I LOVE YOU, ENCUS

I LOVE YOU, ENCUS
Lebih Senang jika Berguna



Rayyan menjalankan lagi laju mobil tanpa ada satu penumpangpun yang turun untuk singgah di hotel.


" Coba aku yang jadi mbak Mira, langsung cuz minta beli hp keluaran terbaru yang harganya puluhan juta." Dony mengompori.


" Makanya kamu jadi kamu, bukan ayang Mira. Tapi kalau mau ganti kelamin juga boleh Don." Timpal Rayyan.


" Iiihh, amit-amit." Dony bergidik ngeri sendiri membayangkan wajahnya jadi transgender.


" Jangan dibayangin Don, jalani aja. Oma kasih deh ongkos buat belah sosisnya. Mau rekomened dokter bedah, oma juga punya."


" Enggak oma, masuk jadi akpol aja butuh pelatihan khusus, udah jadi masa malah mau ambil jalur mbak-mbak gemulai."


" Kirain aja mau, ongkos semua oma yang tanggung. Gimana mau enggak?" Ledek oma.


" Oma ada-ada aja. Tadikan cuma seumpama Dony yang jadi mbak Mira oma." Dengus Dony.


" Ya kali aja, tertarik bener jadi cantik kayak Mira."


" Ayang aku emang cantik ya ma?" Rayyan senang bebebnya diakui kecantikannya.


" Apalagi kalau dikasih perawatan eksklusif, beugh.... Mama yakin, princes Ulala aja kalah."


" Gaklah, gitu aja. Gak demen sama yang udah gak ori. Permak sana-sini, sedot sana sedot sini. Gak ada yang asli."


" Seneng yang alami ya Ray, kayak papa." Papa melirik si tua yang masih kelihatan cantik.


" Udah dibilang nurun ya nurun." Sungut mama Sarah.


" Ray... Kenapa kok milih yang model Mira? Padahal banyak yang rebutan pengen jadi pendamping kamu. Waktu itu papa sempet dilobi sama model yang lagi populer di Prancis."


" Yang model Mira itu gak kaget pa kalau nanti Rayyan ada di bawah. Gak seneng aja pas Rayyan ada di atas. Kalau model yang kayak papa bilang, tau Rayyan meredup pasti langsung kabur. Dunia wanita kayak gitu, banyakan yang kamuflase pa."


" Emang udah pernah nyabain posisi atas bawah Ray?" celetuk oma.


Rayyan berdecak, tahu arah kemana mamanya ngajak bicara.


" Emang enak kok kalau yang laki di atas, kalau di bawah harus kerja ekstra. Capek."


" Ma, mulutnya difilter kenapa?" Keluh Rayyan.


" Emang iya kan pah? Kalau laki di atas, gak perlu pusing mau pengen apa aja tinggal gesek. Tapi kalau di bawah, kadang mau beli bedak aja kalah sama bumbu dapur." Ucap mama, Rayyan mengernyit bingung.


" Ngapa Ray? Salah tanggap ya sama omongan mama? Makanya punya pikiran itu mbok ya yang positif, jangan berburuk sangka mulu sama mama. Gini-gini mama masih punya malu buat ngomongin posisi begituan di depan para jomblo."


" Aku gak jomblo ma, cuma lagi jauhan aja." Kilah Rayyan.


" Dony tuh yang jomblo." Rayyan melirik pak polisi yang cuma bisa tersenyum.


" Senengnya dibilang jomblo." ledek Rayyan.


" Punya karyawan tuh diperhatiin Ray, gak cuma nuntut kerja perfect. Dia udah lamaran, makanya tahun depan mau pindah kerja, roling itu dia yang ngajuin. Biar setelah nikah bisa tetep deket sama istri yang kerja di rumah sakit di Jakarta." Ucap mama.


" Perhatian Rayyan buat mereka itu cukup kasih gaji plus bonus ma, kalau yang begituan tinggal mereka aja mau kasih tahu sama Rayyan apa enggak, itu terserah mereka. Enggak dianggap bos juga udah biasa." Rayyan melambat diakhir kalimat.


" Bukan gitu Mas Rayyan, aku mau bilang, tapi mas Rayyan kan lagi sibuk." Dony merasa bersalah.


" Emang kapan saya enggak sibuk?"


Nah lo, ada yang bisa jawab enggak?


🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹


Miring kanan, miring kiri.


Bersandar sebentar, kemudian berbaring lagi.


Sajen belum lengkap. Mau tidur belum denger suara ayang bebeb. Rayyan berulang kali mengecek ponselnya, kali aja Mira belum kirim pesan pakai nomor Sigit atau ibu. Nyatanya nihil. Zonk.


Dering yang menandakan panggilan hanya ditanggapi dengan malas oleh Rayyan.


" Hem."


" Mau trima proyek gak bos?" Tanya Mathew.


" Di luar apa di dalam?"


" Sama perusahaan yang ngontrak iklan di Jerman." Ucap Mathew.


Rayyan berdecak, kepalanya belum bisa diajak berpikir masalah kerjaan.


" Lu resign aja jadi manager Met, kerja di dealer aja." Jawab Rayyan.


" Gak bisa gue kerja menetap Ray, enak yang jalan sambil traveling. Gratis tanpa keluar biaya."


" Gue pengen berhenti." Ucap Rayyan.


" Terus gue gimana?"


Rayyan berpikir sejenak. Memikirkan nasib si Mathew.


" Jadi asisten pribadi gue aja mau?"


" Kemana aja dari kemarin bro? Jadi manager lu aja udah kayak istri lu, apa gak nyadar?"


" Lu kerja di kantor. Gue ada proyek baru sama perusahaan otomotif di spanyol, kalau lu mau ntar gue yang urus."


" Proyek apaan? Kok gue enggak ngerti?"


" Makanya kerja tuh jangan perempuan aja yang disambi, buang-buang duit percuma. Mending cari seseran."


" Gue dapet kok seseran, dari mbak model cantik yang lagi kesepian." jawab Mathew dengan suara khas cengengesannya.


" Tobat napa lu." Sungut Rayyan.


" Ntar bos, kalau udah puas, pasti berhenti."


" Terserah lu Met. Udah kalau cuma mau ngomongin kayak gitu, gue mau tidur ini."


" Bentar bos, ada penawaran lagi." Cegah Mathew.


" Buruan!"


" Ada undangan untuk penutupan musim. Mau ikut enggak bos?" Tanya Mathew dengan nada yang mulai serius.


Rayyan diam. Berpikir, menimang apakah akan menerima undangan untuk kembali berlaga atau tidak, walaupun untuk yang terakhirk. Keputusan yang berat, karena kali ini, dia harus meminta ijin dulu sama keluarga. Kejadian sabotase kendaraan kemarin saja sudah mengancam nyawa. Ya, walaupun bertarung dilintasan juga nyawa taruhannya.


" Gimana bos?" Tanya Mathew lagi.


" Besok keputusannya Met. Malam ini ayang bebeb belum bisa dihubungin" alasan Rayyan, padahal bukan itu alasannya. Dia hanya butuh waktu untuk berpikir. Kalau Mira, dia yakin pasti mendukung apapun keputusannya, tapi dia harus ekstra safety mengingat berlaga lagi artinya bersaing lagi, dan siap menghadapi musuh tak kasat mata.


" Keamanan mereka bisa jamin bos, itu kalau bos mau ambil."


" Besok siang, finalnya. Malam ini mau bobo syantik dulu." Ucap Rayyan.


" Ya sudah, selamat malam bos."


" Hem."


Sambungan terputus. Rayyan mendesah, membuang nafas beratnya.


Kemaren-kemaren dapet tawaran, hayuk aja. Kenapa sekarang jadi bingung ya?


Ting, satu pesan diterima.


Malam mas, udah tidur ya? Maaf baru selesaian. Ini juga baru masuk ke kamar.


Rayyan membaca pesan dari nomor baru yang adalah Mira pengirimnya.


Pakai hp siapa yank?


Punya Andre


Cus.. Rayyan langsung semangat buat telpon. Tak lama setelah tersambung, muncul wajah cantik di layar hpnya.


" Kangen." Tanpa babibu, Rayyan langsung ngomongin perasaannya.


Mira hanya membalas dengan senyum.


" Gak kangen apa yank?" Tak dapat tanggapan seperti keinginannya, Rayyan bertanya seolah merajuk.


" Hem."


" Kok hem."


" He'em, iya. Gak perlu dibilang juga ngerti kan mas."


" Lebih enak diomongin yank, daripada dipendam. Lebih plong." Kata Rayyan.


" Iyain ajalah, biar cepet."


Dasarnya emang Rayyan itu suka sesuatu yang terbuka, sedang Mira kadang masih suka menutupi. Kalau bukan Rayyan yang agresif, hubungan mereka gak bakal jadi romantis. Kadang udah dipancing aja, si Mira masih suka jaim. Bikin si abang makin gumush ajah.


" Udah maem belom yank?"


" Udah tadi."


" Pake apa?"


" Pakai yang udah disiapain sama ibu-ibu buat tahlilan."


" Ibu masih disitu?"


" Ibu siapa? Ibu Santi apa Reni?"


Rayyan lupa kalau Mira punya dua ibu.


" Bu Santi." Jawabnya.


" Masih, makanya bisa pinjem hp Andre." Jawab Mira.


" Besok pulang tapi si Andre, kalau ibu masih disini nemenim ibu Reni."


" Beli hp sih yank, jadi enggak perlu pinjem lagi." Rayu Rayyan lagi. Masih belum ikhlas dia kalau sampai Mira pakai hp punya Sigit lagi.


" Enggaklah mas, ntar hp yang ada buat apa kalau beli lagi." Jawab Mira, masih kekeh dengan pendiriannya.


" Ya buat cadangan aja. Punya dua juga enggak masalah. Kalau yang satu rusak, kan masih satu lagi."


" Ya kan punya Mira belum rusak mas."


Pusing emang ngomong sama Mira. Hanya decakan kesal yang terdengar dari Rayyan.


" Kalau beli lagi, sayang uangnya mas. Mending kasih ibu buat bantu acara tahlilan."


Owww... Itu tho yang jadi perhitungan ayank beb.


" Periksa dompet yank." Pinta Rayyan tiba-tiba.


" Buat apa mas?"


" Periksa dulu, ntar dompet ketinggalan lagi, kan gak jadi kasih uang buat ibu."


" Oh, oya ya... Bentar mas." Mira membenarkan ucapan Rayyan, kemudian mencari dompet yang ia letakkan di atas meja. Memeriksa sejenak, mencari kartu berwarna hijau berlogo bank B*I.


" Ada mas." Mira mengeluarkan benda persegi dari dompetnya.


" Ow ya udah. Takutnya ketinggalan."


" Enggak kok. Ada nih." Mira memperlihatkan kartu ATM miliknya.


" Ya udah, disimpen lagi."


Mira menurut, setelah menyimpan kartu, dia kembali ke tempat tidur. Sedangkan Rayyan melakukan sesuatu dengan hpnya sambil mengajak Mira berbicara.


" Yank, kalau mas ajak lihat balapan langsung mau enggak?"


" Di TV?" Pertanyaan polos itu lolos begitu saja dari mulut Mira. Rayyan sedikit tersenyum, tak ingin terlihat ia sedang menertawakan gadis lugunya.


" Di sirkuit."


" Sirkuit?" Ulang Mira dengan wajah bingung.


" Iya, penutupan musim. Mau enggak lihat langsung kesana?"


" Mana bisa? Kesana kan harus punya paspor dan visa mas."


Mira lupa siapa Rayyan. Begitulah dia, belum sepenuhnya percaya dengan orang yang sudah mulai mengisi hari-harinya.


" Mau dulu geh. Mau enggak?"


Mira nampak berpikir. Apa mungkin dia bisa menyaksikan langsung acara yang selama ini ia saksikan lewat televisi. Tapi kalau dikasih kesempatan kenapa enggak.


" Mau enggak yank?" Tanya Rayyan sekali lagi.


" Sama siapa?"


" Ya sama mas lah, emang sama siapa lagi?"


" Jauh enggak?"


Hadew... Pertanyaan apa ini? Rayyan hampir menepuk jidatnya, tapi dia tak ingin membuat Mira tersinggung.


" Yang pasti tidak di Indo." Jawaban yang cukup membuat Mira sadar.


" Mira takut naik pesawat mas."


" Ada mas, ngapain takut?"


" Gimana ya....?" Mira nampak berpikir.


" Mau enggak?" Tanya Rayyan sekali lagi.


" Mau sih, tapi...."


" Gak ada tapi, biar semua mas yang urus."


Mira masih nampak berpikir. Pikiran lain menyelusup masuk, membuatnya menjadi ragu.


" Ngapa yank?" Rayyan melihat jelas keraguan di wajah Mira.


" Enggak jadi ikutlah mas." Ucap Mira.


" Kenapa?"


" Ibu pasti nggak ngijinin? Tapi kalau oma ikut, ya gak papa sih."


" Kalau oma enggak ikut emang kenapa?"


Mira ragu mau mangatakan takut pergi bersama Rayyan yang notabennya belum halal. Dan itu jelas dilarang oleh ibunya.


" Masih dua bulan lagi, kalau ragu sama yang ada dipikiranmu, ntar mas cepetin deh."


" Udah lewat 40 hari masa berkabung, juga udah bukan bulan puasa. Jadi insya Allah, mas usahain disegerakan, jadi kalau diajak pergi udah halal."


Hah! Kok dia tahu apa yang aku pikirin? Batin Mira.


" Ngomong apa sih mas?" Mira pura-pura tak paham.


" Ngomongin rasa es cendol buat buka puasa yank, gitu aja pura-pura gak denger."


" Hehehe...."


" Malah ketawa, bikin gemess aja. Untung jauh, deket udah habis tuh..."


Mira malah tertawa terkekeh, melihat wajah tersiksa Rayyan.


" Sudah ketawanya. Udah malam, nti dikira mbak kunti."


" Mbak kuntinya cantik ya mas.... Lihat nih." Mira memamerkan senyuman manisnya.


" Jangan ngeledek yank, mas kesitu malam ini ntar."


" Jangan ntar mas, sekarang aja."


" Ngledek lagi? Mumpung jalanan sepi ini, lebih gampang buat nyampai kesitu." Tantang Rayyan.


" Jangan nekad mas, udah malam." Cegah Mira. Tak bisa disangsikan kemampuan Rayyan dalam mengendarai motor, mengingat dia seorang rider yang tak bisa dianggap remeh.


" Makannya jangan ngledekin terus." sungut Rayyan.


" Iya... iya maaf."


Mira memberi jeda, menghentikan tawanya dan menetralkan perasaannya.


" Besok beli hp ya, jangan pinjem terus. Masa iya mau ngubungin nunggu dihubungin dulu."


" Enggaklah Mas, kan masih bisa pinjem." Tolak Mira.


" Kalau Andre besok pulang, terus mau pinjem siapa? Sigit? Yank, jangan gitu geh."


" Mas, dia saudara aku lho."


" Pokoknya enggak yank, jangan pinjem dia. Beli sendiri, udah mas kirim, sekalian titip kasih buat ibu."


" Mas transfer?" Tanya Mira dengan pandangan menyelidik.


" Mas, jangan gitu deh. Mira jadi enggak enak.


Tuh kan, mulai lagi! Dengus Rayyan kesal.


" Besok Mira kirim balik ya."


Rayyan jadi kecewa.


" Sanyang gak sih sama mas?" Nada frustasi mulai terdengar, bersamaan dengan hembusan nafas berat Rayyan.


" Sayang, tapikan enggak harus kayak gini mas." Mira bingung.


" Dengerin mas...."


" Kalau emang sayang, cinta sama mas, trima ya. Mas akan lebih merasa senang bisa berguna, daripada tak bisa melakukan apa-apa sama sekali." ucap Rayyan. Mira hanya diam.


" Mas tahu, kamu sudah biasa hidup mandiri, tapi setidaknya sekarang kamu tidak sendiri lagi, ada mas disini. Jangan membuat mas jadi tak berguna dan tak dibutuhkan."


" Mas, bukan begitu. Tapi...."


" Tapi apa? Biasakan tergantung sama mas mulai sekarang. Kalau masih kekeh sama pikiranmu, gak ada gunanya kita berhubungan."


" Mas kok punya pikiran begitu?"


" Pikiranmu itu seolah-olah seperti ingin hidup sendiri, bisa semuanya sendiri. Terus apa gunanya mas kalau kamu begitu?!"


Mira diam, melihat Rayyan emosi jadi takut. Tapi dia tak ingin membantah apa kata Rayyan.


" Sudahlah, sudah malam. Baiknya kamu istirahat." Ada nada putus asa dari ucapan Rayyan.


" Mas, bukan begitu." Mira merasa sakit Rayyan marah.


" Terus apa? Enggak masalah enggak mau trima pemberian mas. Sekarang terserah kamu mau apa?" Nada dingin yang menusuk hati, membuat Mira merasa sakit.


" Mira cuma gak bisa kasih apa-apa buat mas."


" Emang aku minta apa?" Dingin mencekam, suasana terasa tak bersahabat.


Mira diam, menunduk air mata ikut jatuh terurai. Isakan mulai terdengar, dan Rayyan melihat itu. Emang senjata ampuh adalah air mata bagi perempuan, nyatanya Rayyan jadi luluh melihat Mira tertunduk, menangis gara -gara dirinya.


" Yank, maaf." Ucapnya lirih.


Mira masih diam, masih tertunduk. Air matanya masih mengalir.


" Mas minta maaf. Jangan nangis lagi ya." Suara Rayyan melembut.


" Mas cuma terbawa emosi, sudah jangan nangis lagi. Sekali lagi mas minta maaf."


Mira bergerak mengambil tisu, untuk menyeka air mata.


" Sudah, jangan nangis lagi."


" Kalau kamu bingung mau kasih apa buat mas, cukup kasih cinta kamu, sayang kamu yang tulus udah cukup buat mas. Jangan pernah berpikir seperti tadi."


" Sudah ya...."


Mira menatap mata sendu milik Rayyan.


" Maafin mas enggak?"


Mira hanya menatap tanpa berkedip. Rayyan makin bingung.


" Yank.... Kok gitu sih!"


" Sebel sama mas, pisah sebentar aja ngajak berantem."


" Itu tandanya mas emang gak bisa jauh dari kamu. Udahan donk marahnya. Mas ikutan nangis nih."


" Nangis aja, Mira capek, mau tidur."


" Mas juga mau tidur ini, nangisnya enggak jadi. Besok aja."


Mira ingin tersenyum.


" Nah gitu dong senyum, udah yuk tidur udah malam."


" Hem."


" Kok cuma hem."


" He'em."


" Nah gitu dong. Kan enak didengernya."


" Met malam ya, met bobo."


" Mas juga, met malam, met bobo."


" Luv you sayang."


" Luv you too mas."


" Cium."


" Emmuach."


" Emmuach juga, dah ya tidur. Besok, jangan lupa beli hp."


" Hem."


" Kok hem?"


" He'em."


" Nah gitu dong, susah amat bilang gitu, harus berantem dulu."


" Katanya mau tidur?"


" Oh iya... Iya. Ya udah tidur yuk."


" Yuk."


Mira langsung menutup mata, sedang Rayyan hanya menatap wajah yang tenang, damai dari layar yang masih menyala.


Berjuang mendapatkanmu ternyata lebih susah dari pada menakhlukan lika-liku sirkuit Autodromo Internazionale del Mugello di Italia.


🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹


Set dah Thor.... Panjang banget bikin partnya?-reader's


Biar puas aja bacanya, 2 part jadi 1, siapa tahu dapat bunga lebih, sama vote dari kamnyu... 😋😋