I LOVE YOU, ENCUS

I LOVE YOU, ENCUS
Boncabe 2 : Gara-gara Ulat



Lelah bersama keluarga tak akan terasa, karena keluarga adalah obat lelah.


Mira berbaring bersama kedua anaknya di dalam kamar.


Pulang dari Jogja, Rayyan langsung pergi ke luar kota. Mira selalu tidur dengan si kembar jika Rayyan tidak di rumah. Itulah kenapa saat pulang malam itu Rayyan menemukan ketiga manusia yang amat dicintainya terlelap di dalam kamarnya.


Dengan hati-hati dia menutup kembali pintu kamar, berjalan juga dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara yang dapat mengganggu tidur istri dan anak-anaknya.


Namun sebagai seorang istri, kepekaan Mira tak diragukan lagi. Dia langsung membuka mata saat Rayyan berjalan di sampingnya.


" Sudah pulang mas?" Tanya Mira dengan suara pelan.


Rayyan tersenyum, diletakkannya tas di atas nakas.


" Mas mandi dulu ya?" Mira menangguk.


" Sudah makan?"


Rayyan menggeleng " Gak sempat."


Mira segera bangkit, membawa satu persatu anaknya keluar menuju kamar bayi, menitipkan anak-anak disana.


Dia menuju dapur, untuk menyiapkan makanan untuk Rayyan.


" Makasih sayang." Rayyan duduk, menyatap menu yang dibuatkan oleh Mira. Tak lagi jadi masalah makan dimalam hari, tak seperti dulu saat dia masih aktif ngetrack.


" Kamu udah makan?"


" Udah tadi sama anak-anak." Jawab Mira, dia menemani Rayyan makan.


" Kenyangin, ini masih sayurnya."


Rayyan menuang tumis bayam ke piringnya, tanpa menambah nasi.


" Ini aja ya yang dihabisin? Kalau buat besok kan udah gak enak."


Mira mengangguk.


" Biasanya pulang udah makan, kok sampai jam segini gak makan dulu?"


" Pengen makan di rumah, kangen masakan kamu. Udah berapa hari coba gak makan masakan kamu?"


" 3 hari." Jawab Mira.


" Tapi nahan lapar juga gak bagus mas."


" Sekali-kali gak papa." Rayyan menyuap sayur yang tinggal sedikit di piringnya.


" Udah kenyang sekarang."


Mira menyodorkan gelas, kemudian menarik piring dan mangkuk menumpuk jadi satu sambil menunggu gelas kosong.


" Mas aja yang nyuci." Sudah jadi kebiasaan setelah makan, mereka mencuci sendiri alat-alat makan. Meskipun ada asisten, tetapi bukan berarti semua harus dikerjakan oleh asisten kan?


" Biar aku aja mas, mas capek kan?"


" Kamu juga capek kan ngurus anak-anak? Duduk aja, tunggu mas, ini cuma sebentar."


Rayyan membawa piring kotor ke wastafel dan langsung mencuci. Sedangkan Mira menunggu sambil duduk, sesuai keinginan Rayyan.


" Selasai, yuk masuk kamar."


Mira menerima uluran tangan Rayyan, mereka berjalan ke kamar sambil bergandengan.


" Gimana anak-anak? Rewel gak?"


Mereka kini rebahan di atas tempat tidur, sambil berpelukan.


" Ya namanya anak-anak mas, kadang rewel kadang gemesin."


" Kerjaan mas gimana?"


" Beres. Cuma tinggal proses produksinya aja kayak gimana."


Walaupun Mira tidak terlalu paham dengan pekerjaan Rayyan, tetapi dari cerita Rayyan dia tahu banyak proses yang sedang dikerjakan suaminya. Suami yang baik, tidak akan memandang bodoh istri walaupun tak tahu, dia tetap akan mengajak berdiskusi tentang pekerjaannya, setidaknya dengan begitu komunikasi tetap akan terjalin dengan baik.


" Mas capek banget ya?"


" Tadi iya, tapi sekarang udah ilang. Udah ketemu obat capeknya." Rayyan menciumi puncak kepala Mira.


" Lihat dedek yuk."


" Mereka lagi tidur mas, kasihan mbaknya diganggu terus."


" Besok aja ya."


" Ditunda dong, kangennya."


" Gak papa, besok pagi aja ya."


" Kalau kangen ini, boleh sekarang?"


" As you wish."


🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹


" Selamat pagi anak-anak papa." Rayyan ke halaman menemui anak-anak yang sedang di jemur.


" Udah bangun mas." Mira menengok mendengar suara Rayyan yang terdengar dekat di telinganya, dan benar wajah Rayyan yang berada di samping wajahnya langsung menempel.


Cup


Satu kecupan mendarat di pipi Mira.


" Kok gak bangunin papa sih?" Rayyan duduk di samping Mira.


" Papa lagi enak banget boboknya, gak tega mau bangunin."


" Kan papa juga Mau ikut berjemur, biar sehat, bebas dari virus."


" Kayak dedek, ya gak....." Rayyan mengambil Azzura yang duduk di stroller.


" Udah wangi...." Rayyan menciumi perut Azzura yang hanya tertutup kaus tipis.


" Khan udah mandi pa, emang papa belum mandi..."


" Nanti habis berjemur mandinya."


" Mau dibuatin minum apa?" Tanya Mira.


" Lemon tea aja, yang panas ya."


" Tunggu bentar ya, titip anak-anak. Awas kalau sampai ada yang ngilang!" Mira memberi peringatan.


" Untuk sekarang enggaklah, papa khusus jagain mereka, gak disambi."


" Aku tinggal ke dalam."


Rayyan mengangguk.


Begitu Mira masuk, Mira mengambil Azzam juga. Menjaga keduanya dalam gendongan.


" Gini kan aman, gak bisa kemana-mana kalian." Rayyan mengajak jalan-jalan si kembar mengelilingi taman rumahnya.


" Ada kupu-kupu kesana dan ke mari...


Ada kupu-kupu.... Aduh apa ya, papa lupa syairnya." Rayyan bersenandung sambil berjalan.


" Ganti aja lagunya ya."


" Cicak-cicak di dinding, diam-diam merayap


Datang seekor nyamuk, hup langsung di mamam."


" Wahhh... Ada ulat, lihat dek ulatnya gede bener." Rayyan mendekati pohon bunga yang daunya ditempati ulat sebesar jari telunjuk si kembar, ukuran yang besar untuk ulat berwarna hujau yang biasa di sebut ulat keket.


" Lihat apa sih?" Mira mendekat, sambil membawa segelas lemon tea untuk Rayyan.


Penasaran apa yang menjadi tontonan suami dan anak-anaknya, Mira ikut menonton, namun saat dia tahu apa yang dilihat, dia langsung berjingkat dan berlari, tak peduli dengan gelas yang dilemparkannya begitu saja hingga pecan karena terbentur pot semen, dan isinya mengalir di sekitar pecahan gelas. Dia berteriak sekencang-kencangnya, hingga si kembar malah tertawa terkekeh melihat kelakuan mamanya yang terlihat lucu.


Rayyan bingung, hanya memandangi Mira yang berlari menjauh dan gelas yang dilempar begitu saja secara bergantian, lalu ke anak-anak yang masih tertawa.


" Kenapa sama mama nak?"


Anak-anak tentu tak menjawab, yang mereka lihat mamanya berlari sambil berjingkat-jingkat dan itu sangat lucu.


" Yank, kok minumnya dibuang?" teriak Rayyan yang sudah pasti tak dipedulikan oleh Mira yang berlari menjauh.


" Ealah, ngapa sih dia?"


" Kita susul mama ya." Rayyan berjalan masuk, mendapati Mira yang mengibas-ngibaskan tanganya.


" Kenapa sih yank?"


" Ulatnya udah dibuang belum?" Mira malah ganti bertanya sambil terus berjingkat.


" Kenapa di buang, biarin aja hidup, gak ganggu kan dia?"


" Iiihhhhh..... Takut aku. Suruh mang Aang buang mas, geli aku, gatel.... Ihhhh, geli..." Mira seperti orang aneh di mata Rayyan.


" Tapi ulatnya gak ngapa-ngapain yank."


" Pokoknya buang!" Mira tetap kekeh.


" Kenapa?"


" Aku takut. Kayak ada disini,... Lihatin ada gak di baju belakang?"


" Ada apa?"


" Ulatnya." Mira mengibas-ngibaskan tangannya menjangkau yang di belakang juga, dan itu membuat Rayyan menggeleng, dan menatap Mira dengan tatapan aneh.


" Ulatnya masih disana, sejak kapan pindah kesini?"


" Beneran?"


" Iyalah."


Mira bernafas lega.


" Aneh kamu itu yank, orang ulat ada disana kok nyari disitu."


" Aku kalau lihat ulat, rasanya ulatnya terus pindah ke aku mas, jadinya geli sendiri, takut dia ngikutin aku." Mira bergidik ngeri.


" Mana bisa begitu?"


" Mamamu halu dek."


" Namanya juga orang takut mas." Mira bersungut, tak trima diejek.


" Gitu aja takut, orang ulat lucu gitu kok ditakutin."


" Terserah mas lah, yang namanya takut ya takut, ya gak mbak? Kalian takut gak sama ulat?" Tanya Mira pada dia suster si kembar dan asisten rumah tangganya.


" Takut bu."


" Enggak bu."


Mereka menjawab dua jawaban yang berbeda.


" Yang gak takut siapa?" Mira menatap ketiganya.


" Mbak Lin bu." Tunjuk Romlah, asisten rumah tangga Mira.


" Tolong ya mbak, nanti minta mang Aang pangkas batang yang ada ulatnya ya mbak."


" Jangan yank, biarin aja. Orang dia juga gak ganggu." Cegah Rayyan.


" Pokoknya buang. Aku takut mas." Mira tetap kekeh.


" Tunggu 3 hari ya, nanti dia gak nakutin lagi."


" Pokoknya buang."


" Kasihanlah yank."


" Pokoknya buang!"


" Pilih mana, tetap disana atau dipindah di dalam rumah?"


" Gak dua-duanya!"


" Jangan nyakitin yang gak bersalah yank." Rayu Rayyan.


" Gak nyakitin, cuma pindah kemana gitu yang penting jangan di sekitar sini."


" Kan kalau jadi kupu bagus yank. Iya kan dek, ya mbak ya." Rayyan minta dukungan, tapi karena takut gak ada yang menjawab.


" Kalau jadi kupu tetep aja terbang, gak mungkin juga tetap disana mas."


" Mbak, titip anak-anak ya."


Kedua pengasuh si kembar langsung berdiri dan menerima si kembar membawa masuk ke rumah, sedangkan asistennya ikut masuk. Rayyan melangkah keluar.


" Mas mau kemana?" Tanya Mira saat Rayyan melangkah keluar.


" Mau mindahin ulatnya." teriak Rayyan saat sudah menjauh.


" Jangan bawa masuk!" Mira ikut berteriak.


" Jangan kawatir sayank, yang boleh masuk cuma ulat punyaku."


Mira menengok kanan kiri.


" Untung si mbak udah pada pergi, kalau enggak bisa gawat kalau denger bapaknya si kembar ngomong ngawur kayak gitu!"


" Emang kamu punya ulat mas" Dari kejauhan Mira memperhatikan punggung Rayyan.


" Jangan pura-pura gak mudeng yank! Nanti malu sendiri!" Rayyan berbalik, sambil memegang ranting yang ada ulatnya.


" MASSSSS!" Mira langsung ngibrit, masuk ke dalam dapur, menutup pintu agar Rayyan tak masuk, walaupun ternyata dia salah, Rayyan berbelok ke depan mencari mang Aang, tukang kebun di rumah mereka.


" Di bawa masuk awas pokoknya!" Teriak Mira dari dalam dapur.


" Udah dibilang, yang boleh masuk cuma ulat punyaku." Jawab Rayyan, dengan senyum penuh arti.


" Bukain pintunya."


" Ulatnya udah di buang belum?" Tanya Mira waspada.


" Udah di urus mang Aang, nih udah gak pegang." Rayyan menempelkan kedua tangannya ke kaca agar Mira percaya.


" Awas kalau masih pegang, sebulan gak dapet jatah!" Ancam Mira.


" Ntar ulatnya terbang cari kupu-kupu gimana?"


Rayyan masuk sambil senyum-senyum meledek, tetapi itu membuat Mira cemberut.


" Udah ada niat ya cari kupu-kupu kalau sampai gak dijatah?" Mira bersedekap sambil menatap tajam ke Rayyan.


Rayyan terkekeh " Enggaklah, mana mungkin juga istriku ini gak ngasih jatah selama sebulan, tiga hari gak ketemu aja udah...."


Mira melompat langsung membekap mulut Rayyan dengan tangannya.


" Jangan buka rahasia rumah tangga mas! MALU!"