I LOVE YOU, ENCUS

I LOVE YOU, ENCUS
Tambah aneh



Bukan Rayyan kalau tidak cerdik, makanya walaupun tak cerdas dia bisa sukses. Terbukti dari kelakuannya yang mengerjai si Mathew saat makan siang.


" Senyum terus...."


" Iyalah... Baru dapet vitamin. Mana makanan gue."


Rayyan mengambil paksa plastik yang akan dibuka oleh Mathew, mencari sesuatu yang sudah direncanakan saat meminta managernya itu memesan makanan.


" Nih, punya lu."


Rayyan memberikan bungkusan satunya, begitu Mathew menerima plastik dari tangannya, Rayyan langsung menjauh.


" Sialan lu!" Mathew jelas dongkol dengan kelakuan Rayyan yang mengambil makanannya, dan bisa dipastikan dia yang kebagian gado-gado.


" Hahaha.... Makanya punya otak cerdas itu dipakai."


Rayyan memamerkan makanan berhentuk stick berbahan ikan salmon, yang langsung dilahapnya.


" Lu kan tadi minta gado-gado."


" Awalnya gue bilang apa? Makanan sehat khan, nah ni udah dapet."


" Emang reseh lu!"


Mau tak mau Mathew menyantap jatah makan siang yang ia pesan untuk Rayyan.


" Lu sebagai manager kan harus peka, kalau gue mesti jaga stamina biar siap tempur."


" Serah lu dah, dongkol gue!"


" Dongkol juga diembat tu makanan."


" Terpaksa."


Akhirnya mereka makan dalam diam, karena setelah ini masih ada latihan lagi.


* * * * *


" Encus....." Panggil Geby.


Mira datang dengan botol susu ditangannya.


Mengulurkan dot pada Geby, kemudian mengatur posisi tubuh Geby berbaring di pangkuannya.


" Mbak Mira, dapet cuti kapan?"


Mbak Sri turun dari tangga sambil membawa keranjang pakaian yang sudah disetrika.


" Belum tahu mbak, belum juga sebulan. Kenapa?"


" Kalau libur kan bisa jalan-jalan. Minta anter Gadis, biar tahu tempat mbak."


" Iya mbak Sri. Kalau menurut perjanjian sih dapat cuti sehari, setiap bulan. Tapi kayaknya ambilnya menyesuaikan jadwal bu Rita."


" Iya mbak Mira, nanti kalau bisa ambil cuti, di ambil aja ya. Biar nanti saya bilang Gadis buat anter jalan-jalan. Hari minggu kebon raya rame lho mbak."


" Iya mbak Sri, nanti kalau libur aku coba minta ijin deh."


" Ncus... dah."


Geby bangun dari pangkuannya dan memberikan botol susu kosong pada Mira.


" Pinter, habis ini bobok ya."


Geby mengangguk, memang begitu rutinitas Geby. Jadi Mira bisa menyiapkan keperluan Gea saat Geby tidur.


Semenjak nurut sama Mira, Gea selalu minta Mira yang masak makanan utuknya, jadi kesempatan saat Geby tidur, dia gunakan untuk membuat makanan kedua anak majikannya.


" Mbak Sri, makan siang anak-anak apa?"


" Bening bayam sama jagung, lauknya terserah mbak Mira aja."


Mira mulai memasak bahan yang sudah disiapkan oleh mbak Sri. Dan mbak Sri gantian jaga si Geby. Takutnya nanti diganggu Gea saat anak itu pulang sekolah.


" Mira mana mbak Sri."


Bu Rita pulang siang itu, karena nanti malam akan pergi ke luar negeri. Ada pameran busana, Dan dia adalah panitia yang terpilih dari Indonesia.


" Iya bu."


Mira muncul karena mendengar suara majikannya.


" Ini gaji kamu, karena nanti pas kamu ganjian saya tidak di rumah."


" Trima kasih bu."


Mira menerima amlop berisi gajinya.


" Saya titip anak-anak ya. Tolong temani tidur juga kalau malam."


" Iya bu." Jawab Mira.


" Buat sayur untuk Gea bu."


" Kok kamu yang masak? Tumben tuh anak mau makan sayur."


" Iya bu, dia mau makan sayur kalau saya yang masak." jelas Mira.


Bu Rita mengangguk, ada senyum senang melihat perkembangan anaknya di bawah asuhan Mira.


" Moga aja kamu betah disini Mir, mereka ternyata cocok sama kamu." kata Bu Rita.


" Belum punya calon kan?" tanya bu Rita tiba-tiba.


Rayyan hanya tersenyum, bingung harus jawab apa. Jika terus terang dia juga malu. Masa iya jomblo aja dibanggain.


" Ya sudah. Mbak Sri mana? Tolong panggil ya, suruh ke kamar saya." Bu Rita menengok ke tempat mbak Sri tadi berada, namun ternyata sudah pergi.


" Iya bu."


Mira mematikan kompor sebelum memanggil mbak Sri yang sedang beres-beres di atas.


* * * * *


Rayyan selesai latihan sore itu, langsung pulang ke bengkel. Sebenarnya pulang ke rumah mama Sarah juga bisa, namun jarak yang cukup jauh, menghabiskan hingga 45 menit, membuatnya malas bolak-balik. Belum lagi macet di jalan.


" Habis latihan mas?" tanya Dony.


Dony adalah karyawan yang dipercaya oleh Rayyan untuk mengelola bengkel yang sebenarnya adalah rumah koleksi motor dan perlengkapan serta tempat penyimpanan berbagai penghargaan yang ia dapat selama hampir 15 tahun menjadi rider.


Sedangkan bengkel sebenarnya bukan disana, tapi sebuah dealer besar yang berada di dekat sebuah pasar tradisional di pusat kota Bogor, dan itu sudah ada orang kepercayaan yang memegang. Jadi Rayyan tak harus turun langsung ke lokasi, hanya kadang-kadang saja. Mungkin nanti kalau sudah menikah baru turun langsung bekerja di sana. Dia hanya perlu fokus mengikuti setiap event yang sudah diatur oleh Mathew dan team.


" Mas Rayyan jadi berangkat bulan depan?"


" Ya jadi, kenapa?" Rayyan mengamati beberapa piala di etalase khusus yang ia gunakan untuk menyimpan hasil penghargaan yang ia peroleh.


" Ya enggak papa, semangat mas. Apalagi ini yang terakhir."


" Ya." jawab Rayyan lesu. Mengingat dia harus melepas hoby yang sudah ia geluti hampir separuh umurnya. Namun ia tahu bahwa ia juga tak mungkin tetap bertahan disana.


Semoga kau tak mengecewakanku Mira, aku lakukan ini untukmu.


Rayyan menghidupkan layar hp, hanya untuk memandang wajah Mira yang tak berubah, tetap dengan senyumnya.


" Kamu adalah alasan aku untuk mengambil langkah, meninggalkan semua yang sudah mendarah daging dihidupku. Aku berharap kamu adalah orang yang tepat sebagai tempat menghabiskan sisa umurku." Rayyan kembali memasukkan hp ke kantong jaketnya.


Memandang satu persatu koleksi motor dari yang pertama ia pakai untuk belajar balapan berupa motor trail, hingga motor besar berkapasitas 1000cc yang terakhir menjatuhkannya di balapan terakhir.


" Mungkin mama benar, saatnya aku harus beralih ke motor hidup, bukan cuma besi kayak gini."


" Don, ini jangan diperbaiki ya." Pintanya pada Dony.


" Kenapa mas?"


" Buat pengingat aja." jawaban ambigu yang membuat Dony hanya mengangguk.


pengingat kalau dia menyaksikan aku jatuh..


Heh...


Rayyan tersenyum sendiri. Bahkan itu tak luput dari perhatian Dony yang memandang aneh pada Rayyan.


Sudah gak waras apa ya mas Rayyan. Pantesan pensiun. Batin Dony.


" Jangan batin Don, saya tahu lho. Saya masih waras."


" Enggak mas, cuma aneh aja lihat mas Rayyan kok senyum sendiri." Jelas Dony yang kikuk karena isi hatinya diketahui oleh Rayyan.


" Kadang tersenyum sendiri itu perlu Don, daripada mengharap senyum orang lain yang tak kunjung terlihat."


" Mas Rayyan mau saya tersenyum... Gini." Dony menarik bibirnya, membentuk senyuman.


" Bukan kamu."


" Terus siapa?"


" Rahasia."


Dony meninggalkan Rayyan dengan perasaan dongkol. Dan Rayyan malah tertawa, karena sukses membuat orang-orang terdekatnya merasa kesal padanya hari ini.


Dia jadi pengen melihat bagaimana jika Mira ia buat kesal seperti Mathew dan Dony.


" Lucu kali ya, apalagi kalau lihat bibirnya manyun kayak si Dony. Aduh.... Bikin gumush."


Rayyan makin menjadi membayangkan bayangan Mira dalam imajinasi yang ia pikirkan.


Bahkan ia tak tahu kalau Dony kembali lagi, Dan melihatnya kembali tersenyum seorang diri, kadang juga tertawa.


Beneran gila apa ya mas Rayyan.... 🤔🤔🤔