
Mendengar ucapan Rayyan, muncul pikiran jahil dalam pikirannya.
" Emang mas udah punya anak? Kok mau jadiin Mira ibu buat anak-anak mas Rayyan?" Suara Mira terdengar polos, tapi Rayyan melongo dan detik berikutnya mendengus.
" Disambungin sih yank ngobrolnya!" Suara kesal Rayyan semakin terdengar frustasi. Mira ingin tertawa tapi takut dosa, ternyata Rayyan mudah untuk dijahili, lanjut ahhh....
" Ya mas tadi kan bilang ' Udah gak sabar pengen jadiin Mira ibu buat anak-anak mas Rayya'."
" Ingin cium kamu, aku!" Rayyan makin gemes.
" Kek mana caranya?" Tantang Mira.
Rayyan mencoba mengatur nafasnya yang bercampur emosi sehingga untuk dihembuskan terasa berat. Dia tahu sekarang sedang diuji oleh makhluk yang sedang ditelponnya ini.
" Jangan ngledek, mentang-mentang jauh."
" Justru jauh makanya ngledek, mas juga aneh mau cium kok jauhan."
Lampu hijau menyala! Rayyan jadi tersenyum, dia jadi merencanakan sesuatu saat bertemu dengan Mira nanti.
Lihat aja, jangan bangunkan singa tidur sayang...
Emosi Rayyan seketika menjadi hilang, dia malah senyum-senyum, membuat Mira jadi bingung.
" Hari jumat masih lama mas." Ingat Mira.
" Apa hubungannya sama hari jumat." Balas Rayyan, masih dengan senyuman yang mengandung banyak arti.
" Tuh senyum-senyum sendiri. Kumat kah?"
" Pengen aja senyum, emang gak boleh."
" Ya boleh, tapi kan harus ada alasannya, bukan senyum gak jelas gitu."
" Alasannya jelas kok yank."
" Emang apa?" Tanya Mira penasaran.
" Rahasia!"
" Ya udah matiin aja, lanjutin senyum-senyumnya, terus simpen rapet rahasianya." Mira mencembik, gantian kesal dengan sikap Rayyan.
" Dikasih tau sekarang juga gak bisa ngapa-ngapain." jawab Rayyan.
" Emang apa sih?" Mira tambah penasaran.
" Rahasia."
" Aku matiin nih." Ancam Mira.
" Jangan donk yank, gitu aja marah. Apa hari merah?"
" Hari merah? Apaan tuh?" Mira gak nyambung, makanya bingung.
" Biasanya perempuan kalau lagi dapet kan suka marah-marah." Jelas Rayyan.
" Hapal banget ya mas kebiasaan perempuan?!" Sungut Mira.
Duh! Salah lagi
" Mas cuma sering denger aja dari temen-temen." Ralat Rayyan.
" Dari temen apa dari para mantan?!" Mira masih dalam mode on 'kesal'.
" Temen sayang, mantan gak ada, gak punya juga." Jawab Rayyan lirih diakhir kalimat.
" Bohong! Masa iya gak punya mantan."
" Ciuz yank, gak ada dan gak punya. Maunya satu aja langsung jadi."
Cess.... Adem hati adek bang
Mira senang, namun hanya disimpan dalam hati mendengar penjelasan Rayyan, dia masih cemberut.
" Apa masih gak percaya?" Tanya Rayyan, karena melihat Mira yang cemberut.
" Masa iya seumuran mas gak punya mantan?"
" Mas gak ada waktu buat begituan. Waktu mas habis buat ikut tur balapan dan pekerjaan mas, emang aneh ya kalau umur segini gak punya mantan?" Tanya Rayyan.
" Ya.... Begitulah."
" Niatnya mas tuh gak ingin nikah, tapi gara-gara kamu jadi bubar rencananya."
" Kok gara-gara aku?" Mira tentu bingung, kenapa dia yang jadi alasan Rayyan berhenti jadi rider.
" Ya kamu, emang siapa lagi? Kalau mama yang minta, gak ngaruh yank."
" Emang kenapa sama aku mas? Kalau mau lanjut juga Mira gak papa. Mas mikir Mira jadi penghambat buat cita-cita Mas, mas jadi gak bebas gara-gara Mira? Jadi mas anggap Mira penghalang untuk kesuksesan mas, kalau begitu berhenti aja sampai sini mas, mumpung belum terlanj......"
" Stop!" Cegah Rayyan, dia jadi bingung kenapa Mira punya pikiran seperti itu.
" Bukan itu maksud mas. Sekarang jawab dulu pertanyaan mas ya, apa kamu lagi dapet?"
Mira mengangguk, namun cemberut, bahkan kini menutup wajahnya dengan selimut.
Puft.... Ternyata benar, emosi wanita saat pms emang cepet naik. Sabar Rayyan.
" Kamu bukan penghambat untuk mas, tapi karena kamu datang dalam hidup aku, aku jadi memilih mengambil keputusan untuk berhenti dari dunia balap karena hatiku yakin kamu adalah orang yang selama ini aku cari."
" Tanya sama mama biar kamu percaya! Udah ya, jangan marah."
" Ya kalau mas masih mau ikut balapan, ya ikut aja." Jawab Mira masih di dalam selimut.
" Gak bisa gitulah yank, jadi pembalap itu waktunya habis di sirkuit, sedangkan aku maunya selalu sama kamu."
Serrrr.... Benarkah?
Mira perlahan membuka selimutnya, namun hanya memperlihatkan sampai mata. Dia menatap mata Rayyan yang sendu.
" Maaf." Ucap Rayyan.
Mira jadi luluh, ia membuka semua penutup wajahnya.
" Mana senyumnya?"
Mira hanya memasang wajah datar, masih ada sedikit rasa kesal dihatinya.
" Mas aja pengen cepet pulang, pengen ketemu sama kamu, pengen peluk kamu, gak mau jauh lagi dari kamu. Kalau tetep jadi rider, kayaknya bisa mati gara-gara nahan rindu yank." Keluh Rayyan.
" Itulah alasan mas berhenti setelah musim ini, karena hanya kamu yang bisa menggantikan dunia mas yang sekarang."
" Jangan marah ya, maafin mas."
Mira jadi merasa bersalah, karena pikirannya yang salah tentang ucapan Rayyan.
" Mira yang salah mas, Mira aja yang gampang emosi."
" Apa masih ada masalah sama keluargamu?"
" Mira gak tahu apakah ini masih disebut masalah. Mereka sempat datang ke rumah sehari sebelum ibu menikah."
" Siapa? Apa bapakmu?" Tanya Rayyan.
" Juga ibu dan mas Sigit." Jawab Mira.
" Mereka datang hanya ingin memberi tahu kalau kami, Mira sama mas Sigit itu saudara kandung, kembar. Itupun hanya untuk mencegah mas Sigit yang ternyata punya perasaan sama Mira."
" Mas juga lihat itu saat dia melihatmu." Ucap Rayyan " Tapi mas gak tahu kalau kalian ternyata kembar, hanya saja kalian memang mirip." Lanjutnya.
" Ya... Kami memang memiliki kemiripan. Tapi kedatangan mereka malah membuat Mira merasa sakit." Mira menelan ludahnya saat merasakan hatinya yang berdenyut nyeri mengingat sikap kedua orang tua yang katanya kandung untuknya.
" Mereka hanya memberi tahu, tapi tidak menganggap Mira adalah anak mereka. Nyatanya seorang ibu yang katanya melahirkan Mira tak sedikitpun ingin menyentuh apalagi memeluk Mira saat kami bertemu. Bahkan dia melihat Mira seperti orang asing. Beruntung Mira memiliki ibu lain yang selalu memberikan kasih sayang untuk Mira." Air mata Mira mulai merembes keluar.
" Ibu kandungmu begitu?" Tanya Rayyan, hatinya iba melihat Mira yang sedih.
" Itulah kenyataannya mas, seolah dia percaya apa kata bapak." Mira menelan ludahnya, sakit sekali dia ingin melanjutkan kalimatnya.
" Memang apa yang dikatakan bapak?" Tanya Rayyan.
" Bapak mengatakan bahwa Mira sudah mati sesaat setelah lahir." Mira sesenggukan setelahnya, Rayyan jadi merasa tak tega.
" Syut... sudah ya, jangan menangis."
" Mira ingin berusaha ikhlas mas, tapi rasanya kenapa berat sekali."
Rayyan juga bingung, apalagi melihat Mira yang menangis begitu, hatinya terasa pilu. Seharusnya dia tak menanyakan itu tadi. Sekarang Rayyan jadi menyesal.
" Menagisnya ditunda dulu ya yank, sisain buat nanti kalau mas pulang."
Mira terdiam, ia memandang Rayyan. Aneh.
" Nangisnya udahan. Mas bingung kalau kamu kayak gitu."
Mira menyeka air matanya " Mira aja yang baperan." Jawab Mira disela mengusap sisa air dipipinya.
Rayyan diam saja, tak ingin menyahuti ucapan Mira. Dia sudah salah tadi mengulik masalah Mira tentang keluarganya, dan sekarang malah membuat Mira jadi menangis.
" Maaf, Mira cengeng." Mira berusaha tersenyum, tak dipungkiri hatinya sedikit lega, berhasil mengeluarkan sedikit beban dihatinya.
" Jangan nangis disaat mas gak ada, besok kalau mas pulang aja nagislah sepuasnya."
" Apa mas cuma mau lihat aku nangis?" Sungut Mira.
" Bukan cuma nangis, tapi juga tersenyum, tertawa, semuanya, mas pengen lihat."
" Berarti telponnya matiin aja."
" Gitu lagi."
" Ya kan kata mas lihat Mira nangis, senyum, ketawa pas mas pulang." Jawab Mira.
" Iya... iya..... Ya sudah, sekarang mas pengen lihat kamu tidur, istirahat udah malam." Rayyan melirik jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan tengah malam.
" Udah malam ya." Mira ikut melihat jam yang menempel di dinding.
" Bobo ya."
Mira mengangguk, ia juga merasa ngantuk, apalagi setelah menguras air mata, matanya sekarang terasa berat.
" Mas juga tidur."
" Iya... Selamat malam sayang."
" Malam juga mas."
" Met bobo."
" He'em."
" Love you."
" Love you too."
" Emmuach."
" Besok aja itu, kalau ketemu." Jawab Mira, membuat Rayyan tersenyum.
" Kayak orang gila nyiumin hp." Celetuk Mira.
" Ealah yank, romantis dikit kenapa?!" Protes Rayyan.
" Lebih suka yang real mas, ketimbang bayangin yang enggak-enggak." Jawab Mira.
" Bisanya juga baru bayangin yank."
" Pulang geh."
" Mulai lagi.... Gemes!"
" Udah tidur gih! Udah malam."
" Iya, ini mau tidur, mas aja yang ngomong terus."
" Ya kamu mau tidur, diajak ngomong nyahut terus."
" Kok nyalahin Mira sih mas." Mira tak trima.
" Bukan nyalahin yank, kalau tidur itu diem, mejem, bukan diajak ngomong tapi jawab terus."
Mira langsung diam, dan memejamkan matanya sesuai ucapan Rayyan, hingga beberapa waktu tak ada suara. Rayyan ingin tertawa, melihat Mira memejamkan mata terpaksa.
" Kalau mejem ya mejem aja, jangan ngintip." Goda Rayyan.
" Maaassss!"
" Hahhahaha......"