
Mira langsung terkapar di atas ranjang besar di dalam kamar hotel tempat mereka menginap.
Penerbangan yang melelahkan, yang memakan waktu lebih dari satu hari.
Emang dasar Mira yang suka mabuk udara, kini benar-benar tak berdaya.
Rayyan tersenyum melihat Mira tak bergeming dengan mata terpejamnya.
" Minum ini yank, biar enakan badannya." Rayyan menggoyangkan tubuh Mira, ingin memberikan secangkir lemon tea hangat. Tetapi Mira malah berlari ke toilet, mengeluarkan cairan yang ada di dalam perutnya. Selama perjalanan, Mira menghindari makanan, karena itu membuat perutnya seperti diaduk-aduk.
Rayyan meletakkan cangkir berisi minuman hangat di atas nakas, kemudian menyusul Mira di dalam toilet. Membantu memijat leher sang istri agar terasa lega. Lemas tubuh Mira, hingga dia harus menggunakan tubuh suaminya untuk berjalan, menggelendot.
" Minum dulu, biar anget perutnya."
Mira menerima cangkir dari tangan Rayyan, kemudian menyeruputnya. Rasa hangat langsung menjalar ke tubuhnya, namun rasa lemas belum juga menghilang.
" Mau tidur lagi?"
Mira menggeleng " Mau mandi dulu."
Rayyan berjalan ke kamar mandi, mengisi bathup model Jacuzzi dengan air hangat.
" Jangan kasih itu, enek baunya." Mira menolak saat Rayyan akan mencampurkan aroma terapi di air, bermaksud untuk membuat istrinya rileks.
Tanpa malu, Mira melepas busana yang melekat di tubuhnya, entah sadar atau tidak dia, yang pasti Rayyan hanya terdiam saat sang istri sudah tidak mengenakan apapun lagi, dan langsung masuk ke bathup yang sudah disediakannya.
" Butuh bantuan?" Rayyan menawarkan diri, mencoba peruntungan.
" Bantu tutup pintunya kalau mas keluar." Jawaban yang membuat Rayyan langsung garuk-garuk kepala. Tetapi dia sadar kemudian ingin menanyakan sesuatu, kenapa istrinya itu tidak melepas sesuatu seperti pembalut saat memereteli pakaian tadi, dia menengok ke keranjang pakaian, tapi tidak menemukan barang yang dia cari.
" Mas kok enggak keluar?" Suara Mira menyentakkan lamunan Rayyan.
" Iya, nih mau keluar." Rayyan langsung menutup pintu kamar mandi.
Meraih hp untuk menghubungi Mathew, tetapi panggilan Mira menghentikannya untuk menghubungi Mathew. Bergegas ke kamar mandi lagi.
" Mas enggak mau mandi? Apa enggak lengket badannya?"
Rayyan terkejut dengan pertanyaan dari sang istri, tetapi pikirannya segera terkoneksi.
Apa itu maksudnya Mira mengundangnya untuk mandi bersama?
" Mandi sekalian geh."
Rayyan menajamkan pendengarannya, memastikan dia tak salah mendengar Mira sekalian mandi.
" Enggak papa mandi bareng? Emang kamu udah selesai itunya?"
Hanya senyuman yang menghias bibir basah Mira.
" Kok cepet, biasanya perempuan kalau lagi itu sampai seminggu."
" Dapat info darimana?" Tanya Mira.
" Mbah Google." jawab Rayyan.
" Tanya sama embah-embah, sudah menopause dia." Jawaban yang membuat Rayyan langsung tertawa.
" Kamu itu ada-ada aja."
" Iya memang iya, kadang info itu enggak bisa jadi patokan mas, atau mungkin artikelnya yang kurang akurat penjelasannya. Yang bener itu rata-rata 2-7 hari, itu berarti tidak bisa dipukul rata kalau perempuan harus selesai sampai 7 hari." Jelas Mira.
" Tanya sama mbak-mbak mas, jangan sama mbah-mbah." ledek Mira.
" Mbak Mira emang kalau lagi itu berapa hari!" Tanya beneran dia, dasar Rayyan!
" 3 hari."
" Asyeekk, bisa buka puasa donk!" Ucap Rayyan bersemangat. Mengingat hari pertama sampai hari ini sudah masuk hitungan 4 setengah hari, lebih 2 jam lewat 59 detik. Detail amat mas itungannya!
" Iyaaa, tapi nanti! Sekarang mandi dulu."
" Bareng?" Rayyan menatap penuh harap, Mira hanya tersenyum lalu mengangguk.
" Beneran?" Rayyan tak percaya Mira mengijinkannya bergabung.
" Menyenangkan suami itu pahalanya besar lho mas, mau nabung banyak-banyak pahala aku." Celetukan Mira membuat Rayyan ingin tertawa, tetapi lanjutan dari ucapan Mira membuatnya langsung kicep " Nggak buruan, tawaran batal!"
" Asyiap nyonya." Rayyan langsung membuka pakaiannya satu persatu. Mira berpaling agar tidak melihat secara langsung tubuh polos milik Rayyan, begitu Rayyan bergabung dengannya, baru dia berani membuka mata.
Bukan tanpa alasan Mira begitu, sifat suaminya yang terlalu sabar, membuatnya merasa bersalah. Habis malam pertama, dia langsung kedatangan tamu yang memang sudah waktunya datang, sehingga mau tidak mau untuk beberapa hari dia harus melarang suaminya berkunjung. Bisa dia lihat bagaimana wajah kecewa Rayyan malam itu saat menyangkannya tertidur, padahal dia hanya pura-pura, tak tega mengatakan bahwa sebenarnya dia tidak bisa melayani sang suami karena sedang berhalangan. Maka saat ini dia ingin menebus rasa bersalahnya dengan mengajak sang suami berendam berdua walaupun sejujurnya dia menahan rasa malu! Dia malu pemirsah!
" Hanya mandi lho!" Mira memberi peringatan.
Namanya mandi berdua, bersentuhan langsung tanpa penghalang, mana mungkin hanya sekedar mandi, nyatanya mandi yang sewajarnya hanya sekitar 15-30 menit itu, kini menjadi 2 jam. Hayo... Itu mandi apa berenang ya, eehh.... Emang berendam kan mereka! 🤗
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
" Makan yang banyak yank!" Rayyan memberikan suapan sup panas seperti yang diminta Mira.
" Mas kapan makannya kalau nyuapin aku terus?" Mira menggerutu, setelah menelan makanannya.
" Kamu enggak makan selama perjalanan, kalau mas kan selalu makan." Rayyan menyuapi Mira lagi.
" Tapi sekarang emang waktunya makan kan mas, mas juga makan donk. Aaa." Mira gantian menyuapi Rayyan.
" Mama, papa jadi ikut kesini mas?"
" Jadi, mereka paling lusa baru berangkat. Kenapa?" Tanya Rayyan.
" Tanya aja."
" Aaa..."
Mira menerima suapan lagi " Habis ini udah ya mas, kenyang." Mira menepuk perutnya, tandanya disana sudah tidak bisa menerima suapan lagi.
" Iya, minum." Rayyan memberikan gelas berisi air untuk Mira.
" Ma kasih mas."
Rayyan hanya tersenyum, kemudian melanjutkan acara makannya sampai selesai.
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
" Mau jalan-jalan enggak?"
Mereka kini ngobrol sambil berbaring di atas ranjang. Mira bergelung di dalam pelukan Rayyan, memakai lengan Rayyan sebagai bantalan kepala.
" Capek, besok aja ya." Ucap Mira malas.
" Besok mas sibuk lho."
" Ya besoknya lagi."
" Lusa juga sibuk, cuma hari ini mas bisa ngajak jalan."
" Ya enggak usah jalan, di kamar aja. Capek banget aku mas, rasanya masih kayak di dalam pesawat." Keluh Mira.
Rayyan mengambil hp, melihat waktu yang sudah dia set sesuai dengan waktu di Spanyol.
" Masih sore yank, tanggung kalau tidur."
" Ngantuk mas." Suara Mira melemah.
" Tidur sebentar aja ya, soalnya mas jam 7 ada pertemuan sama kru."
" Aku disini aja, mas sendiri kesana."
" Enggak ada teman di kamar." Rayyan membujuk, tetapi rasa kantuk Mira lebih menang.
" Tidur akan lebih tenang tanpa teman mas."
Rayyan hanya mengalah, melihat wajah istri yang benar-benar lelah.
" Besok janji deh, aku temenin mas kemana-mana." Rayu Mira " Tapi sekarang biarkan istrimu yang sangat lelah, capek, penat, ngantuk ini beristirahat dulu, biar besok bisa fit lagi." Lanjutnya.
" Enggak papa mas tinggal, lama lho mas keluarnya." Masih kekeh ingin sang istri ikut.
" Gak papa mas, pergi aja. Aku butuh istirahat nih, lihat mataku, tinggal tunggu mas diam sebentar langsung mejem ini." Rayyan menunduk, Mira memang terlihat sekali mengantuk dan lelah.
" Iya kan.... Aku ngantuk, lelah adek tuh bang." Mira mulai bergumam, karena kelopak matanya sudah tak mampu menyangga.
" Ya sudah tidurlah, nanti jangan cari mas kalau pas bangun mas enggak ada di kamar ya." Rayyan menepuk-nepuk pundak Mira, membuat Mira semakin nyaman saja.
Tak ada jawaban, ternyata sang istri sudah pindah ke alam lain, terbukti dari gerakan tangan Rayyan yang menyusuri wajah Mira yang terlelap dalam tidur damainya, bahkan seolah tak terusik dengan kecupan di kening yang Rayyan berikan berkali-kali.
" Selamat tidur istriku sayang."
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
Sudah lama tak merangkai mawar, bentar lagi papa Jo dan mama Sarah mau kasih kejutan resepsi. Siapa yang mau nyumbang mawar? Otor butuh banget ini.... 🤗🤗🤗
Vote voucher, rate bintang lima jangan lupa sanyang-sayangku... 😉