaupun tanpa nasi. Tak ingin ikut mendekat karena dia takut muntah mencium bau lauk. Hanya ikut menimpali obrolan jika dia nyambung.


" Asyem ya...." Ucap Mira saat melihat baby Khansa mengeryit sambil terpejam saat air jeruk masuk ke mulutnya.


" Mau lagi?"


Mira gemas melihat baby Khansa yang mengecap-ngecap bibirnya, dan mengerakkan tangan meminta lagi jeruk dari tangan Mira.


Tapi gerakannya terhenti saat perutnya mendadak mulas.


" Sssst." Mira merintih, tetapi kemudian dia melemas lega saat rasa mulas itu menghilang.


" Sama paman yuk." Rayyan mengambil alih baby Khansa dari pangkuan Mira.


" Mas udah selesai makannya?"


" Udah." Rayyan tersenyum sambil mengajak baby Khansa bebicara.


" Mamamam.... Ou..." Celotehan khas yang dikeluarkan baby Khansa membuat Rayyan gemas.


Mira ikut tersenyum, tetapi kemudian dia meringis kembali, merasakan rasa mulas dan tegang bersamaan dari dalam perutnya.


" Kenapa yank?" Rayyan memperhatikan wajah Mira yang seperti menahan sesuatu.


" Mulas."


" MET!"


" Hua.... ha....ha..."


Teriakan Rayyan membuat baby Khansa terkejut hingga menangis, membuat semua yang masih bercengkerama di meja makan menoleh bersamaan.


" Apa?" Mathew dengan polosnya menjawab teriakan Rayyan.


" Siapin mobil, mama titip Khansa." Rayyan segera bangkit menuju mama Sarah yang bingung dengan kelakuan Rayyan.


" Kamu kenapa sih?" Mama menerima baby Khansa yang sedang menangis kencang, lalu menimangnya.


" Mira mulas."


" MULAS!" Semua segera berdiri, berlari menuju Mira yang sedang santai menikmati jeruk di sofa.


" Katanya mulas?" Bu Rita bertanya.


" Tadi mbak, sekarang udah enggak."


Ucapan Mira membuat semuanya bernafas lega.


" Sering enggak?" Tanya ibu Reni.


" Baru dua kali bu, jangan kawatir."


" Tapi harus segera ke rumah sakit itu yank." Rayyan sudah kebingungan.


Mira melirik datar pada Rayyan yang sudah kalang kabut.


" Mas, dokter bilang masih 2 minggu lagi. Kalau nanti mau lahiran, katanya sakitnya semakin sering. Ini masih jarang, belum begitu sakit."


" Ayok ke rumah sakit." Rayyan kekeh ingin ke rumah sakit.


" Bentar, ngabisin ini dulu." Mira masih duduk santai sambil menyesap jeruk yang dilihat saja sudah asam, dan itu sukses membuat semuanya menelan ludah!


Melihat Rayyan berjalan mondar-mandir, Mira mengajak Rayyan duduk di sofa, lalu memberi instruksi.


" Mas yang tenang ya, tarik nafas, buang nafas. Lagi ulangi, tarik nafas buang nafas!" Rayyan dengan patuh mengikuti arahan Mira, membuat seluruh anggota keluarga tergelak tak dapat menahan tawa melihat tingkah Rayyan.


" Yang mau lahiran siapa, yang tegang siapa?"