I LOVE YOU, ENCUS

I LOVE YOU, ENCUS
Jengkel



Oma mengantar 2G yang geger ingin bertemu sang Encus kesayangan. Akhirnya mereka janjian bertemu di toko milik oma, sedangkan bu Rita ibunya 2G sedang ada fashion week di luar kota, jadilah oma yang mengasuh kedua cucu yang berbeda watak itu.


" Apa bener kita bisa ketemu ma Encus, oma?" Tanya Gea tak percayalah, karena seharusnya Encus miliknya pulang ke rumahnya bukan bekerja di toko oma.


" Ncus Eby ya oma?" Si gembul ikut berceloteh.


" Iya, Encus ada di toko. Kita kesana ya."


Oma menggiring kedua cucunya masuk ke mobil, dua-duanya duduk di belakang, tidak ada yang mau menamani oma duduk di kursi depan.


" Jaga adikmu Gea!"


" Beres oma." Gea mengacungkan jempolnya sambil tersenyum.


" Nti ncus awa uwang ya oma?" pinta Geby.


" Encus kerja, jadi tidak bisa pulang."


" Di rumah juga Encus kerja kan oma, kenapa gak di rumah aja, malah di toko? Apa Encus gak betah di rumah Gea gara-gara Gea nakal?" nada bicara Gea yang seolah bersalah itu membuat oma susah untuk menjawab.


" Nanti tanya sama Encus langsung aja ya?"


" Ok. Nanti Gea mau rayu Encus biar pulang ke rumah." Tekad Gea, sedang oma merasa bersalah pada cucunya itu.


Kenapa harus rebutan sama cucu sendiri, harusnya Mira berada sama mereka bukan malah kerja di toko. Tapi kalau kerja jadi baby sitter lagi, apa kira-kira boleh sama si Rayyan ya? Aduh, kenapa jadi bingung begini?


Oma baru memarkir mobil di halaman toko, namun anak-anak sudah lebih dulu turun dengan Gea yang membantu Geby. Mereka berlari masuk ke toko dan mendorong pintu kaca yang arahnya bertuliskan 'WELCOME'.


" Encuuuuussss." Suara teriakan 2G yang mengagetkan para karyawan yang sedang berkonsentrasi dengan pekerjaan, sehingga mereka otomatis berpindah fokus pada 2 bocah yang sedang berdiri di tengah ruangan.


Mira yang sedang berada di ruangan oma langsung ke luar, matanya membola melihat 2G yang langsung menubruk dirinya.


" Encuuus."


" Hey...." Mira hampir kualahan menjaga keseimbangan untuk menahan tubuh dua bocah yang kini menempel padanya.


" Kangen." Ucap Gea.


Sedang si gembul melambai minta di gendong. Mira ragu apakah tangannya sudah bisa untuk mengangkat beban berat atau belum, sedangkan rasa sakit saja masih terasa jika salah digerakkan. Beruntung oma masuk saat itu.


" No! Tidak boleh minta gendong. Katanya tadi cuma mau main, ayo sana main di ruangan oma." Ucap oma sambil menggandeng tangan gembul masuk ke dalam ruangannya.


" Kenapa Encus disini?" nada protes dalam pertanyaan Gea membuat Mira mencari jawaban yang pas untuk tidak membuat anak itu kecewa.


" Encus pengen nambah pengalaman."


" Apa kerja di jadi Encus Gea gak ada pengalamannya? Kok cari pengalaman kerja di toko oma?" Kritis juga anak ini.


" Bukan begitu, Encus hanya ingin belajar berbisnis, kalau mengasuh sudah bisa. Nah nanti kalau sudah bisa semua, Encus kan bisa kerjakan keduanya." jawab Mira.


" Coba sekarang belajar bekerja sambil mengasuh Encus, latihan. Siapa tahu berhasil." Kata Gea dengan seringai yang sulit untuk dipahami.


Oma menggeleng, seolah mengatakan ' Jangan' karena oma sudah paham dengan sifat Gea yang pada saat-saat tertentu akan berulah dan membuat semua orang merasa kualahan dengan tingkahnya.


" Kita mulai sekarang ya Encus."


Mira bingung bagaimana dia akan bekerja sambil mengasuh kedua anak ini, sekarang saja Geby sudah menarik-narik ujung rok yang ia kenakan.


" Encus, Eby au poop."


" Iya yuk, kita ke toilet." Mira menggandeng tangan si gembul. Sedang si Gea yang tahu Mira akan mengantar Geby langsung mencegah Mira.


" Encus, makan."


Mira berhenti, dia mencoba untuk mengatakan nanti dulu, tapi Gea keburu membawa tempat makan dan menyodorkannya.


" Suapin."


" Encus, poop." Geby meringis menahan perutnya yang mulas


pyuuut


Bau semerbak memenuhi ruangan oma, oma segera menghampiri Gea.


" Makan sama oma." Oma mengulurkan tangan meminta tempat bekal, tetapi Gea tak memberikannya.


" I want Encus."


" Mira, jangan dengarkan Gea, antar Geby ke toilet."


" Iya oma."


" No! Encus sama Gea, oma sama Geby."


Geby menjerit seketika saat ada sesuatu yang sudah keluar dari dalam celananya. Dia ngompol, dan itu membuat Geby merasa jijik.


" Ncus, iik.... Hiks.... Hiks...."


Ya, Geby adalah anak yang tidak tahan dengan sesuatu yang basah ataupun lembek, jadi dia merengek minta segera ke toilet, sedangkan si Gea makin menjadi.


" Ke toilet sama oma dek, kakak mau makan disuapin Encus."


Mira mencoba tak menghiraukan Gea, dia mengangkat Geby dengan mengapit di salah satu ketiaknya hingga dia merasa kesulitan, namun bagaimana lagi, tangan satunya belum bisa digunakan untuk mengangkat benda berat, dan Geby adalah salah satu benda berat.


" Encus!" Teriak Geby.


" Kita pulang kalau kamu nakal!" Hardik oma. Beginilah pusingnya oma kalau harus memegang kedua cucunya, terutama Gea yang punya sifat susah diatur, apalagi jika dia merasa kecewa maka dia akan mengadakan aksi protes dengan caranya, dan ini adalah salah satunya.


" Gea belum main sama Encus." Tolaknya.


" Kamu nakal!"


" Bukan nakal, tapi Encus punya Gea, kalau Encus pulang ke rumah Gea, Gea mau jadi anak baik." Jawabnya.


" Oma telpon papa kamu." Ancam oma.


" Gea gak takut oma." Cibirnya.


" Kenapa kamu tidak seperti papamu, kenapa sifat om mu waktu kecil menurun di kamu?" keluh oma.


" Berarti aku keponakannya oma."


Oma berdecak kesal, dia seperti dejavu mengurusi Gea, emosinya meluap sama ketika dulu mengasuh si Rayyan.


" Oma mau ajak adikmu ke taman bermain." Oma mencoba menjebak si Gea " Tapi karena kamu nakal, kamu tidak boleh ikut" Lanjutnya.


" Asyik, aku bisa duaan sama Encus. Oma pergi sekarangkan?" Gea malah tertawa senang. Membuat oma kesal saja.


" Kamu pulang, di rumah sama mbak Sri." Jawab oma.


" Mbak Sri kan cuti oma."


" Kalau sudah tua yang begitu, pelupa."


Mira keluar dari kamar mandi bersama Geby yang sudah berganti pakaian. Oma menyeringai, ternyata mengalihkan perhatian Gea tak susah, hanya dengan diajak ngobrol saja sudah lupa.


" Asih Ncus." Ucap Geby sambil ikut duduk di samping Geby.


" Ncus maam." Pinta Geby.


" Encus makan." Pinta Gea.


Kumat! Oma mendengus lagi. Ia duduk di samping Geby sedangkan Mira ia minta untuk duduk di samping Gea.


" Begini Mir, susahnya punya anak." Gerutu oma sambil membuka bekal untuk kedua cucunya.


" Saat mereka sudah besar, semua akan berubah menjadi senyum oma." Mira ikut membantu menyuapi 2G.


" Ya, Encus bener oma, saat Gea sama Geby sudah besar, oma sudah tidak bisa menyuapi kami lagi."


" Oma juga malas kalau harus menyuapi kamu terus.... Aaaaa." Oma menyodorkan satu suapan besar ke mulut Gea.


" Makanya Gea suka disuapin sama Encus, aaaaa... em." Gea malah mengambil tangan Mira yang akan menyuapi Geby, dan melahap makanan Geby, membuat Geby menangis kencang. Oma melotot.


" Salah kalian juga, kenapa oma menyuapiku kalau duduknya saja di dekat Geby?"


Oma dan Mira saling pandang, dan benar saja yang dikatakan oleh Gea, dan baru menyadari kalau Geby menagis karena tanganya terhimpit paha Mira.


" Ups... Maaf." Mira meniup-niup jari-jari gembul itu sambil sesekali mengelusnya.


Emang kadang orang tua suka kehilangan konsentrasi saat menghadapi anak yang suka bikin ulah.


🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹


" Malam yank."


Rayyan menyapa Mira yang sudah muncul di layar hp, meraka seperti biasa melakukan panggilan via video call.


" Malam mas."


Mira berguling, mencari bantal untuk meletakkan hpnya. Begitu selesai, dia membenarkan letak kepalanya di bantal sambil tidur miring.


" Tumben rebahan?" Tanya Rayyan, karena biasanya saat dia telpon, Mira selalu mengangkat dalam posisi duduk.


" Capek." keluh Mira.


" Apa oma kasih kamu kerjaan berat?"


Mira menggeleng.


" Lalu?"


" Oma bawa Geby sama Gea ke toko, dan Gea bikin ulah lagi kayak dulu." Jelas Mira.


" Kenapa begitu?"


" Dia kecewa aku gak kerja di rumahnya mas. Kalau Mira jadi susternya anak-anak lagi gimana?" Tanya Mira pada Rayyan.


Rayyan terdiam. Dia bukannya tak mau mengalah dengan dua keponakannya itu, tapi dia juga ingin Mira bekerja yang sesuai dengan ijazahnya. Setidaknya punya pekerjaan yang layak, walaupun akhirnya dia akan meminta Mira berhenti bekerja jika mereka sudah bersama nanti.


" Mas." Panggil Mira, Rayyan tersentak.


" Harusnya mereka tidak tergantung padamu. Apa ibunya tidak bisa menghandle anak-anak, hingga cari perhatian pada orang lain? Apa bekerja lebih penting ketimbang mengurus anak!" Rayyan terlihat kesal, jelas dari kata-katanya yang menggerutu dan wajahnya yang terlihat jengkel.


" Semua anak penting mas dimata orang tua."


sanggah Mira.


" Tapi nyatanya lebih berat kerjaan daripada anak." Sungut Rayyan.


" Mereka juga bekerja untuk anak mas." Mira mencoba melihat dari sudut pandang bu Rita.


" Mereka tidak miskin Mira, mas Nathan itu CEO kau tahu berapa gajinya? Bisa untuk beli 1 unit rumah setiap bulannya, kenapa tidak salah satu saja mengalah untuk mengurus anak." Protes Rayyan.


" Bu Rita juga bekerja di butik sendiri mas, jadi dia harus menjaga kualitas desain baju, Dan mungkin pelanggan hanya puas jika dia yang mendesain."


" Tetap saja anak lebih penting." Rayyan memang selalu tak sepaham dengan kakaknya tentang istri dan anak. Ingin mendukung istri berkarir, tapi anak-anak tak terurus.


" Kasihan mereka."


Mira tersenyum mendengar Rayyan yang seolah membela keponakannya.


" Mereka itu kadang sakit aja orang tuanya tidak tahu. Padahal saat kita sakit, obat pertama yang kita butuhkan hanya perhatian dan kasih sayang, tapi anak-anak sekecil itu harus berjuang untuk menjadi kuat dan sembuh dengan perhatian dari orang lain. Sedangkan orang tuanya malah sibuk dengan bekerja, apa dikira dengan uang yang didapat bisa menggantikan kasih sayang."


" Kemarin Gea sakit, bukan ibunya yang dicari tapi kamu. Jika Gea itu diibaratkan suami, istrinya pasti sakit hati."


" Kok gitu mas?"


" Ya iya, masa suami sakit bukan istrinya yang dicari, tapi orang lain. Pastikan istrinya sakit hati."


" Itukan salah istrinya." Sanggah Mira.


" Ya emang salah istrinya, makanya kalau punya suami diperhatiin."


" Mas itu nyalahin siapa? Istri siapa? suaminya juga siapa? Perasaan awal bicara kita bahas Gea sama Geby." Protes Mira, karena dia merasa Rayyan mulai enggak nyambung.


" Nyambung dikit kenapa yank, itu ibaratnya."


" Aku tahu."


" Tapikan mereka baik-baik saja mas hubungan suami istrinya, ya walaupun anak-anak sulit dikendalikan."


" Apa yang ibumu lakukan untuk mengendalikanmu agar jadi penurut?" Tanya Rayyan.


" Ibu tidak pernah mengendalikanku, hanya memberiku tanggung jawab pada diri sendiri, kalau dibilang penurut aku bukan tipe penurut."


" Tapi ibumu sangat menyayangimu walaupun bukan ibu kandungmu."


" Ya kalau itu tanya aja ke ibu langsung mas, aku gak paham."


" Harus paham dong, kan suatu saat juga jadi ibu."


" Itu mah gak butuh pemahaman mas, rasa sayang ibu ke anak itu naluri alami."


" Apa kalau nanti kamu jadi ibu juga seperti ibumu?"


" Bisa jadi, emang kenapa?"


" Jadi gak sabar pengen jadiin kamu ibu dari anak-anakku.... Huh