I LOVE YOU, ENCUS

I LOVE YOU, ENCUS
Dondong?!!?



" Pancen wes dadi lagehane nek wong wedok ki tukang nesu( Memang sudah jadi sifatnya kalau perempuan itu suka marah)." Ucap Alex sambil menggendong Alexi, sementara Xandra sudah entah kemana bersama Liam.


" Yo kui gara-gara kowe( Ya itu gara-gara kamu)"! Rayyan menyalahkan Alex, biang kerok pertama yang membuat masalah menjadi runyam.


" Ngomong bahasa planet mana ya? Aku gak paham!" Mathew bingung sambil garuk-garuk kepala.


" Planet Jogja!" Ucap Rayyan dan Alex serentak.


" Pantesan aku ora weroh ( Pantesan aku tidak tahu), tempatnya jauh gitu!" Mathew menunduk, mengambil tubuh Khansa yang nglesot di bawah meja.


" Lha terus tadi kamu ngomong pakai bahasa apa?" Tanya Rayyan.


" Bahasa jawa." Ucap Mathew dengan santainya.


" Nglagati Mathew ki suwe-suwe gemblong ( Nuruti Mathew itu lama-lama gila)" Rayyan berseloroh.


" Lah gurune sopo disek? Koe lho dilawan!( Lah gurunya siapa dulu? kamu lho dilawan!"


" Gara-gara kedatangan orang Jogja jadi ngomong bahasa planet. Deloken kwi anakmu plonga-plongo ora mudeng ( Lihat tuh anakmu diam aja gak maksud)" Rayyan menunjuk Khansa yang bingung papanya ngomong apa.


" Ja-wa." Mathew mengeja untuk Khansa.


" Waw-wa." Khansa menirukan.


" Jangan ajarin pake bahasa yang gak dia ngerti mas. Bahasa Indonesia aja belum bisa ngomong." Ajeng datang, setelah membantu Mira, begitu pula Xandra yang menggandeng Liam di belakangnya, tanpa sadar di belakang Liam ada makhluk lain.


" Ihhhhhh..... Kamu itu ngapain sih, jangan ikut-ikutin aku terus. Sana... Ih." Liam menampik tangan gembul yang memegangi ujung jasnya.


" Ndaaaaa........." Rengeknya.


" Hehehehe...." Geby tertawa melihat Liam merengek hampir menangis.


" Ya ampun mbot, jangan! Temennya nangis tuh." Rayyan membantu melerai agar Gaby melepas ujung jas Liam yang di pegang erat oleh Geby.


" Ndak au om Ayyan, Eby ndak au yepasin." Geby tetap kekeh, dan makin erat memegang ujung jasnya Liam, membuat Liam ketakutan.


" Nanti bisa sobek itu, jangan nakal Geby, No!" Rayyan memperingatkan dengan memperlihatkan jari telunjuknya.


" Ayok cobek yanti mama yang anti, mama unya anyak yang beginyi om, api ayok yang anteng ayak inyi ndak ada ( Kalau sobek nanti mama yang ganti, mama punya banyak yang begini om, tapi kalau yang ganteng kayak gini gak ada)" Geby malah menyolek dagu Liam, membuat Liam menangis ketakutan, langsung memeluk erat bundanya.


" Ndaaaa....."


" Gak papa Lee, dia cuma mau berteman." Bujuk Xandra.


" Gak mau, Lee gak mau berteman sama dia, dia nakal. Baju Lee ditarik terus... Lepasin enggak, kalau enggak dilepas tak pukul nanti!" Lee berbalik, menganggkat tangan ke atas, seketika orang dewasa langsung melerai.


Rayyan langsung mengamankan Geby, sedangkan Xandra langsung menangkap tangan Lee, yang lain berteriak histeris, hingga Khansa nangis.


" Huaaaaa.... Papaaaaaaa." Khansa sembunyi di leher Mathew.


" Ndaaaa....." Alexi menjerit meminta gendong Xandra, padahal sudah digendong Alex.


" Ya ampun! Kenapa-kenapa? Kok jadi nangis berjemaah begini?" Oma Sarah datang.


" Geby ganggu anaknya Alex ma sampai ketakutan." Jelas Rayyan.


Oma menatap mata bulat Geby minta penjelasan.


" Anteng oma.... Hihihi." Tunjuk Geby pada Liam yang melotot penuh amarah.


Oma menepuk jidatnya, merasa kalau sifat Gea kini pindah ke Geby.


" Ada om Andre."


" Om Andye udah datang oma?" Tanya Geby penuh harap.


" Sudah, ayok kita temui om Andre."


Seketika Geby langsung menyambar uluran tangan oma dan menggeret tangan oma agar segera mempertemukannya dengan Andre.


" Saya tinggal dulu ya." Pamit oma sambil melambai.


Semua merasa lega, Liam kembali tenang sambil membetulkan jasnya, dan mengelus bekas cengkeraman tangan Geby di ujung jasnya.


Khansa dan Alexi sudah tenang, Ajeng dan Xandra membawa keduanya untuk menjauh dari para papa sableng.


" Mas, acara mau mulai." Mira memanggil Rayyan.


Ketiganya langsung beranjak menuju tempat yang sudah dipersiapkan, dimana baby twins, sudah dipamerkan di publik hingga kamera menyorot kedua baby lucu yang tertidur pulas, tanpa terganggu dengan keramaian.


Ucapan dari rekan bisnis, saudara, karyawan dan team Rayyan yang dari indonesia, para sosialita teman mama Sarah, dan tentu dari para sahabat Rayyan kalau Mira hanya Sania dan bu Retno yang ikut hadir mewakili orang desa Mira.


Suasana sangat meriah, apalagi saat pengumuman nama kedua baby, semua cukup antusias.


Mira dengan luwesnya berswafoto, tersenyum kesana kemari, seperti tak ingat jika sedang ngambek dengan Rayyan.


Rayyan ikut alur, mumpung istri lupa. Ikut berbincang ramah dengan para tamu.


Begitu pula dengan keluarga Alexan, karena yang diundang rata-rata orang bisnis, jadi acara ini seperti gala diner yang diselenggarakan khusus untuk para pebisnis. Maka dari itu, kesempatan ini juga digunakan oleh papa Jo untuk memperkenalkan pewaris baru perusahaan Johan group's, yaitu Azzam Putra Aquino.


Sudah jadi kesepakatan bersama saat Rayyan dan Jonathan masih muda. Bahwa Jonathan lebih dulu menjadi pewaris, baru setelah itu keturunan dari Rayyan. Seolah rencana itu diridoi dengan lahirnya keturunan Putra satu-satunya dari keturunan Aquino yaitu anak dari Rayyan.


Jadi untuk anak-anak Nathan bebas untuk menentukan punya cita-cita apa, tidak harus terbebani dengan perusahaan. Tetapi jika ingin bekerja di perusahaan, maka boleh-bolah saja.


Tapi mama Sarah ternyata sudah merencanakan secara matang, semua kebagian ternyata.


Bukan hanya bu Rita yang mendapat butik, Mira mendapat toko perhiasan, tetapi Geby, Gea dan Azzura juga mendapatkan satu-satu toko kain milik oma Sarah yang terletak di pasar Bogor, Cibinong, dan satu lagi di Gunung Putri. Tetapi Rayyan ternyata lebih dulu mempersiapkan masa depan Azzura untuk menggantikan Mathew suatu saat nanti.


Yah... Rayyan ternyata memang pria matang yang sudah merencanakan semuanya dengan matang. Bahkan Khansa sudah mendapat warisan satu dealer sebagai hadiah atas kesetiaan Mathew padanya. Mathew menolak, tetapi bukan Rayyan jika tak cerdas, mengatasnamakan daeler atas Khansa, jadi mau tak mau Mathew harus menerimanya juga.


Lumayan khan?!


🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹


Acara selesai, waktunya sayonara.


" Mr. Johan, kami sekeluarga pamit undur diri." Alex berucap dengan sopan pada papa Jo.


Rayyan hampir meledak melihat bagaimana sopannya Alex pada papanya.


Begitu pula dengan Mathew.


" Anak kranton pulang kampung..... Wkwkwkw."


Rayyan tergelak. Alex hanya melirik lewat ujung matanya. Pertahanan dirinya terlalu kuat, sehingga tak terpengaruh oleh Rayyan yang berdehem berulang kali.


" Ngapa sih mas? Kamu serak ya?" Mira memberikan minuman kemasan untuk Rayyan dimana itu membuat Alex tak bisa menahan lagi tawanya. Untung papa Jo sudah masuk ke dalam rumah, mengambil sesuatu untuk Alex.


" Dia keselek biji dondong." Alex tergelak, mama Sarah menggeleng.


" Kalian itu! Untung gak tiap hari jadi satu. Bisa awet muda mama kalau kalian ngumpul."


" Masa keselek biji dondong bisa bikin awet muda ma?" Mira dengan polosnya bertanya perihal ucapan Alex, dan itu sukses membuat trio kampret menepuk jidat masing-masing.


Mama Sarah hanya bergumam " Ya.... ya.... ya.... Besok beli dondong yang banyak ya." Sambil menepuk bahu Rayyan, kemudian masuk untuk melegakan sesuatu yang tertahan di dadanya.