
Mama Sarah beserta Opa and Nathan familiy hadir dalam acara pernikahan Sigit. Mereka semua berkumpul di rumah bapak Subagio, sedangkan keluarga Mira ada di rumah bu Santi, dan Sigit tentu saja kini sudah berada di rumah Sania sejak satu jam yang lalu sah menjadi suami Sania. Sedangkan bu Reni kini menginap di rumah bu Santi.
Acara pernikahan di kampung, tentu saja berbeda dengan resepsi pernikahan di kota yang memiliki banyak konsep.
Jika di kota garden party berkesan sangat mewah, tapi kalau di kampung jadi meriah, karena suguhan hiburan organ tunggal dan orkes yang bintang tamunya adalah biduan lokal, kalau di kota biasanya pihak WO sudah menyediakan paket lengkap, tinggal pilih mau minta biduan dari ibukota atau penyanyi profesional yang biasa disebut artis, tergantung permintaan dari pemakai jasa.
Kalau pesta di kampung, tak ada tamu yang makan sambil jalan-jalan, ngobrol dengan rekan kesana kemari, yang ada mereka duduk ditempat yang sudah disediakan setelah mengambil sepiring makanan yang menunya sudah disiapkan ditempat prasmanan.
Sambil menikmati alunan musik dangdut koplo berjudul pamer bojo ciptaan alm. Didi Kempot, para tamu terlihat sangat asik dengan piring masing-masing, begitu juga dengan keluarga besar Aquino. Walaupun jadi sorotan warga, tetapi mereka tak sungkan, bahkan kini mama Sarah terlihat ramah dengan tersenyum pada ibu-ibu yang berbisik-bisik di balik meja prasmanan.
" Ayo bu, bareng-bareng." Mama Sarah mengajak ibu-ibu ikut mengambil hidangan, tetapi mereka malah tersipu malu.
" Oh iya bu, silahkan dinikmati." Ibu-ibu perewang yang berseragam kebaya yang bertugas di prasmanan hanya mengangguk dan balas tersenyum ramah pada mama Sarah.
Mira masih menunggu Rayyan mengambil makan siang, dia tak ikut karena sedang menjaga si kembar bersama Ajeng dan Mathew. Sudah bisa dibayangkan tamu-tamu ini istimewa, karena selain keluarga besar Aquino dan Sigit serta keluarga bersar pihak perempuan, yang menyambutpun juga orang-orang pilihan di desa itu, termasuk keluarga Bobby dan tentunya Bobby yang kini berdiri di barisan penerima tamu di pintu masuk.
Matanya tak pernah lepas dari Mira yang terlihat begitu berbeda. Lebih cantik dan berkelas, tentu saja bukan hanya dari busana seragam yang dikenakan, tetapi dari perhiasan yang menghiasi leher, telinga dan tangan Mira yang terlihat sangat mahal.
Ternyata dia matre!
Itulah yang dipikirkan Bobby. Hatinya berkali-kali mencelos, seperti matanya yang memandang Mira dengan pandangan sengit. Tetapi jauh di dalam lubuk hatinya, dia menyesal sedalam-dalamnya pernah melepas Mira dengan kesalahan besar yang dilakukannya dulu. Jika itu tidak pernah dia lakukan, mungkin bukan pria tampan nan gagah itu yang ada di samping Mira, tetapi dirinya. Dan sialnya lagi, laki-laki itu ternyata adalah seseorang yang fotonya pernah dia berikan pada Mira waktu mereka taruhan menebak siapa jagoan yang menang saat balap motor ditampilkan di televisi. Dia akui semua terlambat dan itu karena salahnya. Kini Mira seperti tidak mengenal dirinya, bahkan memandang dirinya pun tidak!
Sombong sekali dia!
Begitu pikir Bobby, tetapi saat pandangannya yang tak pernah lepas dari Mira bertemu dengan mata Mira, dia hanya bisa terpaku, ketika sebuah senyuman dan anggukan di arahkan padanya dan itu oleh Mira.
Bobby tertunduk, tak berani lagi menatap meja ekslusif yang ditempati tamu-tamu ekslusif juga, dimana keluarga besar Aquino ada disana.
" Jangan lirik-lirik kesana Bobby! Jaga harga dirimu!" kalimat itu berasal dari perempuan yang dipanggil ibu oleh Bobby yaitu bu Siti.
" Nanti dia besar kepala melihatmu seperti ini!"
Bobby tak menghiraukan ucapan ibunya, memilih pergi dari barisan penerima tamu. Beralasan ingin ke toilet saat ditanya oleh petugas yang lain, aslinya dia tak sanggup menyaksikan kebahagiaan yang dia lihat tersaji di depan mata dari mantan terindahnya yaitu Mira.
Namun kali ini nasibnya memang sedang tak baik, saat dia menyelinap akan pergi, tak sengaja dia malah menabrak seorang wanita, dan ketika dia memastikan siapa yang dia tabrak, matanya terpaku dan hatinya serasa berdetak cepat, karena wanita itu tak lain adalah Ajeng, mantan istrinya.
" Mas Bobby, apa kabar?" tangan yang terulur hanya mampu dia pandangi, namun dia tak boleh terlihat seperti pecundang. Dengan senyum yang dipaksakan, Bobby menyabut tangan Ajeng.
" Baik. Bagaimana kabarmu?" basa-basi Bobby saat ini hanyalah untuk menutupi kehancurannya.
" Seperti yang dilihat..."
" Ma..." suara laki-laki di belakangnya membuat Bobby menoleh.
" Pa, kenalin. Ini mas Bobby." dengan santai tanpa beban, Ajeng memperkenalkan seorang laki-laki yang sedang menggendong balita pada Bobby, dan Bobby sudah bisa menebak bahwa itu adalah suami Ajeng, karena Ajeng memanggil dengan sebutan Pa, Papa.
Bobby, lagi-lagi tersenyum kikuk. Namun sang laki-laki nampak tak begitu peduli, karena setelah mereka bersalaman, Ajeng berlalu bersama suaminya meninggalkan dirinya yang hanya bisa memandang potret keluarga kecil yang bahagia.
Selamat atas kebahagiaanmu Jeng!
Bobby berbalik, menghilang dari hiruk pikuk keramaian, memilih pergi daripada menyaksikan drama kebahagiaan para mantan.
Kembali ke acara resepsi
Pemandu acara dengan riuhnya berceloteh di atas panggung, dan meminta sumbangan lagu dari para tamu panghantar pengantin.
Tentu saja, keluarga besar Aquino yang notabennya bule hanya diam di tempat. Namun suara pengantin pria yang kini berdiri di atas panggung bersama pengantin wanita, memanggil Mira untuk ikut naik ke panggung.
" Untuk saudari kembarku tercinta, silahkan naik kesini, kami menunggu." Sigit memegang mic, dan di sebelahnya ada Sania.
Mira hanya tersenyum sambil menggeleng. Terkadang membuang pandangan, seolah dia memang tak berminat untuk menanggapi permintaan saudaranya itu.
" Yank, naik." Rayyan menyenggol lengannya, namun Mira tetap menggeleng " Gak bisa nyanyi mas."
" Mau tak temenin?" tawar Ajeng.
" Kamu aja Jeng, aku mana bisa nyanyi." Mira tetap pada pendirian. Hingga semua mata tertuju padanya, tepatnya menungguinya untuk naik.
" Ayo nak, tunjukkan kebolehanmu." Mama Sarah menyemangati.
" Apa mau kita naik rame-rame?" tanya papa Jo.
" Cepetan, keburu anak-anak nangis!" pinta Rayyan.
" Naik aja kan?" akhirnya hanya itu yang bisa Mira katakan sebelum akhirnya dia naik ke punggung walaupun enggan.
Tak disangka, ternyata Sigit mulai bernyanyi, menyanyikan sebuah lagu yang akhirnya malah membuat air mata mengalir, karena judul lagunya bertema tentang ayah, yang kini tengah bahagia di sana.
Bukan hanya Mira, Sigit memeluk saudaranya saat melanjutkan bernyanyi, dan dua ibu mereka serta para hadirin ikut menyumbang air mata, mengingat di hari istimewa itu, sang bapak tak bisa menyaksikan kebahagiaan mereka.
" Sepertinya sedih-sedihnya di stop dulu, karena saya akan mempersembahkan sebuah lagu yang akan mengembalikan kisah haru menjadi hura." suara Rayyan tiba-tiba terdengar saat lagu yang dinyanyikan oleh Sigit berhenti dan berjeda dengan isak tangis.
Mira menatap tak percaya, jika suaminya itu bisa mengoprasikan alat musik berwarna putih dan hitam itu, sebabnya selama mereka menikah, Rayyan tak pernah terlihat bermain dengan alat musik itu, bahkan bernyanyipun jarang, kecuali bernyanyi lagu anak-anak sambil bermain dengan si kembar, itupun nadanya dibuat lucu selucu mungkin, agar anak-anak ikut terhibur.
" Minta mic nya kasih ke istri saya tercinta satu ya." pinta Rayyan.
" Kalau bisa di sambung ya yank." pinta Rayyan sambil melirik Mira, tetapi tangannya mulai menekan tuts piano, hingga terdengar alunan nada yang intro dari sebuah lagu yang Mira juga tahu judulnya.
Cinta Luar Biasa
Waktu pertama kali
Ku lihat dirimu hadir
Rasa hati ini, inginkan dirimu
Mira mendengar suara merdu Rayyan untuk pertama kali, dan dia terpesona, hingga tak berkedip memandang suaminya yang terlihat begitu berbeda saat ini....
Hati tenang mendengar
Suara indah menyapa
Geloranya hati ini
Tak kusangka
Rasa ini tak tertahan
Hati ini slalu untukmu
Rayyan memandang Mira, meminta Mira untuk bernyanyi... Dengan gemetar, Mira akhirnya ikut menyanyikan bagian reff dari lagu itu...
Terimalah lagu ini, dari orang biasa
Mereka bernyanyi bersama, namun saat bait selanjutnya Rayyan berhenti dan membiarkan Mira bernyanyi seorang diri...
Tapi cintaku padamu luar biasa
Aku tak punya bunga, aku tak punya harta
Yang kupunya hanyalah hati yang setia
Tulus padamu....
Rayyan tersenyum melihat Mira yang menyelesaikan reff sendirian, walaupun suara Mira terdengar bergetar, namun baginya itu sangat merdu.
" Begitulah rasa ini, yang selama ini aku rasakan untukmu, tak akan terlupa, tak akan terganti, walaupun waktu berlalu, dan musim berganti, bahkan sampai akhir nafas ini, selamanya hanya ada dirimu, satu untukku, selamanya." rangkaian kata yang menyentuh diucapkan Rayyan sambil bermain piano.
Bahkan saat Mira tak mampu lagi untuk bernyanyi, Rayyan tetap melanjutkan bait, demi bait, hingga lagu selesai, dan tepuk tangan meriah bergemuruh. Aneh ya, orang nyanyi hajatan di kampung kok ditepukin tangan!
" Trima kasih."
**SELESAI
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
Kita lanjut ke kisah Mathew dan Ajeng**
**2 Hari lagi launching.... Tetep minta dukungannya ya....
Terima kasih untuk yang masih setia, yang selalu kasih semangat, dan dukungan.
Tanpa kalian, karya ini tak berarti apa-apa, karena hanya dari like, vote, dan komen kalian novel ini bisa dikenal dan di hargai, dan karena kalian juga akhirnya novel receh ini bisa selesai.
Terima kasih sebanyak-banyaknya buat kalian.
Semoga kalian selalu sehat, selalu dalam lindunganNya, dijauhkan dari segala penyakit, dan bisa terus nemenin author berkarya di novel selanjutnya.
Trima kasih untuk yang kasih pujian pada novel karya author, yang selalu menyayangkan 'karya bangus tapi kok like sedikit' gak masalah, karena author nulis hanya sekedar hobby, jika suatu saat nanti karya ini bisa lebih dikenal seperti doa kalian, AMIN, itu berarti doa kalian terjawab, dan berkah untuk author.
Sekali lagi terima kasih untuk kalian, jangan bosan ya....
Jangan lupa, jempolmu semangatku...
Love you all
FILLIA**