
Ajeng mengajak Mira duduk di tepi kolam ikan di dalam taman kebun raya. Banyaknya ikan berwarna-warni yang muncul dan bunga teratai yang tumbuh membuat suasana disana terasa begitu indah, belum lagi dengan pepohonan yang mengelilingi. Benar-benar suasana alam yang indah.
" Ini bukan anak mas Bobby Mira, percayalah."
Ajeng mulai menjelaskan alasannya bersama Bobby.
Mira tak ingin menanggapi apapun. Baginya sudah tidak ada yang perlu di dengar lagi apapun tentang Bobby. Semua sudah berakhir.
" Dia hanya membantuku." Ucap Ajeng.
Gadis yang duduk di dekat Mira merasa bahwa Mira dan Ajeng butuh ruang. Memilih menyingkir dari sana.
" Aku akan mencari minum."
Tanpa menunggu Mira menjawab, ia segera beranjak dan pergi meninggalkan keduanya.
Ia sempat berpapasan dengan Bobby yang duduk tak jauh dari tempat Mira dan Ajeng berada. Masih seputar kolam juga.
Hanya melihat sekilas untuk menilai dari segi fisik orang yang kini menjadi mantan Mira.
Tampan, sayang tak punya pendirian.
Ia mencibir dalam hati, dan berlalu menjauh.
🔹🔹🔹🔹🔹🔹
" Ini bukan anak mas Bobby Mira." Ajeng mengulang kembali agar Mira bereaksi dengan ucapannya.
" Lalu apa yang ingin kau jelaskan padaku?" Mira tak menatap wajah Ajeng. Dia malah memperhatikan ikan-ikan yang bergerombol, berebut daun jatuh.
" Pernikahan kami hanya kesepakatan. Berbasis simbiosis mutualisme. Sama-sama saling menguntungkan. Dia mendapat pekerjaan dengan menjadi kepala rumah sakit milik ayahku. Dan aku mendapat perlindungan darinya untuk anak ini. Dan dia juga menyelamatkan nama baik keluargaku."
" Ini kesalahanku. Jika malam itu aku tidak menuruti temanku datang ke klub, mungkin tidak akan seperti ini kejadiannya." Ajeng mengelus perutnya, menenangkan pergerakan bayinya.
" Aku mabuk dan tak sadarkan diri. Dan saat sadar, aku berada di kamar dengan keadaan tak berpakaian. Dan lebih parahnya lagi, malam itu aku kehilangan mahkotaku."
" Aku hancur dan nyaris bunuh diri saat itu juga. Tapi kemudian mas Bobby dan Rangga teman sekampus kami datang. Kamu tahu sendiri bahwa mas Bobby adalah temanku sama sepertimu."
" Teman?" Mira bergumam mendengar Ajeng mengucap kata itu.
" Ya, kita memang berteman kan dari dulu?" Ucap Ajeng.
" Bagaimana teman bisa begitu tega menusuk temannya sendiri?" Mira menyungging ujung bibirnya.
" Sudah aku bilang. Ini hanya kesepakatan Mira. Setelah anak ini lahir, semuanya akan kembali seperti semula. Aku dan Bobby akan berpisah dan kalian bisa bersama lagi."
Mira diam saja. Menganggap ucapan Ajeng bukan sesuatu yang bisa membuatnya terkejut atau senang.
" Dengan pekerjaan yang mas Bobby miliki, dia bisa membantumu dan keluargamu. Itu adalah keinginannya. Menjadi sukses sebelum melamarmu." Ucap Ajeng.
" Lalu kamu bagaimana?" Mira kini memandang wajah Ajeng, melihat reaksi wanita yang dengan santainya menyerahkan suaminya pada wanita lain. Bahkan kini membantu membujuk wanita itu untuk menerima lagi suaminya. Ironis sekali.
" Setelah anak ini lahir, aku akan ke luar negeri. Memulai hidup baru disana dengan anakku." Lagi tangannya mengelus perutnya dengan pandangan sedih.
" Dan menjadikan aku umpan untuk keluargamu dan keluarganya, agar ada orang yang bisa disalahkan atas kepergianmu dan perpisahanmu dengan mas Bobby?"
Mira menyimpulkan maksud pemikiran Ajeng.
" Bukan begitu Mira. Aku hanya ingin mengembalikan mas Bobby padamu." sanggah Ajeng.
" Dia bukan barang Ajeng, dia manusia. Begitu pula aku kamu, dan anakmu. Mana bisa kalian berpikir seperti itu? Apa kalian pernah berpikir, bagaimana dengan anak ini nantinya?"
" Kenapa kamu tidak langsung pergi saja ke luar negeri, daripada membuat drama dengan mas Bobby? Sama aja kan?"
" Tapi kejadiannya tidak semudah itu Mira."
Ajeng mencoba menceritakan awal mula dia harus menikah dengan Bobby.
" Jadi orang tuamu mengira Bobby adalah ayah anakmu, hanya karena Bobby mengantarmu pulang setelah kamu hamil?" Tanya Mira.
Ajeng hanya mengangguk, membenarkan ucapan Mira.
" Tapi kalian punya Rangga, saksi mata kejadian itu. Kenapa kalian tidak memintanya membantu menjelaskan kejadian yang sebenarnya?" Mira mendesah, seolah ingin mengatakan bahwa manusia di sampingnya ini adalah bodoh, walaupun punya gelar sarjana.
" Kami terjebak Mira, kami kalut saat itu. Bingung harus apa? Semuanya terjadi begitu cepat. Membela diri juga sudah tidak mungkin."
Ucap Ajeng.
" Berarti kalian memang berjodoh Ajeng. Itu jalan kalian untuk bersama. Walaupun kenyataannya ada jalan lain untuk menghindar dari sana. Nikmati saja." Dengan santainya Mira mengatakan itu pada Ajeng, seolah dia tak terluka dengan pengakuan teman yang membawa petaka untuknya.
" Tapi aku merasa bersalah padamu Mira, seumur hidupku aku tidak akan tenang jika aku tidak bisa membuatmu bersama mas Bobby. Aku sudah berjanji padanya saat kita memutuskan menikah."
Mira menatap heran pada Ajeng, melihat bagaimana wanita itu merasa bersalah.
" Aku bisa habis oleh ibu mertuamu jika kalian melakukan itu." Ucapan yang sukses membuat Ajeng terperangah.
" Apa maksudmu?"
" Dia sangat senang kamu menjadi menantunya, sampai rela melakukan apapun untuk mempertahankanmu sebagai menantunya." Jawab Mira.
" Dia melakukan apa padamu?"
" Hanya gertakan kecil, tapi sangat menyakitkan. Jadi tetaplah kalian bersama, agar aku tidak menjadi mangsa harimau betina itu."
" Tapi nyatanya begitu, dia selalu ingin memangsaku setiap kali melihatku." Ucap Mira.
" Benarkah begitu?" Tanya Ajeng tak percaya.
" Dia sangat menyayangimu kan, pasti dia selalu berbaik hati padamu. Makanya dia akan berbuat apapun untuk melindungi kesayangannya. Kamu cantik, kaya, apalagi Ajeng yang kurang darimu? Jika dibandingkan dirimu, aku ini hanya ujung kukumu yang jika mengganggu akan kau potong. Begitu kan."
Mira mencoba untuk tidak emosi, walaupun setiap mengingat bu Hardi, rasa tertekan itu selalu muncul.
" Tetaplah berjuang dengan pernikahanmu. Rawat anak kalian. Dan jadilah orang tua terbaik."
Mira beranjak berdiri, baginya semua sudah selesai.
" Tapi Mira." Ajeng mencegah Mira dengan memegang kakinya.
" Jangan lakukan itu Ajeng. Mas Bobby itu hanya masa laluku, kamu masa depannya." Mira menyingkir agar Ajeng menjauhkan tangannya dari kakinya.
" Tapi dia tak mencintaiku Mira, dia hanya ingin kamu." Tatapan mata Ajeng memelas. Namun Mira sudah bertekad untuk tidak kembali pada masa lalunya.
" Cinta itu akan menghilang seiring waktu. Kita tidak juga tahu kapan dia datang. Jadi jangan menjadikan cinta sebagai alasan."
"Dan bagiku cintaku untuk mas Bobby is enough." Tegas Mira.
" Kau tahu apa yang akan dia lakukan jika sampai dia tidak bisa bersamamu Mira?"
" Apa maksudmu?"
" Dia akan tetap meninggalkan aku, akan membenciku, karena telah menyebabkannya berpisah denganmu. Aku sudah berjanji untuk membantunya menjelaskan padamu tentang kesalahpahaman ini." Ajeng terlihat begitu putus asa saat ini.
" Berarti dia bukan jodohmu Ajeng. Masih banyak yang lebih baik darinya. Tinggal menunggu saja saat yang tepat kalian bertemu.
Jalani hidupmu. Jangan pernah menggantungkan hidupmu dengan kata orang, karena semua itu kita yang tentukan."
Mira mendekat, berjongkok di hadapan Ajeng, menatap perut bulat besar itu.
" Aku turut prihatin atas apa yang menimpamu. Jangan sia-siakan dia yang dititipkan kepadamu. Seorang perempuan akan lebih kuat, ketika dia sudah memiliki buah hati. Jadikan dia kekuatanmu saat kamu mulai lelah."
" Jika mas Bobby meninggalkanmu, percayalah, dia juga tidak akan bisa kembali padaku."
Air mata Ajeng tak mampu lagi untuk bertahan. Penyesalan karena telah menyakiti Mira, temannya sendiri.
" Maafkan aku Mira." Ucapnya.
" Apa yang harus aku lalukan agar kamu mau memaafkan aku?"
" Jaga saja mertuamu, agar dia lebih jinak." Mira menyelipkan tawa dalam ucapannya. Membuat Ajeng menangis bercampur tertawa.
Mira membantu Ajeng berdiri. Membawanya pada Bobby yang menunggu dengan penuh cemas.
" Titip Ajeng mas."
Mira melepas Ajeng, dengan senyum.
" Tapi Mira, bukankah Ajeng sudah menjelaskan semua padamu?"
" Ya, dengan begitu jelas." Jawab Mira.
" Berarti kita bisa tetap bersama setelah aku berpisah dengannya." Bobby langsung sumringah memandang pada Mira yang tersenyum.
" Bisa...." Ucap Mira, membuat Bobby melonjak kegirangan.
" Bisa, tapi hanya sebatas teman. Itulah yang benar mas."
" Tapi Mira?" Bobby terlihat kecewa begitu mendengar ucapan Mira.
" Tapi apa? Semua tidak akan terjadi sesuatu apa yang kalian rencanakan itu kebenarannya. Apalagi kalian tahu, janji suci pernikahan yang kalian ucapkan itu Allah yang mendengar dan kalian meminta dengan mengucap doa setelahnya."
Mira mengambil tangan Bobby dan Ajeng. Menumpukkan kedua tangan itu, dengan tanganya.
" Aku merestui kalian. Orang tua kalian, bapak, ayah dan ibu kalian juga merestuinya, dan asal kalian tahu bahwa restu terbaik adalah restu dari orang tua, apalagi ibu. Aku yakin kalian pasti akan bahagia diakhir. Hanya cukup buka saja hati kalian."
Mira tersenyum, kemudian melepas tangannya, membiarkan tangan Bobby dan Mira tetap bertumpuk.
" Maaf, aku harus pergi. Temanku menunggu."
Mira berangsur menjauh, berjalan mundur sambil melambaikan tangan. Begitu menjauh ia berbalik. Airmatanya yang sedari tadi ia tahan, kini lolos begitu saja tanpa bisa dibendung.
Namun ia lega, akhirnya bisa mengatakan apa yang harusnya ia katakan.
*Semoga kalian bahagia.
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹*
Yuk.... Mana jempolnya? Mainkan sekarang, kasih untuk Mira, OK!
Like, vote hadiah atau voucher juga boleh, yang terakhir jangan lupa komentarnya.... 🤗🤗🤗
Jempolmu semangatku
Salam Fillia