I LOVE YOU, ENCUS

I LOVE YOU, ENCUS
Sigit Dan Mira part 1



Sigit menarik nafas dalam, merasa otaknya tidak bisa diajak kompromi, pikirannya terus melayang pada Mira dan Rayyan.


Kuliah hari ini terasa begitu sia-sia, karena tidak ada satu mata kuliah yang bisa ia ikuti dengan baik.


Ya Allah, beratnya jatuh cinta.


Sigit mengemas buku dan laptopnya. Ia keluar dari kampus ketika masih ada satu lagi mata kuliah. Namun ia tak bisa ikut lagi, semua jadi kacau gara-gara suara telepon yang ia terima dari Rayyan untuk Mira.


" Git, kamu mau kemana?" Tanya Syeran, teman sekampusnya yang memergokinya akan masuk ke mobil.


" Pulang." Jawaban singkat tanpa menoleh, membuat Syeran menatap heran pada Sigit.


" Apa semua baik-baik saja Git? Apa kamu sakit?" Nada kawatir kini terdengar dari ucapan temannya itu.


" Hatiku yang tidak baik." Ucapnya tanpa sadar.


" Haah! Apa?" Syeran terlihat terkejut dengan pengakuan Sigit yang jujur mengatakan perasaannya.


" Oh... Tidak-tidak, aku hanya ada tugas dari bosku, jadi aku harus pulang." Sigit mengubah espresi wajahnya dengan senyum agar Syeran tidak curiga padanya.


" Oh... Ok. Hati-hati."


Sigit menaikkan kaca mobil, melakukan mobil keluar kampus. Hanya bunyi klakson yang ia tinggalkan untuk Syeran yang sedang memandang kepergiannya dengan heran.


🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹


" Ya ampun Mira, keterlaluan sekali kamu ini! Masa sambel segitu banyak habis semua."


Gadis menatap 3 mangkuk kecil berisi 3 macam sambal. Sambal terasi, sambal korek dan sambal cabe hijau. Semuanya dilahap habis oleh Mira hanya dengan secentong nasi dan ikan bakar. Beruntung ada sayur asam sebagai sayur pendamping agar para pengunjung disana tercukupi nutrisinya. Dan sayur asam itu dijual gratis untuk bonus membeli seporsi menu. Jadi jika ada pengunjung hanya meminta sayur asam saja, maka sudah pasti tidak akan diberi jika tidak membeli lauk pokoknya berupa ikan bakar/ goreng, ayam dalam berbagai varian dan juga bebek. Yang pasti jika hanya membaca, maka sudah bisa dipastikan jika itu membuat semua tergoda. Apalagi sambalnya yang bebas memilih. Aduh..... Gusti..... 😂😂


" Jam berapa sekarang?" Tanya Gadis.


Mira merogoh ke dalam tasnya, mencari benda pipih berupa hp, sayangnya ia tidak menemukan benda itu. Ia mengobrak-abrik seluruh sisi tasnya, dan tetap saja dia tak bisa menemukan hpnya.


Gadis menatap Mira yang kebingungan sedang mengacak-acak tasnya, bahkan beberapa lembar uang ikut keluar dari dalam tasnya.


" Cari apa?" Tanya Gadis.


" Hpku, kok gak ada ya Dis?" Ia terlihat begitu panik sekarang.


" Diingat lagi, tadi sebelum berangkat kamu masukkan tas enggak?"


Mira mencoba mengingat sambil terus membolak-balik beberapa sisi tasnya.


" Ya, ampun iya. Di samping bantal. Habis aku ganti ke mode dering, gara-gara sakit perut malah lupa, terus kamu datang."


Mira menghembuskan nafas lega setelah tahu hpnya tertinggal di rumah.


" Udah jam 5, pulang yuk." Ajak Gadis. Ternyata mereka tadi tidak langsung makan siang, tapi malah menyusuri jalanan berburu asesoris yang dijual di sepanjang jalan di depan kebon raya.


" Yuk." Mira dan Gadis beranjak dari tempat mereka duduk lesehan. Menghampiri kasir untuk membayar.


" Aku aja." Mira menahan Gadis saat akan membayar makanan.


" Ditraktir nih? Dalam rangka apa?" Gadis memperhatikan Mira yang mengeluarkan uang sejumlah yang yang disebutkan oleh penjaga kasir.


" Trima kasih, sampai jumpa kembali."


" Sama-sama." Ucap Mira sambil berlalu bersama Gadis.


" Kamu tanya dalam rangka apa aku traktir kamu?" Tanya Mira sambil keluar dari saung.


" Hu'um." Gadis mengangguk.


" Merayakan status baru." Ucap Mira.


" Haah... Jomblo aja dibanggain, dirayain pula." Gadis ingin tertawa, tapi takut dosa, walaupun kenyataannya emang lucu.


Jomblo dirayain.... Sejak kapan?


Mereka pulang dengan angkot menuju rumah bu Rita. Karena Mira harus mengambil hp dan mengambil baju ganti, rencana dia akan menginap di kontrakan mbak Sri selama 2 malam, karena bu Rita membawa anak-anak untuk menginap di rumah oma sampai Rayyan melakukan balapan terakhir musim ini.


Mira tak mau di rumah sendiri walaupun ada Nano dan Sigit. Tetap saja hatinya was-was jika harus tinggal dalam satu atap apalagi dengan dua laki-laki bujang. Ngeri.


Karena sampai rumah sudah hampir petang, Mira menyempatkan mandi sekalian. Dan Gadis yang menunggu di bawah malah di antar oleh Nano.


" Nanti biar diantar Sigit, kitakan jarang berduan yank." Nano mulai merayu Gadis agar mau diantarnya.


" Lewat juga gak bisa lihat, gak masalah kan yank." Nano menyolek sedikit dagu Gadis, yang mana itu membuat Gadis malu-malu, dan memerah.


Mobil Sigit masuk, menghentikan aksi jemari Nano yang akan melanjutkan menjahili Gadis.


" Tuh kan, setannya lewat." Ucap Gadis, tepat saat mobil yang dikendarai Sigit melewati mereka memasuki garasi.


" Tapi setannya ganteng." Mata Gadis berbinar begitu melihat Sigit turun dari mobil, membuat Nano menutup wajah Gadis dengan tong sampah yang baru saja dicucinya.


" Aaaahhhh.... Apaan sih mas, bau tau!"


Gadis kesal dengan kelakuan Nano yang ternyata cemburu dengan Sigit yang mendapat tatapan kagum dari calon istri.


" Lihat begitu itu ke saya yank, bilang ganteng ke orang lain. Panas hati abang dek!"


Gadis 😩😩😩😩??!zzx


🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹


Mira akhirnya diantar oleh Sigit ke kontrakan mbak Sri yang letaknya hanya 500m dari jarak rumah bu Rita. Sengaja Mira tidak mau naik motor, biar hapal jalan jika suatu saat ingin ke sana. Jugaan Nano sudah ada disana membawa motor.


Dasar emang lagi beruntung nasib Sigit, jalan dua-duaan bersama pujaan hati.


Tak ada suara, hanya langkah kaki keduanya yang terdengar, sesekali ada suara motor yang lalu lalang. Kadang memperhatikan kedua pemuda-pemudi yang sedang berjalan tapi tak bergandengan. Yang satu masukkan tangan ke dalam celana, yang satu memegangi selempang tas. Bahkan jarak mereka terbilang agak jauh, sekitar 2 meter.


" Mas Sigit gak papa nemenin saya jalan kaki. Saya bisa sendiri kok. Tadi Gadis udah kasih arah-arah rumahnya." Mira berhenti untuk menyamai langkah Sigit yang berada di belangkangnya.


" Gak papa mbak, jarang-jarang saya bisa jalan-jalan malam begini."


Mereka kini berjalan beriringan. Langkah Mira terlihat agak santai.


" Trima kasih lho mas. Sudah mau nganterin." Ucap Mira, sambil tersenyum menengok sebentar ke arah Sigit yang juga menengok padanya, hingga ia terpaku melihat senyum Mira yang membuat hatinya semakin berdetak tak karuan. Padahal tadi dengan jarak mereka, ia cukup tenang, tapi sekarang rasa tenang itu menghilang entah kemana. Bahkan ia kini hanya menunduk sambil berjalan.


" Awas mas Sigit ada orang di depan."


Sigit menyingkir ketika orang tadi berada di depannya. Ia makin gugup saja sekarang, mana jarak kontrak mbak Sri masih sekitar 200 meter. Dekat sih, hanya saja suasana saat ini membuat terasa jauh.


Sigit berpikir, kenapa tidak sekarang saja dia mengutarakan isi hatinya, bukankah situasi dan kondisi juga mendukung.


Sigit melirik sebentar ke Mira yang berada di sampingnya.


Mumpung belum dekat, sekarang aja apa ya?


Sigit berusaha menarik nafasnya, mencoba memantapkan hati untuk mengatakan pada Mira tentang perasaannya.


" Ada apa mas? Kok tarik nafas begitu? Ada masalah?" Mira ternyata peka dengan apa yang Sigit lakukan.


Sigit berhenti bukan menjawab. Membuat Mira ikut berhenti. Ingin menanyakan kenapa, namun Sigit ternyata lebih dulu berbicara.


" Mbak Mira, bisa minta waktu sebentar?" Ucap Sigit.


" Waktu?!" Mira menatap penuh tanya pada Sigit yang kini berdiri di hadapannya namun posisinya menunduk, tak berani menatap Mira.


" Ada apa mas Sigit?"


Sigit menghembuskan nafas dalam-dalam, agar dia punya keberanian untuk berbicara.


" Mbak Mira, sebenarnya....." Ucapan Sigit terputus, dia kini terlihat gugup, bahkan ia kini meremas sendiri tangannya.


Mira malah bingung dengan kelakuan Sigit yang menurutnya aneh.


" Mas.... Mas Sigit baik-baik saja." Mira menyentuh lengan Sigit, agar Sigit melanjutkan ucapannya. Mendapat sentuhan dari Mira, Sigit akhirnya bertekad untuk mengatakan.


Namun naas, sebuah motor melaju kencang dari arah belakang Mira. Sigit terkejut, karena motor itu tiba-tiba muncul dengan kecepatan yang sangat tinggi, semakin mendekat dan...


" Awas.....!"


BRUAK!!


🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹


Bersambung, lanjut besok ya...... 🤗🤗🤗😂😂😂😂😂


KITA KUPAS SATU-SATU YA, MENGINGAT MIRA MEMILIKI LATAR BELAKANG PENUH KONFLIK. TAPI PERCAYALAH BAHWA BAHAGIA DI AKHIR CERITA ADALAH CITA-CITA OTOR.... 🤗🤗😍😍😍😍