
" Jadi kamu mau ikut balapan lagi?"
" Hanya memenuhi undangan panitia mama, dan itupun hanya waktu penutupan musim, sekalian perpisahan dengan team dan teman-teman Rayyan."
Mama mendesah, masih kawatir dengan kejadian yang menimpa Rayyan beberapa waktu lalu. Walaupun kejadian seperti ini bukan kali pertamanya dialami oleh Rayyan.
" Kamu ngajak Mira?" Tanya mama.
" Pengennya begitu, tapi dia takut sama ibunya."
" Kamu tidak takut dengan ibumu?"
" Mama cantik, untuk apa aku takut." Rayyan malah meledek mamanya.
" Kamu janji mau berhenti." Ucap mama Sarah.
" Ya janjinya kan sampai musim ini selesai ma."
Mama terdiam.
" Jangan kawatir mama, aku janji untuk jaga diri. Dony ikut aku pergi. Panitia juga akan menjamin keamanan Rayyan." Rayyan tahu yang dipikirakan mama Sarah.
" Kalau begitu mama juga ikut." Ucap mama tiba-tiba.
" Ikut aja, kalau begitu Mira juga bisa ikut."
" Kalau Mira ikut, mama enggak jadi."
Rayyan terdiam. Apa mamanya mulai tidak suka dengan Mira? Mana mungkin?
" Takut ganggu acara kamu sama dia." Rayyan lega, ternyata mama tak seperti apa yang ia pikirkan barusan.
" Tapi dia mau ikut kalau mama ikut."
" Mama akan bantu supaya kalian bisa pergi berdua."
" Maksud mama?"
" Kalian pergi setelah menikah."
Rayyan menyandar " Ternyata mama tahu pikiran Rayyan."
" Maksudmu?" Mama menyipit.
" Aku menunggu mama disini mau minta tolong sama mama untuk segala sesuatu yang perlu diurus untuk pernikahan kami."
" Pertama lamaran dulu, minta dia ke keluarganya." Mama memberi ultimatum.
" Kita kesana besok." Jawab Rayyan dengan entengnya.
" Besok gundulmu." Mama menjitak kepala Rayyan.
" Sakit ma." Rayyan mengelus rasa sakit yang tertinggal.
" Katanya lebih cepat lebih baik." Timpal Rayyan.
" Kamu bilang dulu sama papamu, sama abangmu, keluarga besarmu. Jangan cuma sama mama. Berumah tangga itu melibatkan semua, walaupun akhirnya kalian hanya berdua. Tapi keberadaan anggota keluarga yang lain juga jadi penentu berlangsungnya hubungan kalian."
" Iya." Rayyan mengangguk patuh.
" Menikah memang hanya antara laki-laki dan perempuan, tapi bukan cuma itu. Dua keluarga akhirnya juga saling terhubung. Makanya perlu melibatkan keberadaan meraka agar tidak terjadi selisih paham."
" Iya." Rayyan kembali mengangguk.
" Menikahi anaknya, berarti juga menikahi keluarganya."
Rayyan tak mengerti dengan maksud ucapan mama yang ini.
" Enggak maksud?" Tanya mama.
" Enggak." Rayyan menggeleng.
" Artinya, kamu mau sama Mira, berarti kamu juga mau menerima keluarganya. Mau ikut andil ambil bagian disaat mereka butuh. Bukan hanya mau anaknya aja, setelah dapat keluarganya kamu anggap tidak ada."
" Oh begitu." Rayyan manggut-manggut, tanda mengerti.
" Lagakmu!" Mama kembali menjitak kepala Rayyan karena gemas.
" Anggap orang tua Mira juga orang tuamu. Karena kalau tidak ada mereka Mira juga tidak ada. Anggap sebagai rasa terima kasih sudah menjaga Mira selama kalian belum bertemu."
" Iya mamaaa...."
" Iih, anak ini!" Sekali lagi mama menjitak kepala Rayyan.
" Puasin maaa..... mumpung Rayyan belum menikah. Nanti kalau udah nikah, jangan lagi ya, Rayyan malu."
" Punya malu kamu?"
" Enggak, punyanya ********." dengus Rayyan.
Mama malah terkekeh.
Pintu diketuk, membuat keduanya menoleh. Mira berdiri disana.
" Apa yank." Tanya Rayyan.
" Oma, ada yang mencari oma."
" Oh ya..ya, mama tadi janjian ketemuan sama temen mama. Berarti dia sudah datang. Dimana dia?" Mama segera bangkit untuk menemui tamunya.
" Ada di depan oma." Jawab Mira.
" Mama kesana dulu ya."
Rayyan mengangguk, dia ikut berdiri. Menghampiri Mira.
" Mas pamit ya, udah waktunya ini."
" Hati-hati mas."
" Yah..." Rayyan mendekat, mencium kening Mira sebentar. Kembali lagi untuk mengambil jaket.
" Nanti dijemput Dony, nyusul ke tempat mas latihan." pesan Rayyan.
" Iya."
" Ya udah, mas berangkat ya."
Mira mengangguk, dan Rayyan berjalan keluar dari ruangan mama Sarah diikuti Mira dari belakang. Tak mendapati mama Sarah, Rayyan hanya berpesan pada Mira untuk manyampaikan bahwa dia sudah pergi.
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
Beginilah kalau lagi sayang-sayange, ditinggal rasanya berat banget.
" Cuma seminggu yank." Pamit Rayyan.
" Hem." Mira malas menanggapi.
" Begitu selesai langsung pulang kok." Rayu Rayyan.
" Hem."
" Cemberut tambah cantik." Tangan Rayyan mulai noel-noel pipi Mira.
" Hem."
" Jangan gitu ih yank, jadi berat kan ninggalin kamu." Rayyan mendesah pelan, menggaruk belakang kepala, walau tak gatal.
" Kalau dibawa lebih berat. Coba aja, berat aku 47 kg lho." Celetuk Mira.
Catatan: tinggi badan Mira 165 cm meter ya, jadi dia tidak gemuk!
" Hah! Kamu itu, marah beneran apa enggak sih?" Rayyan memperhatikan wajah Mira yang tetap fokus pada buku besar di depannya.
" Aku lagi fokus sama pembukuan mas, bentar lagi laporan bulanan. Ini kok enggak balance sama laporan yang dikasih mbak Tari ya."
Rayyan melemas mendengar penjelasan Mira. Dikira marah, ternyata pikirannya yang salah. Si Mira malah asyik sama pekerjaannya. Susah-susah membujuk, ternyata yang dibujuk malah santai. Keki deh jadinya...
" Kamu tanya langsung aja sama orangnya." Rayyan memberi saran.
" Besok ajalah. Inikan udah malam, di luar jam kerja juga." Mira menutup buku besar, menggeser ke samping, beralih pada tumpukan nota di depannya.
Rayyan hanya menatap datar pemandangan di depannya. Merasa tak diperhatikan, dia tertelungkup dengan tangan bertumpu di atas meja.
Mira menarik sedikit ujung bibirnya melihat Rayyan seperti anak kecil yang sedang merajuk.
" Kalau ngantuk pindah mas, bisa jatuh kalau tidur disitu." Ucap Mira.
Tak ada jawaban.
Mira mulai meneliti tiap nota dan mulai menghitung dengan mesin kalkulator. Rayyan mendengar bunyi berisik dari mesin itu, hanya diam tetap tertelungkup di atas meja. Persis seperti anak-anak yang menunggu ibunya selesai bekerja.
" Katanya udah malam, di luar jam kerja, tapi tetep kerja. Waktu buat aku kapan yank?"
Tuh kan bener, mulai merajuk dia!
" Besok aku udah pergi lho." Rayyan menegakkan tubuhnya, kemudian beralih bersender di kursi.
" Bentar lagi ini."
Rayyan jadi tak sabar. Dia merogoh saku celananya, mengeluarkan hp, mencari nama mama disana.
" Assalamualaikum." Nada lembut mama menyapa.
" Mama kasih Mira kerjaan tambahan, jadi lemburkan dia." Gerutu Rayyan.
" Salamnya dibalas dulu dong sayang." Suara mama mendayu, tapi mengejek.
" Ya suruh aja berhenti, kamu kan bosnya. Mama kan cuma karyawan biasa di toko." Jawab mama santai.
" Ya sudah! Trima kasih!" Rayyan jadi jengkel mendengar mama bicara, tak memberi solusi.
Mira tak menggubris Rayyan yang sedang frustasi, tetap setia dengan pekerjaannya.
" Aku tidur duluan ya?" Rayyan beranjak dengan tubuh lesu.
" Iya, ini aku juga mau tidur. Selamat tidur mas." Mira membereskan pekerjaannya, menumpuk jadi satu.
Rayyan berbalik, menatap tajam pada Mira yang malah berekspresi polos " kenapa mas? Katanya mau tidur?"
" Ya... Selamat tidur." Rayyan merasa jengkel melihat Mira seolah biasa saja setelah membuatnya salah paham, menunggunya bekerja sampai selesai, dan berakhir dengan pertanyaan menjengkelkan! Rayyan benar-benar seperti hampir gila melihat Mira yang hanya mengangguk tersenyum manis, tapi lahir baginya.
Mana ada pelukan, mana ada ciuman, bahkan ucapan selamat tidur aja tak ada mesra-mesranya. Dengan lemas, Rayyan berjalan menuju tangga, bersiap untuk turun.
" Untuk besok udah disiapin?" Pertanyaan yang membuat Rayyan berhenti. Hanya menggeleng, tanpa berniat menjawab pertanyaan Mira selanjutnya.
" Mau bawa baju berapa? Yang mana aja?" Tanya Mira, Rayyan tetap berjalan turun tak menghiraukan Mira yang terus bertanya.
" Dia yang mau pergi, kok malah dia yang marah." Mira bergumam sendiri.
Mira menaiki kursi untuk mengambil koper di atas lemari. Tapi pijakan yang tak pas, membuat Mira terpeleset dan...
" Akh.....!" Mira menjerit, dia terjerembab di lantai dengan posisi duduk, diikuti suara koper jatuh.
" Aduh... ." Mira meringis merasakan rasa sakit yang tertinggal di bok*ngnya.
Rayyan hampir sampai dianak tangga terakhir saat Mira berteriak. Berhenti sejenak, kemudian dengan malas naik lagi ke atas, memeriksa apa yang terjadi. Hatinya masih separuh dongkol tapi dia juga tidak bisa cuek mendengar teriakan Mira.
Mira berdiri terhuyung sambil memegangi bawah pinggangnya yang terasa nyeri. Melihat itu Rayyan jadi panik.
" Ngapa yank?" Seketika kemarahannya menghilang, melihat Mira tertatih sambil mengusap bagian bawah pinggangnya, berganti menjadi kawatir.
" Jatuh." Mira menunjuk kursi yang masih terguling.
" Kok bisa?" Ia beranjak mendekat, membantu Mira sampai ke ranjang. Berniat untuk membantu mengusap-usap bagian yang sakit, namun Mira sontak menolak, dia beringsut menjauh dari Rayyan.
" Udah kok ini enggak begitu sakit." Alasan Mira.
" Tapi kamu meringis begitu?" Rayyan semakin kawatir.
" Enggak, ini udah enggak." Mira menahan rasa sakit, dengan pura-pura beranjak.
" Baju mana aja yang mau dibawa?" Tetapi perasaan memang tak bisa bohong, Mira kembali ambruk karena sakit di bagian bawah pinggangnya.
" Yank..." Rayyan mendekat ingin membantu Mira.
" Masih sakit kan, sebelah mana?"
Mira menggeleng " Udah enggak sakit kok, cuma sedikit nyeri" alasan yang dibuat-buat, padahal bok*ngnya sangat nyeri. Tapi apa mungkin dia membiarkan Rayyan membantunya dengan menyentuh daerah itu. Bisa berabe mak.... 😅
Mira berusaha tenang, sekuat mungkin dia menahan rasa sakit, apalagi jika dibuat duduk seperti ini, rasanya seperti ingin nangis, sumpah, sakit banget. Ingin dia telungkup, tapi takut. Ingin berbaring, mana bisa dia berbaring dengan posisi Rayyan ada di dalam kamar, nanti dikira menggoda.... Alamak, serba salah.
" Beneran enggak papa itu?" Rayyan menunjuk bagian Mira yang sakit. Mira mengangguk, tetap diam, menahan nyeri yang tak kunjung hilang.
Tahan Mira!
" Mas, bantuin Mira aja nyiapin baju mas yang mau dibawa besok ya, biar cepet selesai." Mira berusaha bangun dari duduknya, berjalan pelan menuju lemari pakaian Rayyan.
Rayyan memandang cara jalan Mira yang seperti menahan sesuatu, dan aneh, karena sedikit membungkuk.
Tapi dia ingin melihat bagaimana Mira tetap kekeh ingin menyiapkan baju untuknya.
" Ini." Mira mengeluarkan baju-baju dari lemari, memberikannya pada Rayyan agar dipilih. Sesekali dia meringis. Rayyan membiarkan saja Mira tetap berdiri sambil mengambil baju-bajunya, walaupun dia tahu gadisnya itu sedang pura-pura.
Karena terlalu sering meringis, Rayyan akhirnya tak tega melihat Mira dengan wajah pura-pura baik-baik saja. Dia beranjak menghampiri Mira, memegang kedua lengan Mira yang memegang baju, kemudian menuntun Mira ke ranjang.
" Sudah, biar mas aja. Kamu kalau mau baringan gak papa."
" Tenang aja, mas gak akan punya pikiran macam-macam. Gak usah malu, sok baringan sana. Kasihan tuh sakit banget pasti. Apa mau panggil Tomy suruh kesini?"
" Enggak mas, tiduran aja, nanti juga baikan kok." cegah Mira.
" Berarti sakit kan itu?" Tanya Rayyan.
" Hehehe....." Mira nyengir, sambil mengangguk.
" Tiduran aja, tengkurep biar gak sakit." saran Rayyan.
" Tapi ini belum selesai." Mira memperlihatkan baju Rayyan yang masih dia pegang.
" Sini biar mas aja. Udah kamu baringan situ. Gak usah takut, mas gak akan nerkam kamu sekarang."
" Ish.... Apaan sih." Mira melengos, malu mendengar ucapan Rayyan.
" Udah tiduran situ, kasihan itu nanti makin sakit. Apa perlu mas bantuin? Mas juga pengen tiduran ini." Rayyan menggoda Mira dengan pandangan anehnya.
" Kalau mas tidur sini, Mira yang tidur sama mas Dony." ancaman aneh dari Mira membuat Rayyan melirik sadis.
" Ancamannya aneh yank, masak iya mau tidur sama Dony!"
" Ya kan mas tidur disini, berarti Mira gak punya tempat untuk tidur, ya udah tidur aja sama mas Dony, gantiin mas."
" Mana ada kayak gitu! Udah kamu tiduran, mas mau beresin baju."
Mira tertawa, perlahan merebahkan tubuhnya di atas ranjang, berbalik membenarkan posisi agar bisa pas, dan bok*ngnya bisa rileks.
Rayyan hanya memperhatikan sekilas Mira yang tergolek di atas tempat tidur. Lebih baik fokus memasukkan baju ke koper, dari pada nanti malah tak bisa fokus melihat body Mira yang tengkurep di atas ranjang, dari sudut pandangnya, body itu terlihat begitu sexy.
" Udah belum mas, kalau udah buruan keluar, tolong pintunya sekalian di tutup ya."
" Iyaaaa! Ini juga udah mau selesai." Rayyan menutup kopernya, menjinjingnya keluar kamar.
" Jangan lupa tutup pintu." Mira mengingatkan.
" Iyaaa....!" Rayyan langsung menutup pintu, bahaya kalau sampai dia lama-lama di dalam sana.
Baru mau berbalik, dia teringat sesuatu. Ingin membuka pintu, tapi tidak bisa, karena pintu itu otomatis langsung terkunci dan hanya bisa dibuka dari dalam. Dengan lemas dia memeluk koper yang ia jinjing.
" Meluk kamu ajalah ya, daripada enggak dapat pelukan sama sekali." Rayyan berbicara dengan kopernya.
" Sudah gila bos!" Dony tiba-tiba muncul di tangga. Rayyan langsung melotot!
" Sembarangan kalau ngomong!" Sungut Rayyan, Dony terkekeh berjalan menghampiri Rayyan.
Meletakkan bungkusan plastik pesanan Mira di atas meja.
" Apaan tuh?" Tanya Rayyan.
" Pesenan mbak Mira, kayaknya sih makanan."
Rayyan memeriksa isi plastik dan mencium bau makan. Dia mengambil satu bungkusan dan membuka.
" Singkong keju." Ucap Rayyan.
" Kamu yang beli, apa dia yang pesan?"
" Dia yang pesan, saya yang beli." Jawab Dony.
" Gitu tadi bilangnya kayaknya, padahal sudah tahu isinya." Dengus Rayyan.
" Hehehe..." Dony malah tertawa.
" Mbak Mira udah tidur bos?"
Rayyan mengedikkan bahunya.
" Kok enggak tahu?"
" Pintunya udah ditutup, orangnya di dalam, paling udah tidur dia." Nada bicara penuh kekecewaan, membuat Dony hampir meledakan tawa.
Dia mengeluarkan hp untuk menghubungi Mira.
" Dia udah tidur." Sungut Rayyan.
" Tapi tadi mbak Mira pesen, kalau saya sudah pulang suruh telpon." Ucap Dony
" Dia bilang begitu?" Tanya Rayyan.
" He'em." Dony mengangguk.
" Ya udah telpon aja, siapa tau dia mau keluar."
Dony langsung fokus dengan hp, begitu ada sahutan dari Mira dia hanya mengatakan " sudah".
Tak lama Mira keluar dari kamar, dengan jalan pelannya, tapi sudah lebih tegap.
" Emang udah enggak sakit yank?" Tanya Rayyan. Dony malah fokus dengan cara jalan Mira yang seperti kesakitan di bagian bawah pinggangnya, jalannya saja diapit. Mata Dony jadi menyipit, memikirkan sesuatu.
" Mas, apa terjadi sesuatu?" Tanya Dony serius, tak ada panggilan bos seperti saat sedang bicara santai.
" Apa maksudmu?" Rayyan tak mengerti, Mira tak menggubris yang penting dia bisa segera duduk.
" Mas tadi keluar dari kamar mbak Mira, terus mbak Mira sekarang jalannya kok gitu? Hayo......" Dony what do you think? Dony menggeleng, membayangkan apa yang terjadi antara bos dan pacarnya itu.
Rayyan melengos, jengah dengan pandangan Dony yang menaruh curiga.
" Mau tahu apa yang terjadi? Mau lihat?" Tantang Rayyan, dia berjalan mendekat dan duduk di samping Mira yang sedang menikamati singkong keju.
Dony bahkan belum sempat mengangguk apapun menggeleng, tetapi pergerakan cepat Rayyan yang menahan tangan Mira untuk memasukkan potongan singkong. Dan langsung mengarahkan bibirnya pada bibir Mira, membuat Dony langsung buang muka.
Mira terkejut, bahkan singkong yang ia pegang langsung jatuh. Matanya melotot. Pikirannya kalut. Bagaimana tidak, Rayyan tiba-tiba menyerangnya dan menciumnya di depan Dony.
Perlahan tapi pasti Dony langsung mundur teratur, balik badan putar jalan. Turun tangga pelan-pelan, buka pintu masuk kamar, cuci tangan, cuci kaki, gosok gigi, naik ranjang, tarik selimut terus bobo..... 😉