Annisa

Annisa
kejutan tak terduga



lagi,


ia harus menyaksikan adegan terbilang mesra itu,


foto bahkan video yang adi kirim kini benar membakar hati nya,


yoga menyampirkan senyum miris nya, mengasihani diri nya sendiri,


nisa bahagia, dan diri nya terpuruk oleh perbuatan nya sendiri.


"akan ku buat kamu mencintaiku nisa, tubuh mu sudah aku miliki, kini tinggal hati mu, pegang kata kata ku, seorang yoga tak pernah kalah oleh siapa pun"


berkata pada foto yang ia pandang, yoga menelpon seseorang, ia akan melancarkan aksi pertama nya, merebut kekasih orang,


memalukan memang bagaimana ini terjadi pada seorang yoga yang memiliki segala nya..


**


di kantor nisa,


bu Retno sudah datang,


sudah duduk cantik di singga sana nya, nisa terlambat beberapa menit,


"bu maaf nisa telat"


"ga apa apa nis, ibu juga belum lama datang"


tersenyum,


nisa baru saja duduk, ketika seseorang datang membawa buket bunga mawar putih yang sangat indah,


"selamat pagi, bu nisa"


(pembawa bunga itu berkata)


nisa bangun lagi dari duduk nya


"iya saya, "


"ini ada kiriman bunga untuk ibu, tolong diterima"


nisa memperhatikan orang itu, dia bukan staff di sini, sempat terpana ia menduga apa ini kejutan


dari Riko, bunga mawar putih yang sangat cantik,


menerima dengan perasaan bahagia, nisa mencium harum bunga itu,


"saya permisi bu" (orang itu begitu cepat berlalu, nisa akan menanyakan siapa yang mengirim nya, dan itu terlambat)


"ya Allah, cantik sekali seperti yang menerima nya" (goda bu Retno)


"heheee maksih bu, ibu bisa aja"


nisa duduk lagi,


cepat ia mengirimkan pesan pada Riko,


"mas, terimakasih bunga nya, ini sangat cantikk"


beberapa menit kemudian baru Riko membalas nya


"bunga?? bunga apa dek?"


"mas kirim bunga ke nisa kan?? "


nisa mengirimkan foto bunga itu


"engga dek, mas ga ngirim, hayoo dari siapa?? (Riko cemburu, namun se bisa mungkin ia tahan, mencoba sedikit melempar candaan) "


"ga ada nama pengirim nya mas, nisa kira ini mas yang kirim"


"bukan dek bukan mas"


"baik lah kalo begitu"


siapa yg kirim kalo bukan mas Riko ya? nisa menatap bunga itu,


sebuah telpon masuk ke HP nisa, no baru, nisa paling malas mengangkat no baru, apa lagi tidak mengirim pesan dahulu..


ia coba membiarkan panggilan itu,


namun no itu menghubungi nya lagi,


penasaran, siapa tau juga penting kan nisa menerima nya


"hallo... ( suara nya begitu lembut terdengar di sebrang sana, yoga terpaku, sejak pertemuan nya dengan nisa, nisa belum pernah berbicara selembut ini)


tak ada jawaban dari si penelepon,


" hallooooo, ( mengulangi nya lagi)


"Annisa...


tiba tiba tubuh nisa menegang,


ia tau siapa yang menyebut nya dengan nama itu,


bibir nya kelu,


" Annisa, maaf mengganggu


apa sudah di Terima bunga pemberian ku?? "


deh deg deg..


nisa sontak memandang bunga cantik itu,


seketika itu sudah tak cantik lagi...


nisa memutuskan panggilan nya, wajah nya pucat


"nisa, ada apa? siapa yang telpon? (bu Retno hawatir)


" bukan siapa siapa bu, (nisa bangkit, meraih bunga yang ada di sebelah nya itu, bergegas keluar ia membuang begitu saja bunga cantik itu ke tong sampah) "


bu Retno yang melihat nya heran,


mata nisa berkaca kaca lagi,


cepat, ia memblokir no yang menghubungi nya itu,


**


di kantor Rendy,


ia sedang berbicara dengan Riko di sambungan telpon


"nisa tadi berangkat duluan buru buru, apa kamu jemput ko? β€œ


Riko diam, ia bingung mau jawab apa, ia menemukan nisa di taman dan ia menangis


" iya ren, kita janjian" (Riko berbohong, akan ia tanya nisa pelan pelan)


"syukurlah kalo begitu, aku kira ada apa, tadi pagi nisa mengeluh pusing ke ibu, ibu bilang nisa pucat"


"oya? tapi tadi aku lihat dia biasa saja" (jawab Riko)


"syukurlah kalo begitu"


"ren, bantu aku untuk acara malam ya? "


"siap, lo tenang aja, semua beres"


"nanti pulang bisa jemput nisa ga? gw pake motor hari ini, mobil di pake ibu negara"


"thanks brothers"


*hayo, abang sama mas. apakah gerangan yang mereka se kongkol kan??? 😢😢


sesuai janji, nisa di jemput bang Rendy,


memberanikan diri, nisa meminta ijin untuk mampir ke apotek


"mau beli apa dek?"


"obat sakit kepala bang, tadi bu Retno ngasih resep obat, katanya dosis nya rendah" (nisa berbohong, maaf ya bu Retno, ibu ke bawa bawa)


"emang masih pusing? ke dokter aja yu, jangan sembarangan minum obat"


"udah engga bang, ini buat jaga jaga aja di rumah"


"oke lah"


"nisa turun sebentar ya bang"


"iya hati hati


( syukur lah, bang Rendy tidak ikut turun nisa jd leluasa, ia akan membeli tes kehamilan, bagaimana pun ia harus memutuskan sesuatu)


membeli obat sakit kepala, dan tes ke hamil anak, nisa menyembunyikan nya di tas,


" udah bang"


mereka melanjutkan lagi perjalanan,


"dek, abang mau minta tolong"


"apa bang? "


"abang ada ketemu sama temen kerja,


santai sih, di resto ayah..


abang mau bisnis sama dia,


abang minta kamu sama ibu ikut nanti malam, jam 7 abang jemput"


nisa tak bisa menolak kan? apa lagi ini dengan ibu, nisa juga sudah lama belum ke resto ayah lagi, nisa setuju,..


"dandan yang cantik ya, tapi sopan"


"kapan nisa ga sopan bang?? ( jerry marah)


" aahahaa, ia abang minta maaf,


apa perlu abang bawa kamu ke salon? "


"idih, kurang kerjaan, nisa juga bisa dandan"


sampailah mereka di rumah,


Rendy tak lama pamit lagi, ia ada urusan..


"inget, jam 7 abang jemput ya" (mengedipkan mata nya centil pada ibu, ibu tersenyum, ia juga tau acara malam ini),


Rendy dan ayah menyiapkan satu ruangan untuk acara malam ini,


nisa mondar mandir di kamar nya, ia sudah siap. tapi menuju jam 7 ada 20 menit lagi,


ia gelisah, kapan waktu yang tepat untuk melakukan tes kehamilan,


"ya udah nanti malem aja pulang dari acara"


ia memasukan lagi alat tes kehamilan di laci meja rias nya, menutup nya dengan buku,.


"nisa, sudah siap belom?? ( ibu dari arah ruang TV) "


nisa segera keluar kamar,


"udah siap bu.. "


"ya Allah, anak ibu cantik sekali..β€œ


nisa memakai hijab, ini permintaan ibu tadi..


" apa benar bu nisa pantes pake hijab?? "


"sangat sayang.. " (ibu mencium pipi kanan kiri putri nya itu)


"semoga bisa selama nya nisa pake hijab ya nak" (ibu berharap)


"amiiiiinnn, InsyaAllah nisa akan coba bu"


bang Rendy datang,


"wah udah siap ya,


ini siapa bu?? (menunjuk adik nya, ia menggoda sang adik)


" abang jangan goda nanti nisa marah"


"hehee kamu cantik dek, abang suka"


nisa tersenyum, setelah tadi manyun,


"tunggu bentar ya. abang ganti baju dulu"


"ia nak, tenang lah"


nisa duduk di kursi ruang tamu nya, ibu pergi ke kamar..


ia mengecek HP nya,


tak ada pesan dari Riko, biasa nya calon suami nya itu seperti minum obat, 3x se hari menghubungi atau mengirim pesan pada nya.


panggilan masuk lagi dari no baru,


nisa takut lelaki berengsek itu menghubungi nya,


nisa mematikan HP nya,


mau apa sih dia pikir nisa, nisa jadi semakin gelisah, hidup nya kini tak tenang,


ibu turun dari kamar nya, bang Rendy pun datang,


mereka siap untuk pergi..


"abang mau bisnis apa sih, sampai bawa kita? " ( nisa penasaran)


"mau bisnis resto, ini juga ngelibatin ayah, dia juga bawa keluarga nya, kita bicara santai aja"


nisa mangut, ibu yang duduk di belakang senyum senyum..


sesampai nya di resto, Rendy membuka kan pintu untuk para bidadari nya,


di bawah ramai pengunjung, alhamdulillah, usaha ayah memang sukses,


"kita ke atas ya ( Rendy membawa ibu dan nisa)


sampai lah di lantai 2,


pandangan nisa tertuju tepat pada ujung ruangan ini, nisa tersenyum, siapa yang ada di depan sana?


ia melirik ibu dan bang Rendy yang juga tersenyum pada nya,


ini kejutan..