
Bagaimana seorang pria bisa dikatakan pria, yaitu jika dia bisa mempertanggungjawabkan apa yang dia lakukan!
" Aku ingin memperbaiki semuanya." Mathew menunduk, tak berani manatap Ajeng yang sedang menatapnya.
" Dengan apa kamu mau memperbaikinya? Memang apa yang sudah kau rusak sehingga kamu harus melakukan perbaikan."
Pertanyaan yang membuat Mathew berpikir keras, bahwa wanita ini adalah orang yang kritis, maka bukan pernyataan yang berbelit-belit yang harus dia katakan sebagai jawabannya.
Kini netranya menatap lurus pada wanita yang telah melahirkan anaknya, membuat dunianya terasa lebih bermakna dan dibutuhkan.
" Aku merusak hidupmu, maka ijinkan aku untuk memperbaikinya." Akunya, tetapi mata itu seolah menuntut kelanjutan dari ucapan yang belum tepat sebagai jawabannya.
" Manikahlah denganku!" Pintanya.
Ajeng tak menjawab, keterkejutannya atas ajakan Mathew tak pernah terpikirkan olehnya. Bagaimana orang yang dingin padanya, tiba-tiba mengajaknya menikah? Jika karena Khansa, maka jawabannya adalah....
" Tidak!" Ucapnya tegas.
" Kenapa?" Bukan terkejut atas penolakan Ajeng, tetapi Mathew menuntut penjelasan atas penolakan Ajeng.
" Jika kau hanya ingin bertanggung jawab atas Khansa itu sudah kamu lakukan."
" Lalu?"
" Tetapi jika kamu ingin menikahiku, apa alasanmu sehingga aku harus mengatakan 'YA'?" Ajeng dengan segenap rasa sakit yang ia terima akibat dari perbuatan Mathew, kini menuntut jawaban yang bisa menyakinkannya.
" Aku ingin Khansa mmemiliki orang tua yang utuh, kasih sayang yang utuh dari kedua orang tuanya."
" Hanya itu?"
" Sudah aku katakan aku ingin memperbaiki kesalahanku padamu yang telah menghancurkan hidupmu, masa depanmu..."
" Juga keluargaku." Tambah Ajeng.
" Maafkan aku." Ucap Mathew penuh sesal.
" Jika masalahnya selesai dengan kata maaf, mungkin aku dan Khansa tidak akan seperti ini." Pandangan menerawang, seolah mengingatkan kesakitan yang teramat dalam yang ia rasakan.
" Aku tahu, maka ijinkan aku ikut menanggungnya."
Ajeng mendesah, membuang rasa berat mengingat sulitnya hidup setelah peristiwa semalam yang mengubah seluruh hidupnya, dan manusia yang membuatnya begitu kini berada di dekatnya, mengajaknya menikah.
" Beri aku waktu."
" Aku tidak punya waktu." Jawab Mathew.
" Kau akan kemana?" Ajeng menatap Mathew.
" Aku akan disini jika kamu mengatakan 'YA', tapi kalau kamu mengatakan 'TIDAK' maka tidak ada gunanya aku disini."
" Kamu memaksaku?"
" Bukan memaksa, tetapi memberi pilihan."
" Lalu apa yang akan kamu lakukan setelah aku memilih?"
" Tentu melakukan apa yang seharusnya aku lakukan."
" Pergi jika tidak, tetap tinggal jika ya? Begitu?' Ajeng menyimpulkan.
" Jika aku mengatakan 'TIDAK' lalu apa kau siap untuk meninggal kami, ehem... Maksudku Khansa." Ajeng mengoreksi ucapannya.
" Aku akan membawanya bersamaku, dia tidak bisa jauh dari papanya." Ajeng membenarkan ucapan Mathew, karena memang Khansa tidak bisa dipisahkan dengan papanya.
" Lalu kau akan memisahkan aku dari Khansa? Jangan lupa aku ibunya, aku yang mengandung, melahirkan dan mengurusinya."
" Jika begitu sekarang apa jawabanmu?"
" Ya ampun, kau tidak memberiku waktu. Apa begitu sifatmu, pemaksa?" Ajeng menggeleng menatap manusia yang sebenarnya tampan, tapi terlalu tegas untuknya, bahkan sepertinya tidak bisa diajak santai sedikit saja.
Apa bisa aku hidup dengan orang kaku seperti dia?!
" Aku mana mungkin bisa berpisah dengan Khansa." Ucap Ajeng kemudian.
" Itu pilihanmu. Kalau kamu mau, kamu bisa mendapatkan anak selain Khansa walaupun tidak bersama kami." ucap Mathew.
" Kau juga bisa mendapatkan anak selain Khansa jika kau menikah dengan orang lain."
" Tapi sayangnya aku tak berminat memiliki anak selain dia, bagiku dia sudah cukup, tidak ada anak lain atau pernikahan lain, kecuali itu denganmu." Jawaban yang membuat Ajeng jengah dengan sikap menyebalkan pria ini.
Jadi selain kaku, dia juga menyebalkan! Oh my God, akan jadi seperti apa hidupku jika bersamanya?
" Bagaimana?" Mathew menunggu jawaban Ajeng.
" Apa harus sekarang? Besok atau lusa bagaimana?"
" Sekarang atau tidak sama sekali!" Jawab Mathew tegas.
" Kenapa kau pemaksa sekali?" Dengus Ajeng.
" Karena dipaksa, akhirnya Khansa hadir, apa begitu dirimu? Suka dipaksa?"
Ajeng melotot mendengar ucapan yang membuat dirinya marah!
" Aku bilang kau suka dipaksa, apa perlu aku memaksamu sekali lagi haa!" Mata Mathew yang menatap Ajeng dengan penuh maksud, membuat Ajeng beranjak.
" Jangan coba-coba!" Ajeng mengambil bantal sofa untuk pelindung jika sewaktu-waktu Mathew berbuat nekad padanya.
" Sayangnya aku sedang tidak berminat untuk memaksamu." Jawaban santai dari Mathew membuat Ajeng menghantakkan kakinya kemudian pergi dari ruangan yang membuatnya naik pitam. Tapi Mathew menarik lengan yang berayun akan pergi, hingga membuat Ajeng yang tak menduga akan ditarik oleh Mathew langsung jatuh menindih tubuh Mathew.
Mata bertemu mata, tangan bertemu tangan, dada bertemu dada tetapi Ajeng tak sadar akan itu, bahkan posisi kakinya yang diapit oleh kaki jenjang Mathew tak ia sadari, karena fokusnya hanya pada detak jantungnya yang berdebar kencang.
" Beri aku kesempatan satu kali saja, jika akhirnya aku mengecewakanmu, maka kamu boleh pergi dariku. Aku janji setelahnya aku tidak akan mengusik hidupmu dan Khansa jika memang kamu tidak mengijinkan aku untuk bersama kalian jika suatu saat kau kecewa denganku." Ucap Mathew dengan nada lembut, membuat bulu kuduk Ajeng meremang.
Ajeng belum bisa memberi jawaban, otaknya belum bisa terkoneksi dengan baik apalagi dengan posisinya yang saat ini sudah berada di pelukan Mathew.
" Bisakah kamu mengatakan 'YA'?" Tanya Mathew penuh harap.
" Tapi kita tidak saling mengenal." Lirih Ajeng.
" Seiring berjalannya waktu kita bisa melakukannya." jawab Mathew.
" Kita juga tidak memiliki perasaan.... Cinta." Ajeng antar ragu dan malu mengatakan itu.
" Itu bisa tumbuh dengan sendirinya."
Gerakan jemari Mathew yang menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Ajeng, membuat Ajeng terpaku. Apalagi mata Mathew yang tak lepas memandang wajahnya yang tepat berada di atas Mathew, membuat Ajeng ingin menutup wajahnya saat itu juga.
" Tapi kedua orang tuaku akan sangat marah padamu."
" Itu wajar, karena aku memang salah. Aku merusak masa depan anak gadisnya dan meninggalkannya begitu saja."
Ajeng makin bingung sekarang. Apakah dia bisa percaya dengan ucapan laki-laki yang sudah menyebabkan kehancuran baginya, tetapi tatapan mata yang sedang menatapnya seolah mengatakan kesungguhan yang tulus.
Ajeng terpejam, mencoba untuk menimang dengan hatinya, bukan pikirannya.
" Kamu berhak menolak jika tidak ingin."
" Tapi coba pikirkan bagaimana dengan Khansa! Dia butuh kita berdua, bukan salah satu dari kita."
" Aku tidak ada niat untuk bermain dalam hal ini! Makanya jika suatu waktu kamu kecewa padaku, aku ikhlas kalian pergi, tapi setidaknya beri aku satu kesempatan, please!" Mohon Mathew.
" Jika mereka tidak menyetujui kita bagaimana?"
" Maksudmu orang tuamu?" Tanya Mathew.
" Itu hak mereka, tapi bagaimana bisa dalam keadaanmu seperti ini mereka tidak ada bersamamu?"
" Mereka kecewa aku bercerai dengan mas Bobby. Mereka mengatakan aku anak tidak bisa menjaga nama baik keluarga, makanya aku memilih pergi daripada mereka malu dengan keadaanku yang hamil tanpa status yang jelas dan bercerai setelah mereka salah paham dengan mas Bobby yang mereka kira aku hamil karena dia." Jelas Ajeng, Mathew makin merasa bersalah setelahnya.
" Begitu fatalnya kesalahan yang aku buat ternyata."
" Boleh aku bertanya sesuatu?"
" Tanyakan saja."
" Kenapa malam itu kamu melakukan 'itu' sama aku?"
Berlama-lama menopang tubuh Ajeng, Mathew menjadi kebas, akhirnya dia mengalihkan posisi dengan menggeser tubuh Ajeng ke samping, tetapi tetap menahannya dengan tangannya agar Ajeng tidak kabur. Kini posisi tubuhnya miring dengan karena sofa yang sempit, agar dia tidak jatuh, tetapi posisi begitu malah menguntugkan baginya, karena saat ini dia bisa memeluk dengan nyaman tubuh Ajeng.
Ajeng berusaha bangkit, dia tidak nyaman setelah sadar dengan posisinya yang tak berjarak dengan Mathew, tetapi Mathew tetap menahannya.
" Bisakah kita tidak seperti ini?"
Mathew terkekeh, malah makin mengeratkan pelukannya, membuat Ajeng makin menegang.
" Aku akan melepaskanmu jika kau menjawab pertanyaanku, IYA atau TIDAK!"
Ajeng makin bingung, beruntung alam menyelamatkannya. Baby Khansa menangis, itu bisa menjadi alasan untuknya lepas dari pelukan Mathew. Lama-lama berada dalam pelukan laki-laki itu membuatnya hampir jantungan.
" Khansa nangis, awas." Ajeng berusaha melepas pelukan Mathew.
" Jawab dulu!" Mathew malah menunggunakan keadaan dengan sebaik-baiknya. Dengan menangisnya baby Khansa, akan lebih mudah mendapatkan jawaban dari Ajeng.
" Khansa nangis itu lho." Ajeng menggeliat, tetapi Mathew tetap menahannya. Kalah tenaga, Ajeng sadar betul tidak akan bisa lepas dengan mudah.
Otak cerdasnya berjalan disaat yang tepat. Dia mendekatkan wajahnya pada wajah Mathew, seolah akan memberikan ciuman, dan Mathew tentu sudah siap dengan senang hati jika Ajeng melakukan itu.
Jarak kian terkikis, hingga tinggal beberapa senti lagi sebuah entah ciuman atau kecupan akan Mathew dapatkan. Hingga Mathew akhirnya terbawa suasana, dia akan menyambut bibir yang semakin bergerak mendekat, tetapi sesuatu yang tak disangka membuatnya berteriak.
Ajeng mengigit hidungnya, hingga tangannya tanpa sadar melepas pelukannya berganti memegangi hidungnya yang terasa sakit.
Ajeng langsung beranjak dari tubuh Mathew, kemudian berlari ke kamar baby Khansa.
Lupa menutup pintu, dan ternyata Mathew mengikutinya saat itu juga.
Baby Khansa yang menangis langsung terdiam melihat kedua orang tuanya berlarian, apalagi dengan Mathew yang langsung menangkap tubuh Ajeng, membuat baby Khansa malah tertawa terpingkal-pingkal, lucu melihat kelakuan kedua orang tuanya yang seperti Tom and Jerry.
Melihat baby Khansa tertawa, Mathew dan Ajeng terbengong, hingga sesaat kemudian mereka ikut tertawa melihat kelucuan baby Khansa. Mathew melepas Ajeng, langsung mengangkat tubuh gembul itu, lalu mendaratkan ciuman bertubi-tubi.
Ajeng... Kini yakin jika dia harus mengatakan 'YA' demi keluarga kecilnya. Apapun yang terjadi nanti, dia harus yakin bahwa bersama Mathew, dia akan bisa melewatinya.
Kisah Mathew dan Ajeng berlanjut menyusul setelah I LOVE YOU, ENCUS selesai ya... 🤗🤗🤗