Annisa

Annisa
masih berduka



Nisa keluar dari kamar nya, berbarengan dengan Razky menangis,


Nisa langsung datang, namun langkah nya terhenti melihat Yoga terbangun dari tidur nya, Yoga tertawa pada putra nya


"haduh, maaf papah ketiduran ya,


kamu haus boy?? "


Yoga bangun, membetulkan gendongan nya, Razky masih menangis, tanpa sengaja Yoga melihat Nisa yang sedang melihat nya juga,


"sini Razky sama aku" ucap Nisa, Yoga mengangguk, namun ia kesulitan melepas gendongan yang melilit punggung nya, tadi mamah Riana yang memakai kan nya,


Nisa merasa canggung,


"aku ga bisa buka nya Nisa" ucap Yoga,


Nisa mau tidak mau mendekat, karna tangisan Razky masih berlangsung,


membuka pengait gendongan di punggung Yoga, Nisa buru buru,


setelah terlepas, ia langsung meraih Razky dalam gendongan Yoga, dan meninggalkan Yoga begitu saja sendirian,


Yoga tersenyum menatap punggung Nisa yang menjauh, menyimpan gendongan di atas sofa yang ia duduki tadi,


"udah bangun??


mamah nunggu kamu bangun Yoga,


ayo kita pulang"


Yoga terdiam, rasa nya masih betah di rumah ini karna ada Razky,


Yoga mengangguk terpaksa,


mereka bersiap, keluarga Yoga pamit,


namun Nisa tidak terlihat mengantarkan nya ke halaman rumah, Razky di bawa keluar oleh Rendy, Yoga menggendong nya lagi sebentar


" sehat sehat ya sayang, papah nanti kirim mainan yang banyak buat Razky,


jaga mamah ya boy "


Yoga menciumi pipi putra nya yang cuby, sampai ia menangis..


"Yoga kamu apain cucu mamah sampe nangis begitu" Riana menggoda Yoga,


"Yoga gemes banget mah, ga mau pulang sebener nya"


Riana melirik ibu Nisa,.


"maaf ya bu"


"ga apa apa bu, Yoga papah nya kan wajar lah"..


" ya sudah, kami permisi ya bu"


"hati hati ya" ucap Ibu


kini Yoga menghampiri ibu dari perempuan yang masih dia sayang itu


"Yoga pamit pulang bu,


boleh yoga minta sesuatu? "


"apa nak? “ tanya ibu penasaran


" biasanya yang kirim foto Razky hampir setiap hari om Adnan, tapi sekarang Yoga ga tau harus minta foto Razky sama siapa"


ibu tersenyum,


"jadi Adnan kirim foto Razky terus? " tanya ibu


"iya bu, hampir setiap kegiatan Razky "


"baiklah, nanti ibu yang akan menggantikan almarhum"


Yoga tersenyum senang,


setidaknya ibu Nisa tidak terlihat marah pada ny seperti Nisa,


"makasih ya bu, nanti Yoga kirim pesan ke ibu"


"iya nak, hati hati ya"


ibu tersenyum,


membuat Yoga merasa senang..


"iya bu"


Nisa di meja makan,


memandang teh hangat yang bi yuni buatkan untuk nya,


ayah, bang Rendy dan ibu masuk, keluarga Tama sudah pulang.


"selera makan Nisa hilang bu,


Nisa harus bagaimana tanpa mas Adnan"


"Nisa..


wajar kamu sangat berduka.. karna dulu ibu juga begini saat kehilangan kamu,


tapi ibu minta, jangan terlalu berlarut,


hidup harus tetap berjalan,


bagaimana kita meratapi keadaan, yang pergi ga akan bisa kembali nak"


Nisa mendesah,


mengusap wajah nya dengan telapak tangan, ia menangis lagi"


ibu tidak bisa berkata kata, hanya mengusap punggung putri nya memberi kekuatan...


Hari cepat sekali berlalu,


sudah sepuluh hari Adnan pergi meninggalkan Nisa, semua sudah kembali ke semula,


hanya Nisa yang masih tampak murung,


Rendy keluar dari kamar nya, menghampiri sang adik di kamar nya,


tokk tokk tokk


"dek... "


Nisa menoleh, kamar memang tidak di kunci, bahkan pintu nya terbuka


"iya bang.. "


"ada yang mau datang" Rendy mendekat, duduk di kursi meja rias Nisa,


"pengacara Alm mau datang, kamu mau temui? “


Nisa mengangguk,


Rendy tersenyum.,


" mereka masih di perjalanan, mungkin 1jam lagi sampai"


"iya bang, nanti abang temenin Nisa ya"


"pasti dek..


yaudah, abang keluar ya'


Nisa tersenyum sekena nya,


namun saat Rendy keluar, bi yuni membuka kan pintu untuk tamu mereka,


" Riko? " ucap Rendy


"assalamu'alaikum"


"waalaikumsalam, wah... udah lama kita ga ketemu, gimana sehat? “


Rendy memeluk teman nya itu,


" ya seperti yang kamu liat bang"


"ayo masuk, kita ngobrol di belakang, sambil ngopi", Riko menurut,


**


" aku baru denger kabar Nisa kemarin Ren, maaf aku jadi baru datang"


"ga apa apa, tenang aja.. "


"jadi bagaimana sekarang Nisa? “.


" yaaah dia masih sering melamun,


memang ini sangat berat, aku pun belum tau mampu atau engga ngelewatin kalo aku yang mengalami nya "


Riko mengangguk,


" sebagai orang yang pernah dekat dengan nya,


aku juga ngerasa sedih, begitu banyak cobaan yang Nisa lalui"


"aku sampai bersyukur dia masih sehat,


kamu tau ko, kalo kamu liat Nisa dulu saat setelah melahirkan itu sangat menghawatirkan, badan nya sangat kurus, kita sampai ga punya harapan dulu"


"selain banyak cobaan untuk nya, Nisa begitu banyak yang menyayangi" ucap Riko


"kami ga mungkin ga sayang sama dia ko, sekarang di rumah tambah ramai, ada Razky yang bikin rumah tambah terasa hangat"